jump to navigation

Hasan Hanafi: Idea Islam Kiri Oktober 25, 2007

Posted by ummahonline in Tokoh.
trackback

Oleh: Azrin Muhammad

Hasan Hanafi, pemikir muslim modernis dari Mesir, merupakan antara tokoh yang akrab dengan simbol-simbol pembaharuan dan revolusioner. Idea-idea seperti Islam kiri, oksidentalisme adalah yang sering dikatkan padanya. Tema-tema tersebut dikemasnya dalam rangkaian projek besar; pembaharuan pemikiran Islam, dan usaha untuk membangkitkan umat dari kemunduran dan kolonialisme moden.

Dilahirkan di Kaherah, Mesir, pada 14 Februari 1934, Hanafi sewaktu kecil adalah seperti masyarakat Mesir yang lainnya, iaitu memperoleh pendidikan agama yang cukup. Pendidikan rendah dan tingginya ia tempuh di kota kelahirannya. Sedangkan gelar doktorat ia raih pada 1966 di Universiti Sorbonne, Paris, Perancis dengan disertasi berjudul Essai Sur la Methode d’exegese (Essai Tentang Metode Penafsiran).

Pada 1971, disertasi ini memperoleh hadiah sebagai karya tulis terbaik di Mesir. Dari Paris, ia kembali ke almamaternya, Universiti Kaherah dan mengajar falsafah Islam. Ia kini dipercaya sebagai pengarah bagi jurusan program tersebut.

Sebagai pemikir modernis, gagasan Hanafi terfokus pada perlunya pembaharuan rekonstruksi Islam yang disusunnya dalam konsep besar Turats wa Tajdid (Turats dan Pembaharuan), dan Al Yasar Al Islami (Islam Kiri) yang ia cetuskan pada 1981. Konsep itu merupakan kelangsungan dari gagasan Al Urwatul Wutsqonya Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Menurutnya, penggunaan nama ‘kiri’ sangat penting kerana dalam citra akademik, kata tersebut berkonotasi perlawanan dan kritisisme. Menurutnya, Islam kiri adalah hasil nyata dari Revolusi Islam Iran yang merupakan salah satu respon Islam terhadap Barat.

Hanafi berpendapat Islam kiri merupakan hasilan dari gerakan-gerakan kaum muslimin di Afghanistan, Nusantara, Filipina, Pakistan, dan Revolusi Algeria untuk memunculkan Islam sebagai khazanah nasional. Umat Islam di belahan tersebut ingin memelihara keaslian dan kreativiti dalam memperjuangkan kepentingan mereka, serta menggerakkan umat Islam di tempat lain. Esensi Islam kiri, adalah pencurahan segala potensi untuk menghadapi puncak permasalahan zaman ini yang berupa: imperialisme, zionisme, dan kapitalisme yang merupakan ancaman luaran, sementara kemiskinan, ketertindasan dan kemunduran sebagai ancaman dalaman.

Untuk projek besar seperti itu, menurut dia, muslim tidak boleh mengharapkan kebaikan pihak lain. Justeru, untuk dapat mengubah keadaan tersebut, yang mendesak untuk dilakukan oleh umat Islam adalah rekonstruksi (i’adah bina/pembangunan kembali) pemikiran Islam. Selama ini, menurut dia telah terjadi kebekuan pemikiran. Dan itu, katanya, menjadi penyebab utama kemunduran umat Islam.

Rekonstruksi dilakukan hanya dengan meletakkan warisan dan tradisi klasik dalam piawai modernisme. Jika sudah tidak cocok, tradisi tersebut harus diubah. Atau, katanya, harus ada penafsiran kembali terhadap sumber-sumber asal di mana tradisi tersebut terbentuk.

Dengan usaha ini, Hanafi yakin umat Islam akan mampu menghadapi cabaran barat, yakni bagaimana umat Islam memecahkan masalah kesenjangan sosial, ketidakadilan, kenaifan, pengekangan kebebasan berpendapat, dan ketertindasan rakyat. Dunia Islam, katanya, ditandai oleh jurang kaya-miskin dan penindasan kebebasan. Keadaan tersebut seharusnya diubah.

Yang terjadi selama ini adalah hidupnya al-turath (tradisi), yang merupakan akumulasi penafsiran yang diberikan berbagai generasi dalam menjawab cabaran zamannya, justeru menguatkan ketidakadilan tersebut. Tradisi macam inilah yang ia sebut sebagai ‘Islam kanan’.

Dalam menghadapi hegemoni Barat, Hanafi merumuskan paradigma fikir yang ia sebut oksidentalisme–cara memandang Barat–sebagai anti-tesis orientalisme Barat. Untuk ini, ia menulis buku khusus berjudul Muqaddimah fi ‘Ilmi Istighrab. Ia mengajak umat Islam mengkritik hegemoni budaya, politik, dan ekonomi Barat, yang terbina di sebalik kajian orientalisme.

Hanafi yakin orientalisme sama sahaja dengan imperialisme, seperti kepopularan imperalisme budaya yang disebut Barat melalui medianya dengan mempropagandakan Barat sebagai pusat kebudayaan kosmopolitan. Bahkan, orientalisme dijadikan semulus mungkin untuk melancarkan penerusan kolonialisme Barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam).

Apakah dengan oksidentalisme ini Hanafi berhasrat merebut kekuasaan orientalisme? Tidak! Hanafi menulis, oksidentalisme hanya ingin menuntut pembebasan diri dari cengkaman kolonialisme orientalis. Menurut Hanafi, ego oksidentalisme lebih bersih, objektif, dan neutral dibandingkan dengan ego orientalisme. Oksidentalisme sekadar menuntut keseimbangan dalam kebudayaan, kekuatan, yang selama ini memposisikan Barat sebagai pusat yang dominan. Dengan oksidentalisme, Hanafi berniat mengakhiri dan sekaligus meruntuhkan mitos Barat yang dianggap sebagai satu-satunya perwakilan (kekuatan) dunia.

Ituah Hanafi, ayah dari tiga orang anak. Ia sekurang-kurangnya pernah menulis 20 buku dan puluhan makalah ilmiah yang lain. Karyanya yang popular ialah Al-Yasar al-Islami (Islam kiri), Min al-`Aqidah ila al-Thawrah (Dari Teologi ke Revolusi), Turath wa Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan), Islam in The Modern World (1995), dan lainnya. Ternyata, Hasan Hanafi bukan sekadar pemikir revolusioner, tapi juga reformis tradisi intelektual Islam klasik.

About these ads

Komentar»

1. andi - Mei 13, 2008

dalam hal penyimpuan ketegori pimikiran tidak dijelaskan, baik sejarah pemikiranya hasan hanafi sendiri yang menunjukan kekiri2an

2. andi - Mei 13, 2008

maaf to smua kelancangannya

3. ismie - Mei 15, 2008

gerakan revolusioner atau pembaharuan memang sangat diperlukan, akan tetapi itu semua cukup hanya pada hal yang dinilai kurang relevan dengan keadaan sekarang ini. sehingga kita masih mempunyai citra diri. tidak selayaknya kita perbaharui secara keseluruhan


Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: