jump to navigation

Iman dan Faktor Dalaman Februari 1, 2007

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum.
trackback

Oleh: Ekky Malaky

Al-kisah, seorang sahabat nabi berjalan di tengah keramaian, seraya berteriak-teriak: “Saya munafik! Saya munafik! Saya munafik!.” Tentu saja tingkahnya itu membuat hairan sekelilingnya. Dan Umar ibn Khattab pun menghampirinya.

“Mengapa engkau berbuat seperti ini,” tanya Umar. “Duhai Umar, aku munafik. Umar, tolong aku,” seru sang sahabat. Maka ia pun bercerita betapa dirinya begitu merasakan iman yang kuat menancap di kalbunya saat bersama Rasulullah, tapi sepertinya seketika menurun drastik saat ia jauh dari Sang Rasul. Seolah segala semangat spiritual yang menggebu itu lenyap, seiring dengan keseharian yang dijalaninya.

“Wah, kalau begitu saya juga merasakan hal yang sama,” ujar Umar. “Bagaimana kalau kita tanya Rasulullah,” ajaknya. Dan mereka pun menghadap Nabi. Dan keluarlah sebuah hadits terkenal: Iman itu naik dan turun, al-Imaanu yazid wa yankus.

Mengapa iman boleh naik dan turun? Ada faktor dalaman, dan ada faktor luaran. Asy-Syahid Sayyid Quthb pernah menulis seputar surat Al-Falaq dan an-Nas. Katanya, untuk melindungi diri dari hal-hal yang bersifat luaran, hanya ada satu ayat, Qul A’uzu bi Robbil-Falaq�. Sementara, untuk faktor dalaman, kita harus mengucapkan tiga ayat: Qul a’uzu bi Robbin-naas, Malikinnaas, Ilaahinnas. Ertinya, faktor yang ada di dalam jiwa manusia ini tiga kali lebih dasyat daripada yang di luar diri kita.

Apa saja ketiga hal itu? Izinkan saya memakai ilmu falsafah. Dalam khazanah falsafah Barat ada tiga tokoh yang disebut Masters of Prejudice. Mereka adalah Frederich Nietzsche, Karl Marx, dan Sigmund Freud. Secara sederhana, Nietzsche menyatakan bahawa tujuan hidup manusia adalah kehendak untuk berkuasa (Will to Power), Marx untuk ekonomi (Perut), dan Freud untuk Libido seksual (di bawah perut). Hemat saya, ketiganya, dengan segala keluasan dan kedalaman pemaknaannya, adalah faktor dalaman yang harus kita tekan. Ketiganya adalah adalah potensi dalam diri kita yang kemudian dibisikkan (min syarril waswasil khonnaas), oleh jenis jin (syaitan) dan manusia�seperti yang termaktub dalam surat an-Naas. Kita berlindung dengan Robb Manusia. Kita berlindung dengan al-Malik dari keinginan nafsu berkuasa sewenang-wenang, dan kita berlindung dengan satu-satunya Ilah Manusia dari kerakusan materialistik. Dan dengan cerdas, entah berawal dari mana, dalam budaya kita ketiga serangkai ini acap disebut 3 TA: harta, tahta, wanita.

Saat Ramadhan, kita diwajibkan menahan diri dari ketiga nafsu itu dengan berpuasa. Dan haji, puncak ritual ibadah dalam Islam, menyatakan tentang persamaan hak manusia nan universal dengan simbol baju ihram, dengan meniadakan perbezaan status yang terangkum dalam 3 TA itu selama prosesi berlangsung. Wallahua’lam.

Komen-komen»

1. maaruf - Oktober 31, 2007

satu tulisan yg bagus. terima kaseh.

2. ekky - Julai 11, 2008

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: