jump to navigation

Kritik atas hermeneutika Abu Zayd September 28, 2006

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Khalif MuammarKekeliruan hermeneutika Abu Zayd telah saya bicarakan dalam bab terakhir buku saya Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal. Sejarah hermeneutika telah dibahas dalam majalah Islamia, di situ telah dijelaskan perkembangan kemunculan hermeneutika sehingga hari ini.

Saya tidak ingin berpolemik tentang apakah hermeneutika itu ta’wil atau bukan. Apakah yang dimaksudkan oleh Abu Zayd itu ta’wil dalam bentuk yang baru? Bagi saya itu semua jidal hanya untuk sekadar jidal, dan bukan untuk mengungkap kebenaran.

Ada persoalan yang jauh lebih penting dari itu iaitu tanggapan Abu Zayd terhadap al-Qur’an sebagai produk budaya dan mengapa baginya al-Qur’an memerlukan metode baru (iaitu hermeneutika) dalam memahaminya.

Kesalahan dan penyelewengan Abu Zayd berpunca daripada keinginannya mendekonstruksi al-Qur’an daripada sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang profan/manusiawi. Al-Qur’an, yang oleh kaum Muslimin diterima sebagai KalamuLlah, beliau katakan sebenarnya adalah produk budaya (muntaj thaqafi). Alasan Abu Zayd adalah bahwa Rasulullah sendiri sebagian dari masyarakat Arab, pemikirannya, cara hidupnya adalah produk budaya masyarakat Arab ketika itu.

Dengan demikian Abu Zayd meletakkan Muhammad sebagai pengarang al-Qur’an, Tuhan hanya memberikan inspirasi, sedangkan bahasa dan olahan datang daripada kreativitas Rasulullah sendiri. Dengan campurtangan Rasulullah ini maka wahyu yang turun kepadanya, menurut Abu Zayd, telah termanusiakan (qad ta’ansa’a) maka dengan demikian keyakinan Abu Zayd adalah bahwa al-Qur’an itu telah termanusiakan (bashariyyat al-Qur’an). Ia tidak lagi sakral dan suci, sebagaimana diyakini oleh seluruh umat Islam sepanjang sejarah.

Lalu setelah al-Qur’an diletakkan sebagai produk budaya maka untuk bisa difahami dan dibawa ke hari ini maka sebuah teks tidak terlepas daripada kritik terhadap teks (textual criticism). Maka ilmu yang diaplikasikan bukan lagi ilmu tafsir tetapi ilmu kebahasaan, linguistik, filologi dsb. Jadi setelah al-Qur’an dianggap sebagai teks bahasa aspek yang lain akan menjadi tidak penting. Al-Qur’an sebagai kitab hidayah, kitab peraturan dan hukum tidak dihiraukan.

Nah, persoalan yang saya kemukakan dalam buku saya, Abu Zayd belum lagi membuktikan bahawa al-Qur’an telah termanusiakan. Dia hanya berteori atau berasumsi, karena untuk membuktikan kebenaran teorinya dia harus memberikan di mana termanusiakannya al-Qur’an.

Kita tahu selama ini tiada seorangpun yang telah menyahut tantangan untuk mencipta satu surah yang sama kualitasnya dengan al-Qur’an. Nabi itu seorang yang ummi, bahkan menurut al-Attas bahasa al-Qur’an itu bahasa baru yang banyak peristilahannya tidak dikenal oleh orang Arab ketika itu. Masyarakat Arab yang terkenal dengan kehebatan bahasanya tidak mampu untuk menyaingi keindahan bahasa al-Qur’an. Ini dan banyak lagi bukti yang lain menunjukkan kesakralan al-Qur’an.

Saya juga mempersoalkan tanggapannya bahawa ilmu tafsir yang digunakan oleh para ulama selama ini cenderung terfokus pada teks dan tidak konteksnya. Sekali lagi ini hanya asumsi Abu Zayd saja. Saya katakan dalam mentafsirkan al-Qur’an para ulama mengambil berbagai pendekatan ada yang tekstual/literal ada yang kontekstual dan ta’wil, ada yang kedua-duanya sekali. Yang jelas untuk menghukum seluruh mufassirin bersikap literal adalah satu kezaliman terhadap mereka.

Dan tuduhan serius yang saya kritik keras adalah tanggapannya bahawa peradaban Islam selama ini adalah peradaban teks berbanding peradaban Yunani yang dikatakan sebagai peradaban ilmu. Apa yang dilakukan oleh Abu Zayd adalah tadlil (penyesatan) kerana dia hanya melanjutkan teori Wansbrough dan orientalis yang lain yang berasumsi bahwa al-Qur’an adalah produk manusia. Kalau permasalahan di atas sudah difahami, maka ta’wil atau bukannya metode Abu Zayd tidak menjadi isu.

Setelah membaca karya Abu Zayd, secara pribadi saya menyimpulkan sosok seperti ini bukan saja ingin keluar dari Islam yang dianggapnya sempit dan rigid, tetapi ingin keluar dari peradaban Islam (yang suatu masa cukup gemilang) untuk masuk ke peradaban Barat yang memberinya kebebasan untuk berbuat apa saja. Anehnya ada orang Islam yang membela tindakannya itu, atas motif apa pula?

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: