jump to navigation

Islam dan cabaran demokratisasi Jun 19, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Ahmad Fuad FananiSemenjak awal abad ke-21, demokrasi menjadi tema umum yang menarik perhatian banyak negara di seluruh dunia. Negara-negara bekas Soviet Union, Eropah Timur, Timur Tengah, Asia, dan Afrika mempunyai keinginan menyuarakan tentang perlunya power sharing.

Dalam power sharing, kekuasaan yang menjadi bahagian penting demokrasi itu terdapat aspek partisipasi, representasi, dan perlindungan warga negara. Pada demokrasi, juga menetapkan adanya akuntabiliti pemerintahan, aturan hukum, dan keadilan sosial.

Menurut John L Esposito (Modernizing Islam: Religion in the Public Sphere in Europe and the Middle East, 2003) dalam tatanan demokrasi, para professional, aktivis NGO, partai politik, pendidikan, keuangan, perkhidmatan kesihatan, organisasi hak asasi wanita dan manusia memungkinkan untuk terlibat.

Soalnya, dalam sistem ini, pada dasarnya kekuasaan adalah dari dan untuk rakyat. Oleh kerananya, semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif maupun mengawal keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksecutif, legislatif, mahu pun judikatif.

Pada banyak negara dan masyarakat Islam, agama menduduki posisi yang signifikan dalam perkembangan tatanan demokrasi ini. Peranan agama menjadi penting, apakah ia akan mendukung demokratisasi ataukah justeru ia menjadi penghalang bagi penciptaan sebuah masyarakat yang demokratik.

Ditambah lagi, institusi agama juga banyak yang menyediakan perkhidmatan sosial, lembaga pendidikan, kesihatan, yang tentu sangat berpengaruh pada kondisi masyarakat. Maka kesesuaian yang jelas dan titik temu pemahaman yang jernih antara Islam dan demokrasi sangat memberikan sumbangan positif pada penciptaan negara dan masyarakat yang demokratik.

Kritik konsep khilafah

Dalam pandangan banyak masyarakat Islam, perdebatan apakah Islam cocok dengan demokrasi atau tidak sudah menjadi polemik lama yang hingga sekarang belum tuntas. Perdebatan ini menjadi penting untuk diangkat terus-menerus, sebab situasi dalam negara Muslim dan pada umumnya negara di dunia senantiasa berkembang dan berubah. Menurut para pakar hukum Islam, pada era abad lampau, umumnya ada tiga hubungan antara Islam dan pemerintahan yang banyak mengemuka pada masyarakat Muslim.

Pertama, sistem kuno, iaitu sistem negara yang alami, tidak beradab, anarkis, serta bersifat tiranik. Hukum dalam sistem ini adalah sebagaimana hukum rimba, iaitu bagaimana yang kuat memakan atau mengalahkan yang lemah. Kedua, sistem kerajaan, iaitu adanya seorang raja yang mengatur semua urusan negara.

Sistem ini juga banyak menguntungkan hanya pada kelas penguasa dan meminggirkan rakyat jelata, oleh kerananya sangat tiranik dan tidak mempunyai legitimasi. Ketiga, adalah sistem kekhalifahan, iaitu adanya seorang pemimpin yang mendasarkan aturan pemerintahan pada hukum syariah. Kerana di anggap sebagai pemerintahan berdasarkan syariah yang mempunyai otoritas dibandingkan manusia, maka sistem ini menjadi kuat dibanding sistem lainnya (Khaled Abou El Fadl, Islam and the Challenge of Democracy, 2003).

Berdasarkan anggapan seperti itu, maka sistem kekhalifahan saat ini juga masih banyak yang menarik perhatian umat Islam. Mereka umumnya kembali menginginkan kejayaan kekhalifahan Bani Umayyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah, kembali muncul pada abad sekarang.

Hal ini tampak terlihat dari fenomena Hizbut Tahrir yang banyak mengumandangkan khilafah Islamiyah sebagai penyelesaian atas persoalan bangsa dan dunia. Padahal, pasca-ambruknya kekhalifahan Abbasiyah oleh tentara Mongolia pada tahun 1258 Masehi dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Mamluk di Turki yang diganti oleh pemerintahan sekular Mustafa Kemal Ataturk, sudah banyak masyarakat Muslim yang lebih tertarik pada konsep negara kebangsaan (nation state).

Bila kita telusuri dan fikirkan lebih mendalam, pada dasarnya pada sistem khalifah terhadap persoalan yang mendasar dan problematis. Kerana ia mengaku sebagai Khalifatullah war Rasul (wakil Tuhan dan Rasulullah), maka banyak khalifah yang tidak merasa perlu atau penting mempertanggungjawabkan kekuasaannya.

Soalnya, dia menganggap bahawa apa saja yang dikatakan atau diperintahkan, itulah wujud dari hukum Tuhan. Dari sini, otoritanianisme dan absolutisme kekuasaan berawal muncul dan menjadi tradisi yang dipelihara oleh banyak khalifah-khalifah di masa lalu.

Padahal, sebagaimana tugas nabi sendiri, pada dasarnya adalah untuk menyejahterakan dan memberikan bimbingan pada manusia seluruhnya. Selain itu, dalam sistem kekhalifahan, juga tidak ada pemisahan kekuasaan yang tegas antara eksekutif, legislatif, dan judikatif.

Adanya kecenderungan romantisme masa lalu itulah maka kesesuaian antara Islam dan demokrasi di masyarakat Islam menjadi persoalan yang rumit. Selain kerana anggapan awal bahwa demokrasi adalah idea Barat yang sekular dan tidak mengakui Tuhan, mereka juga mempertanyakan di mana meletakkan kedaulatan Tuhan di antara kedaulatan rakyat dan aturan negara?

Menurut Khaled Abou El Fadl (2003), pada dasarnya demokrasi sangat mendukung kedaulatan Tuhan. Tapi, kedaulatan Tuhan itu sendiri sesungguhnya boleh diketahui lewat kehendak masyarakat atau dengan memenuhi kedaulatan rakyat.

Sebab, pada dasarnya yang sering dikatakan sebagai hukum atau kehendak Tuhan oleh sebahagian masyarakat itu sesungguhnya adalah penafsiran manusia yang sangat beragam dan tidak terdapat kebenaran tunggal.

Oleh kerananya, visi etik Al Qur’an yang mengajarkan tentang penegakan hukum, shuro’, al-’adalah, dan al-musawah adalah tiang bagi tatanan demokrasi itu sendiri.

Menuju praksis demokrasi

Olivier Roy (Globalised Islam: The Search for a New Ummah, 2004) menyatakan bahawa perdebatan pada istilah atau konsep Islam dan demokrasi pada saat ini bukanlah menjadi persoalan yang terlampau penting. Yang lebih penting adalah persoalan dukungan dan keterlibatan masyarakat untuk melakukan pembelajaran dan praktik demokrasi.

Tentu saja, ini berlaku pada sepanjang waktu, kalangan atas dan bawah, serta dalam keadaan damai atau konflik. Sebab, demokratisasi akan boleh ditegakkan pada masyarakat nyata, jadi bukan pada hal atau visi abstrak yang diinginkan masyarakat.

Pada wilayah ini, maka para penduiung demokrasi yang berbeda mesti memberikan pemahaman internal tentang konsep yang selanjutnya ditransformasikan menjadi hal yang praktis dan dipahami masyarakat. Jadi, bukan melulu melakukan permainan retorika istilah atau definisi administratif yang membingungkan rakyat.

Pernyataan Olivier Roy itu memang sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Sebab, bila demokrasi betul-betul boleh dilaksanakan secara procedural dan substansial, maka partisipasi publik yang luas untuk memutuskan apa yang terbaik untuk rakyat boleh menjadi kenyataan.

Jadi, persoalan pengertian dan cakupan demokrasi memang sebenarnya sangat melindungi hak dan kedaulatan rakyat. Dan semua aturan itu boleh dibincangkan menerusi cara-cara yang beradab dan terbuka. Oleh kerana itu, yang diperlukan sekarang adalah melakukan praksis demokrasi lewat individu dan institusi yang boleh mendukungnya.

Para pendukung demokrasi itu tidaklah harus berasal dari intelektual progresif yang mempunyai idea-idea bagus sebagai komentator atau ahli politik Barat. Namun, hendaknya mereka berasal dari negara atau masyarakat di mana demokrasi itu akan dikembangkan.

Tentu lebih bagus jika mereka juga mempunyai ikatan sosial dan jaringan tradisional yang mengakar pada masyarakat. Dalam istilah yang sekarang banyak dipakai orang, mereka itu adalah kompenen civil society. Civil society ini boleh terdiri dari aktivis NGO dan partai politik yang dikombinasikan dengan masyarakat media yang bebas, atau juga dengan organisasi keagamaan dan tradisional.

Semua kekuatan itu, seboleh mungkin melakukan jaringan kebersamaan untuk melawan semua otoritarianisme dan hegemoni negara atau pasaran dunia. Dengan begitu, demokrasi nantinya tidak hanya menjadi ideologi atau wirid yang diucapkan tiap hari, namun sebagai aturan permainan dan alternatif penyaluran politik yang terbaik untuk kedaulatan rakyat.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: