jump to navigation

Keasyikan Cinta Mac 8, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: HudaManusia dalam dirinya mengandung dua potensi, iaitu potensi yang dapat membawa manusia untuk mengembangkan dirinya ke arah positif (malakuti) atau negatif (haiwani). Dua potensi ini saling tarik menarik dalam diri manusia untuk mewujud dalam perilaku kehidupannya. Dua potensi ini dapat berkembang berdasarkan pilihan manusia. Jika ia mampu menyingkirkan potensi negatifnya, maka akan menjadi seorang yang saleh dalam hidupnya, namun jika potensi positifnya yang tenggelam dalam pengaruh kehidupan negatif, maka kehidupan akan penuh dengan kenistaan, kezaliman, dan kekejian.

Dalam melakukan pilihan, manusia menggunakan dua fakulti yang ada pada dirinya, iaitu hati nurani dan akal fikiran. Islam mengajarkan untuk menggunakan kedua potensi tersebut secara maksimun, tidak hanya menggunakan pertimbangan salah satunya. Jadi, dalam perspektif ajaran Islam, potensi akal dan hati nurani harus menjadi prasarana yang saling melengkapi. Dia merupakan peranti yang paling asas sebagai alat pembeza ketika bersentuhan dengan realiti sebagai stimulant yang masuk ke dalam alam sedar manusia.

Jika kita membicarakan cinta, maka fakulti utama yang kita kembangkan adalah hati nurani dan akal. Perwujudan cinta, hanya akan terwujud dengan sepenuhnya jika hati nurani menjadi mediumnya. Akal bertugas untuk mengenal apa yang sebaiknya harus kita cintai, manakala hati nurani akan memelihara cinta tersebut dengan ketulusan. Ketulusan cinta tumbuh dari kesedaran akliah kita ketika mana kita merespon secara sedar sebuah pilihan. Dalam hidup, perwujudan cinta yang utama dan teragung adalah kecintaan mahluk pada Khaliknya, iaitu kecintaan manusia kepada Tuhannya.

Sejarah Islam telah mencatat, ketika Imam Ali ditikam oleh al-Rahman bin Muljam sewaktu sedang menjalankan shalat Fajar di masjid Kufah, lalu Imam Ali mengucapkan perkataan yang mencerminkan perwujudan cintanya pada Allah. Ia berkata: “Sungguh, saya sangat beruntung, demi Tuhan Ka’bah”. Kalau saja Imam Ali dalam bekerja untuk kepentingan duniawi, tentu saja ia akan berkata: “Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling sengsara, kerana tidak sedikit pun saya mendapat imbalan yang sebanding dengan panjang usiaku yang penuh dengan perjuangan, penuh pengorbanan. Seluruh hidupku hanya untuk cintaku pada Allah, namun tidak ada balasan sedikitpun”.

Imam Ali, dalam hal ini telah mengabadikan dirinya untuk sepenuh cinta pada Allah. Imam Ali, tidak melihat dari sisi keuntungan duniawi. Kecintaan terhadap Allah, tidak mungkin berada secara bersamaan dengan kecintaan terhadap duniawi dalam satu hati. Kerana itu, di sini kita menguji hati kita, apakah hidup dengan cinta kepada Allah, atau cinta kepada dunia. Jika manusia telah hidup dengan cinta kepada Allah, maka marilah kita memantapkan lagi cinta tersebut, jika yang ada adalah sebaliknya – na udzu billaah min dzaalik – yakni hidup dengan kecintaan terhadap dunia. Justeru, marilah kita bersihkan dari penyakit yang membahayakan serta menghancurkan itu. Sebagaimana teladan yang diperlihatkan Imam Ali tersebut.

Hakikatnya, cinta yang tertanam di dalam hati manusia mempunyai dua tahap. Tahap yang pertama ketika rasa cinta akan membentuk pola dasar dan kaedah bagi perasaan, kehendak dan obsesi manusia di dalam hidupnya. Pada tahapan cinta yang seperti ini, terkadang diwujudkan di dalam suatu peristiwa, ucapan, tindakan, makan dan minum, hubungan sosial, kebenaran dan lainnya. Tetapi yang menjadi pola dasarnya tetap berpusat pada cinta dalam hatinya. Walaupun terkadang sempat membelokkan obsesi cintanya, namun ia akan segera kembali, kerana ialah yang menjadi pusat aktivitinya.

Sedangkan pada tahap kedua, kecintaan seorang terhadap objek tertentu akan menjadi pusat segala sesuatu yang bergerak dalam nurani orang tersebut, sehingga sama sekali tidak ada peluang bagi objek lain untuk masuk ke dalam hatinya. Ertinya, manusia seperti ini akan selalu memandang obJek cintanya sebagai obsesi ke mana pun ia menghadap dan mengarah.

Cinta, adalah tangga pertemuan dengan Allah. Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Allah Yang Tunggal. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadah dengan seorang pun” (18:110). Cinta yang terpamer dalam kehidupan seorang mu’min sejati adalah keinginannya untuk memenuhi undangan pertemuan dengan Tuhannya. Pertemuan yang tidak lagi dibatasi dengan jarak. Sebaliknya, pertemuan yang melahirkan kenikmatan spiritual. Pertemuan yang mendorong menyatunya unsur-unsur Ilahiah dalam setiap denyut kehidupan sebagaimana digambarkan dalam al-Quran. Di sana, Allah Swt berfirman, “Jangan engkau mengira bahawa tanganmulah yang melempar”. Keadaan ini hanya akan tercipta ketika manusia sudah dapat mengatur dengan sistematik semua aktivitinya untuk selalu bernilai amaliah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Dan, paradigma gerakan dan tindakannya itu terbingkai dengan kalimat tauhid. Iaitu, ketika memulakan sesuatu perbuatan kerana niat sucinya kepada Allah (billah), di saat melakukan aktivitinya, ia meyakini bersama dengan Allah (maallah), dan orientasi serta tujuan akhir dari semua aktivitinya kegiatan hanya untuk Allah (illallah).

Tangga untuk meraih kemurnian cinta kepada Allah adalah pemurnian kesedaran pengakuan manusia terhadap kekuasaan, kemahatunggalan-Nya yang berwujud dalam kalimat tauhid. Hal tersebut diperlihatkan ke dalam bentuk kesehariannya dengan mengatur semua aspek kehidupannya yang berorientasi kepada nilai-nilai Ilahiah. Dalam tuntunan perjalanan (suluk), para sufi mereka menunjukkan jalan sebagaimana yang telah telah dilalui oleh para pencipta dan kekasih Allah kepada dua contoh yang radikal. Pada Allah, ini termanifestasikan dalam hati orang mukmin yang saleh, suci dan jiwanya bersih dari segala kotoran duniawi yang hina. Mereka menjadikan kecintaan kepada Allah sebagai sumber dan titik akhir bagi perasaan, kehendak dan obsesi serta cinta-cintanya. Memang, terkadang mereka disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah, bersenang-senang dengan sesuatu yang diperbolehkan, bercanda dengan teman, akan tetapi kecintaannya kepada Allah tetapi menjadi sumber dan titik akhir semua aktiviti tersebut.

Sedangkan kecintaan kepada Allah dalam tingkat yang kedua adalah cinta yang dimiliki oleh para Wali Allah, misalnya para Nabi dan Aulianya. Hal itu boleh dilihat pada apa yang dikatakan oleh Imam Ali. Ia pernah mengatakan, bahawasanya dirinya tidak pernah melihat suatu apapun kecuali ia melihat Allah bersama, sebelum, sesudah dan di dalam segala sesuatu itu. Kerana cinta dalam hatinya telah menyerlah sehingga menjadikan dirinya tidak boleh melihat apapun selain Allah. Pada ketika ia melihat manusia, maka yang dilihatnya adalah manifestasi kerahiman Allah. Ketika melihat kenikmatan bertebaran, maka yang dilihatnya adalah anugerah dan rahmat Allah yang berlimpahan.

Keterikatan segala sesuatu dengan Allah ini akan selalu berwajah di depan matanya. Kerana cintanya yang satu, kerinduan pada yang mutlak, kiblat cita-cita dan obsesinya yang terikat dalam kalimat tauhid tidak memperkenankan dirinya untuk melihat sesuatu selain Allah. Kepasrahannya dalam menerima hukum dan kehendak Allah, serta obsesinya untuk menuntut dan mengarahkan kelembutan akal dan hatinya, membuatnya begitu dekat dengan Allah. Rasulullah saw bersabda, “Wahai hamba Allah! Kalian semua laksana pesakit yang sedang menderita penyakit, Tuhan sekalian alam adalah doktornya. Maka kesembuhan pesakit tersebut terletak pada apa-apa yang diketahui dan di atur oleh doktornya, bukan pada apa-apa yang diinginkan dan diusulkan oleh doktor tersebut. Kerana itu, serahkanlah seluruh urusan kepada Allah, nescaya kalian tergolong di kalangan orang yang beruntung.”

Malah, hal yang persis persis juga pernah diungkapkan oleh Imam Ali Hadi an-Naqi, “Yang lebih baik dari kebaikan adalah pelakunya, yang lebih indah dari kehidupan adalah pembicaranya, yang lebih unggul dari ilmu adalah pemiliknya, yang lebih jelek dari kejahatan adalah penyebabnya dan yang lebih dahsyat dari bencana adalah pelakunya”.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: