jump to navigation

Negara dalam definisi Hijrah Mei 20, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: TetamuPerjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah merupakan momentum awal untuk kemenangan Islam dari masyarakat Jahiliyah. Melalui proses hijrah, Nabi Muhammad melakukan konsolidasi untuk membangun masyarakat yang adil. Cita-cita Islam adalah membebaskan manusia dari penindasan atas nama agama, keturunan, dan puak. Islam hadir untuk memberikan rasa keadilan pada manusia.

Hijrah, paling tidak, mempunyai berbagai aspek termasuklah aspek teologi dan sosiologi. Dari aspek teologi, hijrah merupakan peristiwa supranatural. Tuhan berperanan secara langsung, baik dalam proses persediaan, pelaksanaan, mahupun pemeliharaan. Al-Quran mengisyaratkan peristiwa itu:

“Apakah mereka (kaum kafir Makkah) berkata, Kami adalah kelompok yang menang? Kelompok mereka itu akan dihancurkan, dan mereka lari terbirit-birit. Sungguh, saat itu akan datang sebagai janji kepada mereka, dan saat itu akan sangat menyedihkan dan sangat pahit (bagi mereka).” (Al-Qalam: 45-47).

Ayat yang lain bahkan menggambarkan kemenangan Nabi Muhammad Saw setelah hijrahnya, dengan izin Allah:

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu melaksanakan al-Quran, akan mengem-balikanmu ke tempatmu semula (Makkah)”. (Al-Qashash: 85).

Aspek teologi hijrah memang mempunyai landasan yang mendukungnya. Namun, hijrah bukanlah semata-mata peristiwa teologi. Sisi sosiologi sejarah yang merupakan penguat hijrah, telah di tandai dengan meninggalnya bapa saudara Nabi, Abu Thalib dan isteri Nabi, Khadijah; pengasingan dan penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan kafir Quraisy kepada kaum muslimin; dan perjanjian aqabah I dan aqabah II. Peristiwa-peristiwa ini memberikan landasan sosiologi kepada Nabi untuk melaksanakan hijrah.

Hijrah merupakan sebuah momentum untuk mengembalikan kepercayaan diri kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran yang selama ini diyakini dengan begitu banyak pengorbanan. Sejarah mencatatkan bagaimana sahabat Nabi, seperti Bilal dan Salman al-Farisi yang disiksa kafir Quraisy kerana keyakinan keislamannya.

Hijrah membentangkan sebuah harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Sebuah tatanan masyarakat yang merupakan kemestian Ilahi. Hijrah merupakan perlawanan terhadap penindasan kekuasaan dengan melakukan pembinaan masyarakat pada tempat yang sesuai. Madinah, sebagai sasaran hijrah, merupakan kota perlawanan, kota perjuangan untuk merebut kemenangan.

Hijrah bukanlah pelarian kerana ketakutan terhadap kematian, kerana tidak mung-kin Rasulullah takut terhadap kematian. Karena, jika Rasulullah mempertahankan keberadaannya kaum muslimin di Makkah, maka ini akan menyulitkan kaum muslimin itu sendiri, yang waktu baru berjumlah sekitar 100 orang. Rasulullah sendiri berhijrah setelah mempersiapkan kondisi psikologi dan sosiologi di kota Madinah dengan mengadakan perjanjian Aqabah I dan Aqabah II.

Mengembangkan makna hijrah untuk menarik relevansi kekiniannya, jelas tidak harus menggunakan parameter sosiologi sejarah zaman Rasulullah. Kerana, menarik sosiologi sejarah menjadi kemestian yang harus dilalui itu merupakan satu kemusykilan. Kerana, Rasulullah telah tiada. Jadi memaknai makna hijrah saat ini adalah dengan menarik peristiwa itu sebagai ibrah (pelajaran).

Jadi, tidak ada salahnya jika belajar dari peristiwa hijrah untuk dijadikan pelajaran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat kita ini. Sehingga krisis yang melanda masyarakat kita ini tidak lagi berkepanjangan.

Ibrah dari peristitwa hijrah dapat ditarik relevansinya dengan melihat persoalan-persoalan yang menjadi kemelut masyarakat. Tidak dapat dinafikan, bahawa masyarakat kita sedang dirundung krisis yang tidak kunjung selesai-selesai. Berbagai krisis yang menerpa masyarakat kita bagaikan benang kusut, di mana untuk menyelesaikannya memerlukan kekuatan yang luar biasa.

Padahal masyarakat ini sudah mempunyai begitu banyak orang pintar, tapi di sinilah justeru letak kesulitannya. Kerana kepintaran yang diiringi dengan egoisme justeru hanya menambahkan lagi masalah. Apalagi jika kepintaran diiringi dengan nafsu kekuasaan dan kekayaan akan makin mempersulitkan penyelesaian.

Ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan dari peristiwa hijrah masa Rasulullah. Pertama, siapnya kondisi sosiologi dari masyarakat Makkah dan Madinah, baik yang akan hijrah dan yang menampung penghijrahan. Kedua, adanya kepemimpinan yang memberikan rasa perlindungan dan keadilan pada kedua masyarakat itu, sehingga di Madinah tercipta suatu masyarakat madani; iaitu masyarakat yang plural, inklusif, berkeadilan sosial dan demokratis.

Hijrah merupakan konsep yang harus dilakukan dalam konteks kondisi masyarakat kita yang sedang dilanda krisis. Dalam perjalanannya, wajah masyarakat, setelah hampir lima puluh tahun merdeka, ternyata tidak mengarah pada cita-cita awal pendirian megara kita ini. Banyak persoalan yang terapung yang menjadi agenda besar. Persoalan krisis sosial-ekonomi-politik kemudian berimbas pada polarisasi kaum. Tak ada kebanggaan berbangsa dan bernegara!

Dari pelajaran hijrah di atas, kita dapat simpulkan bahawa untuk membangun masyarakat kita ini menuju cita-citanya —negara dengan masya-rakat yang adil, makmur dan sejahtera — kita perlu menyiapkan beberapa hal. Prasyarat pertama ialah mempersiapkan kondisi sosiologi yang mampu menerima idea-idea reformasi. Kita perlu melakukan kesedaran kepada masyarakat baik di kalangan elit mahupun akar umbi untuk menerima bahawa masyarakat kita terdiri ragam bangsa dengan beragam suku, agama dan budaya. Membangun kesedaran pada hal ini haruslah dikembangkan pada segala lapisan masyarakat.

Di sini, kita perlu memberikan cara pandang pada masyarakat bahawa perbezaan suku, agama dan budaya bukanlah suatu sekatan social, apalagi sumber konflik sosial. Justeru, semua ini merupakan kekayaan masyarakat yang harus dikembangkan untuk membangun bangsa yang makin beradab. Semua perbedaan itu bukan menjadi benteng untuk mengembangkan kreativiti dan membangun persaudaraan antara sesama anak bangsa.

Manakala, prasyarat kedua adalah membangun pemerintahan yang berwibawa; yang memberikan perlindungan hukum dan keadilan pada segenap lapisan masyarakat; yang tidak memandang keberadaan hukum hanya untuk masyarakat bawahan, sedangkan lapisan elit terlepas dari kekuasaan hukum. Penegakan kedaulatan hukum inilah yang akan memberikan kewibawaan kepada sesebuah pemerintahan.

Penundaan hukuman terhadap segala tindak kezaliman kemanusiaan, bukan saja memberikan rasa ketidakadilan hukum pada masyarakat, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian hukum. Akibatnya, masyarakat mengambil langkah-langkah di luar jalur hukum, yang kemudian menimbulkan potensi konflik horizontal, pertembungan kaum dan agama.

Kesimpulannya, membangun masyarakat yang beradab, berkeadilan dan demokratik seharusnya menjadi cita-cita bersama sesama anak bangsa kita. Apa yang kita harapkan ialah untuk berdiam di sebuah negara yang sarat nilai baik, tanpa menyimpan wasangka-wasangka negatif terhadap bangsa lain sembari berdalilkan faktor sejarah dan demografi!

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: