jump to navigation

Abdal itu pemimpin kafilah ruhani Ogos 23, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatDalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuannya, ada sejumlah tempat persinggahan yang harus mereka lewati.

Martabat mereka juga bergantung pada banyaknya tempat yang sudah mereka singgahi. Pada setiap tempat, selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. Sangat sulit menceritakan pengalaman pada tempat tertentu kepada mereka yang belum singgah ke tempat tersebut. Dalam telaah tasawuf, tempat itu disebut manzilah atau maqam. Pengalaman ruhani yang mereka rasakan disebut hal.

Ada segelintir orang yang sudah mendekati tempat terakhir. Mereka sudah sangat dekat dengan Tuhan, tujuan terakhir perjalanan mereka. Maqam mereka sangat tinggi di sisi Tuhan. Kelompok mereka disebut awliya’, kekasih-kekasih Tuhan. Mereka telah dipenuhi cahaya Tuhan. Sekiranya kita menemukan mereka, kita akan berteriak seperti teriakan orang munafik pada Hari Akhir, “Tengoklah kami (sebentar saja) agar kami dapat memperoleh seberkas cahayamu” (57: 13).

Dalam kelompok awliya’ juga terdapat martabat yang bermacam- macam. Yang paling rendah di antara mereka (tentu saja diantara orang-orang yang tinggi) disebut awtad, tiang-tiang pancang. Disebut demikian kerana merekalah tiang-tiang yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi, kerana kehadiran merekalah, Tuhan menahan murka-Nya; Tuhan tidak menjatuhkan azab yang membinasakan umat manusia.

lbnu Umar meriwayatkan hadis Rasulullah Saw yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menolak bencana –kerana kehadiran Muslim yang saleh– dari seratus keluarga tetangganya.” Kemudian ia membaca firman Allah, “Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya sudah hancurlah bumi ini” (2: 251).

Penghulu para awliya’ adalah quthb rabbani. Di antara quthb dan awtad, ada abdal (artinya, para pengganti). Disebut demikian, kerana bila salah seorang di antara mereka meningggal, Allah menggantikannya dengan yang baru. “Bumi tidak pernah sepi dari mereka,” ujar Rasulullah Saw, “Kerana merekalah manusia mendapat curahan hujan, kerana merekalah manusia ditolong” (Al-Durr Al-Mantsur, 1: 765).

Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Awliya’ meriwayatkan sabda Nabi Saw, “Kerana merekalah Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan menolak bencana.”

Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas’ud bertanya, “Apa maksud kerana merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?”‘

Rasulullah Saw bersabda, “Kerana mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Kerana permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Kerana doa mereka, Allah menahan berbagai bencana.”

Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bahagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terima kasih khusus kepada mereka.

Kata Rasulullah Saw, “Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu kerana banyak shalat atau banyak puasa.” Sangat mengherankan; bukankah untuk menjadi awliya’, kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya?

Seperti kita semua, para sahabat hairan. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, fima adrakuha?” Beliau bersabda, “Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin” (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim).

Dalam hadis lain, Nabi berkata, “Bishidqil wara’, wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami’il muslimin” (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).

Jadi, yang mempercepat orang mencapai martabat yang tinggi di sisi Allah Swt, bukanlah kekerapan shalat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita? Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan).

Berjalan menuju Allah bererti meninggalkan rumah kita yang sempit – keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada “aku” sebagai pusat perhatian. Seluruh gerak kita ditujukan untuk “aku”. Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi “milikku.” Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan “aku.” Ia sudah bergeser ke falsafah “Untuk Dia”.

Kerana itu, Nabi Saw bersabda, “Orang dermawan dekat dengan manusia, dekat dengan Tuhan dan dekat dengan surga. Orang bakhil jauh dari manusia, jauh dari Tuhan dan dekat dengan neraka”. Tanpa kedermawanan, shalat, shaum, haji dan ibadah apa pun tidak akan membawa orang dekat dengan Tuhan. Dengan kebakhilan, makin banyak orang melakukan ibadat makin jauh dia dari Tuhan.

Orang dermawan sudah lama masuk dalam cahaya Tuhan, sebelum mereka masuk ke surganya. Kedermawanan telah membawanya dengan cepat ke tempat-tempat terakhir dalam perjalanannya menuju Tuhan.

Kedua, yang mengantarkan orang sampai kepada kedudukan abdal, adalah kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim. Kesetiaan yang tulus ditampakkan pada upaya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan, menghinakan, mencemuh atau memfitnah sesama Muslim.

Di depan Ka’bah yang suci, Nabi Saw berkata, “Engkau sangat mulia. Tetapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan.”

Belum dinyatakan setia kepada Islam sebelum orang meninggalkan keakuannya. Banyak orang merasa berjuang untuk Islam, walaupun yang diperjuangkan adalah kepentingan akunya, kepentingan kelompoknya, kepentingan golongannya. Mereka memandang golongan yang lain harus disingkirkan, kerana fahamnya tidak menyenangkan faham mereka.

Mereka juga hanya mahu menyumbang bila projek itu dijalankan oleh golongannya. Mereka hanya mahu mendengarkan pengajian, bila pengajian itu diorganisasi atau dibimbing oleh orang-orang dari kelompoknya. Apa pun yang diperjuangkan tidak pernah bergeser dari keakuannya. Ia merasa Islam menang apabila kelompoknya menang. Ia merasa Islam terancam bila kepentingan golongannya terancam. Ia telah beragama, ia telah mukmin; tetapi agamanya masih berkutat dalam keakuannya.

An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada kaum Muslim) melepaskan keakuan seorang mukmin. Ia memberinya kejujuran dalam ketaatan, ketulusan niat, dan kebersihan hati. Ia juga yang mengantarkannya kepada kedudukan tinggi di sisi Allah. Kerana kedermawanan dan kecintaan kepada kaum Muslim, anda juga dapat menjadi kekasih Tuhan.

Wahai hamba-hamba Allah, berangkatlah kalian menuju Tuhanmu. Segerakanlah perjalanan kalian dengan kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: