jump to navigation

Kebangkitan Shi'ah September 14, 2007

Posted by ummahonline in Surat.
trackback

Oleh: Azyumardi Azra

Konflik berterusan di Iraq sama ada disebabkan oleh penentangan terhadap kehadiran tentera penceroboh, ataupun konflik dalam kalangan etnik Iraq sendiri. Dan yang paling menonjol tentu saja adalah konflik di antara kaum Sunni dan Shi’ah. Konflik yang tidak jelas bila berakhir itu telah mengugatkan rantau yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban tertua umat manusia dan juga pusat kemajuan peradaban Islam pada abad pertengahan.

Di tengah konflik itu, terdapat sarjana yang melihat terjadinya kebangkitan Shi’ah, dalam konteks Iraq. Inilah yang menjadi tajuk buku Seyyed Vali Reza Nasr, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future (New York: WW Norton, 2006).

Apa sesungguhnya “kebangkitan Shi’ah” itu? Jelas, kebangkitan itu kini dihubungkan dengan Iraq pasca-Saddam Hussein yang ditumbangkan oleh tentera AS dan sekutu-sekutunya. Tumbangnya kekuasaan Saddam Hussein yang identik dengan kekuasaan kaum Sunni adalah beriringan dengan fenomena “kebangkitan Shi’ah” setelah berpuluh tahun Shi’ah berada di bawah kekuasaan Sunni yang merupakan kelompok minoriti di Iraq.

Jika hujah tentang “kebangkitan Shi’ah” di Iraq pasca-Saddam Hussein dapat diterima, maka pada hemat saya, dalam konteks dunia Shi’ah, ini merupakan “kebangkitan kedua Shi’ah”. Kebangkitan pertama terjadi dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran pimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1979.

Tetapi, berbeza dengan “kebangkitan kedua Shi’ah” di Iraq yang berlaku dalam konteks persaingan kekuasaan dengan kaum Sunni, maka sebaliknya “kebangkitan pertama Shi’ah” terjadi dalam pergumulan di antara kaum Shi’ah sendiri, yang dalam hal ini antara Ayatollah Khomeini versus monarki Iran Shi’ah, Syah Reza Pahlevi, yang didukung AS.

Terlepas dari perbezaan semacam ini, satu hal menarik menerusi kebangkitan itu adalah kaitannya dengan faktor Amerika. Dalam konteks Iran, AS yang bermati-matian membela Syah Reza Pahlevi telah gagal menghentikan kejayaan Revolusi Ayatollah Khomeini.

Berikutan dengan “kebangkitan pertama Shi’ah” tersebut, usaha untuk penyebaran Shi’ah secara global ke negara-negara Muslim lainnya berlangsung dengan intensif sekali. Walaupun hasilnya dalam pengamatan saya tidaklah sebesar seperti yang diharapkan dari kalangan Shi’ah sendiri, yang berusaha memanfaatkan momentum keberhasilan Revolusi Ayatollah Khomeini untuk penyebaran Shiah di luar wilayah-wilayah yang selama ini merupakan kawasan majoriti Sunni.

Kebangkitan kedua Shi’aah di Iraq sekarang ini, menurut hujah Vali Nasr, pertama, berkaitan dengan tumbangnya kekuasaan Sunni yang sebelum itu dikuasai oleh Presiden Saddam Hussein.

Bahkan, Seyyed Vali Nasr mendakwa, tumbangnya Saddam Hussein telah mendorong pembentukan “negara Shi’ah Arab pertama.” Sebagai penduduk majoriti Iraq, kaum Shi’ah sejak pilihanraya umum pertama pada tahun 2005 telah mendominasi lanskap politik Iraq. Pelihanraya yang berlangsung hanyalah mengesahkan dominasi Shi’ah dalam politik Iraq sekarang.

Lebih jauh, tumbangnya Saddam Hussein juga memungkinkan terjadinya kebangkitan budaya dan keagamaan Shi’ah dalam bentuk rancaknya aktiviti di pusat-pusat kebudayaan dan keagamaan Shi’ah di berbagai tempat di Iraq. Dalam masa pasca-Saddam, ratusan ribu jamaah Shi’ah berhimpun tempat-tempat yang dipandang suci di Najaf, Karbala, dan lain-lain.

Dengan berkumpulnya orang-orang Shia’ah dalam jumlah besar seperti itu memungkinkan terjadi pengukuhan hubungan transnasional di antara mereka, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tapi juga dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Inilah yang dipandang Vali Nasr, putera Seyyed Hossein Nasr, ahli tentang Islam dan sains sebagai pengukuhan transnasionalisme Shi’ah; tidak hanya di Iraq dan Iran, tetapi juga kaum Shi’ah di tempat-tempat lain seperti Pakistan dan Lubnan. Jadi, transnasionalisme itu merangsang penyebaran Shi’ah.

Kebangkitan Shi’ah, menurut saya mungkin saja boleh berlaku; dan bahkan mungkin dapat memberikan sumbangan positif terhadap kekuatan kaum Muslimin dan peradaban Islam.

Masalahnya kemudian adalah bahawa Vali Nasr lebih menawarkan perspektif yang tidak begitu mesra terhadap kaum Sunni. Vali Nasr lebih melihat tokoh-tokoh Shi’ah yang kini berkuasa di Iraq dan juga di Iran termasuk Presiden Mahmoud Ahmadinejad sebagai orang-orang yang sedar betul tentang pemisahan Shi’ah-Sunni dan sekaligus sangat bersemangat membela ajaran dan nilai pokok Shi’ah. Pada saat yang sama mereka bukan hanya anti-Wahhabi, tapi juga anti-Sunni.

Perspektif seperti ini pada hemat saya tidak membantu bagi membentuk hubungan yang lebih baik dan harmoni di antara kedua sayap Islam; Sunni dan Shi’ah. Kebangkitan Shi’ah seyogianya bukanlah untuk membangkitkan luka-luka lama di antara kedua kelompok umat Muslimin; tetapi justeru untuk saling memahami dan hormat-menghormati.

Dan, dengan begitu, kebangkitan Shi’ah dapat bermanfaat positif bagi kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan, bukan kian memecahkan umat.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: