jump to navigation

Satin kehidupan April 21, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatPada suatu waktu, seorang Turki mendengar cerita bahawa di kota tempat ia tinggal, hidup seorang penjahit yang pintar mencuri. Siapa saja yang menjahitkan pakaiannya di tempat itu, tanpa disedari, akan tercuri kainnya oleh sang penjahit. Orang-orang berkata, “Penjahit itu mengecoh orang dengan tangannya yang ringan dan keahliannya mencuri.”

Orang Turki itu menjawab, “Aku jamin aku takkan tertipu. Meskipun ia berusaha seratus kali menipuku, ia takkan berhasil mengambil sehelai benang pun dari kainku.” 

Orang-orang berkata lagi, “Orang yang jauh lebih pandai darimu pun sudah pernah ia tipu. Janganlah kau bangga dengan kecerdasanmu, kerana nanti kau akan merugi.” Namun, orang Turki itu merasa tercabar. Ia mengajak mereka bertaruh. Ia yakin penjahit itu takkan mampu menipunya.

Singkat cerita, si Turki itu pun datang menemui penjahit terkenal itu sambil membawa kain satin yang indah. Begitu ia masuk, penjahit licik itu menyambutnya dengan hangat. Ia bangun dari tempat duduknya, bersalaman dengan penuh semangat, menanyakan khabar dirinya dengan ramah-tamah yang belum pernah ditemukan oleh orang Turki itu sebelumnya. Diam-diam orang Turki itu mulai bersimpati kepadanya.

Setelah ia mendengar sambutan yang amat ramah itu, yang terdengar lebih indah dari nyanyian burung Kutilang, si Turki pun menyerahkan kain satin yang dibawanya. Penjahit itu berkata, “Wahai orang yang paling baik, aku akan berkhidmat kepadamu seratus kali.”

Ia lalu segera mengukur kain dan mengelus-elusnya sementara bibirnya tak henti berbicara. Ia bercerita tentang kisah-kisah yang teramat lucu. Orang Turki itu pun tertawa terbahak-bahak. Ketika ia tertawa, tanpa sedar matanya tertutup, dan saat itulah si penjahit menggunting kain satinnya secepat kilat.

Kerana senangnya mendengar cerita sang penjahit, orang Turki itu lupa bahawa yang ia hadapi adalah seorang penipu besar. Ia tak ingat bahawa orang yang ada di depannya terkenal di atas kemampuannya mencuri. Seraya tertawa lebar, orang Turki itu berkata, “Demi Tuhan, teruskan cerita-cerita lucumu itu kerana ia amat menyenangkan hatiku.” Maka, penjahit itu lalu mengisahkan cerita baru yang lebih lucu lagi.

Ketika orang Turki kembali tertawa, si penjahit untuk kedua kalinya menggunting kain satin dan menyembunyikannya. Setelah itu, masih saja orang Turki itu berkata, “Ceritakanlah lagi lelucon-leluconmu padaku.” Dan berceritalah sang penjahit dengan lelucon yang lebih lucu. Kembali ia menggunting kain satin itu tanpa disedari oleh pemiliknya.

Orang Turki itu kini telah benar-benar menjadi korban dari humornya. Matanya tertutup, akalnya hilang, dan kesedarannya lenyap. Ia benar-benar mabuk akan lelucon. Dan lagi-lagi penjahit itu memotong kain satinnya.

Saat orang Turki meminta penjahit itu meneruskan ceritanya, sang penjahit menolak, “Berangkatlah hai orang yang tertipu. Celakalah bila aku bercerita lelucon lagi padamu, pakaianmu nanti akan menjadi terlalu sempit. Alangkah anehnya tertawamu. Sekiranya kau mengetahui sedikit saja dari kebenaran, niscaya kau akan menangis, bukannya tertawa….”

Kisah di atas, yang diceritakan Rumi dalam Matsnawi, buku keenam, memberikan pelajaran yang amat berharga. Kita adalah orang Turki yang datang ke hadapan sang penjahit. Penipu ulung itu adalah kehidupan dunia kita yang membawakan kepada kita cerita-cerita yang lucu dan menyenangkan. Tak jarang kita mabuk dengan cerita dunia. Tanpa kita sedari waktu pun menggunting satin kehidupan kita.

Satin adalah lambang kehidupan, yang kita simpan di hadapan penjahit untuk dijadikan jubah kesalehan. Namun, kerana tipuan dunia, yang memberikan hiburan tanpa henti pada kita, satin kehidupan itu tanpa kita sadari menjadi amat sempit. Dunia terus memotonginya dengan gunting waktu yang amat tajam.

Seperti kata Rumi, kita adalah orang-orang yang menjalani kehidupan ini, sementara hari demi hari menggunting sebahagian besar dari satin kehidupan yang seharusnya kita persembahkan untuk dijadikan jubah kesalehan. Al-Quran mengingatkan kita, “Tidaklah kehidupan dunia ini kecuali permainan dan canda tawa. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Al-An’am: 32).

Kisah suka dan duka adalah permainan dunia ini. Hendaknya semua itu tak membuat kita lupa akan tujuan lahir kita di dunia. Al-Quran mengatakan, “(Maha suci Allah) Yang menjadikan menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (Al-Mulk: 2).

Sekali lagi, marilah kita berusaha menyelamatkan serpihan satin-satin kehidupan, untuk kita jahit menjadi pakaian jubah kesalehan.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: