jump to navigation

Malakar manusia Haji Jun 26, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Tetamu“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikan rezeki kepada penduduk yang beriman kepada-Mu dan hari kemudian.’ Allah berfirman: ‘Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani seksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah:126)

Seribu empat ratus tahun yang lalu pada bulan Zulhijjah. Berarak-arakan manusia berjalan menuju Baitullah Ka’bah. Rasulullah Saw dengan bijaksana membimbing dan menuntun setiap jamaah yang melakukan amalan hajinya. Setelah semua melaksanakan adab-adab haji, Rasulullah dan rombongan menuju Mina. Dari atas unta al-Qashwa yang dituntun oleh Bilâl dan ‘Usamah. Dari bibirnya yang suci dan dengan wajah yang putih dan bersinar di tengah kerumunan jamaah beliau memulai khotbahnya: 

“Wahai manusia, hendaklah yang hadir di sini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah ini?”

“Hari yang suci”, jawab para jamaah.
“Negeri apakah ini?”
“Negeri yang suci.”
“Bulan apa ini?”.
“Bulan yang suci.”

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapa kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali kerana takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian semuanya?”

Secara serentak jamaah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.”

Manusia teomorfis yang multidimensi

Rangkaian petikan khutbah Rasulullah Saw di atas memberikan gambaran kuat betapa ikatan persaudaraan dan kekeluargaan sangat penting untuk ditegakkan dalam tatanan kehidupan manusia. Letak dan rahsia kemajuan sebuah bangsa berada pada tingkat solidariti sosial yang terbangun didalamnya.

Siapapun yang terjebak ke dalam perpecahan, gerbang kehancuran menantinya bila saja. Kerananya, Rasulullah Saw menegaskan betapa darah, kehormatan, dan harta sesama kaum muslimin kesuciannya sama dengan kesucian dan kehormatan bulan haji, kota haji dan negeri haji.

Dalam bingkai sejarah yang telah berjalan sejak Rasulullah Saw meninggalkan kita, hampir setiap tahun jumlah jamaah haji bertambah. Mereka datang dari berbagai bangsa dan golongan dengan kelas sosial yang juga beragam. Kehadiran mereka tentu saja kerana sebuah kerinduan yang tak tertahankan untuk bertamu ke “rumah Tuhan.”

Semangat untuk bertemu dengan Tuhan dan meraih keberkahan spiritual merupakan dambaan tertinggi setiap muslimin. Hal itu tercermin melalui raut wajah setiap jamaah yang akan berangkat. Betapa tidak, mereka akan menemukan dirinya kembali kepada akar keruhanian dan menanggalkan sifat-sifat iblis dari dalam dirinya.

Para peserta Haji yang datang memenuhi panggilan Tuhan ini akan kembali menjadi manusia ideal. Manusia teomorfis yang dalam peribadinya Ruh Allah telah memenangkan belahan dirinya yang berkaitan dengan sifat-sifat Iblis, dengan lempung dan dengan tanah lumpur yang mengendap. Dia kembali kepada fitrahnya setelah meraih akhlak Allah.

Dari sinilah kembali akan terbangun filsafat kemanusiaan yang benar dan menepati piawai. Kerana ia merupakan legasi terhadap semua piawai konvensional demi mendambakan atribut keilahian. Ia merupakan gerak maju ke arah sasaran mutlak dan kesempurnaan mutlak, suatu evolusi abadi dan tidak berhingga.

Kualiti haji inilah yang menjadi cita-cita untuk membangkitkan kesedaran manusia yang multidimensional. Dia bukan manusia dari budaya dan peradaban yang menumbuhkan manusia-manusia kuat secara terpisah satu sama lain.

Di satu pihak terdapat manusia-manusia yang ikhlas dan saleh tetapi lemah hati nurani dan kesedarannya. Di pihak lain para genius yang perkasa dan cemerlang, tetapi jiwanya kosong dan tangannya berlumur dosa. Ada manusia yang hatinya tercurah pada kehidupan batin, pada keindahan yang serba misteri tetapi hidupnya melarat, terhina dan lemah.

Citra manusia Haji

Hidup dan terangnya cahaya ketuhanan bagi mereka yang telah kembali dari haji akan bergerak dan memperjuangkan umat manusia dan dengan demikian dia akan menemukan Allah. Dia tidak meninggalkan alam dan tidak mengabaikan umat manusia. Di tangannya tergenggam pedang zulfikar Amirul Mukminin ‘Alî, sedang dalam dadanya bermukim cinta kasih bak ‘Isâ al-Masih.

Dia memadukan kegeniusan berpikir dan ketundukan kepada Allah. Dia adalah manusia yang faham keindahan ilmu dan keindahan Tuhan. Dia kembali dengan kebebasan dan kemerdekaan dari belenggu nafsu dan egoisme dan berefleksi tentang kedalaman fitrah primordialnya sebagai manusia untuk keselamatan alam semesta.

Dia memberontak terhadap para penindas, penipu, perasuah dengan menebarkan benih-benih revolusi bagi mereka yang kelaparan dan tertindas. Dia kembali bagaikan Jesus yang membawa pesan cinta kasih dan perdamaian, tetapi pada saat yang sama bagaikan Mûsâ sebagai pesuruh jihad dan pembebasan.

Haji yang dibawanya kembali tidak membuatnya terlena atau bahkan justeru menciptakan feudalisme baru, tetapi kembali dengan citarasa pembebasan. Bila dia seorang failasuf tidak membuatnya terlena dengan nasib umat manusia.

Keterlibatannya dalam politik tidak mengheretnya kepada demagogi dan kesombongan. Ilmu tidak mengurangi cita keyakinannya, sedang keyakinan tidak melumpuhkan daya pikir dan deduksi logisnya. Kesalehan tidak mengubahnya menjadi pertapa tak berdaya, sedang aktivisme dan komitmennya tidak menodai tangannya dengan immoraliti.

Dia adalah manusia jihad dan ijtihad, manusia syair dan pedang, manusia kesepian dan komitmen, manusia emosi dan jenius, manusia kekuasaan dan cinta kasih, manusia keyakinan dan pengetahuan. Dia adalah manusia yang menyatukan semua dimensi kemanusiaan sejati.

Hidup tidak membuatnya menjadi makhluk unidimensional, pecah, kalah, terasing dari dirinya sendiri. Dengan memperhambakan dirinya kepada Allah SWT, dia terbebas dari perhambaan terhadap benda dan manusia, sedang penyerahan mutlak kepada kehendak Allah membuatnya memberontak melawan segala bentuk paksaan. Dia adalah manusia yang telah meluluhkan keperibadian sementaranya kevdalam identiti abadi umat manusia, yang dengan menafikan ke-diri-annya bagi menemukan kehidupan yang kekal.

Tugas manusia Haji

Setelah berhaji, lalu? Kembalinya gelar primordialnya sebagai manusia fitrah tidak dengan sendirinya sempurna hanya kerana dia telah berhaji. Bukan pula simbol status tertentu yang membuatnya sebagai golongan orang-orang yang dijamin masuk surga di desanya. Pascahaji, perlakuannya bukan menjadi saleh-salehan, atau menambah huruf ‘H’ atau ‘Hj.’ di depan namanya.

Kesempurnaannya diraih justeru pada perjuangannya untuk membuka belenggu kebodohan, kelaparan, kemelaratan dan penindasan yang umat manusia alami. Pengalaman spiritual di Makkah dipindahkannya demi kebebasan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia dalam gejolak api perjuangan intelektual dan sosial.

Kita menantikan haji yang “asli”, berlawanan dengan haji-haji yang sering dijadikan komoditi dagang. Haji asli adalah simbol perlawanan terhadap segala watak dan norma-norma ras dan dari adat kebiasaan hidup masyarakat — yang semuanya adalah nisbi dan merupakan produk lingkungannya — yang membelenggu nilai-nilai abadi dan ilahiah.

Haji palsu adalah mereka yang mengeksploitasi kehajiannya untuk mendapatkan keuntungan duniawi sesaat; mereka yang berdiri kukuh di atas kelasnya sendiri dan enggan bergaul dengan kelas sosial yang lebih rendah; mereka yang selalu apriori dengan segala pendapat yang menentang kelas dan kedudukan mereka. Seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer dalam Gadis Pantai, tentang sang bendoro yang menjaga seluruh simbol sosial dan keagamaannya di hadapan budak-budaknya.

Haji asli adalah mereka yang memandang bahwa amal salehnya tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang dibebankan kepadanya. Akhlaknya tidak lagi sekadar koleksi yang terkendali yang dipaksakan oleh lingkungan sosial kepadanya. Berbuat baik menjadi identik dengan fitrahnya, dan nilai-nilai luhur merupakan komponen fundamental dari esensinya, inheren pada dirinya, kehidupannya, pemikirannya, dan cinta kasihnya.

Haji asli adalah dia yang kembali dalam potret manusia ideal yang memiliki: kebenaran, kebijakan, dan keindahan dalam paduan kesadaran, kemerdekaan, dan kreativitas. Dia menjadi makhluk teomorfis yang diasingkan di bumi, tapi berhasil membuktikan dengan menggabungkan cinta kasih dan pengetahuan atas semua isyarat-isyarat kemanusiaan. Adalah projek untuk menciptakan suatu dunia baru dalam gerakan perubahan sosial yang dipenuhi dengan pencerahan intelektual dan spiritual.

Dia yang kini datang sebagai khalifah Allah yang telah melintasi jalan penghambaan yang sukar, dan sambil memikul beban amanah sampailah dia kembali ke tengah umatnya dengan agenda perubahan, sehingga kepadanya para malaikat wajib bersujud. Sebagaimana syair ‘Alî Shari’atî berikut:

Dia yang lari dari Allah,
Diuji disucikan di tungku dunia,
Sedar, sepi, mantap,
Tahulah dia kini,
Jalan kembali kepada Allah,
Sahabat akbar yang sedang mengharap,
Jalan menuju Dia, menjadi seperti Dia.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: