jump to navigation

Bersiaplah untuk ‘mudik’ besar Oktober 20, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatMarilah kita mulai pagi yang cerah ini dengan mengungkapkan syukur kita kepada Allah Swt. Setiap hari anugerah dan nikmatnya turun kepada kita, walaupun pada hari yang sama maksiat dan kejahatan kita naik kepada-Nya. Setiap jam perlindungan dan pemeliharaan -Nya bersama kita.

Padahal pada jam yang sama kita menentang-Nya dengan dosa-dosa dan keburukan kita. Dia telah membawa kita kepada bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan, bulan yang di dalamnya ada Laitul Qadar, yang lebih bagus dari seribu bulan. Sepanjang Ramadhan, Dia menuntun kita untuk melakukan puasa, salat malam, membaca Al-Quran dan bersedekah di jalan Allah. Dia memberikan kesempatan kepada untuk menghapus dosa dan beramal saleh.

Akhirnya hari ini dengan kasih sayangnya jua, Dia mengantarkan kita kepada Idul Fitri, hari lebaran. Dia gerakkan lidah-lidah kita untuk membesarkan asma-Nya. Dia kurniakan kepada kita rezeki untuk membayarkan kewajiban zakat kita. Kepada kita rezeki untuk membayarkan kewajiban zakat kita. Pagi ini Dia membawa kita ke tanah lapang ini untuk bersimpuh di hadapan kebesaran-Nya, memuji keagungan-Nya, dan mensyukuri seluruh nikmat-Nya.

Marilah kita melihat ke kiri dan ke kanan kita. Marilah kita periksa orang-orang yang kita cintai: ayah-bonda, saudara, kekasih, tetangga, sahabat, dan handai taulan. Adakah di antara mereka yang tidak dapat bergabung bersama kita di tempat ini? Adakah di antara mereka yang sudah meninggalkan kita kembali kepada Yang Maha Suci? Ke manakah ayah atau Ibu yang tahun lalu menyambut uluran tangan kita dengan titisan air mata kasih sayang? Ke mana kakak atau adik kita yang pada Lebaran lalu gelak tawa berbahagi bahagia bersama kita? Ke manakah tetangga atau sahabat dekat yang dulu pernah memeluk kita dan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri?

Ya Allah, mereka telah kembali kepada-Mu. Mereka telah ‘mudik’ ke kampung yang abadi. Terimalah mereka di sisi-Mu radhiyatan mardhiyyah. Engkau senang menyambut mereka dan mereka senang berjumpa dengan-Mu. Seperti doa Nabi Saw untuk Thalhah: Engkau tersenyum kepada mereka dan mereka tersenyum kepada-Mu. Curahkan kasih-Mu kepada Ayah Bonda kami, saudara kami, sahabat kami, Gabungkan mereka dengan kami, saudara kami, sahabat kami. Gabungkan mereka dengan orang-orang yang engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bersama para nabi, shidiqqin, syuhada, shalihin.

Ya Allah, pagi ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami. Tidak boleh kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf. Tidak boleh kami ajak mereka untuk berbagi bahagia bersama kami. Tidak boleh kami undang mereka untuk berkumpul bersama di rumah kami. Allahumma adkhil ala’ ahl al-qubur al surur. Tetapi kami mohon, ya Allah, masukkanlah rasa bahagia kami kepada semua ahli kubur.

Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami, sampaikan salam kami yang tulus, Assalamu’alaikum ahl- al-diyar min al-muslimin. Antum lana salaf wa inna insya Allah bikum tahiqun. Salam bagi kalian, wahai ahli kubur kalian sudah mendahului kami dan insya Allah kami akan segera menyusul kalian.

Inna Lillah wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya, kita semua kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita semua kembali.

Menurut laporan para sahabat, dalam shalat ‘Id dan salat Jum’aat. Nabi Saw senang membaca surah Al Al’a dan al-Ghasyiyyah.” Pada surat Al-Ala’ dipuji Tuhan orang yang berzakat. Kemudian berzikir kepada Allah dan melakukan salat. Qad Aflaha man tazakka wa dzakara isma rabbihi fashalla. Kata sebagian ahli tafsir, ini berkaitan dengan salat Idul Fitri.

Pada surat al-Ghashiyyah diceritakan keadaan manusia ketika kembali kepada Tuhan. Inna ilayna iyyabahum tsumma inna alaynahum hisabahum. Kepada kamilah mereka kembali: kewajiban kamilah untuk memeriksa mereka. Dibacakanlah surah al-Ghasiyyah pada Idul Fitri untuk mengingatkan manusia akan hari lahir ketika mereka mudik kepada Tuhan. Berkumpulnya manusia di tanah lapang harus menyedarkan mereka akan hari ketika mereka diadili Tuhan pada padang Mahsyar nanti.

Selain pada surat al-Ghasiyyah, berulang kali dalam Al-Quran Tuhan mengingatkan kita bahawa kepada Allah tempat mudik kita. Kepada Allah tempat mudik kalian. Kepada Allah tempat mudik mereka semua. Kalimat seperti ini disebut sampai enam belas kali dalam Al-Qur’an. Sudah seminggu ini saudara-saudara kita pulang mudik ke kampung halaman mereka yang sementara. Menemui orang-orang yang mereka sayangi. Dengan membawa beban berat untuk diberikan kepada mereka. Mereka berangkat dengan sukarela, menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan dengan sukacita. Setiap saat kita harus mudik ke kampung halaman abadi, menemui Allah yang kita cintai, tetapi dengan membawa beban dosa di atas punggung kita, untuk diperiksa dalam timbangan keadilan Tuhan. Setiap saat ketika maut menjemput kita. Kita harus pergi dengan terpaksa. Kita akan menempuh perjalanan yang panjang dan mengerikan.

Imam Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah Saw, berkata, “Ada tiga saat yang paling menakutkan yang harus dialami anak Adam (1) saat ketika ia menyaksikan malaikat maut, (2) saat ketika ia bangun dari alam kuburnya, dan (3) saat ketika ia berdiri berhadapan dengan Allah Swt. Tidak jelas apakah ia akan ke syurga atau ke neraka.”

Itulah perjalanan mudik kita. Perhentian yang pertama adalah kematian. Saat malaikat maut menjemput kita. Di situ mayit akan dihadapkan kepada kekayaannya. Ia berkata, “Demi Allah, dahulu aku mengumpulkan kamu dengan rakus dan bertimbun. Sekarang apa yang akan kamu berikan kepadaku?” Hartanya akan menjawab, “Khudz minni kafanak.¡¦Ambillah dariku kain kafanmu! Kemudian mayit akan dipertemukan dengan seluruh keluarganya. Ia memandang mereka, “Demi Allah, dahulu aku sangat mencintai kalian dan memelihara kalian dengan susah payah. Apa yang akan kamu berikan kepadaku?” Mereka menjawab, “Kami akan mengantarkan jenazahmu. Kami akan menguburmu.”

Setelah itu, ia melirik kepada amalnya dan berkata, “Demi Allah. Dahulu aku membencimu. Aku melihat kamu sebagai beban yang berat. Apa yang kamu berikan kepadaku? Amalnya berkata, “Aku akan menjadi sahabatmu dalam kuburmu. Pada hari kamu dihimpunkan dan sampai pada waktu kita bersama berhadapan dengan Tuhan kamu.” Bila orang mati itu pencinta Allah, akan datang menjemputnya seseorang yang paling harum baunya, paling indah wajahnya, paling bagus wajahnya, paling bagus pakaiannya.

Ia membawa khabar gembira tentang syurga di hujung perjalanan. Ketika ditanya siapa dia. Penjemput itu berkata, “Aku amal salehmu.” Bila yang mati itu musuh Tuhan. Akan datang menjemputnya seseorang yang paling buruk penampilannya dan paling busuk baunya. Ia membawa khabar yang menakutkan tentang neraka di akhir perjalanan. “Siapakah kamu?” tanya mayit itu. Penjemput itu berkata, “Aku amal burukmu!”

Ketika dibaringkan di kuburnya, ia akan bergumam kepada lubang lahatnya. “Hai rumah yang dipenuhi cacing, hai rumah kesucian. Hai rumah keterasingan. Hai rumah kegelapan.” Lubang lahatnya akan berkata, “Inilah yang memang sudah aku persiapkan untukmu. Lalu apa yang telah kau persiapkan untuk pertemuan denganku?”

Jawaban pertanyaan lubang kubur itu: Apa yang telah kamu persiapkan untuk bekal di alam kuburmu? Pertanyaan itu akan kita dengar nanti. Menghentam dada, dan mengiris hati nurani kita. Itulah yang bakal kita alami ketika kita mahu. Kisah itu adalah kisah nyata, yang sudah dialami oleh keluarga, sanak saudara, handai taulan, yang sudah mendahului kita dalam hadis-hadis sahih, yang tidak diragukan kebenarannya.

Allah Swt menjelaskan kepada kita dua macam kematian. Pertama, kematian mukmin yang saleh. “orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik, para malaikat berkata: Sejahteralah bagi kalian, masuklah ke syurga dengan apa-apa yang sudah kalian amalkan.” (Q.S. al-Nahl: 32). Allah Swt akan menyapanya dengan mesra, “Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada karunia Tuhan-Mu dengan penuh keridhaan dan diridai. Dan masuklah dalam kelompok hamba- hamba-Ku. Masuklah ke syurgaku.” (Al- Fajr: 27-30).

Kedua, kematian orang yang durhaka. Semaklah pertanyaan Tuhan, “Bagaimanakah keadaan mereka ketika malaikat maut mematikan mereka, seraya meremuk redamkan muka mereka dengan punggung mereka? Yang demikian itu kerana mereka mengikuti apa yang dimurkai Allah dan membenci keridaan-Nya. Lalu Allah hapuskan semua amalnya.” (Muhammad: 27-28). “Orang-orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan berbuat dosa (menzalimi diri mereka), maka mereka merebahkan diri menyerah seraya berkata: kami tidak melakukan perbuatan jahat.” Malaikat menjawab “Kami justeru melakukannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan, Maka masuklah ke pintu-pintu neraka jahanam, kekal di dalamnya. Sungguh sangat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri.” (Al-Nahl: 28-29).

Kita tidak tahu, pada kematian yang mana kita akan berada: Apakah kita akan mati dalam pelukan kasih sayang Allah Swt ataukah dalam deraan malaikat maut dan kemurkaan Tuhan? Kita juga tidak tahu. Apakah kita akan bangkit dari kubur kita dengan wajah-wajah yang ketakutan atau wajah-wajah yang berseri-seri. Penuh kegembiraan? Yang kita ketahui dengan pasti ialah (bahawa) kita pasti masuk.

Kita sudah bekerja sepanjang tahun, mengumpulkan bekal untuk mudik yang hanya beberapa hari. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk mudik yang jangkanya tidak terhingga? Kita sudah bekerja puluhan tahun, menghabiskan masa muda kita untuk persiapan masa tua kita yang berlangsung beberapa tahun saja. Sudahkah kita persiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang setelah kematian kita? Pernahkan Anda dengar Rasulullah Saw menceritakan orang yang paling malang ketika berhadapan dengan pengadilan Tuhan: itulah mereka yang berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin.

Lalu di tangan-tangan mereka terhimpunnya orang-orang yang pernah disakiti hatinya, orang-orang yang pernah disiksa tubuhnya, akan menghempaskan orang zalim di hadapan Tuhan. Mereka akan mengambil seluruh amal salehnya, salat, puasa dan hajinya. Dan membebankan di atas punggungnya seluruh dosa mereka. Mereka akan menertawakannya ketika (malaikat) Zabaniyah menyeret ubun- ubunnya dan melemparkannya ke neraka. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, ¡¦i>Bi’sa al-zad li al-ma’ad al-zhulm ‘ala al-ibad.” Bekal yang paling buruk untuk hari kiamat adalah berbuat zalim kepada manusia.

Tahukah anda apa bekal yang paling baik buat hari kiamat nanti? Pada suatu hari Rasulullah melewati pekuburan. Beliau menyapa penghuni kubur, “Hai ahli kubur, tahukah kalian apa yang terjadi sepeninggal kalian? Isteri-isteri kalian sudah dinikahi orang lain, rumah-rumah kalian sudah dibahagi-bahagikan. Apakah kalian mau menceritakan apa yang kalian alami?” kemudian Rasulullah bersabda, “Sekiranya mereka tidak boleh menjawab, mereka akan berkata bahawa sebaik-baiknya bekal adalah takwa.”

Takwa, menurut Al-Quran, ialah menginfakkan harta dalam keadaan senang dan susah, mengendalikan amarah, memaafkan orang lain, sering berbuat baik, cepat meminta maaf bila berbuat salah dan tidak mengulanginya lagi (Ali Imran: 133-135).

Takwa, masih menurut Al-Qur’an ialah mengisi sebagian besar malam untuk bermunajat kepada Tuhan, memohon ampunan dari waktu sahur, dan memberikan harta kepada orang miskin dan orang yang berkekurangan (al-Dzariyat: 16-29). Secara singkat, bekal terbaik untuk hari mudik kita yang abadi ialah beribadat untuk memperoleh ridha Allah dan beramal saleh untuk membahagiakan hamba-hamba Allah. Wa fi dzalika fal yatanafas al-mutanafisun. Untuk yang demikian inilah hendaknya orang berlomba-lomba (Al-Muthaffifin: 26).

Akhir, marilah kita sama-sama renungkan firman Tuhan dalam surah al-Ghasiyyah:

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Apakah telah datang kepada-Mu peristiwa dahsyat
Yang mengguncang semua?
Wajah-wajah hari itu ketakutan
Beramal kepayahan
Terlempar ke dalam api yang menyala
Diberi minum dari mata air yang menggelak
Tidak ada makanan bagi mereka kecuali neraka
Tidak menggemukkan dan tidak melepaskan rasa lapar
Wajah-wajah hari itu berseri-seri
Puas dengan hasil kerjanya
Ditempatkan di surga yang tinggi
Tidak mereka dengar bicara hampa
Di sana ada mata air yang mengalir
Di sana ada pelaminan yang ditinggalkan
Gelas-gelas yang diletakkan
Bantal-bantal yang digelarkan
Permadani yang dihamparkan
.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: