jump to navigation

Tariqat Jihad Oktober 16, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Arif Mulyadi”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik…” (Al-Ankabut, 29: 69). Manakala, dalam sebuah rakaman hadith, “Kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar…”.

Pengenalan

Judul tulisan di atas menunjukkan bahawa apa yang akan kami paparkan berikut merujuk kepada suatu dimensi batini dari amal saleh dalam bangunan Islam. Ini di alasankan bahawa kata pertama yakni tariqat (thariqah, jalan) merupakan suatu terminologi khusus di kalangan Sufi (baca: penganut jalan keruhanian). Sehingga, pemaknaan kata jihad dalam judul tulisan tadi membawa kepada pemaknaan spiritual atau batiniah Islam.

Jihad sebagai salah satu rukun Islam (baca: furu’uddin), setelah shalat, puasa, zakat, khumus, dan haji – seringkali diperdebatkan di tengah-tengah kaum Muslimin. Perdebatan ini muncul ketika makna jihad mengalami kekeliruan konotasi pada ragam pandangan pemikir-pemikir barat. Literatur barat menerjemahkan jihad secara terminologi sebagai “perang suci” (holy war), yang akhirnya menimbulkan perasaan sensitif bagi masyarakat barat sekular. Dengan demikian, citra Islam dalam dunia barat amat bergantung pada konsep seperti ini. Bahkan tak jarang, pengertian ini juga dipakai oleh kaum “fundamentalis” Islam yang, sekali lagi, menghasilkan suatu kesan yang sensitif bagi kalangan-kalangan tertentu.

Dalam pengertian fiqh, terminologi jihad memang mengandung dua bentuk yakni, jihad an-nafs (jihad nafsu) dan jihad fizikal. Yang terakhir ini terbagi dalam dua bentuk yaitu, pertahanan dan penyerangan. Pengertian kedua inilah yang menjadi manifestasi dari ‘perang suci’. Jihaad diturunkan dari akar kata jahada yang secara generik bererti “berjuang” atau “berusaha” . Terjemahan jihad hanya sebagai ‘perang suci’ saja, terutama dalam pemikiran barat, akan mereduksi signifikansi spiritualiti jihad dalam konteks keberagamaan kaum muslim. Dan barat akan mendapatkan pembenaran atas hal ini ketika mereka menghubungkan ‘perang suci’ ini dengan konsepsi mereka ihwal Islam sebagai ‘agama pedang’.

Seraya tetap mempertahankan bentuk kedua dari jihad, adalah penting bagi kaum muslim untuk lebih memahami jihad dalam bentuk pertama secara ekstensif dan komprehensif. Alasan ini muncul mengingat dalam kehidupan keseharian, kaum muslim dibanjiri dengan persoalan-persoalan yang mempunyai keupayaan untuk meminggirkan manusia dari Yang Pusat Yang Ilahi.

Fakta-fakta semasa menunjukkan bahawa manusia moden sekarang dihinggapi dengan kompleksnya persoalan yang sangat berpotensi untuk mengasingkan dirinya dari Yang Mutlak, Sumber Segala Wujud. Persoalan semakin menjadi-jadi ketika pandangan-dunia barat sekular, semacam materialisme, semakin bercambah dalam pola dan gaya hidup manusia. Setidaknya ini tercermin pada pesan-pesan komunikasi yang diperantarai media massa. Pandangan dunia tersebut semakin masif kerana, dengan karakteristik yang dipunyai oleh media massa, penyebaran atas pandangan dunia tersebut dapat dilakukan secara serentak. Sekalipun manusia mempunyai kemampuan untuk menangkalnya, tak jarang impak dari pesan komunikasi itu membuat manusia semakin terasing. Tak jarang pula ini membawa manusia kepada usaha pembunuhan atau penghancuran dirinya sendiri.

Dalam hal ini, tentu saja seorang muslim memerlukan kecerdasan spiritual dan keunggulan intelektual guna menentang dan melawan berbagai pandangan dunia barat berikut praksis-praksis empirisnya yang tidak seiring dengan pandangan dunianya (tauhid). Kembali kepada Islam, dengan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki manusia muslim, merupakan daya hidup satu-satunya dalam melawan arus zaman ini.

Prinsip keseimbangan

Untuk boleh memaknai signifikan spiritual jihad berikut kegunaannya yang luas pada spektrum kehidupan manusia seperti yang difahami Islam, penting untuk dicatat bahawa Islam mendasarkan dirinya pada prinsip keseimbangan dalam diri manusia bahkan dalam batang tubuh masyarakat manusia. Prinsip kesetimbangan – yang menurut Murtadha Muthahhari dalam Keadilan Ilahi sebagai salah satu erti dari kata ‘adil’ – dapat ditemukan dalam berbagai firman Allah. Misalnya, Al-Qur’an mengatakan, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) ” (Ar-Rahman, 55: 7); atau, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan), supaya manusia tegak dengan keadilan.” (Al-Hadiid, 57: 25)

Keseimbangan jenis ini – yang merupakan timbal balas terestrial Keadilan Ilahi dan prasyarat bagi kedamaian dalam diri manusia – merupakan asas bagi jiwa manusia untuk membumbung menuju kedamaian yang “melampaui semua pemahaman”. Dalam Islam – yang berkonotasi kedamaian (salamah) itu sendiri – prinsip keseimbangan ini amat menonjol di dalam ajaran-ajaran syari’ah mahupun pada sistem moraliti Islam.

Meskipun demikian, keseimbangan di dunia eksternal ataupun dalam internal batin manusia, bukanlah suatu yang taken for granted melainkan berimplikasi pada adanya gerakan. Ini penting untuk difahami mengingat semua wujud atau eksistensi pada akhirnya bergerak menuju suatu kesempurnaan. Dalam menghadapi ketergantungan pada perubahan pada gejala waktu yang fana, pada silih bergantinya eksistensi duniawi, untuk berada pada prinsip keseimbangan tadi diperlukan usaha yang terus-menerus tanpa henti. Ertinya adalah melaksanakan jihad pada setiap waktu kehidupan.

Dalam Islam, ada trilogi dasar yang sering disitir dalam berbagai firman-Nya yakni konsep iman-hijrah-jihad. Dalam beberapa firman-Nya, konsep iman di susuli – di samping amal saleh ataupun anjuran bertakwa – dengan hijrah serta jihad. Boleh jadi, di alam materi trilogi dasar ini merupakan suatu proses sejajar, sedangkan dalam panorama spiritual atau batini, ketiganya menunjukkan proses dialektik yang saling berjalinan. Sekalipun, menurut penulis, pada gilirannya upaya dialektika tersebut akan menambah perasaan iman kepada Allah – sebagai asas atau asas utama dalam kehidupan.

Mengikuti Fritjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin) dalam bukunya Memahami Islam, saripati ajaran Islam tercakup pada tiga formula atau rumusan yakni upaya kontemplatif, konstruktif, dan kombatif. Penerangan ketiga formula tersebut parallel dengan apa yang diungkapkan Al-Qur’an yakni konsep iman, hijrah, dan jihad. Ertinya, iman lahir dari sebuah upaya kontemplasi (tafakkur) terhadap realiti, berikutnya akan melahirkan upaya konstruktif atau hijrah itu sendiri baik secara fizikal mahupun batini, dan terakhir dipuncaki dengan upaya kombatif atau upaya sungguh-sungguh (jihad) untuk menjadi saksi akan kebenaran.

Medan Jihad

Seperti yang telah disebutkan bahawa upaya jihad atau kombatif mencakup semua domain kehidupan, baik domain publik (masyarakat) mahupun domain domestik (individu), baik mental-psikologis, mahupun fizik-sosiologis. Tujuannya jelas, untuk mempertahankan keseimbangan diri sebagai manusia.

Ini penting mengingat manusia umumnya cenderung lupa dan menderita oleh penaklukan duniawi, sehingga dalam proses interaksinya dengan dirinya mahupun dengan masyarakat akan mengimplikasikan bahaya kepada diri manusia yakni kehilangan keseimbangan. Bila upaya jihad dihilangkan, pada aras individual (mental-psikologis) manusia akan mengalami nyah-integrasi dan alienasi, sementara dalam kehidupan masyarakat (fizik-sosiologis) akan muncul chaos (kekacauan). Dengan demikian, manusia mesti menampilkan diri dalam semua momen kehidupannya untuk melakukan peperangan, luar mahupun dalam, melawan kekuatan-kekuatan yang, jika tidak diperangi, bakal menghancurkan keseimbangan yang esensial ini.

jihad dalam makna yang paling luas adalah mempertahankan dar al-Islam atau dunia Islam dari cerobohan dan taklukan kekuatan-kekuatan non-Islam. Peperangan pada masa Islam awal merupakan pantulan dari jihad par exellence yakni sebagai “perang suci”.

Pada spektrum yang lebih eksternal, jihad kecil juga dapat diterapkan pada domain sosio-ekonomik. Ia mengimplikasikan anjuran keadilan di lingkungan eksternal eksistensi manusiawi, berawal dari manusianya sendiri. Bagi siapapun, membela hak-hak dan reputasi, membela kehormatan diri dan kehormatan keluarga, merupakan suatu jihad juga dan kewajiban religius. Mencari keadilan sosial sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an adalah suatu cara untuk menegakkan kembali keseiimbangan dalam masyarakat (yakni suatu cara mengunjukkan jihad). Hampir semua aspek kehidupan bermasyarakat ditegakkan – dan diperantarai – dengan cara jihad.

Semua bentuk eksternal jihad itu akan tetap tidak sempurna dan menumbuhkan eksternalisasi berlebih-lebihan pada umat manusia bila tidak disertai dan diiringi oleh upaya jihad batini atau jihad keruhanian. Inilah inti gagasan dari tariqat jihad, yakni manusia dalam melakukan segala aktivitinya itu bertumpu pada penyucian spiritual sehingga amal salehnya betul-betul merupakan pancaran – apa yang disebut Sayyed Hossein Nasr – al-barakah al-Muhammadiyyah. Bila upaya jihad atau kombatif ini didialektikakan secara terus menerus bererti ia sudah memasuki usaha tariqat (Jalan Keruhanian). Tariqat seperti ini perlu dilakukan mengingat martabat insaniah manusia berada dalam tegangan malar antara kita nampaknya (diri khayali) dan kita yang sebenarnya (diri hakiki). Kepentingan lainnya adalah agar kita menyebabkan transendensi diri kita sepanjang perjalananan kehidupan duniawi untuk menjadi kita yang sejati (diri hakiki). Orientasi akhir dari tariqat jihad adalah reformasi diri, yakni perubahan akhlak, seperti mana yang diungkapkan oleh Murtadha Muthahhari bukunya Falsafah Akhlak.

Dengan tariqat jihad yang dimaksud, semua rukun Islam amat erat kaitannya dengan jihad. Kesaksian fundamental (syahadah), “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Muhammad utusan Allah”, adalah dua formula yang menandakan seseorang menjadi Muslim. Kedua formula masing-masing mengajarkan:

(1) formula pertama menunjukkan satu-satunya realiti adalah Realiti Allah, sumber segala wujud. Dalam bahasan filsafat, semua wujud atau eksistensi akan bermuara pada satu sebab yakni Dia, Wujud Mutlak; Dan, (2) formula kedua merupakan tali pengikat manusia dengan Tuhan dengan cara pengakuan terhadap kebenaran yang disampaikan oleh utusan dari Yang Mahatinggi. Mengucapkan kedua formula kesaksian tersebut, dalam bahasa sucinya, merupakan pengejawantahan dari jihad batini yang pada gilirannya menumbuhkan kesedaran tentang siapa diri manusia, darimana dia berasal, serta ke mana tempat kembali manusia.

Shalat, sebagai inti ibadah dalam Islam, adalah sejenis jihad abadi yang meletakkan eksistensi manusia dalam suatu ritme bersinambung yang selaras dengan ritme alam semesta. Melakukan shalat dengan teratur dan tumpuan memerlukan upaya berkehendak dan berperang tanpa henti, usaha melawan lupa, sikap boros, kemalasan, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Selain itu, shalat sebagai tindak lanjut dari kegiatan filsafat sewaktu bidang ini hendak mencari Yang Maha Esa, namun gagal kerana pendekatan ini lebih di dominasi oleh teori-teori dan mengambil jarak. Dalam perspektif lain, shalat merupakan cara khusus dan efektif untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Cara inilah baginya akan berakhir dengan pencerahan ruhani (illumination). Shalat dalam tingkatannya yang paling tinggi melebihi daripada hanya sekadar renungan, sebab di dalamnya terdapat kekuatan yang tidak dikenal oleh pikiran murni. Dalam pandangan Iqbal, misalnya dalam Epistemologi dalam Tasawuf Iqbal, shalat dilakukan bukan kerana menjalankan perintah Allah semata. Akan tetapi, sebagai refleksi kerinduan batin manusia untuk mendapatkan jawaban alam semesta ini. Ringkasnya, shalat merupakan suatu bentuk perang keruhanian.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan manifestasi lain dari jihad. Di dalamnya, manusia mesti mengenakan perisai kemurnian jiwa dan kesucian batin serta penghindaran diri dari nafsu-nafsu dan godaan-godaan dunia eksternal. Puasa juga mengisyaratkan praktik zuhud dan displin mental yang mustahil lahir kecuali melalui perang suci batin. Mengakhiri puasa Ramadhan dengan menyempurnakannya lewat penunaian zakat merupakan salah satu bentuk jihad juga. Kerana, di dalam zakat, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk meninggalkan kekayaan, memerangi kekikiran dan kerakusan diri ragawinya, akan tetapi dengan pembayaran zakat seorang Muslim telah memberikan sumbangan untuk penegakkan keadilan ekonomi dan umat manusia. Hal yang sama juga berlaku pada pelaksanaan ibadah haji yakni upaya berjuang menuju Rumah Allah, Kekasih Abadi. Dalam beribadah haji, manusia mesti meninggalkan semua atribut duniawinya dan hanya mengenakan pakaian ihram untuk beribadah kepada-Nya. Termasuk juga dia mesti meninggalkan ingatan akan keluarga, tanah air, dan berjuang menempuh seluruh penderitaan secara khusyu dan rendah hati.

Kesimpulan

jihad yang intens diperlukan untuk membersihkan diri dari kekotoran dunia agar diri tenang dalam kesucian Yang Maha Hadir, kerana jiwa manusia menanamkan akarnya pada dunia yang fana. Mengatasi kelembaban, kepasifan, dan ketidakpedulian-diri pada manusia yang teralienasi atau mengalienasikan dirinya dalam kekotoran materi adalah bentuk lain dari jihad yang malar. Mengendalikan jiwa dari kemalasan secara ragawi sebagai akibat dari kecenderungan-kecenderungan yang menjauhi dari Pusat Wujud dan menggiringnya kembali ke poros semula, adalah bentuk lain dari jihad keruhanian.

Termasuk dalam hal ini adalah mencairkan hati yang keras menjadi getaran cinta yang mengaliri seluruh penciptaan melalui cinta kepada Tuhan. Mengenai hal ini, beberapa ulama menyatakan, doa-doa Ahlul Bayt yang diwarisi secara turun temurun kepada beberapa generasi – seperti doa Kumayl, ataupun doa-doa dalam Ash-Shahifah As-Sajadiyyah, doa Nudbah dan lainnya – mempunyai kekuatan efektif dalam mencairkan kekerasan hati manusia. Ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam doa-doa tersebut membawa manusia kepada suatu keadaan betapa dirinya amatlah kerdil dan rendah dari apa yang mungkin diakunya dan dibanggakannya.

Ritual-ritual lain seperti peringatan syahidnya Imam Husain di Karbala pada 10 Muharram atau peringatan ‘Asyura adalah sarana lain dalam upaya mencairkan hati yang keras tersebut sehingga diharapkan manusia lebih mampu untuk mendekat diri kepada Tuhan dan mencintai-Nya. Semuanya jelas merupakan bentuk dari jihad batini.

Di sana ada semacam pengakuan dan kesedaran bahawa yang mutlak hanyalah Yang Maha Mutlak. Ini bermakna melaksanakan jihad tertinggi yaitu membangunkan jiwa dari kelalaian dan memungkinkannya memperoleh pengetahuan yang paling prinsip sebagai dasar atas diciptakannya manusia. Tariqat jihad, dengan demikian, dapat dianggap sebagai kata kunci untuk memahami seluruh proses keruhanian dan pada saat yang sama merupakan jalan menuju realisasi Yang Maha Esa.

Di samping itu, tariqat jihad akan membawa kesedaran kepada kita bahawa pada setiap momen kehidupan manusia, ia mesti berupaya menunaikan jihad batini, tidak hanya menegakkan kesetimbangan di dunia sekitar kita, namun juga dalam keanggunan menuju Realiti Ilahi yang merupakan sumber kesedaran kita. Bagi manusia yang melakukan tariqat jihad, setiap nafas mengingatkannya untuk terus berjihad batini sampai dia terbangun dari segala mimpi dan irama jantungnya menggemakan Nama Sakral Primordial (Allah). Wallahu a’lam bishawwab.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: