jump to navigation

Wilfred Hoffman: Islam Alternatif April 12, 2006

Posted by ummahonline in Tokoh.
trackback

Oleh: Abdul Hayyie al-Kattani

Wilfred Hoffman atau nama Islamnya, Murad Hoffman pernah menjadi Duta Jerman ke Maghribi pada tahun 1992. Dan, ketika itu juga Hoffman telah menerbitkan satu bukunya yang menggegerkan masyarakat Jerman: Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif). Dalam buku tersebut, Hoffman tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah retak dan kehilangan justifikasinya, namun Hoffman secara eksplisit mengatakan bahawa alternatif Islam bagi masyarakat Barat adalah suatu kepastian.

Seperti Hoffman ungkapkan dalam prakata bukunya tersebut: “Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Kerana memang hanya Islamlah satu-satunya alternatif itu!” Oleh kerana itu, tidak aneh ketika buku itu belum terbit lagi ia telah pun telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya, ketika wawancara di televisyen saluran satu bersama Murad Hoffman; dan dalam wawancara tersebut, Hoffman bercerita tentang bukunya yang –ketika itu– sebentar lagi akan terbit itu.

Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan, serentak mereka mencerca dan menggugat Hoffman, hingga sebelum mereka membaca buku tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel. Malah, pada kesempatan yang lain, televisyen Jerman telah merakam Murad Hoffman saatnya sedang melaksanakan shalat di atas sejadahnya di Kedutaan Besar Jerman di Maghribi, sambil diulas oleh wartawan: “Apakah logik jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?”

Murad Hoffman terlahir pada 6 Julai 1931, dengan nama Wilfred Hoffman, dari sebuah keluarga Katolik, di Jerman. Pendidikan Universitinya dilalui di Union College, New York. Pada tahun 1957, Hoffman meraih PhD dalam bidang Undang-undang Jerman dari Universiti Munich. Dan, pada tahun 1960, Hoffman meraih gelaran magistret dari Universiti Harvard dalam bidang Undang-undang Amerika. Hoffman kemudian bekerja di kementerian luar negeri Jerman, semenjak tahun 1961 hingga tahun 1994. Ketika ini, Hoffman bertugas dalam masalah pertahanan nuklear. Hoffman juga pernah menjadi pengarah penerangan NATO di Brussel, Duta Besar Jerman di Algeria dan terakhir sebagai Duta Jerman di Maghribi, hingga tahun 1994. Kini, bersama isterinya, seorang muslimah asal Turki, Hoffman menikmati masa-masa persaraan di Istambul sambil berfikir dan mengarang buku.

Pengalamannya sebagai duta dan tetamu beberapa negara Islam telah mendorongnya untuk mempelajari Islam, terutama Al-Qur’an. Dengan tekun Hoffman mempelajari Islam dan belajar mempraktikkan ibadah-ibadahnya. Pada tanggal 11 September 1980, di Bonn, setelah lama Hoffman rasakan pergolakan pemikiran dalam dirinya yang makin mendekatkan dirinya kepada keimanan, dengan terharu ia mengungkapkan dalam memoirnya: “Aku harus menjadi seorang Muslim!” Maka, pada tanggal 25 September 1980, di Islamic Center Colonia, ia dengan pasti mengucapkan dua kalimat shahadat.

Ia memilih nama baru nama baru bagi dirinya: “Murad”. Muhammad Asad, seorang Muslim Austria, yang sebelumnya bernama Leopold Weist, dalam pengantarnya terhadap memoir Murad Hoffman, lebih jauh menjelaskan makna falsafah nama tersebut: “Murad ertinya “yang dicari”, dan pengertiannya yang lebih luas adalah”’tujuan”, iaitu tujuan tertinggi hidup Willfred Hoffman.”

Murad Hoffman telah menulis beberapa buku tentang Islam. Pada tahun 1985 ia menulis memoirnya, yang diterbitkan pada bahasa Inggeris pada tahun 1987, dalam bahasa Perancis pada tahun 1990, dalam bahasa Arab pada tahun 1993, dan bahasa Indonesia pada tahun 1998 (dengan judul Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman).

Bukunya yang menggegerkan; Der Islam als Alternative, juga telah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggeris dan bahasa Arab, pada tahun 1993. Annemarie Schimmel dengan hangat memberikan kata pengantar dalam buku tersebut, dan dengan antusias menutup pengantarnya itu sambil menyindir Goethe: “Jika Islam berarti ketundukan dengan penuh ketulusan, maka atas dasar Islamlah selayaknya kita hidup dan mati!” Memang, menurut pengamatan Murad Moffman, sebentar lagi Schimmel akan terus terang memeluk Islam.

Dalam buku Trend Islam 2000, Murad Hoffman mencuba menatapi potensi futuristik peradaban Islam. Dengan tujuh bahagian kajian, Hoffman memulai dengan melihat tiga sikap kaum Muslimin terhadap masa depan mereka. Pertama: kelompok yang pesimis, yang melihat bahwa perjalanan sejarah pada dasarnya selalu menurun. Kedua: kelompok yang melihat sejarah umat Islam seperti gelombang yang terdiri dari gerakan naik turun. Dan, ketiga: kelompok yang amat optimis, yang melihat bahwa sejarah Islam terus menuju kemajuannya.Ketiga kelompok ini, masing-masing mempunyai sandarannya dari teks agama Islam.

Hoffman mengajak kita untuk bersikap optimis, menatap mentari esok dengan semangat dan usaha. Maka, Hoffman mulai mencari faktor-faktor yang mendorong optimisme tersebut, kemudian dibandingkan dengan situasi agama Kristen dan Yahudi, sambil membaca hubungan Islam dan Barat. Kemudian, Hoffman kembali bertanya, apakah mungkin membangkitkan Islam kembali?

Untuk menjawab ini, Hoffman mengajukan skala prioriti pembaharuan yang harus dilaksanakan sebagai prasyarat kebangkitan itu, iaitu: perbaikan mutu pendidikan dan teknologi, melepaskan belenggu kaum perempuan, perbaikan dalam hak-hak asasi manusia, merumuskan teori negara dan ekonomi, memberikan sikap tegas terhadap sihir dan khurafat, dan memperbaiki sarana transportasi dan komunikasi di dunia Islam.

Sambil dengan tegas membedakan antara: Islam sebagai agama dan sebagai peradaban, sunnah yang sahih dan yang tidak, syari’ah dan pemahaman fuqaha (fiqh), serta Al-Qur’an dan as-Sunnah. Hoffman turut memberikan prioriti pada perbaikan pendidikan dan kemampuan teknologi. Kerana masa depan kita, Hoffman menambahkan, diciptakan dari dua bidang ini.

Namun, setelah menyaksikan kondisi negara-negara Islam atau negara yang mempunyai majoriti Muslim, Hoffman tampak kecewa, kerana mendapati mereka ternyata masih jauh dari komitmen untuk melakukan perbaikan-perbaikan itu. Hal itulah, barangkali yang menyebabkan Hoffman menulis dalam pengantar buku Trend Islam 2000: “Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realiti yang pedih!”

“Dengan kondisi negara-negara Islam seperti itu”, tambahnya pada penutup buku Trend Islam 2000, “kita justeru menjumpai kesuburan peradaban yang diperlukan untuk membangkitkan Islam telah berpindah dari pusat-pusat tradisional ke tempat-tempat seperti Los Angeles, Washington, Leichter, Oxford, atau Colon dan Paris. Oleh kerana itu, tidak aneh jika nanti gerakan kebangkitan dan pembaruan Islam justeru dipimpin oleh pemikir-pemikir Islam dari negara-negara non-Muslim!”

Saat ini Murad Hoffman sudah aktif ikut dalam persidangan-persidangan Islam antarabangsa yang diadakan oleh organisasi-organisasi Islam. Jadi, Hoffman sudah dikelompokkan sebagai tokoh Islam global. Dan, setahun lepas, Hoffman mendapatkan bintang penghargaan dari pemerintah Mesir atas jasa-jasanya dalam pemikiran Islam.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: