jump to navigation

Beberapa Faktor Kemenangan Irwandi-Nazar Februari 5, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf AdanKemenangan pasangan Irwandi-Nazar dalam Pilkada NAD Desember 2006 yang berkait-rapat dengan perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hal ini disebabkan figur dan sosok Irwandi sebagai tokoh utama GAM dan figur Muhammad Nazar sebagai tokoh utama Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) yang dalam perjuangannya akrab dengan GAM, meskipun kedua-duanya merupakan calon bebas.

GAM yang didirikan Dr. Tgk. Hasan Muhammad Tiro 4 Desember 1976 berusaha keras untuk memerdekakan Aceh dari Indonesia. Prinsip kemerdekaan tersebut dianut GAM tanpa persoalan, dan itu merupakan satu-satunya sasaran yang ingin dicapai dalam perjuangannya. Kerananya apabila ada orang yang ingin menggagalkan sasaran tersebut atau ada anggotanya yang menyimpang dari sasaran tersebut akan segera disisihkan dari kelompok GAM dengan cara mereka sendiri. Kerana itu perjalanan perjuangan GAM semenjak lebih kurang 30 tahun lamanya dapat bertahan dengan kepemimpinan tunggal dan seorang pemimpin tertinggi Teungku Muhammad Hasan Muhammad di Tiro. 

Melirik ke prinsip dan sasaran yang ditetapkan GAM di atas, rasanya mustahil GAM mahu berunding dengan Republik Indonesia (RI) dalam bentuk perundingan bagaimanapun jua. Namun kenyataannya berbeza, setelah mengalami proses rumit yang amat panjang, akhirnya kedua belah pihak sepakat berdamai dengan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang diprakarsai Martti Ahtisaari (mantan Perdana Menteri Finland) di Helsinki 15 Ogos 2005 yang lalu. Kesan dari perdamaian tersebut menghadirkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang sistem dan prinsip pelaksanaan Pilkada NAD diatur di dalamnya.

Ketika Pilkada yang diikuti oleh lapan pasang calon Gabenor/Naib Gabenor Aceh (Iskandar Husin-Saleh Manaf, Tamlicha Ali-Harmen Nuriqman, A.Malik Raden-Sayid Fuad, Humam-Hasbi, M. Djali Yusuf-Syauqas Rahmatillah, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, Azwar Abubakar-M. Nasir Jamil dan Ghazali Abbas Adan-Salahuddin Al-Fata) itu terjadi, hampir semua orang beranggapan hanya pasangan yang mendapat bantuan dan dukungan Jakartalah yang bakal meraih kemenangan. Ini ekoran, selain mereka punyak banyak dana dan kemudahan, ia juga punya banyak pengalaman termasuk pengalaman rasuah. Ternyata pasangan muda hasil kerjasama GAM-SIRA mendominasi dukungan suara dalam Pilkada, kenyataan ini membuat banyak orang terhairan dan kecewa. Apa sesungguhnya yang menyebabkan kemenangan Irwandi-Nazar? Jawaban yang paling mudah dalam Islam tanpa fikir panjang adalah kerana Allah sudah menghendaki demikian.

Faktor-faktor Kemenangan

Paling tidak ada sebelas faktor yang mendominasi kemenangan pasangan Irwandi-Nazar dalam Pilkada Aceh 11 Desember 2006 yang lalu. Pertama, faktor GAM/SIRA. Faktor ini dapat mendominasi kemenangan pasangan yang diusung secara bebas kerana pasca perdamaian GAM-RI, gezah GAM masih sangat melekat dalam masyarakat Aceh. SIRA sampai hari ini masih punya kader-kader muda yang energik dan mampu mempengaruhi pandangan masyarakat untuk menaikkan tokoh utamanya dalam Pilkada 2006. Kerana mereka maju bukan melalui parti nasional yang bertapak di Jakarta, maka masyarakat Aceh yakin bahawa pasangan Irwandi-Nazar tersebut murni pasangan ideal untuk masyarakat Aceh.

Kedua, faktor ketidakharmonian dalam tubuh GAM menjelang Pilkada kerana golongan tua mengangkat pasangan Humam-Hasbi yang terkenal dengan akronim H2O melalui jalur Parti Persatuan Pembangunan (PPP). Faktor ini dapat berpengaruh besar kepada masyarakat kerana pasangan calon tersebut masih memakai kenderaan Jakarta yang diperangi hampir 30 tahun lamanya. Tambah lagi dengan isue figur Humam yang pernah berkerjasama dengan Gabenor Ibrahim Hasan ketika mengundang Daerah Operasi Militer (DOM) ke Aceh tahun 1989 yang berlaku sampai 1998. Perselisihan pendapat dalam menentukan calon Gabenor/Naib Gabenor antara golongan muda dengan golongan tua GAM menghasilkan dua pasangan calon pemimpin Aceh dalam Pilkada iaitu pasangan Humam-Hasbi yang disokong golongan tua dan pasangan Irwandi-nazar yang didukung golongan muda. Ternyata pengaruh ketidakharmonian ini dapat menguntungkan kalangan muda dan kemenangan berpihak kepada pasangan calon Irwandi-Nazar.

Ketiga, kebencian sebahagian besar masyarakat Aceh terhadap RI masih mendominasi kehidupan anak cucu Iskandar Muda sampai puluhan bahkan ratusan tahun kedepan. Itu disebabkan oleh penipuan, pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran, perampokan, perampasan, pemberondongan, penyiksaan yang pernah dilakukan dalam masa Order lama, Order baru dan berlangsung sampai ke Order Reformasi. Akibat salah urus dan cita-cita serta kerakusan Jakarta terhadap Aceh dalam waktu yang cukup lama, maka kepercayaan orang Aceh semakin hilang terhadap Indonesia dan bahkan terhadap hampir semua simbol yang berbau Indonesia. Kompensasi dari itu masyarakat menusuk tanda gambar nombor enam dalam pilkada yang lalu.

Keempat, salah perhitungan dan keyakinan kemenangan calon-calon dukungan RI yang berlebihan membuat mereka kehilangan kawalan sehingga pasangan Irwandi-Nazar yang mendapat dukungan gross root muncul kepermukaan menjadi pemenang Pilkada NAD 2006. Ada informasi jitu bahawa pihak Jakarta sangat senang dengan maju tiga pasangan calon yang dilatar belakangi GAM (Humam-Hasbi, Ghazali-Salahuddin dan Irwandi-Nazar). Malah ada kalangan yang menyimpulkan pasangan Irwandi-Nazar sengaja disuruh maju oleh Jakarta agar dukungan dari sumber yang sama tadi terpecah-pecah dan diharapkan pasangan Malik-Sayed atau Azwar-nasir, atau yang lain dukungan Jakarta yang dapat memenangi Pilkada tersebut. Kenyataan ini hampir dapat dipastikan ketika hasil wawancara Irwandi yang dimuat dalam harian Serambi Indonesia dua hari setelah Pilkada dengan pengakuannya bahawa ia pernah dibantu oleh salah seorang calon Gabenor yang maju melalui parti Nasional dan seorang yang maju melalui jalur bebas. Kalau analisa ini benar maka Jakarta telah terkena senjata makan tuan.

Kelima, faktor Blie (membelalakkan mata terhadap para pemilih) menjadi salah satu penyebab utama kemenangan pasangan Irwandi-Nazar. Selama puluhan tahun yang lalu masyarakat Aceh selalu di Blie oleh kaki tangan dan manusia sewaan regim berkuasa terutama sekali TNI/POLRI dalam masa Pemilihan Umum (Pemilu). Dengan cara demikian parti dukungan pemerintah (PNI/PKI di zaman Orla dan Golkar di masa Orba) selalu mendapat kemenangan dalam setiap pemilu. Kali ini Blie tersebut dipraktikkan generasi muda Aceh yang pro perubahan dan mendukung calon Gabenor/Naib Gabenor melalui jalur bebas yang berlatar belakang GAM. Akibat dari Blie tersebut ternyata sangat berpengaruh dalam perolehan suara. Barangkali beza sistem Blie pada masa lalu dengan Blie sekarang adalah; dahulu setiap ada Blie tetap ada bayangan kekerasan seperti penampakan senjata, pemakaian baju celoreng dan sebagainya. Namun Blie kali ini hanya cukup dengan iringan suara; Nyan Bek Tuwo Lumboi Nam (itu jangan lupa nombor enam. Ternyata Blie model terakhir ini jauh lebih berkesan berbanding versi lama. Faktor ini sangat mendominasi kemenangan calon nombor enam. Dikhabarkan, ada tempat-tempat tertentu yang sistem Blie tersebut sedikit lebih memuncak dan mengarah kepada ancaman di kawasan Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur.

Keenam, faktor Kupiah Meukutop/Seragam Aceh. Ternyata pengaruh pakaian seragam yang dipakai pasangan Irwandi-Nazar pada gambar pemilihan juga membawa pengaruh besar bagi sebahagian orang Aceh yang memiliki komitmen tinggi terhadap adat dan budaya Aceh terutama sekali generasi tua. Di sebahagian TPS didapati ada orang yang memilih pasangan Irwandi-Nazar kerana melihat pakaian adat Acehnya. Namun faktor ini tidak mendomisasi kemenangan mereka, walaupun ada tokoh LSI/Golkar di Jakarta yang mengatakan kemenangan Irwandi-nazar kerana faktor kebetulan baju adat Acehnya semata-mata. Pernyataan tersebut sangat jauh dari kebenaran kerana orang Aceh tidak terlalu tertinggal SDM nya apabila dibandingkan dengan masyarakat daerah lain di Indonesia yang masih belum bisa tulis-baca, belum bisa berbahasa Melayu dan tidak terbuka dengan dunia luas. Memang ada beberapa kes di Kabupaten Bireuen yang penulis dapati, sebahagian masyarakat tua ketika ditanya orang lain; Teungku pilih siapa untuk Gabenor NAD nanti? Ia dengan lugas dan tidak ragu-ragu menjawab: siapa lagi kalau bukan H2O yang memakai pakaian adat Aceh dengan Kupiah Meukutobnya.

Ketujuh, gerak kerja BRR dan BRA. Faktor lembabnya gerak kerja BRR dan BRA sedikit banyaknya masuk dalam penyebab kemenangan pasangan Irwandi-Nazar. BRR yang memiliki wang banyak, tenaga kerja yang banyak, waktu yang banyak serta gaji yang lumayan banyak masih lemah dalam membangun kembali Aceh dari terpaan gempa dan tsunami. Sudah dua tahun tsunami berlalu ternyata masih ada korbannya yang belum mendapat bantuan rumah dan duduk di tempat perlindungan atau rumah saudara mara. Sementara para pekerja di BRR dinilai semakin nikmat dengan gaji yang luar biasa banyaknya. Sementara keadaan BRA pula nampak lebih menyedihkan masyarakat terkena konflik atau imbas konflik. Kehadiran BRA sebenarnya untuk membantu masyarakat korban dan imbas konflik apakah dia mantan GAM, anti GAM, tapol/napol, orang sakit sampai sekarang, orang cedera sampai sekarang, rumah terbakar akibat konflik dan seumpamanya. Namun sampai menjelang setahun usia BRA masyarakat menilai masih belum tuntas operasional bantuan untuk mereka. Mereka tentunya tidak tau proses panjang untuk memperoleh bantuan tersebut yang berkisar antara pejabat Dinas Sosial, KPPN, BRA sendir dan pihak-pihak lain yang harus ditempuh oleh pihak BRA.

Kedelapan, ada sedikit unsur adu domba masuk dalam musim Pilkada itu adalah ekoran kesan bahawa pihak Jakarta sengaja mendukung sesuatu calon di luar calon mereka sendiri yang dianggap dapat memecahkan suara GAM yang selama ini dianggap solid. Desas-desus tersebut berkembang terhadap tiga pasangan calon yang bertapak GAM iaitu pasangan Irwandi-Nazar, Ghazali-Salahuddin dan Humam-Hasbi. Ternyata, terlepas benar salahnya analisa tersebut masyarakat Aceh sama sekali tidak terpengaruh dengan semua itu, malah dengan tau niat buruk tersebut masyarakat semakin mengarahkan ujung pakunya ke gambar nombor enam secara beramai-ramai. Pihak Jakarta masih dibayangi oleh cara kerja di beberapa musim pemilu dalam era Order Baru, di mana ketika skenario itu turun dari Jakarta maka tidak boleh salah dalam hasilnya. Tetapi kali ini Jakarta betul-betul kehilangan akal dan rakyat Aceh betul-betul pandai dalam menangkis semua itu dan menentukan pilihan hati. Ketika orang Aceh tahu niat buruk Jakarta tersebut, mereka malah memperbulat suara untuk memenangkan pasangan Irwandi-Nazar.

Kesembilan, faktor perjuangan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) yang dipimpin Muhammad Nazar juga memberi kekuatan kemenangan mereka dalam Pilkada. Hampir di seluruh Aceh ada perwakilan SIRA yang dikoordinasikan oleh kaum muda. Walaupun selama ini mereka nampak bercerai berai kerana faktor ancaman Jakarta, namun ketika musim Pilkada mereka kembali bersatu untuk memenangkan tokoh utamanya yang mencalonkan diri sebagai wakil Gabenor berpasangan dengan Irwandi sebagai calon Gabenor. Perpaduan dua kekuatan antara GAM dengan SIRA menjadi sebuah kekuatan baru yang tidak diduga pihak Jakarta. Keadaan ini juga wujud untuk calon Bupati/Walikota seperti yang terjadi di Kota Sabang yang menghantarkan Munawar Liza (GAM) sebagai Walikota dan Islamuddin (SIRA) sebagai Wakil Walikota. Di Aceh Timur juga dimenangkan oleh Tgk. Muslim Hasballah sebagai Bupati dan Nasruddin Abubakar (tokoh SIRA) sebagai Naib Bupati.

Kesepuluh, faktor AMM, keberadaan AMM untuk memantau proses perdamaian antara GAM dengan RI di Aceh memunculkan nuansa baru bagi keberanian masyarakat Aceh dalam berbicara dan menentukan sikap dalam bertindak, termasuklah dalam memilih calon Gabenor/Naib Gabenor. Dengan adanya AMM pihak Indonesia tidak berani berbuat curang seperti sebelumnya terutama dalam era Orde Baru. Sebaliknya keberadaan AMM dapat meningkatkan semangat juang masyarakat Aceh kerana merasa ada pengimbang yang memantau setiap kesalahan yang dahulu sering dilakukan pihak Indonesia.

Kesebelas, adalah faktor pemantau asing baik dari Kesatuan Eropah mahupun dari Asia. Faktor ini tidak jauh berbeza dengan pengaruh AMM, cuma AMM sifatnya agak lama semenjak ditandatangani MoU sampai berakhirnya Pilkada dan meninggalkan Aceh 15 Disember 2006, sementara pemantau Pilkada hanya khusus untuk musim Pilkada saja lebih kurang dua-tiga bulan sehingga selesai perhitungan undi dan disahkan pemenang Pilkada secara hukum yang sah. Namun demikian pengaruhnya sangat besar untuk menekan kebejatan pihak-pihak yang bejat dan menyokong kebebasan masyarakat Aceh yang sudah lama ditindas dan dikhianati dalam setiap musim pemilu.

Ramalan Masa Depan Aceh

Ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi terhadap keberlangsungan Aceh dan masyarakatnya di masa depan pasca penetapan dan pelantikan Gabenor/Naib Gabenor terpilih Februari 2006. Ada kemungkinan Aceh akan menjadi sebuah wilayah yang penuh Syari’ah dalam wilayah Republik Indonesia (RI) kerana Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh merekomendasikan berlakunya Hukum Islam di Aceh sebagaimana UU. No. 44 Thn. 1999 dan UU. No. 18 Thn. 2001. Ini bererti para pembesar dan pegawai Aceh yang dipilih oleh rakyat harus membuat sejumlah Qanun untuk mendukum UU. No. 11 Thn. 2006 tersebut. Kalau semua pihak beramal dengan ikhlas sesuai dengan ketentuan yang ada maka Syari’at Islam yang didambakan masyarakat Aceh sejak dahulu kala akan tegak di wilayah yang tersohor dengan gelar Serambi Makkah ini. Di satu sisi hampir semua masyarakat Aceh sangat senang dan bergembira dengan pemberlakuan syari’at Islam di Aceh, kecuali mereka yang telah dicuci otak dengan sabun nasionalisme dan sekularisme. Namun di sisi lain keikhlasan dan keseriusan pemerintah untuk menjalankannya masih dipertanyakan. Kalau berhadapan antara keinginan rakyat dengan permainan pemerintah tersebut, dikhawatirkan akan meledak perlawanan baru dalam bentuk yang baru pula baik antara masyarakat dengan para penguasa mahupun antara masyarakat dengan sesamanya.

Kemungkinan lain adalah Aceh bakal menjadi sebuah wilayah sekular sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Kemungkinan ini muncul kalau pihak yang bakal memimpin Aceh nanti lebih takut kepada manusia di Barat berbanding kepada Allah Yang Maha Kuasa. Ertinya ada kemungkinan pihak GAM yang selama ini mewar-warkan sistem nasionalis dalam perjuangannya akan meneruskan ke masa depan kerana mengharapkan perhatian dunia Barat yang dianggap selama ini banyak memberi peranan dalam perjuangan mereka. Kalau keadaan ini yang wujud maka hampir dapat dipastikan Syari’at Islam hanya tinggal dalam Undang-undang dan Qanun-qanun yang telah dan akan dirumuskan. Kalau betul-betul ini yang bakal terjadi maka diperkirakan akan ada pihak-pihak yang lebih komitmen terhadap Islam yang melawannya dalam perjalanan sejarah masa depan.

Ada kemungkinan pula Aceh akan menjadi sebuah negara sekular yang mandiri dan berdaulat. Kemungkinan ini timbul dari hitungan kekuasaan asing dan pengaruh Barat yang tengah menguasai dunia hari ini. Ada andaian bahawa bagi dunia dan negara-negara Barat, berbanding Aceh berlaku Syari’at Islam kaffah dalam RI lebih baik Aceh menjadi sebuah negara tersendiri dalam bentuk negara nasionalis atau sekularis. Analisa ini dapat diyakinkan oleh orang-orang yang memahami hakikat penguasaan dunia oleh pihak Barat dan kelemahan komitmen ke-Islaman kaum muslim sendiri. Sebagai contoh realnya adalah kes Afghanistan dan Iraq yang diatur dan dikawal Barat, Iran dan Sudan yang selalu diancam dengan perang dan sekatan daganan berbagai kemudahan. Negara Pakistan juga menjadi sampel lain dalam kes ini, Pakistan yang dipimpin Jenderal Zia-ul Haq yang nilai komitmen Islamnya sangat tinggi kemudian dibunuh dengan peledakan bom pada pesawat yang ditumpanginya. Mulai dari pembunuhan tersebut sampai sekarang Pakistan dipimpin oleh pemimpin sekular.

Kemungkinan kecil lainnya adalah Aceh akan menjadi sebuah negara Islam yang berdaulat, atau negara yang berlaku Syari’at Islam secara padat atau negara yang berlabel Islam tetapi praktiknya sekular seperti banyak negara-negara Islam di dunia hari ini. Kemungkinan ini tidak tertutup bagi Aceh kalau dilihat keyakinan dan kesungguhan orang Aceh untuk menjalankan Syari’at Islam di tanah rencong ini. Dari dahulu sampai sekarang masyarakat Aceh masih sangat senang dan gembira apabila isu tersebut diangkat dalam kehidupannya. Dahulu mereka berperang dengan Portugis, Belanda dan Jepun kerana isu ini, dan dalam zaman DI/TII mereka juga berjuang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Pada awal pergolakan Gerakan Aceh Merdeka, isu Islam berada di barisan paling depan sehingga banyak para ulama dan tokoh masyarakat yang bergabung ke sana. Semua kemungkinan tersebut dapat terjadi melihat keberadaan politik dunia yang sangat tidak stabil hari ini. Kalau kekuasaan super power dunia hancur dalam beberapa masa kedepan, maka peluang bangsa Aceh untuk mewujudkan impian lama sebuah negara Islam sebagaimana pernah wujud pada masa Iskandar Muda akan terbuka luas, tinggal kekompakan bangsa ini saja yang bakal menentukan berhasil atau gagal menuju ke sana. Dan semua itu juga sangat tergantung kepada ketentuan Yang Maha Kuasa sebagai zat paling tinggi, peling kaya, paling berkuasa dan paling menentu dalam kehidupan ummat manusia. Wallahu a’lam.

Nota: Hasanuddin Yusuf Adan merupakan penasihat konflik bagi World Bank di Banda Aceh. Sebelum ini, beliau sebelum pernah diwawancarai menerusi “Hasanuddin Yusof Adan: Aceh belum mempercayai Indonesia!”. Dan, beliau dapat dihubungi menerusi, Emel.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: