jump to navigation

GAM Dalam Pilkada NAD 2006 Januari 16, 2007

Posted by ummahonline in Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf AdanWalaupun secara institusi GAM tidak maju untuk mencalonkan kadernya menjadi pemimpin (Gabenor/Wakil Gabenor, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota) dalam Pilkada Aceh yang digelar 11 Disember 2006 tahun lalu, tetapi kader-kader GAM maju untuk merebut posisi-posisi tersebut lewat jalur independen.

Sebahagian wilayah Kabupaten/Kota telah dimenangi mereka seperti di Aceh Timur, Aceh Utara, Lhok seumawe, Pidie, Sabang dan Aceh Jaya. Selain itu, kerusi nombor wahid di Aceh juga diperoleh kader Gerakan Aceh Merdehka (GAM) yang berganding dengan kader Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) iaitu Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar.

Hampir semua orang Aceh tahu bahawa perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah untuk melepaskan Aceh dari aneksasi Indonesia. Kerana bukan hanya GAM tetapi hampir seluruh rakyat Aceh yang merasa memiliki Aceh merasa telah lama dipermainkan oleh berbagai regim yang bermukim di Jakarta. Keadaan semacam ini tidak terlalu jauh berbeza dengan masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menjadikan orang Aceh sebagai beneficiaries dan Aceh sebagai ladang tempat mereka bercucuk tanam. Imbas dari semua itu, ketika rakyat Aceh punya kesempatan untuk membuktikan ketidaksenangannya kepada mereka, maka terjadilah apa yang telah terjadi dalam Pilkada NAD Desember 2006 yang membawa pasangan Irwandi-nazar (kompilasi GAM-SIRA/Sentral Informasi Referendum Aceh) ke puncak kepemimpinan Aceh.

Hampir semua orang yakin bahawa bakal pemenang Pilkada NAD 2006 berkisar antara pasangan Humam-Hasbi, Malik-Said Fuad, dan Azwar-Nasir. Sebagai bayangan pemenang alternatif muncul pasangan Ghazali Abbas-Salahuddin Al-Fata yang dianggap mendapat dukungan rakyat kerana figur Ghazali Abbas dan akibat terpecahnya calon yang didukung GAM antara pasangan Humam-Hasbi dan Irwandi-Nazar. Namun kenyataan berkata lain, pasangan Irwandi-nazar mendominasi suara hampir di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam.

Dari kenyataan yang ada, Aceh telah membuka lembaran sejarah baru yang secara tidak langsung membuktikan betapa rakyat Aceh tidak lagi mahu dengan orang-orang dan pemimpin-pemimpin yang berbau Indonesia. Seandainya keadaan itu dapat dijadikan sampel referendum untuk menentukan nasib Aceh kedepan, maka dapat dipastikan bahawa Aceh harus lepas dari Indonesai. Hal ini didukung oleh analisa lain yang mengatakan tiga pasang calon Gabenor 11 Desember 2006 yang lalu berlatar belakang Aceh, yaitu pasangan Irwandi-Nazar, Ghazali-Salahuddin dan Humam-Hasbi. Dengan demikian, apabila ketiga pasangan tersebut dapat bersatu menjadi satu kekuatan rakyat, maka perolehan suara akan lebih mutlak sampai 70 %, sementara calon-calon lain yang berbau Indonesia akan menghitung sisa-sisa suara 30 % lainnya.

Keadaan GAM Sebelum Pilkada

Mulai dari perintisan perdamaian yang disediakan oleh mantan Perdana Menteri Findlandia, Martti Ahtisaari yang berakhir dengan kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) 15 Ogos 2005 sampai penentuan bakal calon Gabenor NAD 2006, keadaan dalaman GAM masih sangat solid. Namun setelah terjadinya konvensi penentuan bakal calon Gubernut yang diawali dengan Duek pakat GAM ban sigom donya di AAC Dayan Daood, Unsyiah Darussalam bulan Mei 2006, GAM terkesan terbelah dua antara golongan tua dan golongan muda. Golongan tua diwakili oleh A. Malik Muhmud, Zaini Abdullah, Usman Lampoih Awe, Zakaria Saman dan lain-lain. Sementara kelompok muda diwakili oleh Bakhtiar Abdullah, Sofyan Daud, Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, dan sejumlah petinggi lainnya. Sementara mantan Panglima Muzakkir Manaf berada pada posisi sedikit lebih arif untuk menghubungkan keduanya. Hal ini dibuktikan oleh pembacaan pernyataan dukungan terhadap calon gabenor pasangan Humam-Hasbi (H2O) oleh Muzakkir Manaf pada tanggal 23 Ogos 2006 di Wisma Daka, Lamprit Banda Aceh. Namun dua hari sebelum kempen dimulai, kembali mantan Panglima GAM yang mirip dengan bintang filem Bollywood itu mencabut dukungan kepada semua calon Gabenor NAD kerana merujuk kepada kesepakatan GAM dalam rapat yang diadakan di Hotel Raja Wali tanggal 29 Mai 2006. Rapat tersebut menetapkan bahawa GAM secara institusi rasmi tidak mencalonkan diri sebagai gabenor NAD dalam Pilkada 2006, namun secara personal melalui jalur independen siapa saja boleh maju asalkan tidak membawa nama GAM.

Namun demikian secara implisit sejumlah pakar politik lokal mensinyalir bahawa pembacaan penarikan dukungan pihak GAM tersebut diselimuti penuh nuansa politik. Kerana golongan tua terkesan memaksa memasang H2O untuk calon gabenor, padahal dalam konpensinya dimenangi Nasruddin-Nazar maka kalangan muda tidak membuang masa untuk menggalang kekuatan memperkokoh pasangan Irwandi-Nazar setelah Nasruddin mengundurkan diri dari calon, ternyata usaha keras kaum muda GAM dan SIRA kali ini membuahkan hasil dan dapat menghantarkan Irwandi-Nazar ke pucuk pimpinan NAD untuk lima tahun mendatang.

Musim kempen yang diberikan Komite Independen Pemilihan (KIP) dua minggu sejak tanggal 24 November sampai 7 Disember 2006 dimanfaatkan dengan sangat baik dan memadai oleh pasangan-pasangan calon gabenor lainnya terutama sekali pasangan A. Malik Raden-Said Fuad, Humam-Hasbi, Djali-Syauqas, Iskandar-Saleh dan Azwar-Nasir yang memiliki banyak modal. Sementara pasangan Irwandi-Nazar hanya berpaut pada semangat juang tinggi dengan dukungan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) sebagai pengganti nama GAM dan SIRA di kampung dan desa. Kerananya tidak banyak poster, sepanduk dan stiker pasangan kombinasi GAM-SIRA ini yang terpampang di jalan-jalan. Tetapi kerja keras generasi muda yang didukung orang-orang tua di kampung-kampung membuahkan hasil kemenangan pasangan Irwandi-Nazar yang dijangka banyak kalangan tidak ada pemilih kerana sudah ada pasangan H2O yang lebih meriah, didukung kalangan tua GAM dan banyak kemudahan.

Akibat dari kemunculan dua pasangan calon yang dilatar belakangi GAM, maka pandangan masyarakat menjadi kacau dan tidak dapat menganalisa siapa sesungguhnya yang bakal meraih suara terbanyak. Tapi ketika Pilkada usai, maka terjawablah semua teka-teki itu dengan nyata dan telus. Pada prinsipnya, keadaan GAM sebelum Pilkada berada pada posisi sangat kritis seandainya pasangan Irwandi-Nazar yang didukung oleh hampir semua KPA di lapangan kalah. Tetapi ketika mereka menang dan pasangan lain terutama H2O kalah, maka suasana Aceh menjadi nyaman kerana golongan tua hanya menguasai komuniti dan lobi antarabangsa yang tidak dapat mempengaruhi penentuan suara di lapangan dan penentuan hasil Pilkada. Sementara golongan muda masih berpengaruh untuk menguasai Aceh setelah letih berperang selama lebih kurang 30 tahun lamanya.

Keadaan GAM Pasca Pilkada

Hasil Pilkada yang dipastikan kemenangan pasangan usungan GAM kalangan muda bergandingan dengan SIRA tersebut menjadi satu cabaran besar bagi peranan masa depan GAM. Di satu sisi mereka boleh bersenang ria dengan kemenangan yang dicapainya, tetapi di sisi lain mereka sebenarnya telah dihadapkan oleh sebuah kerja besar yang dari tinjauan metamatik belum cukup anggotanya untuk mengawalnya. Apalagi kalau kesan perpecahan kalangan tua dengan muda tadi belum dapat diislahkan kembali, maka beban pasangan terpilih bersama institusinya akan semakin berat.

Kalau kedua pihak masih belum serasi dan tidak rujuk, maka kemungkinan jalan sendiri-sendiri cukup besar. Kalau ini yang bakal terjadi maka posisi memimpin di Aceh akan didominasi kalangan muda sementara hubungan dan lobi antarabangsa akan dikuasai kalangan tua. Ketika keadaan mengatakan demikian maka keberadaan GAM menjadi runyam dan pihak ketiga mudah mengancam. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang adalah; semua pihak harus beranggapan bahawa kemenangan GAM adalah kemenangan bangsa Aceh, kelompok GAM adalah bangsa Aceh, kepemimpinan pasangan yang memenangi Pilkada 2006 adalah kepemimpinan bangsa Aceh dan semua itu hanya punya satu tujuan untuk mensejahterakan Aceh dan bangsanya. Kalau tidak demikian maka ancaman demi ancaman akan terus mengintai Aceh dan bangsa Aceh akan selalu menjadi beneficiaries pihak luar sementara bumi Aceh akan kembali manjadi lahan tempat mereka bercucuk tanam.

Sebenarnya GAM masih punya tugas-tugas besar ke depan yang tidak dapat dikerjakan oleh penguasa Aceh di masa-masa lalu. Pertama sekali kepemimpinan GAM harus mampu mengamankan dan memberikan pekerjaan yang layak dan sepadan kepada semua anggotanya baik yang aktif berperang sebagai gerila mahupun yang berposisi sebagai pengatur kebijaksanaan yang lebih terkenal dengan istilah GAM awam. Ini adalah kerja utama dan paling penting bagi pasangan Irwandi-Nazar, gagal mengamankan mereka maka kepemimpinannya akan dicemuh orang. Barangkali cemuhnya bukan hanya datangnya dari Jakarta, tetapi dari orang Aceh sendiri yang terkenal berani dan telus.

Tugas berat lainnya adalah bagaimana mengatur kabinet (Kepala Dinas, Kepala badan dan Kepala Biro) baik di peringkat Provinsi mahupun Kabupaten/Kota yang dimenangi pasangan GAM/SIRA. Hampir 100% kabinet yang ada hari ini adalah kabinet Jakarta dan GAM sendiri belum ada bayangan bakal calon kabinet sendiri kerana mereka harus diambil dari kalangan pegawai negeri (awam). GAM yang lama berperang dengan Indonesia kehilangan kesempatan untuk membenah diri lewat jalur pendidikan sehingga tidak memiliki banyak orang di jajaran pemerintahan. Ketika kabinetnya diberikan kepada orang-orang yang tidak sejalan dengan kehendak GAM, maka posisi pemimpin yang masih serius dengan identiti dan ideologi GAM menjadi tersepit.

Kalau kedua tugas berat tersebut dapat diatasi, maka dalam perjalanan kepemimpinan ke depan akan muncul berbagai persoalan yang lebih berat dari dua tugas tersebut. Katakanlah ancaman sistem nasionalisme-sekularisme yang tidak akrab dengan kehidupan orang Aceh, bayangan perpecahan secara dalaman yang dibelakangi pihak Indonesia secara halus, ancaman pihak DPRD yang belum menyatu dengan mereka kerana mereka bukan calon dari sesuatu parti yang ada wakilnya di sana dan sebagainya. Namun demikian kalau semua komponen masyarakat Aceh dapat bersatu untuk kepentingan Islam dan Aceh, maka sesuatu yang selama ini dianggap tidak mungkin terjadi atau haram terjadi dalam persepsi Indonesia akan sangat mudah wujud di Nanggroe Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Gabenor dan Wakil Gabenor Baru. Sesuatu itu adalah penggelaran Referendum damai dan merdeka secara resmi serta damai pula.

Sementara analisa lain yang bakal muncul selama kepemimpinan Irwandi-Nazar adalah; mereka akan menyatu dengan pihak Jakarta akibat pendekatan yang dilakukan oleh penguasa Indonesia. Hal ini dapat terjadi kalau pihak Indonesia pandai mengambil hati pemimpin Aceh dan tidak menyakiti hati orang Aceh lagi sebagaimana sebelumnya. Peluang ini sangat mulus apabila Indonesia dapat menyokong dan membantu jalannya Undang-undang Pemerintahan Aceh yang sah setelah terjadinya persetujuan dan penerimaan terhadap Undang-undang itu oleh semua pihak.

Kalau kemungkinan terakhir ini yang akan terjadi maka keberadaan GAM akan melebur dengan kekuasaan Indonesia dan perjuangan GAM akan tinggal kesan dan namanya saja. Sesungguhnya keadaan seumpama inilah yang sangat diinginkan pihak Indonesia dalam rangka menjaga keutuhan wilayah Republik Indonesia (RI). Bagi penguasa RI, Indonesia merupakan sebuah negara dengan wilayah yang luas dan tidak dapat diganggu gugat keberadaaanya. Kerana itulah perang yang dilancarkan terhadap GAM di masa lampau merupakan sebuah sikap dan tindakan kasarnya terhadap Aceh dalam upaya menjaga keutuhan RI.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: