jump to navigation

Bersyukur dengan Bersabar dan Memaafkan Oktober 1, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatPada zaman khalifah al-Manshur, salah seorang menterinya, Al-Ashma’i, telah pergi melakukan perburuan. Kerana terlalu keasyikan mengejar binatang buruannya, ia akhirnya terpisah dari kelompoknya. Lalu kemudiannya tersesat dalam padang sahara.

Ketika rasa haus mencekamnya, dalam kejauhan ia melihat sebuah khemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya ke arah sana dan menemukan penghuni yang memukau: perempuan muda dan jelita. Ia meminta air. Perempuan itu berkata, “Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku. Kalau engkau mahu, ambillah.”

Tiba-tiba wajah perempuan itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. “Suamiku datang,” katanya. Wanita itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih.

Lelaki yang datang itu lebih mudah disebut bekas manusia. Seorang tua yang jelek dan menakutkan. Mulutnya tidak henti-hentinya mengherdik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat, dam menuntunnya dengan mesra masuk ke kemahnya.

Sebelum pergi, Al-Ashma’i bertanya, “Engkau muda, cantik, dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk.”

Jawaban perempuan itu mengejutkan, “Rasulullah Muhammad SAW bersabda, agama itu terdiri dari dua bahagian: syukur dan sabar. Aku bersyukur kerana Tuhan telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Ia membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Kerana itu, aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar.”

Boleh jadi kisah ini bias gender dilihat dari satu perspektif. Tetapi, kisah ini menunjukkan keputusan rohaniah ketika menetapkan pilihan, dari perspektif yang lain.

Ia memilih menyempurnakan agamanya dengan menambahkan sabar setelah syukur. Perasaan terima kasihnya kepada Tuhan membuatnya tabah menanggung derita apa pun. Kesabaran adalah buah dari perasaan syukur.

Konon di sebuah stesen di Jepun dibangun monumen untuk seekor anjing. Pada suatu masa, anjing itu selalu mengantar tuannya berangkat kerja. Biasanya sore hari sampai larut malam anjing itu datang lagi ke stesen, menunggu tuannya pulang.

Pada suatu musim dingin, kecelakaan merenggut nyawa tuannya. Ia tidak kembali. Tetapi, anjing itu menunggunya di stesen seperti biasanya. Bergeming. Salju sudah menutup seluruh tubuhnya. Malam telah menjatuhkan tirai kegelapan.

Anjing itu tetap bertahan di situ, tidak pernah beranjak atau bergeser dari tempat duduknya. Matanya selalu memandang tajam pada setiap rombongan penumpang yang keluar dari kereta api. Ia mematung berhari-hari. Tidak makan tidak minum.

Sampai suatu pagi, giliran para penumpang kereta mematung di depan mayatnya yang sudah membeku. Mata mereka basah dengan air mata. Anjing itu bersabar, kerana terima kasihnya pada tuannya. Monumen anjing di stesen itu memberikan pelajaran kepada setiap orang.

Ungkapkan syukur anda dengan kesabaran. Para penumpang itu menitiskan air matanya bukan hanya kerana kasihan. Mereka sedih, kenapa kesabaran seperti itu jarang ditemukan di kalangan manusia. Aku juga menangis, ketika menuliskan kisah ini. Mengapa aku tidak dapat bersabar dalam menaati Tuhan, setelah segala limpahan anugerah-Nya kepadaku.

Di pinggiran Kota Amman, ada sebuah gua yang tidak begitu terurus. Angin sahara sering menutup gua itu dengan debu. Di dalamnya ada relung yang diisi tulang belulang manusia suci dan tulang seekor anjing. Sebuah papan bertulisan ayat-ayat Al Quran mengisahkan para pemuda Ashabul Kahfi, para penghuni gua, .

Tujuh pembela kebenaran menyelamatkan akidahnya dengan berlindung di gua itu. Seekor anjing dengan setia menjaga mereka. “Dan, kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan, jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah hati kamu akan ketakutan terhadap mereka” (Al Quran, Surat Al Kahfi, Ayat 18).

Aku juga menangis mengingat anjing Ashhabul Kahfi ini. Menurut sahibul hikayat, para pemuda itu melemparkan sekerat roti kepadanya di pinggir jalan. Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, anjing itu menjaga mereka di mulut gua selama lebih dari tiga ratus tahun. Setiap saat Tuhan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita, tetapi kita tidak sabar untuk menaatinya.

Pernah Nabi Muhammad SAW beribadat hampir pada seluruh malam. Ia berdiri lama sekali sehingga telapak kakinya bengkak dan pecah-pecah. Para sahabat bertanya, mengapa ia harus beribadat seperti itu, bukankah Tuhan telah mengampuni dosa-dosanya. Ia menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”

Nabi yang mulia sudah mencapai tingkat syukur yang sangat tinggi, ketika ia merasa tidak mampu mensyukuri nikmat-Nya. Limpahan pemberian-Nya tidak terhitung sehingga ia tidak sanggup mensyukurinya dengan baik. Kerana syukurnya itu, ia tidak merasakan kepedihan dan kecapaian dalam menaati-Nya.

Syeikh Muzaffer, sufi masa kini, berkata, “Jika ada orang memberimu topi baru yang mahal dan bagus, tidakkah kamu akan sangat berterima kasih kepadanya? Bukankah kamu lebih patut berterima kasih kepada Dia yang memberikan kepadamu kepala untuk meletakkan topimu itu?”

Rasa syukur yang mendalam bukan saja membuahkan kesabaran untuk menaati Tuhan, tetapi juga kesabaran untuk menerima musibah daripada-Nya. Sa’di, penyair Persia, dalam Gulistan, menceritakan pengalamannya ketika ia selesai shalat di Masjid Umayyah, Damsyik. Ia mendapatkan sepatunya hilang. Ia mencari ke sana ke mari dengan hati yang dongkol dan sedih.

Sa’di menggerutu terus-menerus, sampai di sudut masjid ia menemukan seorang penceramah di hadapan jamaahnya. Khatib itu selalu tersenyum. Wajahnya cerah gembira. Ia tampak menikmati hidupnya. Sangat kontra dengan wajah Sa’di, yang bermuram durja. Ketika Sa’di memperhatikan khatib itu lebih cermat, ia terkejut. Khatib itu sudah kehilangan kedua kakinya. “Aku berduka kerana kehilangan sepatuku, padahal ia tetap ceria walaupun sudah kehilangan kedua kakinya.”

Dale Carnegie pernah mengutip kisah ini dengan menyesuaikannya pada situasi modern. Ia mengatakan bahawa dalam hidup kita ini, hanya sedikit yang tidak beres. Ketika kita sakit gigi, mungkin gigi yang sakit itu satu biji saja. Gigi-gigi yang

lain masih bagus. Atau jika seluruh gigi kita sakit, anggota tubuh kita yang lain masih sehat. Tetapi, kita menghabiskan waktu kita untuk memperhatikan gigi yang sakit itu dan melupakan anggota badan kita yang sehat.

Bersyukur adalah belajar memperhatikan anugerah, yang sebetulnya jauh lebih banyak dan lebih bernilai ketimbang musibah. Bersyukur adalah memperhatikan kepala kita daripada topi yang hilang, kaki kita daripada sepatu yang tiada, tangan kita daripada cincin yang luput, dan seluruh tubuh kita daripada kekayaan yang lenyap.

Kepada hamba-Nya, Tuhan berfirman, “Untuk hamba-Ku yang beriman, setiap kali aku menghilangkan sesuatu daripadanya, Aku menjadikannya kebaikan baginya. Maka, terimalah dengan rido ketentuan-Ku, bersabarlah atas ujian-Ku, dan bersyukurlah atas nikmat-Ku. Wahai Muhammad, Aku akan menuliskan hamba-Ku yang seperti itu dalam kelompok orang yang tulus imannya.” (Kalimat Allah)

Dengan bersyukur, kita akan dapat menerima ketentuan-Nya dan bersabar atas ujian-Nya. Tuhan memberikan lebih banyak “ni’mat” ketimbang “niqma”. Tuhan juga memerintahkan kita untuk selalu menghitung nikmat-Nya. Ketika ada konflik keluarga, seringkali setiap orang mengungkit-ungkit kejelekan pihak yang lain, dan

melupakan kebaikannya; memusatkan perhatian pada niqmat dan mengabaikan ni’mat. Kerana itulah, ketika Allah menjelaskan hukum perceraian, Dia berpesan, “Janganlah kalian melupakan kelebihan (kebaikan) di antara kalian. (Al Quran, Surat Al Baqarah, Ayat 237).

Bersyukur adalah menekankan kebaikan satu sama lain. Boleh jadi seorang suami sudah berbuat salah. Tetapi, bukankah ia sudah banyak memberikan kebaikan kepadamu. Bukankah ia hanya berbuat salah itu sekarang, dan puluhan tahun sebelumnya ia berkhidmat kepadamu. Dengan bersyukur, kita akan memaafkan orang lain yang menyakiti hati kita; kerana kita tahu, banyak kenyamanan dalam hidup ini kita nikmati berkat jasa orang lain. Boleh jadi ada keluarga kita, tetangga kita, kawan-kawan kita yang berbuat buruk kepada kita dengan satu perbuatan. Jangan lupa, ada banyak perbuatan mereka yang lain, yang menyenangkan kita. Marilah kita belajar dari perempuan penghuni sahara, yakni melengkapi syukur kita dengan kesabaran.

Walhasil, bersyukur akan menyebabkan kita sabar dalam menaati Tuhan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam memaafkan orang lain. Bukankah itu yang sangat kita perlukan pada hari-hari ini, dalam situasi Idul Fitri. Itulah sebabnya, setelah Allah menjelaskan hukum-hukum puasa. Ia mengakhirinya dengan, “… dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa kalian, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya pada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Al Quran, Surat Al Baqarah, Ayat 185).

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: