jump to navigation

Jemputlah Dia yang Menggumamkan Namamu! (Bahagian 2/Terakhir) Januari 25, 2007

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Buat pencinta, perpisahan dengan kekasih adalah musibah yang sangat besar. Kerana itulah, Fathimah merintih ketika ayahnya, panutannya, junjungannya, dan kekasihnya meninggal dunia. Setiap hari ia mengunjungi pusara Rasulullah saw dan melantunkan puisinya yang menyayat hati:

Nafasku tersekat dalam tangisan
Duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan
Sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan
Aku menangis kerana aku takut hidupku akan kepanjangan
Kala rinduku memuncak, kujenguk pusaramu dengan tangisan
Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu, tangisan memelukku
Kenangan padamu melupakan daku dari segala musibah yang lain
Jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah,
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih
Berkurang sabarku bertambah dukaku
setelah kehilangan Khatamul Anbiya
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas derasnya
jangan kautahan bahkan linangan darah
Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan
pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata langit
bebukitan, hutan, dan burung
dan seluruh bumi menangis

Duhai junjunganku,
untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah
bukit-bukit dan lembah Makkah
Telah menangisimu mihrab
tempat belajar Al-Quran di kala pagi dan senja
Telah menangisimu Islam
sehingga Islam kini terasing di tengah manusia
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
akan kau lihat kegelapan setelah cahaya

Kepedihan yang sama diderita Ali bin Abi Thalib, putera bapa saudara dan juga menantu Rasulullah saw. Lama ia berdiri di hadapan pusara Nabi saw yang mulia. Dalam deraian air mata yang tak kunjung berhenti, ia mengungkapkan deritanya:

Bi Abi Anta wa Ummi
Biarlah ayah bundaku jadi tebusanmu, ya Rasul Allah
Terhenti kerana ketiadaanmu apa yang tak terhenti kerana ketiadaan yang lain
terhenti sudah nubuwwah, wahyu, dan berita dari langit
Kau begitu khusus bagi kami
sehingga jadilah kau penghibur kami dari selainmu
Kau juga begitu terbuka bagi semua
sehingga semua berbahagi derita atas kepergianmu
Sekiranya tidak kau perintahkan kami bersabar
jika tak kau larang kami berduka cita
akan kami alirkan gelombang air mata
Tapi walau begitu, sakit kami tak kunjung sembuh, derita kami takkan berakhir
Sakit dan derita kami terlalu kecil ketimbang kepedihan keranamu
Kepergianmu tak mungkin dikembalikan
kematianmu tak boleh dihindarkan
Bi Abi Anta wa Ummi
Kenanglah kami di sisi Tuhanmu
dan simpan kami dalam hatimu
Apakah kerinduan kepada Rasul seperti itu hanya ada pada sahabat yang pernah berjumpa dengan Nabi saw? Tidak. Rasulullah saw bersabda, “Manusia yang paling bersangatan dalam kerinduannya kepadaku adalah orang-orang sepeninggalku. Mereka ingin mengorbankan hartanya dan keluarganya hanya untuk dapat melihatku.” Semaklah sajak Taufiq Ismail dan dengarkan bagaimana Sam Bimbo melagukannya:

Rindu kami
padamu, ya Rasul
rindu tiada terperiBerabad jarak
darimu, ya Rasul
serasa engkau di sini

Cinta ikhlasmu
pada manusia
bagai cahaya syurga

Dapatkah aku
membalas cintamu
secara bersahaja

Hadis ini membawa kita kepada tanda cinta yang keempat: kesediaan untuk memberikan ‘lubb’, apa yang paling berharga yang dimilikinya untuk Rasulullah saw. Ia akan sangat bahagia bila ia dapat mempersembahkan yang paling mulia bagi Junjungannya. Di antara manusia yang paling mencintai Rasulullah saw adalah kemanakannya, Ali bin Abi Thalib kw. Kecintaannya menjadi tonggak sejarah Islam. Dalam perjalanan perjuangannya, Nabi saw sampai pada saat yang paling kritis. “Ingatlah ketika orang-orang kafir membuat tipu daya untuk memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya. Allah pun membuat tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baiknya Pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30)

Musuh-musuh Nabi saw bersepakat untuk menyerbu rumah Nabi saw di malam hari. Semua kabilah mengirimkan wakil-wakilnya. Mereka punya misi yang sama: Menghabisi Nabi yang mulia. Pada malam itu, Rasulullah saw menawarkan kepada Ali apakah ia bersedia untuk berbaring di tempat tidur beliau. Ali balik bertanya, “Apakah dengan begitu engkau selamat, ya Rasulallah?” Nabi berkata, “Betul!” Mendengar itu Ali melonjak gembira. Ia merebahkan diri, bersujud syukur kepada Yang Mahakasih. Ia diberi kesempatan untuk mempersembahkan nyawanya buat keselamatan Rasulullah saw yang dicintainya. Baginya, peluang untuk berkorban bagi Nabi saw adalah anugrah yang agung. Ia segera mengambil selimut hijau dari Yaman. Ke dalam selimut Nabi saw itu, dengan bahagia Ali memasukkan tubuhnya. Ia tidur dengan tenteram.

Menjelang subuh, para pembunuh dari berbagai kabilah datang dengan menghunus pedang-pedang mereka. Mereka yakin bahawa yang tidur itu adalah Muhammad saw. “Bangunkan dia lebih dahulu, supaya ia merasakan pedihnya tebasan pedang,” teriak mereka. Ketika mereka melihat Ali bangun, dengan kecewa mereka segera meninggalkan tempat untuk mencari Nabi saw. Malaikat Jibril turun di dekat kepala Ali dan Mikail di dekat kakinya. Jibril berkata, “Luar biasa. Siapa yang seperti engkau, hai putra Abu Thalib?” Allah membanggakan dia di hadapan para malaikatnya. Lalu turunlah Al-Baqarah 207: Di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.

Ayat ini turun untuk mendefinisikan cinta sebagai kesediaan untuk “menjual diri”, memberikan yang paling berharga buat sang kekasih. Inilah kecintaan yang sejati, yang dibanggakan oleh para malaikat. Dengan cinta seperti itu, makna cinta berikutnya muncul dengan sendirinya; yakni, berusaha memelihara dan mempertahankan kecintaannya. Cinta direkamkan dalam-dalam di lubuk hatinya. Bahkan pada saat sakratul maut sekali pun, nama Rasulullah saw tidak pernah lepas dari mulut dan jantungnya.

Thalhah bin Al-Barra adalah seorang pemuda Anshar. Ketika ia berjumpa dengan Nabi saw, ia memeluknya dan menciumi telapak kakinya. “Ya Rasulallah, perintahkan aku untuk melakukan apa saja yang engkau sukai. Aku tidak akan membantah perintahmu.” Nabi saw sangat takjub mendengar ucapan seperti itu keluar dari seorang muda yang sangat belia. Ia bersabda, “Pergilah, bunuh ayahmu!” Pemuda itu segera keluar untuk melaksanakan perintah Nabi saw. Rasulullah saw memanggilnya kembali, “Hai Thalhah, bukan ajaran kami untuk memutuskan kekeluargaan. Aku hanya ingin menguji keimanan kamu supaya kamu tidak ragu lagi pada agamamu.”

Tidak lama setelah itu Thalhah sakit. Pada musim dingin, dalam udara yang sangat sejuk, Nabi berkenan menjenguknya. Ketika mau meninggalkan rumahnya ia berpesan kepada keluarganya, “Aku melihat Thalhah sudah dijemput maut. Nanti bila ia sudah meninggal, beritahu aku. Aku akan menghadirinya, berdoa baginya. Segeralah sampaikan berita itu kepadaku.” Ketika Nabi saw sampai ke perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, wafatlah Thalhah, dan malam sudah larut. Sebelum meninggal, ketika Thalhah siuman dari pingsannya, ia bertanya: “Adakah Rasulullah saw mengunjungiku?” Keluarganya berkata, “Betul. Bahkan beliau berpesan agar bila engkau bangun kami beritahu beliau.” Thalhah berkata, “Jangan, jangan panggil Nabi saw. Aku kuatir kalau kalian memanggil beliau pada malam seperti ini, beliau diganggu Yahudi atau binatang buas, Aku tidak ingin beliau terganggu keranaku.”

Usai salat Subuh, Nabi pergi ke pusara Thalhah. Ia berdiri di situ. Para sahabat berbaris bersamanya. Ia mengangkat tangan seraya berdoa, “Ya Allah, sambutlah Thalhah. Ia tersenyum kepada-Mu dan Engkau tersenyum kepadanya!”

Sekiranya Rasulullah saw berkunjung ke kuburan Mas Darwan pastilah ia akan berdoa, “Tuhan, sambutlah Mas Darwan. Ia tersenyum kepadamu dan Engkau tersenyum kepadanya!” Seperti Thalhah, pada bibir Mas Darwan menempel erat nama yang mulia itu sampai akhir hayatnya.

Ya Rasul Allah, jemputlah siapa pun yang menghadap Kekasihmu dengan menggumamkan namamu. Bukankah di sana, di ‘Arasy yang agung, namamu berdampingan dengan nama Allah yang Mahakasih Mahasayang? Bukankah Tuhan menyebutmu dengan nama-Nya, al-raûf al-rahîm, yang sangat santun dan sangat sayang!

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: