jump to navigation

Gabungkan Kami Bersamamu November 30, 2006

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin RakhmatKetika Imam Husain bersiap-siap untuk berangkat, Ummu Salamah datang. Dengan airmata berlinang, ia memohon, “Janganlah engkau dukakan daku dengan kepergianmu ke Iraq. Aku telah mendengar datukmu Rasulullah saw bersabda, “Anakku al-Husain akan terbunuh di bumi ke Iraq, di bumi yang dikenal dengan nama Karbala. “Masih ku simpan tanahmu dalam botol yang diberikan Nabi kepadaku.”

Imam Husain berkata, “Ya ummah, aku tahu aku akan terbunuh, terbantai kerana kezaliman dan permusuhan. Allah telah berkenan memperlihatkan kepadaku keluargaku dan sahabatku yang dihalau; anak-anakku yang disembelih, ditawan dan dibelenggu. Mereka minta pertolongan, tetapi mereka tidak dapatkan pertolongan.”

“Ajaib! Lalu mengapa engkau pergi padahal engkau akan terbunuh?,” ujar Ummu Salamah. Imam Husain menjawab, “Ya Ummah, jika aku tidak berangkat hari ini, aku akan berangkat esok. Jika tidak esok, esoknya lagi. Demi Allah, kematian tidak dapat dihindari. Sungguh, aku tahu hari ketika aku terbunuh, detik- detik ketika aku terbunuh, dan kuburan yang di situ aku dikebumikan. Aku mengetahuinya seperti mengetahuimu. Aku melihatnya seperti melihatmu. Jika engkau mahu, akan aku perlihatkan padamu tempat pembaringanku dan tempat sahabat- sahabatku.” Ummu Salamah memohonnya. Ia memperlihatkan kepadanya turbah (tanah) sahabat-sahabatnya dan memberikan sebahagian untuk Ummu Salamah. Dipesankannya agar ia menyimpannya dalam botol lagi. Bila ia melihatnya bersimbah darah, yakinlah bahawa Husain terbunuh. Pada hari kesepuluh Muharram, sesudah Zhuhur ia melihat kedua botol itu, dan keduanya telah berubah menjadi genangan darah.

Peristiwa yang saya kutip dari Maqtal al-Husain, tulisan Abd al-Razzaq al-Musawi ini, diriwayatkan oleh banyak muhaddits. Tak seorang pun mempersoalkan keabsahannya.Tetapi banyak orang bertanya, seperti Ummul Mukminin ra, mengapa Imam Husain pergi juga padahal ia telah mengetahui bahawa ia akan terbunuh. Sebahagian malah menolak hadis itu hanya dengan alasan: tidak mungkin Imam Husain menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan. Bukankah Tuhan berfirman, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah 195)

Izinkan saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan kebinasaan? Apakah setiap kematian dianggap kebinasaan? Apakah setiap kehidupan keberuntungan? Ketika Nero membakar Rom, ia tertawa menyaksikan ratusan ribu orang yang terpanggang hangus. Apakah Nero beruntung dan rakyat yang mati semua binasa? Hitler bersenang-senang di istananya, ketika jutaan manusia disumbatkan ke kamar gas dan dibunuh dengan gas beracun. Apakah Hitler beruntung dan rakyat yang tertindas itu celaka? Vlad The Impaler, raja Kristian dari Romania, melemparkan tawanan Turki yang Muslim ke sebuah lembah yang dipenuhi dengan tombak-tombak, yang bahagian tajamnya diarahkan ke atas. Kaum Muslimin itu tertusuk puluhan tombak dan mati. Apakah kaum Muslim itu binasa dan raja Romania itu beruntung? Kejadian seperti itu berulang terus dalam sejarah umat manusia: Pelarian Palestin yang dibunuh tentara Israel di Sabra dan Shatilla, Muslim Bosnia yang dibantai Kristian Serbia, pejuang Muslim Kashmir yang dibunuh oleh serdadu Hindu dari India, Muslim Ambon yang dipenggal oleh saudara-saudaranya yang berbeza agama.

Bila kita mengukur kebinasaan dari kekalahan dalam pertempuran, kelemahan dalam perbekalan, atau kekurangan dalam dukungan, ucapkanlah salam perpisahan kepada Islam. Kebinasaan dan keberuntungan tidak terletak pada kematian dan kehidupan; tetapi pada tujuan yang menyertai keduanya. Imam Ali, yang digelari George Jordac sebagai Suara Keadilan Insani, memberikan kriteria tegas: AI-Hayat fi mawtikum qahirin; wal mawt.fi hayatikum maqhurin.Kehidupan itu dalam kematianmu yang menaklukkan dan kematian itu dalam kehidupanmu yang ditaklukkan. Dalam peribahasa melayu, lebih baik mati bergalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Mati untuk menegakkan kalimah Allah adalah kebaikan yang di atasnya tidak ada yang lebih baik menyaksikan lagi. Hidup mewah dengan mencampakkan syariat adalah kehinaan yang di bawahnya tidak ada yang lebih hina lagi. Imam Husain berkata dalam khutbahnya, ” Aku tidak melihat kematian selain kebahagiaan; dan aku tidak melihat kehidupan bersama orang yang zalim selain kehinaan.” Ketika Allah SWT berfirman …” Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.” Dia meletakkan kehormatan dan kemuliaan pada ketakwaan. Harta menjadi mulia bila berada di tangan orang yang beragama, yang memperoleh dan mengeluarkan harta itu sesuai dengan tuntunan syariat. Harta menjadi fitnah yang mencelakakan bila dipegang oleh orang yang mencari dan membelanjakannya dengan cara yang haram. Kekuasaan menjadi mahkota yang mulia bila dipergunakan untuk menegakkan keadilan dan menumbangkan kezaliman. Kekuasaan menjadi godaan yang menjerumuskan bila dijalankan untuk menyengsarakan rakyat dan memperkaya diri dan golongan. Rasululllah saw bersabda, ”jika para penguasamu adalah orang-orang yang baik di antara kalian; jika orang-orang kayamu adalah orang-orang dermawan di antara kalian; jika urusanmu selalu dimusyawaratkan di antara kamu, maka punggung dunia lebih baik bagimu dari perutnya. Jika para penguasamu adalah orang-orang buruk di antara kamu; jika orang-orang kayamu orang-orang yang bakhil; dan urusan diserahkan pada isteri-isterimu, maka perut bumi lebih baik bagimu dari punggungnya.”

Zaman tragis yang digambarkan Nabi adalah zaman Imam Husain. Pada masanya, Bani Umayyah menegakkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang yang tidak bersalah, menumpuk kekayaan dengan merampas hak orang-orang kecil, dan menyebarkan ideologi Might is right, yang berkuasa adalah yang benar. la ’membayar’ para ulama’ untuk melegitimasikan kekuasaannya dan menghamun-maki orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Agama diberi makna sesuai dengan kehendak penguasa. Lewat mesin propaganda waktu itu antara lain, khutbah-khutbah Jumaat dan majlis- majlis pengajian ajaran keluarga Rasulullah saw (pasangan al-Qur’an) dianggap sebagai Islam yang sesat, dan fatwa keluarga Akilat al-Kabad, Hindun, sebagai Islam yang benar.

Semaklah ucapan Imam Ali, “Ingatlah bahawa bencana yang buruk bagi anda di mata saya ialah bencana Bani Umayyah, kerana bencana itu buta dan menciptakan kegelapan pula. Melandanya umum tetapi akibat buruknya adalah bagi orang-orang tertentu. Orang yang tetap berpandangan cerah di dalamnya akan tertimpa kesedihan, dan orang yang tetap buta di dalamnya akan menjauhi kesedihan itu. Demi Allah, anda akan mendapatkan Bani Umayyah sesudah saya adalah orang yang terburuk bagi anda, seperti unta betina tua yang membangkang lalu menggigit dengan mulutnya, memukul dengan kaki depannya, menendang dengan kaki belakangnya, dan menolak untuk diperahi susunya. Mereka akan tetap menguasai anda sehingga mereka hanya akan meninggalkan di antara anda orang-orang yang bermanfaat bagi mereka atau orang-orang yang tidak merugikan mereka. Petaka mereka akan berlanjut hingga permintaan tolong anda pada mereka seperti permintaan tolong oleh budak pada tuannya atau pengikut pada pemimpinnya. Bencana mereka akan menimpa anda seperti ketakutan bermata jahat dan perpecahan jahiliah di mana tak kan terlihat menara yang petunjuk atau suatu tanda (keselamatan). Kami Ahlul Bait bebas dari kejahatan dan kami tidak termasuk kalangan orang yang akan melahirkannya.” (Puncak Kefasihan, Khutbah 92)

Dan, apa yang dikhuatirkan Imam Ali betul-betul terjadi pada zaman Imam Husain. Muawiyyah mati meninggalkan Yazid sebagai penguasa.

Dalam hadis ia mendapat julukan “bocah bodoh.” Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya dimandikan para malaikat), melaporkan perilaku Yazid, ketika bersama delegasi Madinah kembali dari Syam: “Wahai manusia, kami baru saja kembali dari seorang lelaki yang meninggalkan shalat, minum minuman keras, menikahi ibu dan saudara kandung, bermain bersama monyet dan anjing. Jika kita tidak melepaskan baiat kepadanya, aku takut kita akan dilempari batu dari langit.” Ibnu Khaldun, sosiolog Islam itu, dengan tegas menyatakan bahawa para ulama Muslimin telah sepakat (ijmak) berkenaan dengan kefasikan dan kemaksiatan Yazid.

Orang dengan kualiti seperti itu, yang mencemoohkan agama dengan syair-syairnya diangkat sebagai penguasa Islam. la memaksa semua orang untuk berbaiat kepadanya. Di Madinah, di kota Rasulullah yang mulia, Marwan bin al-Hakam memaksa Imam Husain untuk berbait kepadanya. Ia juga mengancam untuk membunuh cucu Nabi itu jika menolaknya. Imam Husain berkata, “Yazid manusia yang fasik, pendosa, pembunuh orang yang tidak bersalah, yang menyebarkan kefasikan dan kemaksiatan. Orang sepertiku tidak mungkin berbaiat kepada orang seperti dia! Dan Imam Husain memilih kematian ketimbang tunduk kepada kezaliman. Dengan darahnya di Karbala, ia meletakkan tonggak sebuah mazhab yang meletakkan kehormatan, bukan pada kekuatan fizik dan kekuasaan, tetapi pada pengorbanan untuk agama yang memihak keadilan. Baginya, kemenangan sejati diperoleh ketika benih kemaslahatan umat tumbuh subur dari siraman darah dan air matanya. Bila Jesus, menurut pandangan Kristian, mati untuk menebus dosa umat manusia, Imam Husain gugur untuk meletakkan nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai kekuasaan, keturunan, kekayaan dan kepandaian.

Kematiannya menghidupkan kembali Islam Muhammadi yang asli, yang memasukkan Salman orang Persia, dalam kelompok Ahli Bait kerana ketakwaannya dan mengeluarkan Abu Lahab, keluarga dekat Nabi, dari kelompok Ahli Bait kerana keingkarannya.

Ketika ia meninggalkan Madinah, ia menulis surat wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyyah: ” Aku keluar bukan kerana kesombongan dan kedunguan, bukan juga untuk berbuat kerusuhan dan kezaliman. Aku keluar untuk menimbulkan perbaikan dalam tubuh umat datukku Muhammad saw. Aku ingin melakukan amar makruf nahi mungkar. Aku ingin mengikuti perjalanan hidup datukku dan ayahku Ali bin Abi Thalib. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaranNya. Barangsiapa yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran antara aku dan mereka. Dialah sebaik-baiknya hakim.”

Lebih dari seribu tahun sesudah itu, seorang perempuan tua dan penyelidik yang tekun berbicara di depan para pejabat Jerman, termasuk presiden dan anggota parlimen di sebuah istana di Berlin, memperingatkan para penguasa Dunia Barat untuk tidak mengajari orang Islam memperjuangkan hak asasi manusla. Sejarah Islam adalah perjuangan panjang untuk menentang tirani dan autokrasi. Dengan suara yang serak kerana ketuaan, ia mengisahkan pengorbanan Imam Husain di Karbala. Inilah contoh utama pengorbanan besar untuk menegakkan pemerintahan yang adil dan beradab. Perempuan itu namanya Annemarie Schimmel.

Jauh di sebelah timur, di bumi Indonesia, kita menangis pada hari Asyura, bukan kerana menyesali nasib. Kita menangis untuk memasukkan arwah kita dalam barisan Imam Husain. Kata Imam Hasan al-Askari, “Bukan golongan kami yang tidak menderita kerana derita kami dan tidak bergembira kerana kegembiraan kami” Kita menangis duka kerana para imam yang berduka. Dan mereka hanya berduka kerana redupnya cahaya kebenaran dan berkobamya api penindasan. Duhai, alangkah bahagianya bila kami bergabung bersamamu, ya Aba Abdillah.

Kami penuhi panggilanmu, labbaik wahai Penyeru Allah. Jika badan dan lidah kami tidak dapat memenuhi panggilanmu ketika engkau mencari pertolongan, hati kami, pendengaran kami dan penglihatan kami telah menjawab seruanmu.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: