jump to navigation

Atas Nama Cinta April 19, 2004

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Maryam Hamadhani

Sudahkah anda membaca atau menonton kisah cinta Romeo dan Juliet? Atau kisah percintaan “mengelikan” antara Laila dan Majnun? Ya, kedua kisah itu menunjukkan pada kita, betapa besar kekuatan dari apa yang disebut “cinta”.

Kekuatan itu ternyata boleh menjadikan seseorang rela menjemput maut (pada kisah Romeo-Juliet). Atau begitu tak acuh dengan lingkungan sosialnya yang seringkali mencemuh dirinya (kisah kedua, di mana Majnun mencintai Laila, seorang gadis yang dalam pandangan umum waktu itu tergolong tidak rupawan). Begitu dahsyat dan mengagumkan tenaga cinta, sampai-sampai ia sanggup membutakan mata, menaikkan nyali, dan membungkam akal sihat?

Cinta merupakan kekuatan fitrah yang mengendap dalam ruang kesedaran manusia. Ia adalah anugerah Ilahi yang sekaligus menjadi santapan bergizi bagi jiwa manusia.

Sebagaimana orang yang gemar makan makanan yang bergizi agar tubuhnya sihat, jiwa yang begitu lahap mengunyah dan menelan benih-benih cinta, akan menjelma menjadi jiwa yang penuh kekuatan dan semangat. Dan, kekuatan itu akan terus tumbuh tanpa batas, seiring dengan terus dipupuknya cinta. Semakin berkobar api cinta dalam jiwa seseorang, makin besar pula daya tahan dan semangat hidupnya. Bagi para pecinta, kehidupan ini tampak begitu indah dan penuh kemilau. Sebaliknya, ketika jiwa manusia tersumbat sehingga tak mampu lagi mengesan aroma cinta, maka ia akan kehilangan ghairah, mati rasa, dan kehidupan ini melulu terlihat suram dan terasa hambar.

Sudah menjadi watak dasar manusia untuk selalu berinteraksi dengan orang lain. Cinta merupakan jambatan ruhani yang menghubungkan jiwa seseorang dengan jiwa seseorang lainnya. Tak ada cinta bererti tak ada tali hubungan antara individu masyarakat. Kalaupun terjadi, maka hubungan sosial minus kecintaan tersebut hanyalah bersifat semu semata.

Dan kecintaan kita pada orang lain, minimal, sedarjat dengan bobot kecintaan pada diri sendiri. “Cintailah saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri,” tegas sebuah hadis dari Rasul saw. Menunjukkan kasih sayang pada orang lain sangatlah berguna. Sebab, jika perasaan mulia ini diberikan pada orang lain, maka sebaliknya ia akan merasakan hal yang sama. Orang yang betul-betul berharap boleh menemukan jalan menuju permata yang sangat indah ini, harus mengisi hatinya dengan sinar ketenteraman dan kejujuran, serta menghapus segala kebencian.

Kecintaan seseorang pada dirinya sendiri pada dasarnya bersifat naluriah. Ia merupakan faktor yang sangat penting bagi seseorang dalam menempuh kehidupan ini. Hal ini mengingat hubungan antara manusia dengan alam semesta muncul darinya. Namun, jika kecintaan pada diri sendiri menjadi serba berlebihan (ifrad), jika sedemikian rupa, dan dibiarkan liar, jelas semua itu bakal menjerumuskan manusia dalam kubangan dosa dan berbagai tindakan amoral.

Ancaman pertamanya adalah rosaknya akhlak manusia. Parahnya, dalam diri orang yang terlalu mencintai diri sendiri tak ada lagi tempat untuk mencintai orang lain! Rasa cinta kepada sesama telah lenyap dari dalam hatinya. Darinya, akan rusaklah hubungan si sombong tadi dengan sesamanya. Luqman as, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an surat ke-31 ayat 18, berpesan pada putranya, “Janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia dengan sombong, dan jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang menyombongkan diri.”

Bahaya paling fatal, sekaligus musuh terburuk manusia, adalah sifat sombong dan percaya diri yang melampaui batas. Pada dasarnya, manusia yang sedar diri pasti akan membenci sifat atau perbuatan jahat. Tak terkecuali sifat sombong. Kita tentu tahu, sifat sombong akan menyebabkan tali cinta dan keharmonisan di antara individu menjadi terputus. Nah, dengan begitu sifat sombong sekaligus menjadi bibit unggul dari tumbuhnya permusuhan.

Justeru, dampak dari sifat sombong itu sungguh dashyat dan sangat berbahaya. Yang jadi sasaran bidik utamanya adalah alam bawah sedar manusia. Boleh kita bayangkan, apa jadinya kalau sifat kotor semacam itu sampai diderita orang-orang yang punya penyakit rendah diri (inferior). Sudah barang tentu yang terjadi adalah kekacauan, yang kemudian akan menggiring seseorang yang lemah tadi untuk nekat berbuat kejahatan. Inilah antara lain yang menyebabkan orang sombong menderita kesengsaraan.

Tingkah laku orang sombong bahkan boleh menjadi sangat keterlaluan. Cuba saja tengok sejarah!

Orang yang senantiasa menghalangi dan paling keras menolak seruan para nabi, rasul, dan orang-orang yang haq adalah mereka yang punya sifat sombong. Selain itu, berbagai pembantaian biadab yang terjadi sepanjang sejarah manusia, diakibatkan oleh perilaku kesombongan dan keangkuhan yang merasuk dalam diri manusia. Sifat sombong tersebut muncul dalam diri seseorang lebih disebabkan ia merasa tak dihargai secara layak oleh masyarakat. Padahal, ambisi penghargaan itu hanyalah bersifat khayali. Namun, bagi orang sombong, hal itu tetap harus mereka raih dengan menghalalkan berbagai cara. Yang penting, mereka boleh mencapai kedudukan mulia dan terpandang di tengah-tengah masyarakat.

Dalam al-Quran, Allah Swt menggambarkan perilaku kesombongan layaknya perbuatan Iblis yang menentang perintah Allah agar ia ‘tunduk’ kepada Adam as. Kerana dalam khayalannya, Iblis merasa punya martabat dan darjat yang lebih tinggi berbanding Adam as, ia pun menolak perintah Allah tersebut. Akibatnya, ia lantas tergelincir jauh ke dalam kesesatan dan kegelapan. Seseorang yang punya keperibadian agung, bermatabat, dan terhormat tentu tak akan mahu mencari dan memerlukan penghormatan yang berlebihan. Ia sedar bahawa dirinya kelak akan mudah terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan. Nabi Suci saw bersabda; “Tidak akan pernah mencium dan merasakan baunya surga bagi orang yang di dalam dirinya hinggap kesombongan walaupun sebesar biji zarra.”

Untuk menghindari keadaan mengerikan semacam itu, para psikolog memberi sejumlah gagasan yang sangat berharga. Mereka mengatakan, batasilah berbagai harapan dan dambaan anda, kurangilah hasrat dan penantian anda, bebaskanlah diri anda dari kesombongan dan keangkuhan, dan hindarilah khayalan-khayalan untuk menjamin diri anda untuk selalu berada dalam kedamaian.

Anjuran itu sesungguhnya boleh disederhanakan dalam satu model perilaku yang pada dasarnya mengandung moraliti tertinggi, sekaligus menjadi simbol cinta, yakni kerendahan hati. Imam Ali Abi Thalib, berkata; “Jika Allah Swt mengizinkan kesombongan bagi para penyembah-Nya, Dia akan mengizinkannya kepada para Nabi dan auliya-Nya yang paling dekat dengan-Nya. Tetapi Dia menjadikan mereka benci terhadap kesombongan dan menerima kerendahan hati. Oleh kerana itu, mereka menundukkan dahi mereka ke bumi, merobohkan wajah mereka ke debu (dalam bersujud), dan berendah hati terhadap orang-orang yang beriman.”

Orang-orang yang dihinggapi penyakit sombong biasanya punya anggapan yang serba terbalik tentang apa yang ada dalam dirinya. Mereka memandang kelemahan-kelemahannya sebagai kekuatan, kejahatan sebagai kebajikan, kebodohan sebagai kebijaksanaan, dan kekurangan sebagai kelebihan. Misalnya, ketika mereka tiba-tiba marah terhadap orang lain, mereka menganggap itu sebagai bukti keperibadian yang kuat. Juga tentang kelemahannya yang mereka anggap sebagai perwujudan rohani yang agung dan sensitif. Sampai-sampai, mereka memandang berat badannya sebagai bukti kesihatannya.

Imam Ali Abi Thalib berkata; “Jauhilah kesombongan atau jumlah orang-orang yang akan membencimu akan bertambah.” Dalam situasi yang lain, beliau berkata; “Kerendahan hati adalah puncak dari akal dan kesombongan adalah puncak kejahilan.” Beliau juga menyatakan: “Orang yang fikirannya melemah, kebanggaan dirinya menguat.”

Ketika suatu waktu merasa kecewa terhadap sesuatu hal yang sangat diharapkan namun tidak tercapai, kita tentu akan berupaya menarik perhatian orang lain. Dan lazimnya yang kita lakukan adalah memuja dan meninggikan diri sendiri. Sembari itu, kita membayangkan pula bahawa apa yang diharapkan itu seolah-olah telah tercapai, dengan bualan mengenai saat-saat dimana kita pernah mengecap keberhasilan di masa lalu. Atau dengan membesar-besarkannya kepada orang lain. Orang-orang yang tertipu oleh bualannya sendiri, biasanya sulit berubah. Mereka sudah tak mampu lagi menyadari bahawa dalam dirinya terkandung berbagai kekurangan yang sangat berbahaya.

Dalam al-Qur’an surat 95 ayat 6-7, Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya manusia suka melampaui batas. Kerana mereka memandang dirinya serba lebih.”

Berdasarkan ungkapan yang begitu indah dari ayat tersebut, kita boleh menyimpulkan bahawa sifat sombong bermula ketika seseorang merasa punya kelebihan berbanding manusia lainnya. Semakin sering kelebihan-kelebihan tersebut ditunjukan pada orang lain, makin bertambah pula tingkat keangkuhan yang bersarang dalam diri kita. Akibatnya, kita akan makin kurang menghargai, bahkan menganggap remeh, setiap kelebihan yang dimiliki orang lain.

Imam Ali Abi Thalib berkata; “Orang-orang yang merasa puas dengan dirinya, berbagai kelemahannya tersembunyi darinya, dan jika ia mengakui keutamaan orang lain, akan mencukupi berbagai kekurangan dan kelalaiannya. Dan carilah perlindungan kepada Allah dari sifat mabuk kekayaan, kerana sesungguhnya ia memiliki suatu kekhidmatan yang jauh.”

Islam merupakan agama yang senantiasa menyerukan agar manusia hidup dengan akhlak dan adab yang tinggi. Semua itu tak lain agar manusia sanggup meraih kehidupan yang mulia. Islam jelas tidak menghalalkan segala macam perbedaan yang tidak wajar. Namun, Islam tentu saja sangat menghargai manusia yang memiliki sifat-sifat suci dan luhur, dan sebaliknya, amat mengutuk seseorang yang menderita sifat-sifat buruk. Suatu hari, seorang yang kaya datang mengunjungi Rasulullah saw. Ketika orang kaya tersebut berada bersama Rasulullah saw, datanglah seorang miskin dan duduk di dekatnya. Melihat itu, si kaya tadi langsung mengangkat pakaiannya dan menjauhi orang miskin tersebut. Nabi melihat kejadian ini dan bersabda; “Betapa! Apakah kamu takut kalau kemiskinannya akan menular kepadamu.”

Alhasil, jika orang-orang sombong ingin merubah dirinya demi mencari kebahagiaan yang hakiki, mereka mau tak mahu harus membersihkan dirinya dari sifat yang selama ini telah menyesatkannya. Jika tidak, mereka nescaya akan menghadapi rentetan kekecewaan, kehampaan, dan kemunduran rohani, mental, dan fizik yang tak terelakkan. Naudzubillah.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: