jump to navigation

Sufi satukan semua doktrin Jun 19, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatKali ini kita akan menempuh perjalanan mencari hikmah, dengan menyusuri jejak-jejak orang bijak sepanjang sejarah. Salah seorang bijak itu adalah Mulla Nasruddin, sang sufi yang mengajarkan kebenaran melalui kisah dan lelucon. Ia menyuruh kita menertawakan diri dengan cerita-cerita lucunya.

Mulla Nasruddin seperti Bahlul di Timur Tengah, atau Kabayan di tanah Sunda. Yang dengan keluguannya, ia wariskan kebijaksanaan dan kearifan. Berikut adalah salah satu kisah Nasruddin yang saya kutip dari The Exploits of The Incomparable Mulla Nasruddin, buku yang disusun oleh seorang sufi abad akhir, Idries Shah. 

Alkisah, para filusuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk bersoaljawab dengan Nasruddin. Perkara Nasruddin telah dianggap sebagai sebuah isu yang amat serius. Persoalannya adalah; Nasruddin seringkali datang ke berbagai tempat dengan meneriakkan satu khutbah yang sama. Dalam khotbahnya itu, ia menyebut orang-orang berilmu, seperti para filusuf, sebagai mereka yang bodoh, kebingungan, dan tak boleh membuat keputusan. Tentu saja, ceramah Nasruddin ini dianggap subversif dan mengganggu ketertiban negara.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin. Digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai defenden tunggal. “Hai Nasruddin,” ucap Raja, “kau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu.”

Nasruddin lalu meminta agar dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu ia berkata, “Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena.”

Setelah setiap orang pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, “Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di atas kertas itu jawapan untuk pertanyaan ini; Apa yang disebut dengan roti?”

Setiap cerdik pandai yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.

Orang bijak pertama menulis, “Roti adalah sebuah makanan.” Si bijak kedua menjawab, “Roti adalah tepung bercampur dengan air.” Si bijak ketiga menulis, “Roti adalah kurnia Tuhan.” Si bijak selanjutnya menjawab, “Roti adalah terigu yang telah dimasak.” Orang berikutnya menulis, “Roti merupakan makanan bergizi.” Dan demikian seterusnya.

Setiap orang yang terkenal pandai itu, menulis jawaban yang berbeza-beza, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti. Salah seorang dari mereka bahkan menulis, “Tak ada seorang pun yang tahu sebenarnya apa yang dimaksud dengan roti.”

Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada sang Raja, “Ketika mereka dapat menentukan apa yang disebut sebagai roti, barulah mereka boleh menentukan hal-hal selain roti. Misalnya, menentukan apakah khutbahku benar atau tidak.”

Ia melanjutkan, “Dapatkah Baginda mempercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini? Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi mereka sepakat untuk menentukan bahwa aku seorang ahli bid’ah?”

Cerita Nasruddin di atas sebetulnya merupakan sebuah sindiran orang-orang sufi kepada mereka yang merasa bijak, mereka yang sibuk mempelajari agama lalu ramai berdebat untuk memutuskan mazhab mana yang benar dan mana yang sesat.

Bukankah ketika kita belajar fikih, kita dihadapkan kepada berbagai perbezaan pendapat. Kita akan dianggap orang yang paling pandai apabila kita bisa mengetahui segala pendapat yang berbeza itu, lalu memutuskan bahwa pendapat kitalah yang paling benar.

Mulla Nasruddin memberikan pelajaran kepada para pemikir, pakar agama, ahli fikih, dan para filusuf tentang hal itu dengan cara yang amat halus. Menurutnya, mereka yang berilmu itu sebetulnya hanyalah orang-orang jahil, yang kebingungan dan tak bisa mengambil keputusan.

Bagaimana kita dapat mempercayakan penilaian tentang orang lain kepada orang-orang seperti itu, bila dalam urusan mudah seperti roti saja, mereka tak boleh mengambil keputusan?

Kisah Nasruddin seakan hendak menyampaikan kepada kita semua bahwa di atas keberagamaan yang dipecah-pecah ke dalam berbagai mazhab itu, terdapat satu keberagamaan yang disepakati bersama. Seseorang akan menjadi lebih arif apabila ia meninggalkan hal yang dipertengkarkan dan memasuki satu hal yang disetujui bersama.

Tidaklah mungkin bagi kita untuk membuat semua orang berpendapat sama tentang cara bagaimana menjalankan keberagamaan yang benar. Banyak orang mengatakan ikhtilaf dalam agama akan segera berakhir bila kita kembali pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Mereka lupa bahawa ketika para ulama kembali merujuk pada Al-Quran dan sunnah, di situlah dimulai perdebatan dan perbezaan pendapat.

Masalah tayamum, misalnya. Ketika para ulama kembali kepada Al-Quran untuk membaca ayat tentang tayamum, mereka akan mengambil kesimpulan yang berbeda berdasarkan penafsiran masing-masing.

Hampir semua ulama sepakat akan hadis Nabi, “Mandi pada hari Juma’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah dewasa.” Tapi dari satu hadis ini saja, terdapat tak kurang dari tujuh mazhab yang menafsirkan ketentuan ini. Setiap mereka mendakwa bahwa pendapat merekalah yang paling sahih.

Seringkali orang awam dibingungkan oleh perbezaan pendapat antara ulama. Terkadang kebingungan itu berakhir pada kekecewaan; tak tahu harus menjalankan keberagamaan yang mana. Bila ia ikuti mazhab yang satu, mazhab yang lain akan menganggapnya sesat.

Kepada mereka yang kebingungan, Nasruddin berkata, “Janganlah kau ikuti berbagai macam pendapat yang ada. Kau takkan mungkin dapat mempersamakan para ulama itu.” Para ulama yang berbeza faham tersebut hanya mencapai bahagian luar dari ajaran agama. Dimensi eksoteris agama akan selalu menghasilkan perbedaan pendapat. Namun bila kita menukik lebih dalam lagi, ke substansi dari ajaran agama, semua mazhab akan menemukan titik temu.

Ke sanalah para sufi menuju. Meskipun demikian, jalan sufi bukan bererti meninggalkan syariat yang dirumuskan berlainan oleh para ulama. Jalan sufi hanya mengungkap bahawa di balik perbedaan syariat itu, terdapat persamaan tarikat dan hakikat.

Secara sederhana, semua ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menilai keberagamaan seseorang dari pendapatnya yang bermacam-macam, tetapi dari amal saleh yang ia lakukan. Bukankah dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman, “Dan masing-masing orang memperoleh darjat yang sesuai dengan amalnya.” (Al-An’am: 132)

Janganlah kita melihat saudara-saudara kita dari mazhab yang mereka anuti, tapi marilah kita ukur mereka dari akhlak dan amalnya; dari sumbangan mereka bagi kepentingan kaum muslimin dan seluruh manusia. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, “Yang paling baik di antara kamu, ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Dalam hal ini, semua ulama sepakat; orang seperti itulah yang paling utama, meski apapun mazhabnya.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: