jump to navigation

Maulid Dalam Perspektif Ulama Salafi Februari 17, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Naeem Choudhry.

Dalam merayakan kelahiran Nabi yang suci Muhammad saw — yang merupakan suatu saat yang bersejarah dalam peradaban umat manusia — para fuqaha Ahlus Sunnah mengkategorikan tradisi perayaan Maulid ini sebagai bid’ah hasanah (good inovation). Pada tahun 1991, sebuah fatwa disampaikan oleh Syaikh Muhammad al-Khazraji, seorang mufti besar kerajaan UAE dan pengarang otoritatif dalam khazanah perpustakaan buku-buku Islam.

Al-Khazraji menjelaskan bahawa meskipun Maulid dengan berbagai penyesuaian hari ini tidak dikenal pada masa-masa permulaan Islam, namun nilai keagungannya dalam menanamkan kecintaan kepada Nabi sangat signifikan dan dalam kenyata-annya tidak berkebalikan dengan prinsip yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini secara jelas menegaskan bahwa perayaan maulid Rasulullah saw adalah hal yang sangat dianjurkan (mustahab) sebagai media untuk menumbuhkan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Meskipun begitu, kita dapat jumpai beberapa mazhab yang menentang adanya perayaan semacam itu. Salah satu mazhab yang menentang diadakannya perayaan maulid itu adalah kaum Kharaji di Oman. Namun para fuqaha besar seperti Ibnu Hajar, al-Suyuti, al-Nawawi, al-Syaukani dan ulama-ulama ortodoks lainnya dalam karya-karya tulisan mereka menegaskan dukungannya terhadap perlunya perayaan maulid Nabi saw. Kaum ulama terdepan mazhab Sunni (kaum salafi) dari mazhab Hambali senantiasa berada pada barisan hadapan dalam mempromosikan perayaan-perayaan Islam di beragam tempat. Sebagai contoh, Ibnu Taimiyah, seorang ulama Syria abad pertengahan menulis:

“Merayakan dan memberi rasa hormat kepada kelahiran Rasulullah saw dan memandangnya sebagai saat-saat yang bersejarah sebagai mana yang dilakukan saudara Muslim kita adalah suatu perbuatan positif. Di dalam perbuatan itu, terkandung ganjaran yang besar dari sisi Allah karena dengan niat tulus dan ikhlas mereka meng-hormati Baginda Nabi Muhammad saw.” (Fatwa, vol. 23, hlm.163).

Murid kesayangannya, Ibnu al-Qayyim pun memberi ulasan serupa:

“Mendengarkan senandung indah pada perayaan kelahiran Nabi atau merayakan setiap saat sakral dalam sejarah Islam akan memberikan ketenteraman dan akan dicucuri rahmat oleh sinar kasih Rasulullah saw.” (Madarij al-Salikin, hlm. 498).

Dalam tradisi kaum salaf, para salaf al-shalih ini telah menghasilkan karya-karya apresiatif terhadap perayaan Maulid yang secara khusus dibacakan di depan umat pada setiap hari pelaksanaan perayaan itu. Salah satu di antaranya adalah karya Ibnu Katsir berjudul Maulid yang barangkali terbaik di antara karya-karya kaum salaf itu. Karya Ibnu Katsir itu masyhur dikenal di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Mufassir besar ini memulai Maulidnya dengan mengatakan:

Malam kelahiran Nabi agung itu adalah suatu malam yang penuh berkah, penuh kesakralan, kemuliaan, keagungan. Dan malam itu juga merupakan malam yang penuh anugerah, kesucian, penuh pancaran sinar cahaya dan malam yang tak ternilai harganya bagi para pengikut setia Muhammad saw.

Meskipun kemudian muncul usaha-usaha dari regim sekular dan kecenderungan orang-orang sektarian untuk mencampakkan tradisi kinasih dan berguna bagi kaum Muslimin ini. Namun para ulama dari berbagai mazhab Islam berusaha untuk melestarikan tradisi kaum salaf ini dengan mensosialisasikan Maulid Nabi saw. Bila mana keadaan kaum Muslimin dalam suasana yang memprihatinkan dan memerlukan tenaga lebih banyak untuk menyalakan kembali api cinta kepada Rasulullah di hati umat, maka pada saat itu masyarakat kita harus dengan setia mengikuti fatwa para ulama mukhlish yang menganjurkan kepada umat untuk menumbuhkan kecintaan pada yang terkasih, pembimbing dan junjungan kita Muhammad saw. Sebagaimana Mufti al-Khazraji menyimpulkan dengan sebuah ungkapan kepada kita:

“Merayakan Maulid Nabi saw adalah suatu tradisi yang sangat dianjurkan, khususnya di masa-masa sulit ini yakni di mana kecintaan kepada Rasul perlahan-lahan sirna dalam sanubari umat dan tradisi Maulid ini seyogyanya dilestarikan oleh kaum Muslimin.”

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: