jump to navigation

Menyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur September 1, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Sebahagian kaum muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang, biasa menyambut bulan Ramadhan dengan acara ziarah ke kubur. Orang Jawa menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat yang telah mendahului mereka menghadap Allah swt.

Belakangan ada sebahagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diterap dari ajaran leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?.

Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam. Pertama, ziarah
orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang
telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama
lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang-
orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya
dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menurut hadis-hadis sahih yang
sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan
perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan
diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari
Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.

Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun
dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh
kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang
meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat
dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya,
disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan
Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah
mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan
beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia,
setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia
menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.

Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya
Fathimah itu adalah bahagian dari diriku. Siapa yang membuat marah
Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah,
ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa
tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan
akhlaknya, selain Fathimah. Saya mengutip hadis-hadis itu untuk
menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan
perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin
kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan
perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat
berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi
kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang
amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di
antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula
salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke
kuburan kaum muslimin.

Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh
para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah
ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat
dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada
salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal
dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut
pada salat subuh). Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat
indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni,
menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah
meninggal dunia.Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu
Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah
swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya.
Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan
para nabi atas perintah Jibril as.

Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah,
ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat
pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan
berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah
membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan
bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum
aku.

Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita
dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw
di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi-
Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis
menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa
itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari
kiamat.

Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada
kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum
muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya
beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi
ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan
lil ‘alamin.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah
saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, “Kedua ahli kubur ini
sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar.”
Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah
kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian
berkata, “Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan
meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering.” Dengan berkah
kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul B�ri, ketika membahas hadis ini
menulis: “Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin
melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah
ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang
kafir itu? Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah
menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma
Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu
bertasbih selama mereka dalam keadaan basah.” Seluruh pepohonan dan
tanaman bertasbih kepada Allah swt. Kedua pelepah kurma itu disimpan
Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni
kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat
dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh
syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, “Syafaatku kukhususkan untuk orang-
orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku.”

Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat
mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para
pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin
untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup
seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid.
Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan
menguburkannya pada malam hari. Suatu saat, ketika Rasulullah
mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi
harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci.
Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, “Kuburan
siapakah ini?” “Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering
membersihkan masjid,” jawab para sahabat. Rasulullah lalu
bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian
menguburkannya?” Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan
perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya
lagi, “Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?” Para sahabat
menjawab, “Ia adalah perempuan yang baik.” “Apa pekerjaan yang
dilakukannya?” Rasulullah masih bertanya. “Ia membersihkan masjid,”
jawab para sahabat.

Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam
itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan
dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan
menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan
perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang
menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahm�n,
menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang-
orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah
para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat
keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan
kebaikan bagi para ahli kubur itu.

Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi
mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam,
orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan
para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia
mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia
menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah. Di
tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan
khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba
wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut
tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat
nyaring. Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk
disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi
lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun
menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria
gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan
peristiwa yang sama terulang kembali.

Orang salih yang melihat semua ini keheranan, “Apa yang terjadi
dengan dirimu?” tanyanya. “Dahulu, ketika aku masih hidup,
alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang-
orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari
yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat,
aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya namun
orang tuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel, kusebarkan
berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah
menikah diam-diam.Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang
perempuan itu tak menemukan jodohnya. Tak ada seorang pun yang
melamarnya. Aku lalu meninggal dunia.

Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan
mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon
kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa
aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu
memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati
dan tak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan
perantara Imam Ali kw. Imam Ali berkata, “Nanti akan datang kepadamu
seorang salih, sampaikan pesanmu kepadanya.” Kini engkau telah
datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan
itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya.
Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini.”

Orang yang salih itu berziarah sehingga Tuhan menyingkapkan tirai
malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang
diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke
kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah
kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan
kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang
biasa.

Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak
semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke
kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji
Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan
para syuhada Perang Uhud itu. Bahkan kepada Rasulullah pun mereka
tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang
mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku
hidup.” Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang naik haji, pergi ke
Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Barang siapa yang
berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya.”

Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan
sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam
Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli
kubur. Di waktu itu, sebahagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan
dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang
beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan
Rasulullah saw.

Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam
kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita
lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita.
Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang
diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Sering
berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada
akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi
dalam shahih-nya.

Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara
kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al-
Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah
mendahului kami dalam keimanan. (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah
Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu
meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.

Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan.
Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar,
maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka
kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak
memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum
lelaki saja.

Sebahagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan
kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Allah
melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur.” Bila
dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari
segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun
bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya
oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita
berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli
kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan
salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang
berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan
bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.

Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang
perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak
melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, “Penghuni
kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis.” Hadis
ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena
tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw
meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, “Mayit itu
disiksa karena tangisan keluarganya.” Aisyah lalu berkata, “Semoga
Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya
salah dengar.”

Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi.
Rasulullah saw bersabda, “Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di
antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan.
Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang
tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka.” (Bih�rul
Anw�r, juz 10, hal. 97) Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan:
Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, “Kalau ada seseorang berdoa di
kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya,
apakah itu ada manfaatnya?” Abu Abdillah menjawab, “Betul, itu
bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah
itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah
bagi sesama kalian.”

Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah
meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari
mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud. Rasulullah mengajak
bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, “Apakah kalian telah
menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?”
Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang
yang mati padahal dia tak mendengarmu.” Rasulullah saw
menjawab, “Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka.” Para
ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih
hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada
hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai
penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah,
kami akan menyusul kalian.

Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para
ahli kubur, “Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai,
penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang
debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka
yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami
dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah
dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah
menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi-
bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian
untuk kami?” Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan
berkata, “Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka
akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang
paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa.”

Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah
mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di
kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat
Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali,
Ayat Kursi, serta membaca bahagian awal dan akhir dari surat Al-
Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di
kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.

Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah,
Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja.
Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad dan
keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah swt.

Nota: Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah Jalaluddin Rakhmat pada
Pengajian Ahad, tanggal 19 Nopember 2000, di Masjid Al-Munawwarah,
Bandung.

Komen-komen»

1. day... - September 1, 2008

marhaban ya Ramadhan. niat untuk puasa ke dua.

2. melli - September 14, 2008

terima kasih pak jalan atas tulisan ini…


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: