jump to navigation

Bahasa kemanusiaan Nabi Oktober 19, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Abu ZahraaHampir semua pemimpin agung yang pernah lahir di dunia meninggalkan banyak pesan-pesan penting tentang kemanusiaan. Setiap pesannya mengandung prinsip-prinsip hidup yang terperinci dengan kandungan makna yang sangat dalam.

Di antara sosok manusia besar yang pernah hidup dalam blantika sejarah kemanusiaan adalah Muhammad Saw. Kebesaran nama Muhammad tidak dengan sendirinya tercipta begitu saja. Dalam dirinya sejajar dengan potensi kemanusiaan dengan nilai-nilai Rububiyyah Allah Swt. Kualiti inilah yang membentuk makna universal dalam setiap perkataan dan perbuatannya. 

Dalam menegaskan posisi dirinya sebagai manusia langit di bumi beliau bersabda; Setiap aku menyampaikan perkataan dan melakukan perbuatan aku dituntun dan dibimbing oleh Allah Swt sehingga menjadi perkataan dan perbuatan yang sempurna.

Dalam proses himpunan sunnah Rasul, kita menemukan untaian perkataan dalam peristiwa demi peristiwa yang dilaluinya. Tak satupun dari perkataan dan perbuatannya yang tidak memiliki kandungan pesan spiritual dan kemanusiaan dengan menjangkau persoalan yang jauh ke depan. Hanya saja tidak semua orang mampu memahami dengan baik setiap makna dari pesan yang disampaikannya.

Berikut ini adalah petikan salah satu pesannya berkenaan dengan perintah untuk memahami setiap perincian dari kata-katanya yang sarat makna: Setiap perkataan yang anda dengarkan dari saya, anda dapat merakam dan menjaganya kemudian anda menyampaikannya kepada generasi yang akan datang. Ketika sampai kepada generasi mendatang, mereka akan lebih memahami setiap makna perkataan perkataan saya dari anda yang sekarang ini berada dalam majlis ini. Dalam sebuah hadith, Rasulullah Saw bersabda: Allah akan mensucikan wajah hambanya yang mendengarkan perkataanku dan merekamnya (dalam akal) kemudian menyampaikannya kepada mereka yang tidak mendengarnya¡.

Perintah untuk merakam dengan baik setiap perkataan dan perbuatan nabi memberikan inplikasi yang sangat besar terhadap keberlangsungan nilai-nilai ajaran Islam. Di samping itu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Saw sendiri bahawa semua bentuk perkataan dan perbuatannya mempunyai makna yang sangat dalam dan melingkupi seluruh zaman.

Orang-orang pada setiap zaman akan mengalami kemajuan dan tingkat pemahaman yang lebih baik dari zaman sebelumnya. Dari situlah kemudian terlihat bahawa perkataan dan perbuatan nabi tetap terkini sepanjang zaman. Selaras dengan itu umat Islam akan senantiasa memelihara hubungan emosional dan kecintaan yang mendalam terhadapnya, dan bahkan Islam sebagai sebuah ajaran mampu mengatasi setiap perubahan zaman.

Dalam al-Qur’an sejumlah ayat telah menjelaskan kepada kita betapa mulianya akhlak beliau. Bahkan diyakini bahawa Rasulullah adalah wajah hidup dari al-Qur’an, sehingga dengan demikian keseluruhan perkataan dan perbuatannya tak terbatasi oleh ruang dan waktu.

Sebagaimana dalam perkataannya yang mengandung pesan penerusan dan tak terikat oleh ruang dan waktu maka dalam tindakan dan perbuatannya pun demikian. Allah Swt sebagaimana dinukil dalam al-Qur’an berfirman; Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan bagi kamu. Yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari akhirat. (33 : 21)

Dengan kedudukan nabi yang sedemikian tinggi itu dan mendapat legitimasi dari Allah adalah sangat wajar jika keseluruhan komponen kehidupannya sarat dengan makna. Kerananya para perawi hadith atau bahkan penulis sejarah nabi sekalipun tidak akan mampu mecatatkan keseluruhan makna dari setiap perkataan dan perbuatannya.

Dan tidak jarang kita temukan dalam riwayat hadith dan catatan sejarah terjadi salah tafsiran ataupun penyimpangan pemahaman yang bias. Untuk itu dalam memahami dan mengkontekstualisasikan ajaran Rasulullah tidak cukup dengan mengandalkan catatan sejarah ataupun uraian perawi hadith. Tetapi itu harus diselaraskan dengan kajian secara mendalam yang dapat melahirkan tafsiran baru sesuai dengan keperluan dan tuntutan zaman.

Untuk dapat mendekati dan menangkap makna generik dari setiap pesan dan perbuatan nabi diperlukan adanya metodologi yang baik dan benar. Para pengkritik sejarah menggunakan paling tidak dua pendekatan iaitu pendekatan kronologis dan pendekatan analisis.

Pendekatan kronologis mendekatkan kita pada tahapan-tahapan setiap peristiwa yang dialami oleh nabi. Dan pedekatan analisis mengajak kita untuk mengkaji secara terperinci latar setiap peristiwa. Untuk menajamkan pendekatan analisis ini, harus dibantu dengan teknik pendekatan ilmiah seperti analisis linguistik, perbandingan, aruhan, deduktif dan lain-lain.

Cara pendekatan di atas mengharuskan kita untuk mempertanyakan setiap episod kejadian dengan semua perincian permasalahannya. Misalnya kenapa nabi berbuat seperti itu, apa tujuannya, dan seterusnya. Dengan metod ini akan lahir penafsiran baru yang segar dan lebih mengakar.

Kita patut mempertanyakan kenapa umat Islam hari ini keliru dalam memahami keperibadian Rasulullah. Sangat sulit kita menemukan orang yang dengan fasih dan rinci dalam menjelaskan diri dan keperibadian nabi, apalagi untuk mengaktualisasikannya dalam fragmen kehidupan moden sekarang.

Keadaan ini terjadi kerana kelemahan metodologi para perawi hadith dan penulis sejarah. Akibatnya kemudian diri nabi telah dijadikan sama dengan artifak-artifak dari peninggalan masa lalu yang tidak memiliki signifikan terhadap hubungan dengan masa kekinian manusia. Kesannya yang lebih jauh adalah pupusnya kecintaan yang menghilangkan hubungan emosional dengan nabi.

Dalam bahasa masyarakat awam bahawa apa yang terjadi pada masa nabi telah berlalu dan kerananya tidak kontekstual lagi dengan masa kekinian kita di mana peradaban manusia telah maju dan moden yang berbeda dengan masa nabi yang kolot dan primitif.

Dari gambaran di atas memperlihatkan bahawa perjalanan sejarah Islam yang dibentangkan oleh peribadi nabi; sedar atau tidak telah mengalami reduksi yang demikian rupa. Sebagai misal, sebahagian penafsir al-Qur’an menyatakan bahawa nabi pernah melakukan kesalahan seperti yang dinukil di dalam surah Abasa.

Digambarkan bahawa nabi menunjukkan perilaku yang tidak bersahabat terhadap orang miskin dan buta di hadapan pembesar Quraisy yang kafir, padahal orang miskin itu adalah seorang muslim. Pertanyaan kita mungkinkah sifat buruk itu terjadi pada nabi? Apakah tidak terjadi kontradiksi antara diri nabi sebagai personaliti al-Qur’an yang mulia dengan nilai-nilai mulia dari ajaran al-Quran? Apakah tidak terjadi pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya yang menjelaskan keutamaan akhlaq nabi?

Atau, mungkinkan nabi melakukan pelanggaran terhadap ayat-ayat yang menjamin kedudukan dan ketinggian akhlaqnya seperti termaktub dalam surah al-Qalam; “sesungguhnya bagi engkau pahala yang tak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlaq yang tinggi dan mulia” (68: 3-4).

Dan, dalam surah An-Najm; “dia tidak berkata dengan hawa nafsunya, semua yang dikatakannya adalah wahyu Allah” (53: 3-4). Surah-surah di atas dalam asbabun nuzul, turun mendahului surah Abasa. Kerananya sebuah kemustahilan bagi nabi untuk melakukan pelanggaran atas wahyu Allah yang diajarkan untuk umat manusia.

Dalam catatan sejarah suatu hari Rasulullah diundang oleh kalangan bangsawan kafir Quraisy di rumah Mughirah bin Syu’ah salah seorang bangsawan kafir penentang Dakwah Rasul. Nabi datang meladeni undangan dialog tersebut.

Saat dialog berlangsung tiba-tiba Ibn Ummi Maktum (seorang sahabat nabi miskin dan buta) datang untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Konon katanya nabi merasa tidak enak dan nampak pada wajahnya. Penafsiran ini sangat mustahil terjadi pada diri dan wajah suci yang maha mulia itu. Ada beberapa kemustahilan.

Pertama, kita percaya bahawa al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui Muhammad. Ini menunjukkan bahawa semua ayat yang disampaikan ditujukan kepada manusia yang dipaparkan oleh nabi, sebagaimana kata Aisyah (isteri) beliau ketika menjawab pertanyaan para sahabat tentang akhlaq nabi, beliau mengatakan, “Akhlaq nabi adalah al-Qur’an¡”.

Kedua, Pertemuan tersebut terjadi di rumah bangsawan Quraisy dan dihadiri oleh bangsawan lainnya yang menentang dengan penuh kebencian terhadap nabi dan pengikutnya yang rata-rata budak, dan orang-orang miskin. Logik kita bertanya kalau suatu hajatan diadakan dan diperuntukkan bagi kalangan khusus dan terhormat tetapi ada orang lain (miskin, kaum tertindas) yang hadir dan tidak diundang. Apakah undangan yang bermuka masam atau pemilik acara hajatan? Apalagi kalau yang datang itu adalah orang yang sebelumnya telah dibenci.

Ketiga, Nabi dalam sejarah dicatat dengan baik bahawa orang-orang pertama yang membela dan membantunya dalam menegakkan Islam adalah orang miskin dan tertindas. Kita tahu masuk Islamnya Bilal misalnya itu di awali hanya dengan uspan dan belaian tangan suci nabi tatkala Bilal disiksa oleh bangsawan kafir Quraisy. Mungkinkah nabi yang memperjuangkan hak-hak kaumnya yang tertindas (apalagi Ummi Maktum) seorang muslim dan sahabat beliau menghinakan saudaranya sendiri di depan lawan-lawan dakwahnya. Sebuah akhlaq yang sangat buruk yang bahkan anjingpun tidak tega melakukannya.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: