jump to navigation

Annemarie Schimmel: Mistikus Cemerlang Oktober 9, 2006

Posted by ummahonline in Tokoh.
trackback

Oleh: Aulia Muhammad

“Tiada kata akhir untuk belajar, seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan, dan tugas yang paling sulit dalam hidup ialah … belajar untuk sabar.” Barangkali, satu kalimat dari pakar mistik Annemarie Schimmel ini boleh menggambarkan keseluruhan perjalanan jasmani-rohaninya: bersandar pada kesabaran.

Ketika itu, di usianya yang renta, 80 tahun, ia masih menyibukan diri, suntuk dengan teks-teks tua berbahasa Urdu, Sindikh, atau Ibrani.

Semua itu, katanya, hanya untuk “mengecap langsung air mistik dari sumbernya.” Belajar dalam kesabaran, ehwal yang ia ambil dari surah al-Asry, adalah hasrat tertinggi dalam kehidupannya.

“Dan bahawa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, untuk memperkaya kehidupan itu. Kerana tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan…” tulisnya dalam A Life of Learning Annemarie Schimmel.

Ya, bagi Schimmel, memang tiada kata akhir untuk belajar. Lihatlah, apa yang dapat kita katakan padanya, yang di tengah kecamuk Nazi dan belitan Perang Dunia II, mampu belajar dan menguasai lebih dari 7 bahasa, dan sampai akhir hidupnya, menguasai lebih dari 15 bahasa.

“Dengan kemampuannya dalam bahasa, mungkin dialah ahli mistik yang paling menguasai setiap inci risalah kepustakaan dunia muslim, dari abad-abad terdahulu,” puji Haidar Bagir, yang pernah mengikuti kuliah musim semi Schimmel di Harvard.

Pujian ini terhitung biasa, untuk seorang perempuan yang namanya diabadikan di sebuah jalan indah di Pakistan, yang telah “berdialog” dengan Rumi, Ibn al-Arabi, dan Iqbal, berdebat dengan pakar tersohor Freiderich Heiler (ahli sejarah agama), failasuf Rudolf Pannwitz, dan mistikus Louis Massignon, yang menceritakan pada Schimmel tentang “mawar mistik”, “membuatku terlupa pada kebisingan suasana kota Tokyo”, yang telah mengunjungi Ankara untuk melihat rambut nabi, mengikuti tarian persaudaraan sufi Mulawiyah, yang menjabat Presiden Persatuan Sejarah Agama Antarabangsa, guru tamu di berbagai universiti terkenal, dan profesor di Harvard.

Annemarie Schimmel lahir tahun 1922 di Erfurt, kota kecil di Jerman Tengah. Sedari kecil, Schimmel tumbuh manja, dibalut kasih sayang ayahnya yang bekerja sebagai pengantar surat di pejabat pos, dan ibunya, seorang Protestan yang taat.

Ayah Schimmel sangat menyukai puisi. Setiap hari minggu, Schimmel selalu dihadiahi narasi puisi Jerman, dan kemudian Perancis. Semasa cuti, di rumah neneknya, Schimmel waktu kecilnya akan ditimang dengan dongengan perjalanan berbahaya di Tanjung Horn atau India, dan perjalanan sang datuknya yang kehilangan kapal di Rio Grande del Sul.

Usia tujuh tahun, Schimmel sudah punya kebiasaan baru, suka memperbaiki naskah-naskah yang salah cetak dalam pengejaan. Dan di usia itulah, ia mendapat buku dongeng, yang salah satu babnya bertutur tentang kisah “Padmanaba dan Hasan”. Ada satu kalimat dalam cerita itu yang menggugah Schimmel, “Manusia sebenarnya sedang tidur, dan ketika meninggal, mereka terbangun.” Kelak, ia tahu, kata itu tak hanya indah, tapi nisbah Muhammad, yang kerap menjadi azimat kaum mistik.

Bahasa adalah kepintaran Schimmel. Usia sepuluh tahun, dia telah mahir berbahasa Inggeris dan Latin. Tapi, perkenalannya dengan bahasa Arab di usia 15, membuat hidupnya sentiasa bertaburkan mawar.

“Sungguh sangat menyenangkan, walaupun kegembiraan itu harus saya simpan sendiri. Tak akan ada teman yang mahu mengerti tentang seseorang yang belajar bahasa Semit, di tengah kecamuk fanatik dan nasionalisme Jerman,” kenangnya. Pendidikan menengah ketika usia 16 tahun, setelah menguasai bahasa Inggris, hanya dalam waktu 6 bulan. Dan ia harus mengikuti Arbeitsdient, semacam kerja secara paksa, sebelum berkuliah. Tapi, ketika tercetusnya Perang Dunia II, ayahnya dipindahkan ke Berlin, dan Schimmel menyusul, berkuliah di Fakulti Seni dan Sains, dan mengikuti kursus bahasa Arab dan Seni Islam.

Saat Natal 1939, Profesor Kuhnel, memintanya hanya mendalami Seni Islam, dan menjanjikan suatu kedudukan akademik pada Schimmel. Tapi janji itu tak tertepati, usai meraih gelaran kedoktoran pada November 1041, Schimmel malah bergabung dengan Jabatan Luar Negeri sebagai penerjemah.

Selama kuliah, Schimmel bersama Annemarie von Gabain, yang suntuk mengajarkan padanya ilmu Turkologi; Richard Hartman, yang mengajarkan pendekatan historis-klasik naskah Arab dan Turki Usmaniyah; dan Hains Heinrich Schaedar, yang membawanya ke titik terjauh pengenalan mistik Islam, menyelami Rumi, dan mengagumi al-Hallaj.

Kerana diskusinya dengan Dekan Fakulti Seni Universiti Marburg Freiderich Heiler, Schimmel kemudian ditawarkan sebagai profesor Kajian Arab-Islam di Universiti tersebut. Dan, tanggal 12 Januari 1946, masih berusia 24 tahun, ia memberi pidato pelantikannya, sebagai satu-satunya profesor perempuan di sana.

Mei 1946, ayah Schimmel terbunuh dalam perang, dan tiga tahun kemudian, ia pergi ke Swedan, dan belajar bahasa itu, sambil berdebat dan berdiskusi dengan pakar keagamaan di sana, yang 35 tahun kemudian menganugerahinya gelaran kedoktoran dalam teologi.

1950, Schimmel ke Amsterdam, menghadiri Persidangan Antarabangsa Sejarah Agama. Di sini ia berkenalan dengan pakar mistik kenamaan, Louis Massignon, “Seorang tokoh yang seakan-akan terbuat dari cahaya putih, hampir tanpa berkas jasad benda, seorang mistikus, yang menyatukan nafsu dan cinta”. Tahun itu, ia meraih lagi gelaran kedoktoran di Marburg.

1952, Schimmel ke Turki. Ia pergi ke Konya, “Dan saya seperti menjumpai syurga di kota kecil ini, syurga yang sebelumnya hanya saya dapati dari nyanyian matsnawi Rumi, cerita tentang musim semi”, menjelajahi tiap sudut kota bersama pustakawan Aya Sofya, yang mendaraskan puisi di tiap perjalanannya.

Kerana situasi kerja yang tak nyaman di Marburg, Schimmel menerima tawaran mengajar di Universiti Ankara, Turki.

Kerana kecintaannya pada Iqbal, 1958, Pakistan mengundangnya. Dan, di negeri itu, ia dianugerahi Hilal-i-Pakistan, penghargaan tertinggi yang pernah diberikan kepada rakyat awam.

1966, Harvard memintanya. Di Universiti terkemuka ini, Schimmel mengajar Sejarah Islam, Bahasa Sindikh, Persia, Urdhu, dan beberapa topik lain. Selama setahun, hanya enam bulan ia di Amerika, sisanya Schimmel akan terbang ke Turki atau Pakistan, untuk mengubati minatnya pada budaya anak Benua itu.

Tidakkah dalam usianya yang kini renta, Schimmel tak merasa lelah? “Syurga adalah tiadanya hari rehat,” katanya, tersenyum, memetik kembali ucapan Iqbal.

Ya, tak ada hari rehat. Dan tubuh renta itu pun mengalaminya; misteri usia. Pada 28 Januari 2004 lalu, sebuah kemalangan yang parah menghentikan aktivitinya. Setelah koma sekian jam, dan tak pernah sedar, maut pun memintanya berehat, memberikan syurga yang dia idamkan.

Jelas, dunia kehilangan dia, pemikir paling jujur dan cemerlang tentang mistisisme Islam, yang menulis dengan kecintaan, seperti mengalami sendiri. “Aku melihat Rumi, aku melihat Rumi…,” demikian dia pernah berkata suatu kali. Dan, mungkin, kini, mereka telah reuni, merengkuh cinta sang Ilahi.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: