jump to navigation

Mazra’ah Mac 1, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Haidar BagirDan carilah dalam apa-apa yang dianugerahkan Allah kepadamu rumah (kebahagiaan) akhirat. Dan jangan lupa bahagianmu dari kehidupan dunia.” – Al-Qur’an

Sesegera seseorang mendengar kata “tasawuf” atau “sufi”, maka yang terbayang adalah sesosok manusia yang serius, kalau tak, malah murung, tak banyak bergaul dan cenderung menyendiri, berpakaian seadanya serta hidup serba kekurangan, dan menghabiskan waktu-waktunya untuk melakukan ibadah (mahdhah). Entah dari mana kesan itu muncul dan mempengaruhi. Kerana, kalau kita baca ajaran sufi, yang kita tangkap adalah suatu kesan yang berbeza. Mungkin, dengan meminggirkan kemungkinan adanya pengaruh asing yang mencelah ke dalam disiplin keruhanian ini, akarnya boleh kita soroti dari pengertian istilah zuhud.

Zuhud memang merupakan salah satu konsep kunci tasawuf. Secara etimologi, kata ini berasal dari akar za-ha-da, bermakna menahan diri (dari sesuatu yang hukum-aslinya mubah). Anjuran berzuhud dalam tasawuf dilatarbelakangi oleh keyakinan kalangan ini bahawa manusia cenderung terlalu menikmati hal-hal keduniaan yang mubah itu sehingga, akhirnya, dia akan terjerumus ke dalam sikap yang berlebihan. Imam Ghazali, dalam bukunya yang berjudul Kimiya-i al-Sa’adah, mencontohkan penolakan Saidina Umar untuk memakai wewangian kerana khuatir terjerumus ke dalam sikap terlalu mencintai barang ini.

Sayangnya, praktik wara’ seperti ini kebelakangan telah berkembang kepada sikap penolakan kepada dunia dan kesenangan-kesenangannya. Orang-orang semacam ini barangkali berfikir bahawa dengan membunuh kecenderungan badannya terhadap kesenangan-kesenangan duniawi, maka potensi ruhaniah mereka akan boleh berkembang penuh. Padahal, dalam penafsiran yang lain, Islam tak pernah menghadapkan aspek duniawi dan badani manusia dengan aspek ruhani dan ukhrawi. Bukan hanya kerana perkembangan ruh memerlukan kepada kesejahteraan hidup keduniaan — baik fizikal mahu pun psikologi. Lebih dari itu, kehidupan dunia — jika diperlakukan secara benar — adalah wahana kita untuk dapat meraih kebahagiaan di akhirat.

Mungkin ujaran Sufi Syihabuddin ‘Umar al-Suhrawardi dalam buku-klasiknya ‘Awarif al-Ma’arif, tentang ciri-ciri seorang faqir atau sufi, berikut ini dapat mengungkapkan secara tepat keseimbangan yang subtil antara zuhud dan penerimaan terhadap kesenangan-kesenangan duniawi:

“(Seorang faqir atau sufi) mesti meninggalkan gagasan tentang kepemilikan duniawi, hidup dalam penuh keserasian dengan saudara-saudaranya, dermawan dan terus awas mengenai ucapan Nabi SAW: ‘Berilah siapa saja yang meminta (sedekah), meski ia datang naik kuda; ramah dan santun, berwatak pertengahan; selalu menampilkan wajah yang penuh senyum; menerapkan keadilan yang setinggi-tingginya terhadap saudara-saudaranya; memelihara keseimbangan yang sebaiknya antara zuhud yang berlebihan dan hidup terlalu enak.”

Mengenai soal ini, dalam suatu kalimat yang lugas, Rasulullah menyatakan, dunia adalah ladang (mazra’ah) untuk akhirat. Untuk menjelaskan sabda Nabi SAW ini, baiklah saya kutipkan kata-kata hikmah Amir al-Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib, khalifah yang biasanya digelari Penghulu Orang-orang Miskin (Imam al-Masakin), yang kepadanya hampir semua silsilah tarekat tasawuf bersumber:

“Sesungguhnya dunia ini adalah rumah kebenaran bagi orang-orang yang menelitinya secara cermat dan mendalam, suatu tempat tinggal yang penuh kedamaian dan kerehatan bagi orang-orang yang memahaminya, dan yang terbaik sebagai lahan bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal bagi kehidupan akhirat. Inilah tempat untuk mencari ilmu dan hikmah bagi orang-orang yang ingin meraihnya, tempat beribadah bagi sahabat-sahabat Allah dan bagi para malaikat. Inilah tempat yang di dalamnya para Nabi menerima wahyu dari Sang Rabb. Inilah pula tempat bagi para wali Allah untuk menyelenggarakan amal-amal baik dan untuk meraih imbalan yang setimpal; hanya di dunia ini mereka boleh berdagang untuk memperoleh Rahmat Allah, dan hanya ketika hidup di sini mereka boleh menukar amal-amal baik mereka dengan syurga. Nah, setelah ini semua, masihkah ada yang akan bicara tentang keburukan dunia ini?”

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: