jump to navigation

Para Pembela Tuhan November 18, 2006

Posted by ummahonline in Buku.
trackback

Oleh: Sukidi Buku: Defenders of God: The Fundamentalist Revolt Against the Modern Age
Pengarang: Bruce B. Lawrence
Terbitan: University of South Carolina Press, 1995
Halaman: 306
ISBN: 157003091X

Judul buku ini sudah cukup untuk mengugat! Bruce B. Lawrence, professor sejarah agama di Universiti Duke, Amerika, memang meneliti tentang pemberontakan fundamentalisme agama melawan zaman moden.

Seperti halnya gejala umum fundamentalisme agama, kaum fundamentalis memang seringkali melibatkan tuhan ke dalam aksi radikalismenya. Tak sekadar gejala teologis, Lawrence, lebih dari itu, memotret fundamentalisme sebagai ideologi. Ia segera menggamit perhatian berkat dukungan media. Buku ini terbahagi kepada dalam dua bahagian: Context dan Countertext.

Pertama, kerangka Context dipakai Lawrence untuk menggambarkan dua elemen mendasar: antara moderniti dan modernisme. Moderniti menjadi elemen pokok dari dunia moden itu sendiri; sementara modernisme menjadi faham yang membentuk pengalaman manusia dalam berinteraksi dan merespons dunia moden. Antara moderniti dan modernisme yang dipakai Lawrence adalah untuk menentukan era teknologi tinggi dalam sejarah dunia.

Kedua, kerangka Countertext dipakai Lawrence untuk menguji respons keagamaan terhadap moderniti dan modernisme, yang secara definitif disebut dengan kaum fundamentalis. Lawrence memfokuskan kajiannya pada kaum fundamentalis Yahudi, Kristian, dan Islam. Fundamentalisme, dengan demikian, menjadi gejala agama-agama. Ia tidak khas dengan agama tertentu. Islam, dalam analisa Lawrence ini, misalnya yang ditunjukkan oleh ketiga fundamentalis adalah disebut Countertext terhadap visi dunia moden.

Di sini lahirlah ambiguiti kaum fundamentalis. Satu sisi, kaum fundamentalis secara implisit menerima dan menikmati manfaat-manfaat moderniti dalam bentuk teknologi moden, namun pada sisi lain, mereka secara eksplisit menolak modernisme sebagai kerangka ideologi yang holistik. ?They are moderns but not modernists,? papar Lawrence.

Kerangka Context dipakai Lawrence sebagai pisau analisis untuk membedah empat sub bab penting: (1) menguraikan afiniti dialektik antara modernisme dan fundamentalisme; (2) menjelajahi proses sejarah yang menghasilkan dunia moden dan kekuasaan dalam masyarakat Barat; (3) mengukur peranan ideologi agama dalam memobilisasi dan mendukung pemberontakan mereka terhadap berbagai variasi modernisme; dan (4) mengkaji ulang hujah filsafat terhadap viabiliti fundamentalisme sebagai kategori analisis.

Pada kerangka Countertext, Lawrence mulai membaca berbagai variasi penolakan kaum fundamentalis terhadap modernisme ke dalam empat sub bab utama. Sub bab kelima pada Bahagian Kedua (Countertext) ini lebih meneliti tentang akar monoteisme Yahudi, Kristen dan Islam, yang menjadi dukungan teologi terhadap bangkitnya fundamentalisme agama. Lawrence berhujah bahwa radikalisme kaum fundamentalisme itu, tak terlepas dari bentukan dan bangunan fikiran teologi, yakni wawasan monoteisme itu sendiri, yang secara umum bercorak eksklusif dan sektarian.

Sementara pada sub bab keenam, ketujuh dan kedelapan, Lawrence menguji tiga gerakan fundamentalisme yang hadir melawan modernisme: Heredi dan Yahudi quasi-hasidic di Israel, Kristian Protestan di Amerika, dan Muslim Sunni di Mesir, Pakistan dan Malaysia, serta Syiah di Iran dan Lubnan Selatan.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa di samping sebagai kebangkitan dari proses radikalisasi agama, kehadiran kaum fundamentalisme juga sebagai gerakan protes terhadap hegemoni moderniti dan modernisme. Kerana itu, kaum fundamentalis bercita-cita menawarkan pandangan dunia baru yang menciptakan dunia bersandarkan pada nilai dan pengalaman religius keagamaan.

Buku ini memberikan sumbangsih besar terhadap pembacaan kerangka Context dan Countertext menyikapi merebaknya kekerasan atas nama agama, yang secara umum dipaparkan oleh kaum fundamentalis.

Meskipun buku ini lebih merupakan telaah global terhadap fundamentalisme Yahudi, Kristian dan Islam, tapi Lawrence berhasil mengkategorikan ketiga gerakan fundamentalisme itu ke dalam satu titik temu: mereka sama-sama menunjukkan perlawanan terhadap hegemoni moderniti dan modernisme.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: