jump to navigation

Sokrates, Korban Pertama Dari Demokrasi April 4, 2007

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum.
trackback

Oleh: Ekky Malaky

Tahun 1981, di New York, Peter Drucker, sang penggagas pengurusan moden bertanya kepada Jack Welch, CEO General Electric Co (GE). Drucker melontarkan dua pertanyaan: “Seandainya anda belum terjun ke dunia perniagaan, maka apakah anda akan terjun ke dunia ini?” ujarnya. “Jika tidak, apa yang akan anda lakukan?” soalnya lagi.

Pertanyaan itu membuat Welch membawa GE kembali menjadi salah satu syarikat Amerika yang paling berjaya dalam 25 tahun terakhir. Ya, Drucker hanyalah bertanya dan tak pernah memberikan jawapan yang jelas dan langsung atas pertanyaan banyak CEO. “Pekerjaan saya adalah bertanya, dan adalah tugas andalah untuk mencari jawapan”, tutur lelaki yang meninggal pada 11 November 2005 yang lalu.

Drucker bukan sekadar berperanan sebagai “bidan” yang membantu para pemimpin perniagaan untuk melahirkan idea-ideanya. Sebenarnya, dia sedang meneladani Sokrates. Kaedah “kebidanan” adalah ciri khas Sokrates yang memang anak seorang bidan.

Dengan kaedah kebidanan inilah, Sokrates ditangkap kerana dituduh “mengajarkan”ajaran baru yang melawan ajaran banyak dewa dan menyesatkan banyak anak muda. Dan, saat diadili, Sokrates tetap teguh mempertahankan diri,dan mengakibatkan dirinya dijatuhi hukuman mati dengan cara meminum racun, kerana kalah dalam pemungutan undi — 281 undi lawan 220 undi. Dialog-dialog ini diabadikan oleh Plato, muridnya, lewat Apologia. Dan sejarah mencatat, Sokrates adalah korban pertama dari demokrasi.

“Banyak alasan mengapa aku tak bersedih hati saat diputuskannya hukuman bagiku, wahai tuan-tuan. Hal itu memang telah kuduga semula, hanya saja terperanjat menyaksikan perbadingan undi yang hampir seimbang itu,” tutur Sokrates. Tenang. Dia menyatakan bahawa kenikmatan di akhirat sungguh besar “Sebab, selain mereka itu lebih bahagia daripada kita di sini, di sana mereka itu hidup abadi,” jelasnya. Keyakinan yang teguh membuatnya tidak takut mati. Bahkan saranan para sahabatnya untuk melarikan diri tak dipedulikanya.

Dengan kaedah kebidanan yang membuatnya berjalan-jalan dan bertanya-tanya kepada banyak orang, Sokrates dinyatakan bersalah oleh lawan-lawannya. Padahal dirinya hanya ingin menemukan jawapan dari Orakel Delphi, yang ditanyakan kawan lamanya Chaerefon, yang menyatakan bahawa tidak ada yang lebih bijaksana dari dirinya. Kerana ia tak merasa bijaksana, dia menanyakan kepada banyak orang, mulai dari politikus, pujangga, hingga intelektual, dan itu membuat musuhnya bertambah.

Sokrates ibarat lalat yang menganggu dan mencemuh mereka. Mereka tak hanya tak mampu memaparkan dalam hal apa mereka “bijaksana”. Bagi mereka, Sokrates di depan umum berupaya “membuktikan” bahawa sesungguhnya mereka tidak bijaksana.

Di jalan-jalan, Sokrates bertanya khususnya tentang definisi sebuah Arete (Keutamaan/Nilai, Virtue). Misalnya “apakah itu bijaksana?”, “Apakah itu keadilan?”, “Apakah itu kedermawanan?”, atau “Apa itu kejujuran?”. Dari satu pertanyaan, akan berbuah ke pertanyaan lainnya.

Setelah panjang berdebat, Sokrates mengunci soal-jawab tadi dengan berkata: “Demikianlah adanya, kita kedua-duanya sama-sama tidak tahu.”. Kaedah dialektika ini juga dipakai untuk melawan kaum sofis, yang mengajarkan ajarannya dengan cara retorik kosong untuk wang semata, dan bukan kerana semangat menyebarkan kebenaran.

Sayang lelaki tambun kelahiran Athens yang hidup tahun 470 S.M-399 S.M ini tidak pernah menuliskan ajarannya. Berkat Plato, yang baru berusia 28 tahun saat Sokrates gugur, dan beberapa muridnya, ajarannya menjadi abadi. Baginya, tujuan hidup adalah mencapai eudaimoia yang sering diterjemahkan dengan well-being (kebahagiaaan) yang bersifat objektif dibandingkan happiness yang lebih subjektif. Eudaimonia juga bererti “suara hati dari Tuhan”, atau juga “jiwa (daimon) yang baik”. Hal ini dilanjutkan oleh Aristoteles, cucu muridnya, lewat etika eudaimonismenya.

Untuk mencapai kebahagiaan itu, jalannya adalah memaksimunkan Arete. Arete adalah nilai-nilai, misalnya kejujuran, keadilan, atau keberanian. Arete juga bererti keutamaan seorang berdasarkan kudrat untuk apa ia dicipta. Seorang negarawan mempunyai Arete yang memungkinkannya menjadi politikus yang baik. Seorang tukang kasut yang mempunyai Arete akan menyebabkan ia menjadi seorang tukang yang baik. Dengan Arete, ia mendapat pengetahuan yang memungkinkannya menjadi seorang tukang atau politikus yang baik. Dan untuk memaksimunkan Arete, maka pendidikan sangat diperlukan.

Kalau kita tidak boleh memaksimumkan Arete, sama saja dengan pena yang tak berfungsi, pena yang tak lagi boleh dipakai menulis. Dalam bahasa pengurusan moden, Arete boleh bererti ”profesional”. Dalam Skala Motivasi Ian Marshall, di buku Spiritual Capital, Arete masuk dalam kategori +4, penguasaan yang membuat orang mencapai aras puncak dalam kareirnya.

Sokrates juga orang pertama yang berjasa mengembalikan filsafat dari hanya membincangkan alam semesta kepada perbincangan seputar manusia. Slogannya yang terkenal adalah: “Kenali dirimu!”. Dari hasil “kebidannnya” dia berkesimpulan:”Aku tahu bahawa aku tidak tahu!”.

Sokrates dianggap banyak kalangan sebagai penyebar semangat monotheisme, walau ada yang bilang dia atheis atau politheis. Ajarannya diteruskan juga oleh Aristoteles, yang terkenal lewat The Unmoved Mover yang disebutnya sebagai Penyebab Pertama, yang banyak diyakini orang sebagai ajaran tauhid.

Dari tangan Sokrates lahirlah Plato dan Aristoteles, dua pemikir raksasa yang pengaruhnya begitu besar dalam peradaban mana pun, termasuk peradaban Islam abad pertengahan lewat paripatetisme dari Aristoteles dan Neo-Platonisme.

Dan dua cabang besar itu berawal dari sosok gemuk beristeri wanita cerewet yang acap memarahinya yang, sayangnya, tidak pernah menuliskan ajaran-ajarannya.

Masih boleh kita baca, harapannya pada generasi penerusnya: “Saya curahkan seluruh waktu saya dengan melakukan usaha memujuk kalian, pemuda dan orang tua, agar kepedulian pertama dan utama kalian bukan demi raga kalian atau pun harta kalian, melainkan demi kesejahteraan tertinggi jiwa kalian. Kekayaan tidak membawa kebaikan, tetapi kebaikan membawa kekayaan dan segala berkah lainnya, baik bagi individu maupun bagi Negara.”

Hari itu, setelah keputusan mati ditetapkan, Sokrates justeru menghibur teman-temannya yang bersedih. “Kini tiba saat kita berpisah. Aku menjelang mati, dan kalian menempuh hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhanlah yang tahu”.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: