jump to navigation

Manusia dan Keperluan Agama Mac 25, 2007

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Faiz Manshur Buku: Psikologi Agama: Sebuah Pengantar
Pengarang: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Mizan Bandung, Ogos 2003
Halaman: 247
ISBN: 979-433-335-2

Beberapa dekad lalu, wacana tentang agama pernah diperdebatkan dalam kaitannya dengan pengetahuan. Kebanyakan pemikir moden melihat, pada kenyataanya agama merupakan sekumpulan doktrin yang dilegitimasi oleh �prasangka-prasangka� manusia di luar rasionaliti. Sementara, ilmu pengetahuan yang nota bene mengutarakan rasionaliti sangat keras menolak doktrin.

Dikotomi ini pada perkembangan selanjutnya juga memberi kesan kepada kefahaman bahawa masyarakat yang telah memasuki gerbang rasionaliti akan berkurang keyakinannya terhadap agama, terutama agama formal yang terinstitusi (institutionalized religion). Semakin rasional seseorang, semakin menjauh dia dari ritual agama. Sebaliknya, manusia yang kurang tersentuh rasionaliti, dengan sendirinya akan kuat menyakini ajaran agama.

Fakta sosiologis banyak mendukung pemahaman demikian. Dalam masyarakat moden�seperti di negara-negara Eropa dan Amerika�banyak orang yang tidak lagi mengindahkan agama. Sementara itu, di banyak negara berkembang yang transformasi ilmu pengetahuannya masih perlahan, masyarakatnya masih sangat kuat meyakini ajaran agamanya. Namun kenyataan tersebut hanya ada persepsi sosiologis. Di luar itu, ada sejumlah fenomena yang tidak sepenuhnya berada dalam persepsi demikian.

Sebagai contoh, sekarang kita banyak menemukan masyarakat yang hidup dalam situasi moden, percaya akan rasionaliti, namun tetap memegang ajaran agamanya secara kuat. Lebih dari itu, di negara-negara yang sudah maju, banyak juga ditemukan gejala lari ke agama dalam bentuk-betuk lain seperti sekte-sekte. Inilah beberapa fenomena yang tidak dapat dielakkan. Kenyataan yang demikian setidaknya disebabkan oleh berbagai macam hal. Salah satunya kerana modeniti sendiri tidak selalu memberi perbaikan bagi kondisi umat manusia. Modeniti tak mampu mengatasi berbagai masalah dan misteri kehidupan yang menerpa manusia. Bahkan, modeniti sebagai bahagian dari projek kemajuan rasionaliti, nyatanya hanya memberikan sumbangan positif bagi kelas yang dominan. Mereka-mereka yang terpinggirkan mengalami marginalisasi atau keterasingan dari kemajuan zaman.

Situasi inilah yang membuat mereka tergerak untuk menemukan alternatif atau pegangan, kerana modeniti bukan lagi rumah yang damai untuk kehidupan. Agama sebagai salah satu ajaran yang memberi tuntunan hidup ternyata banyak dijadikan pilihan. Hanya saja, mengapa agama menjadi pilihan sebahagian orang dalam zaman yang serba canggih ini? Kenapa mereka tidak memilih ideologi yang nota bene lahir dari rahim modeniti?

Ada tanda kuat bahawa di dalam agama terdapat banyak nilai yang boleh dimanfaatkan manusia berbanding ideologi. Ini disebabkan kerana ideologi, hanya membuka diri pada hal-hal yang sifatnya rasional. Dan itu justeru membatasi berbagai kepentingan manusia. Sementara agama dengan keleluasaannya memberi banyak ruang. Orang boleh beragama dengan memasukkan banyak rasionaliti, sebagaimana pengalaman para pemikir-pemikir keagamaan yang hidup dalam dunia akademik. Sebaliknya, orang juga boleh dengan leluasa memeluk agama dan merasakan nilai-nilai positifnya tanpa harus lelah menggunakan potensi akalnya untuk berfikir.

Bagi mereka yang termarginalisasi atau bahkan hidupnya dimanja oleh modeniti, agama juga tetap memberikan tempat. Agama memberi tempat bagi semua. Di atas keterbukaan inilah agama seringkali menjadi fenomena yang cukup unik dalam masyarakat. Di dalam dimensi-dimensi agama, terdapat banyak varian yang cukup sulit untuk digeneralisasi oleh paradigma sosiologi.

Jalaluddin Rakhmat, dalam buku ini melukiskan secara metaforis: �Agama adalah kenyataan terdekat sekaligus misteri terjauh. Begitu dekat, kerana ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, pejabat, media, pasar, dan di mana saja. Begitu misterius, kerana ia sering tampil dengan wajah yang sering tampak berlawanan: memotivasi kekerasan tanpa belas kasihan, atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu yang tertinggi, atau menyuburkan tahyul dan superstisi; menciptakan gerakan paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani yang paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.� (hlm. 1).

Agama adalah juga fenomena sosial. Agama juga tak hanya ritual, menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya belaka, tapi juga fenomena di luar kategori pengetahuan akademik. Sebahagian manusia mempercayai agama, namun tidak pernah melakukan ritual. Yang lain mengaku tidak beragama, namun percaya sepenuhnya terhadap Tuhannya. Di luar itu semua, kita sering menyaksikan, dalam kondisi tertentu�semisal kesulitan hidup atau tertimpa musibah�manusia cenderung berlari kepada agama. Sebaliknya, pada saat dirinya hidup dalam kondisi normal, mereka seringkali tidak peduli terhadap agama, bahkan mengingkari kewujudan Tuhannya.

Berangkat dari fenomena demikian, psikologi agama merupakan salah satu cara bagaimana melihat praktik-praktik keagamaan. Dengan paradigma psikologi, Jalal mencuba mengatasi kebuntuan analisis seputar fenomena keagamaan yang sangat beragam seperti dewasa ini. Psikologi yang dimaksudkan buku ini tentu tidak melihat agama sebagai sebuah fenomena langit yang sakral dan transenden. Sebuah lahan garapan teologi.

Yang ingin dilakukan Jalal adalah membaca keberagamaan sebagai fenomena yang sepenuhnya manusiawi. Ia menukik ke dalam proses-proses kejiwaan yang mempengaruhi perilaku kita dalam beragama, membuka �topeng-topeng� kita, dan menjawab pertanyaan yang berbunyi �mengapa�. Psikologi, kerana itu, memandang agama sebagai perilaku manusiawi yang melibatkan siapa saja dan di mana saja (hlm. 248).

Sebagai gejala psikologi, agama rupanya cukup memberi pengertian tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan bila dicermati lebih jauh, ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, kita boleh saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai masalah yang menghimpit kehidupan.

Buku ini layak dibaca. Selain kita akan diperkaya oleh landasan-landasan pemikir besar dunia, kita juga akan diarahkan untuk tidak bersikap hitam-putih dalam melihat praktik-praktik keagamaan maupun ajaran agama itu sendiri. Selamat membaca!

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: