jump to navigation

Tuhan di mata para ilmuwan Oktober 7, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Luthfi AssyaukaniePara ilmuwan dianggap memiliki Tuhan yang berbeza dari kaum teolog. Seperti apakah Tuhan mereka? Semakin para ilmuwan mendalami bidang ilmunya, semakin ia menemukan nuansa spiritual di dalamnya. Dan kerananya, semakin tinggi keyakinan mereka terhadap keberadaan Tuhan.

Ungkapan semacam ini sering dilontarkan para ilmuwan yang berubah menjadi pendakwah agama. Dr. Imaduddin Abdul Rahim (fizikawan) dan Dr Dadang Hawari (pakar perubatan) adalah contohnya.

Dalam beberapa kesempatan ceramahnya di televisi, Bang Imad, panggilan Dr Imaduddin, memberikan contoh banyaknya ilmuwan yang kembali ke spiritualiti. Salah satu contoh kegemarannya adalah Albert Einstein, yang menurut dia tetap mempertahankan agama, kendati sibuk memecahkan persoalan-persoalan ilmiah.

Begitu juga Dadang Hawari yang sering menyebut nama Dr Maurice Bucaile, ilmuwan asal Perancis yang tertarik terhadap Islam kerana mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama.

Benarkah para ilmuwan berkecenderungan demikian? Jika anda menyemak dalam literatur fizik, mungkin anda akan kecewa. Kerana, terlalu banyak tokoh-tokoh ilmuwan yang ternyata ateis, atau paling kurang agnostis terhadap persoalan-persoalan metafizik.

Sebutlah Steven Weinberg, Carl Sagan, Roger Penrose, Richard Feynman, dan Stephen Hawking. Tokoh-tokoh ini adalah fizikawan sejati yang banyak membutirkan karya dan teori ilmiah. Dan, semaklah apa kata mereka tentang Tuhan!

“Betapa alam raya berjalan penuh dengan keteraturan berdasarkan hukum-hukumnya, sehingga ia tak perlu lagi sang pengatur,” tulis Carl Sagan dalam Cosmos, karya monumentalnya. “Semakin kosmologi menyingkap alam raya ini, semakin tampak bagi kita betapa tidak bertujuannya jagat raya ini,” ungkap Steven Weinberg, peraih hadiah Nobel dalam bidang fizik pada 1979 bersama-sama Abdussalam dan Sheldon Lee Glashow.

Begitulah, bagi para ilmuwan itu, teori dentuman besar (big bang theory), teori yang paling dekat kaitannya dengan penciptaan, hampir tidak meninggalkan ruang buat Tuhan untuk berkarya. “Semuanya berjalan menurut hukum fizik yang kompleks dan sempurna,” tulis seorang fizikawan.

Benarkah para ilmuwan seradikal itu dalam memandang Tuhan? Jawabannya, mungkin ya atau mungkin tidak. Jika anda percaya pada sebuah kajian Newsweek di Amerika Syarikat pada tahun 1997, hanya 40 peratus ilmuwan di sana yang percaya adanya Tuhan. Sisanya adalah para ilmuwan yang ateis dan agnostik.

Namun, jika melihat sebuah persidangan tentang agama dan ilmu pengetahuan yang diadakan di Amerika Syarikat sebelum ini, para ilmuwan adalah manusia-manusia “beriman” dan, dalam beberapa hal, percaya dengan kebenaran agama. “Jika Anda menyedari bahawa hukum alam telah melahirkan jagat raya yang begitu teratur, maka hal itu pastilah tidak terjadi semata-mata kerana kebetulan. Tapi mesti ada tujuan di balik itu semua,” kata John Polkinghorne, fizikawan yang kini menjadi mubaligh Gereja Anglikan.

Pendapat senada juga diungkapkan Charles Townes, peraih Nobel pada 1964 yang juga hadir dalam persidangan tersebut, “Banyak orang merasakan bahawa pastilah ada sesuatu yang Maha Pintar di balik kehebatan hukum alam.”

Sekitar 300 ilmuwan yang hadir dalam persidangan tersebut memang tidak semuanya percaya kepada Tuhan. Namun, mereka memiliki konsep tersendiri tentang Tuhan. John Barrow, misalnya, menganggap adanya ruang buat spiritualii dalam setiap kajian akademik. Walhal, fizikawan Inggris yang dianggap terbesar setelah Stephen Hawking itu selama ini dikenal kurang peduli terhadap agama.

Para ilmuwan memang memiliki konsep tersendiri tentang Tuhan. Tuhan mereka, seperti dikatakan banyak pengamat agama, tidaklah terpersonalisasi seperti yang diajarkan para teolog. Tentunya ada yang keberatan kalau orang seperti Stephen Hawking dikategorikan sebagai ilmuwan yang ateis yang mutlak.

Malah, terdapat sifat agnostik Hawking yang diperlihatkan dalam tulisan-tulisannya yang agak keras mengkritik Tuhan para teolog. Kendati demikian, ia meyakini keberadaan Tuhan, dan mempercayai bahawa dengan kosmologi yang dibangunnya, suatu saat, ia boleh melihat jalan fikiran Tuhan. Inilah hal yang diungkapkan oleh Paul Davies dalam The mind of God.

Persoalannya barangkali, mampukah ilmu itu menyingkap Tuhan? Para ilmuwan yang beriman meyakini bahawa ilmu, kendati tak secara langsung membawa para ilmuwan ke hadapan Tuhan, boleh menggiring mereka ke arah itu. “Kendati sains tak dapat membuktikan eksistensi Tuhan, ia dapat membisikkan kepada ilmuwan di mana jejak-jejak Tuhan itu boleh dicari,” ujar seorang ilmuwan.

Para ilmuwan “ateis” sendiri tak terlalu memperdulikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, dan apakah ilmu boleh atau tidak untuk mengungkapnya. Namun, mereka sepakat dengan kaum beriman bahawa tujuan agama dan sains kedua-duanya sama, yakni mencari kebenaran sejati di dunia ini.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: