jump to navigation

Mengungkap Makna Tujuan Hidup September 20, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Abdul Choliq Wijaya

Di tengah keprihatinan dan berbagai bencana yang terus menimpa bangsa kita, yang sekaligus mengajak kita merenungkan kembali tujuan hidup manusia (Muslim). Makna tentang tujuan hidup sampai bila pun masih tetap relevan untuk direnungkan. Bagaimanapun manusia (Muslim) mesti sedar bahawa hidup di dunia ini bersifat sementara.

Malah, kita cuma diberikan kesempatan yang sangat sebentar, bagaikan seorang musafir yang berhenti di sebuah oasis, setelah istirehat sebentar dengan mempersiapkan perbekalan lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir.

Nah, darimana kita berasal dan ke mana kita akan kembali, ini adalah persoalan yang paling urgent (mendesak) yang perlu dicari jawabnya. Alquran dengan gamblang menegaskan bahawa, “… Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya” (2:156). Dalam situasi yang penuh dengan bencana dan tragedi, manusia sering kali baru tersedar untuk merenungkan makna dan tujuan hidup, lalu melakukan introspeksi, mencari dan mendekat kepada Tuhan. Intinya mengharap semoga Allah menyelamatkan kehidupan di dunia dari segala azab dan bencana, selamat dan bahagia di akhirat.

Alquran sendiri mengajarkan doa, memohon kepada Allah agar tidak hanya selamat dan bahagia di dunia saja, tetapi kedua-duanya, dunia dan akhirat. Dalam Surat 2: 201 Allah berfirman, “…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

Tetapi manusia seringkali melupakan Allah setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, “…tetapi setelah setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya… ” (10:12 ). Kerena itu, Allah dengan keras menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (10:7 dan 8).

“… Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (7:51). Pada ayat yang lain Allah menyatakan, “Barang siapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia) ini buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan diri tuhannya yang sangat dekat dan Wajib Wujud-Nya) maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya”. (17: 72).

Dalam ayat yang lain Allah menegaskan, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak untuk memahami ayat Tuhan, mereka mempunyai mata tapi tidak untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang. Itulah orang-orang yang lalai.” (7:179).

Oleh kerena itu jelaslah bahawa yang paling penting dan mutlak di dunia ini menurut Alquran adalah mengenal Allah. Imam Ali dalam Nahjul Balaghah mengungkapkan dengan gamblang bahawa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” yang artinya: “Awal agama adalah mengenal-Nya (Allah)”. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”.

Bagaimana tidak lebih penting mengenal (makrifat) kepada Allah, tujuan salat sendiri adalah untuk mengingat diri-Nya Tuhan yang nama-Nya Allah. Alquran menjelaskan, “… Dan dirikanlah salat untuk berzikir/mengingat-ingat-diri-Ku” (20:14). Alquran sendiri mengungkapkan bagaimana ciri-ciri orang yang salatnya khusyuk antara lain dijelaskan, “Iaitu orang-orang yang meyakini bahawa mereka bertemu Tuhannya, dan bahawa mereka akan kembali kepada-Nya” (2: 46). Al-Imam Ali menjelaskan, “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat — tentunya dilihat dengan bashirah, mata batin “.

Kerena Allah adalah Maha Ghaib, maka “melihat” Tuhan dengan cara Tuhan, iaitu melalui utusan/Rasul atau wakil-Nya, yang merupakan pula ahlu dzikr sepertii yang dijelaskan berikut yang akan membuka mata hati, roh dan sirr (hakikat insaniyah kita) yang juga bersifat ghaib, yang akan mempertemukan fitrah manusia dengan fitrah Allah (30:30). Seperti yang diungkapkan dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 3, bahawa salah satu ciri atau pilar utama orang yang bertakwa adalah mengimani Al-Ghaib iaitu Tuhan Allah Yang Esa Yang Ghaib. Kata “yu’minuuna bi al-Ghaib” pada ayat di atas kata Al-Ghaib di sini secara etimologis merupakan isim mufrod dan ma’rifat, tunggal dan definit artikel yang menunjukkan satu dan sudah tentu iaitu Tuhan Allah Yang Maha Ghaib, dan tidak bermakna jamak, al-ghuyub seperti kebanyakan para mufassir mengartikan kata al-ghaib ini.

Al-Ghaib juga bermakna bahawa Allah tidak mungkin mengejawantah/menampakkan diri di muka bumi, akan tetapi Allah juga menjelaskan dan sekaligus memberi kabar dan jalan keluar bahawa “… Dia tidak menampakkan keghaiban-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya… ” (Jin ayat 26-27). Pada ayat yang lain dijelaskan, “…maka bertanyalah/mintalah kepada Ahli Zikr-orang yang ahli yang selalu berzikir, selalu ingat pada Tuhan, orang yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan jika kamu tidak mengetahui” (16:43 dan 21:7).

Manusia tidak tahu bila dipanggil Allah, atau mati, kerena itu maka bersiaplah menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, “Belajarlah mati sebelum mati” (Muutuu qabla an tamuutuu), iaitu belajar dan berusaha agar kita selalu siap, agar sewaktu-waktu mati datang, mati dengan selamat dan bahagia. Allah menjelaskan mati yang selamat adalah ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu — waktu datang mati/kiamat syugra — berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya” (75:22-23). Dengan demikian mati yang selamat adalah matinya seorang yang bertakwa yang hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam keadaan apa pun, bagaimana pun dan bila pun.

Kerana itu mari segarkan kembali maksud dan tujuan hidup di dunia ini. Iaitu sebagaimana yang diungkapkan dengan kata kunci, perlunya memiliki kedalaman/intinya ilmu, selalu zikir, selalu tafakur, me-Mahasuci-kan Allah dan mohon agar terbebas dari api neraka.

Firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (kedalaman ilmu), (iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau sambil duduk atau dalam keadaaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: