jump to navigation

Rencana Pendirian Parti Lokal GAM April 14, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Pasca kesepakatan damai antara Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandai dengan kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) 15 Agustus 2005, keadaan politik di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) jauh berbeda dengan sebelumnya ketika dikungkung RI.

Para penguasa negara mulai segan mempermainkan Aceh, para mantan anggota GAM yang lembaganya kini bernama Komite Peralihan Aceh (KPA) mulai menyatu kembali dengan masyarakat dan terlibat aktif dalam beberapa kegiatan pemerintahan seperti di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR).

Yang lebih menarik lagi adalah kemenangan pasangan Irwandi-Nazar dari kubu GAM dan SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh) dalam pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh 11 Desember 2006 yang lalu. Semua itu membuktikan bahwa antara GAM dengan rakyat dan pemerintah RI sudah mulai menyatu untuk membangun masa depan Aceh yang lebih cerah. Karena GAM/KPA masih punya lembaga dengan sejumlah anggotanya, maka para pemimpinnya berkewajiban untuk memperhatikan masa depan mereka. Karenanya pihak GAM berkeinginan untuk mendirikan sebuah Partai Lokal (Parlok) di Aceh dalam rangka meraih kekuasaan lewat dukungan rakyat Aceh dalam pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2009 mendatang.

Pembesar-pembesar GAM telah sepakat untuk mendirikan sebuah Parlok tunggal di Aceh yang bukan Partai Islam. Mereka juga tidak mau bergabung dengan komunitas atau lembaga manapun jua selain GAM, kalau ada anggota GAM yang mendirikan partai diluar itu maka itu bukan Partai GAM, paling tidak demikianlah ungkapan tegas dari Teungku Usman Lampoih Awe sebagai Menteri Keuangan dan Ketua Majelis GAM Pusat kepada Serambi Indonesia Senin 2 April 2007. mereka juga belum berkeinginan untuk bergabung dengan SIRA dalam soal Parlok walaupun pimpinan tinggi SIRA Muhammad Nazar menjadi Wakil Gubernur Aceh mendampingi Irwandi sebagai Gubernur dari kalangan GAM.

Persiapan untuk pendirian Parlok GAM ini telah lama dipikirkan petinggi GAM lewat semboyan; beralih perjuangan, dari perjuangan bersenjata ke perjuangan politik. Ide ini telah muncul semenjak perdamaian pertama GAM-RI yang difasilitasi Henry Dunant Center (HDC) tahun 2000 lalu. Namun karena perdamaian tersebut kemudian hancur dan dihancurkan pihak RI, maka orang-orang GAM kembali bergerilya menuntut kemerdekaan Aceh lewat ujung senjata. Ketika kesepakatan damai yang diprakarsai mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari yang di tanda tangani di Helsinki menjadi nyata dan berhasil dengan baik, maka peluang GAM untuk merebut kekuasaan lewat jalur partai kembali mencuat.

Kini pihak GAM sedang sibuk dengan penggarapan Parlok khusus GAM yang dikemas dalam bentuk dan sistem nasional universal. Ia tidak menyebut-nyebut issue dan atribut Islam karena menurut beberapa tokoh dan anggota mereka hampir semua orang Aceh adalah orang Islam karenanya tidak perlu lagi kita sebut dan cantumkan dalam partai secara resmi dan bersahaja. Demikian ungkap seorang konseptor Parlok GAM beberapa waktu lalu kepada penulis. Selain itu ada indikasi bahwa mereka menginginkan bantuan dunia luar untuk mengembangkan Parlok demi mencapai tujuan dan sasaran jangka panjangnya terhadap NAD. Yang lebih tragis lagi simbul dan istilah-istilah Islampun tidak boleh dicantumkan dalam konsep tersebut.

Namun demikian kita tunggu saja masa lahirnya baru kita dapat pastikan bagaimana bentuk dan kemana arah Parlok GAM tersebut. Kini kita hanya masih bisa menduga dan menganalisa walaupun ada beberapa pernyataan yang kita peroleh dari kalangan mereka. Semua itu bisa saja berubah seketika dan berganti arah serta haluannya, untuk tidak menimbulkan fitnah sebaiknya kita tunggu kelahirannya; boh jôk boh peulangän, öh watèi trôk barô tabôh nan (buah ijuk buah pelangan, ketika wujud baru kita kasih gelar dan gerangan).

GAM dan Parlok

GAM yang berjuang lebih kurang 30 tahun lamanya untuk memerdekakan Aceh dari RI akhirnya berdamai dengan RI dan merubah haluan perjuangannya dari berperang dengan senjata ke perjuangan melalui partai. Parlok yang diinginkan GAM hanya satu untuk GAM dan satu juga untuk Aceh, artinya GAM agak keberatan ada pihak lain yang mendirikan parlok di Aceh dalam masa ini karena dikhawatirkan akan terpecah suara untuk menegakkan kedaulatan Aceh. Ada sinyalemen dari sebahagian mereka yang mendirikan parlok selain parlok GAM adalah pengkhianat terhadap perjuangan GAM. Sebahagian tokoh dan anggotanya kini sibuk mempersatukan kekuatan untuk mewujudkan sebuah parlok yang dapat membawa aspirasi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Ada di antara mereka yang mencari hubungan luar, ada yang mempererat hubungan di dalam, ada yang mencari funding dan sebagainya guna mendirikan parlok GAM dan memenangkan Pemilu 2009.

Walaubagaimanapun, sulit bagi GAM untuk menghambat pihak lain mendirikan parlok di Aceh karena Undang-undang membolehkannya dan tidak membatasi berapa banyak parlok yang boleh didirikan. Hanya masa dan situasilah yang akan menyeleksinya dalam pemilu nanti. Karena itu pula sampai sa’at ini paling tidak sudah ada tiga parlok yang muncul di NAD, pertama Partai Rakyat Aceh (PRA) yang dimotori kaum muda berfaham nasionalis seperti Aguswandi, Thamrin Ananda dan lain-lain yang menetapkan kepengurusannya dalam kongres pertama bulan Februari 2007 di Asrama Haji Banda Aceh. Kongres tersebut heboh dengan terjadinya keracunan makanan terhadap sejumlah anggotanya. Selain itu, Partai GABTHAT yang dideklarasikan para tokoh ulama dayah seperti Teungku Muhammad Meureudu, Teungku Tajuddin Alampisang dan lain-lain di maqam Sultan Iskandar Muda Banda Aceh bulan Maret lalu dan Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) yang dimotori politikus fokal Aceh Ghazali Abbas Adan yang masih dalam tahapan persiapan menuju deklarasi.

Diperkirakan akan muncul beberapa parlok lain di Aceh setelah ada kejelasan aturan mainnya dari RI dan NAD. Sementara ini sejumlah tokoh politik sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendeklarasikan partai mereka masing-masing. Sejumlah partai nasional seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai Golongan Karya (Golkar) juga sedang mengincar peluang untuk mendirikan parlok di Aceh. Hal ini bakal terjadi disebabkan paling tidak oleh dua hal; pertama, undang-undang dan peraturan membolehkannya, dan kedua, ada kekhawatiran pihak RI bahwa partai nasional bakal tidak ada yang memilih dalam pemilu 2009 di Aceh nanti.

Kemungkinan terjadi pergeseran pemilih dari partai nasional ke partai lokal Aceh di masa mendatang sangat besar sekali. Ini disebabkan karena kebencian orang-orang Aceh terhadap partai nasional yang sudah puluhan tahun menipu mereka dengan berbagai cara. Kalau hal ini terjadi maka dimanakah posisi parlok GAM di masa depan? GAM yang dianggap sudah sangat berjasa dalam memperjuangkan hak Aceh merasa sangat memiliki Aceh. Karena itu pula ia mempunyai keinginan besar untuk menguasai seratus persen parlemen Aceh di masa depan. Kalau target ini dapat dicapai maka GAM bakal menemukan impiannya dalam pemilu RI 2009 nanti.

Sebaliknya, kalau target tersebut gagal maka macam-macam boleh terjadi. Boleh jadi GAM kembali ke perjuangan bersenjata, boleh jadi GAM habis secara perlahan ditelan masa, boleh jadi muncul kekuatan lain sebagai penerus perjuangan GAM dengan cara mereka sendiri. Namun kemungkinan partai GAM memperoleh kursi parlemen seratus persen sangat tidak mungkin karena suara orang Aceh akan terbagi ke parlok-parlok lainnya dan sebahagian mereka juga masih ada yang memilih partai nasional, tentunya mereka yang telah berhutang budi dengannya.

Ada kemungkinan lain yang dapat dilakukan GAM adalah, mulai sekarang mereka harus membuka link dengan semua parlok Aceh yang bukan buatan RI guna memadukan suara yang bakal diperoleh dalam pemilu 2009 nanti guna menguasai parlemen Aceh atau Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK). Kalau strategi ini dapat dijalankan maka mereka akan mudah dalam berkampanye dan masyarakatpun akan mudah memilih parlok mana saja. Kita sangat menyadari sulit untuk mengajak orang Aceh mendirikan satu parlok tunggal, dan sangat sulit lagi mengajak mereka untuk memilih dan memenangkan satu partai lokal saja, karena keberagaman sikap, pemikiran dan pemahaman mereka yang sangat berfariasi. Kecuali semua itu dilakukan dengan kekerasan dan ancaman.

Diharapkan GAM dapat berpikir lebih matang tentang perkara tersebut guna menghindari antipati dari masyarakat terhadap perjuangan mereka yang sudah mulai berbenih. Salah menanganinya bakal bencana yang diterima, karena pihak RI tidak pernah henti berusaha menghancurkan GAM, kalau masyarakat sudah mulai sakit hati apa lagi benci terhadap GAM maka peluang emas bakal diterima RI. Kalau ini yang terjadi maka sia-sialah perjuangan panjang Gerakan Aceh Merdeka di masa lampau. Untuk mencuri hati masyarakat Aceh setelah disakiti bukan perkara mudah, lebih mudah memburu harimau ganas di rimba ketimbang mengembalikan kepercayaan mereka terhadap kita. Pepatah Aceh mengatakan: Meunyö até ka tupèh, bu lubèeh han dipeutaba, meunyö até hana tupèh, adak bak asoe leubèh pih jeuet taraba (kalau hati sudah disakiti, sisa nasipun tidak akan ditawarkan, tetapi kalau hati tidak disakiti, di semua bahagian tubuhpun boleh diraba).

Eksistensi GAM di masa depan

Dengan kondisi Aceh seperti hari ini, tidak seorangpun dapat meraba apa lagi memastikan keberadaan GAM di masa depan. Beranjak dari beberapa pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, keberadaan sesuatu pertubuhan pergerakan perlawanan terhadap sesuatu rezim yang berkuasa sangatlah beragam. Ia sangat tergantung kepada siapa yang mengsappot mereka dari belakang, kalau penyokongnya kuat dari berbagai fasilitas maka ia dapat kuat dan bertahan lama seperti pergerakan Tamil Elam di Sri Lanka yang dahulu disappot India, pergerakan Kristen pimpinan Jhon Garang di Sudan Selatan yang mendapat sokongan dunia barat, perlawanan Hizbullah di Libanon yang dibantu Iran, pergerakan Fretelin di Timor Leste yang didukung Portugis dan Australia.

Sebaliknya, tanpa dukungan negara-negara mapan secara logika sulit ia akan bertahan lama dan eksis dalam perjuangan kecuali kalau Allah yang menentukan keberadaannya. Untuk mendapat sokongan dari dunia luar sesungguhnya sangat amat sulit kalau bukan ada sesuatu imbalan yang dapat dipegang mereka dari wilayah tempat pertubuhan tersebut. Apa lagi kalau kasusnya seperti Aceh terasa amat sulit untuk dibantu dunia luar yang menguasai dunia internasional hari ini karena faktor komitmen Islam yang kuat dari penghuni NAD sendiri.

Kalau demikian sulitlah dihandalkan perjuangan GAM untuk dunia luar kalau tidak ada harapan imbalannya seumpama bersedia meninggalkan syariat Islam, mau mewujudkan sistem negara yang nasionalis, dan mau bertukar hasil alam Aceh yang melimpah ruah dengan dolar mereka atas dasar ketentuan harga sebelah pihak. Paling tidak demikianlah pengalaman-pengalaman yang pernah ada di dunia ini seperti kasus Afghanistan pimpinan Najibullah yang menjadi boneka Uni Soviet suatu masa dahulu, Filipina masa pimpinan Ferdinand Marcos yang dihatur Amerika Serikat, Aljazair yang dikontrol Prancis untuk menghancurkan Partai Front Islamic Salvation (FIS) dan juga Malaysia, Brunei Darussalam yang menjadi anak didik Inggris.

Akan halnya GAM, ia sulit berkembang dalam dan untuk orang Aceh kalau bukan perjuangannya atas dasar Islam, sebaliknya akan mustahil ia mendapat bantuan dan dukungan dunia luar kalau perjuangannya didasari kepada Islam. Termasuklah kasus pendirian Parlok GAM ke depan, ia berhadapan dengan dua tantangan dan satu pilihan. Kalau mengharap ridha dan pahala dari Allah sang penguasa alam raya maka GAM harus berani mendirikan parlok Islam, kalau mengharap dukungan dunia barat maka GAM pula harus meninggalkan Islam dan memilih sistem nasionalis-sekularis sebagai azas parlok mereka.

Dari gambaran itu pula kita dapat melihat beberapa kemungkinan eksistensi GAM di masa depan. Boleh jadi ia berhasil mendirikan parlok Aceh dengan dukungan dunia barat dan mendominasi DPRA dalam pemilu 2009. indikasi ini terkait dengan banyaknya campur tangan barat dalam proses perdamaian GAM-RI semenjak tahun 2000 sampai 2005 silam. Kalau kemungkinan ini yang bakal terjadi maka pemerintahan Aceh kedepan akan didominasi orang-orang GAM. Orang-orang tersebut mempunyai satu prinsip yaitu kemerdekaan bagi Aceh, sementara RI punya sikap yang lain apa saja boleh asalkan jangan yang satu itu, merdeka.

Dalam suasana tolak tarik semisal itu pasti tergiring ke konflik baru kalau tidak ditengahi oleh penengah yang representatif seperti PBB, Uni Eropa, ASEAN dan sebagainya. Karena itu pula pihak-pihak tertentu dari luar masih tetap berada di Aceh dalam waktu yang tidak diketahui berapa lama, seperti Bank Dunia, Inter Peace sebagai pengganti AMM, sejumlah NGO dan perusahaan pemerintah seperti GTZ, dan lainnya. Tidak banyak orang tahu tentang missi mereka dibalik bantuan kemanusiaan, bantuan rekonstruksi, rehabilitasi dan reintegrasi.

Seandainya GAM gagal membentuk parlok atau gagal memperoleh dukungan suara terbanyak dalam pemilu mendatang, maka ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi. Yang pertama, kebanyakan mantan GAM akan membentuk front pelepas geram atas kegagalan perjuangan jangka panjangnya. Ia bisa berbentuk perjuangan bersenjata bisa juga perjuangan politik, ada kemungkinan juga penebaran teror model gerilya. Kedua, ada di antara mereka yang menikmati saja kekayaan yang selama ini diperoleh lewat jalur persentase proyek, gaji buta, bantuan dari BRA dan sebagainya. Ketiga, meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui jalur pendidikan luar negeri bagi anak-anak mereka oleh penguasa dari kalangan mereka hari ini. Keempat, tidak tertutup kemungkinan semua anggota GAM membaur dalam pemerintah RI sebagaimana kasus pasca perdamaian dengan Darul Islam/Tentera Islam Indonesia (DI/TII). Kelima, GAM menjadi kaki tangan asing untuk dijadikan pion penghancur syari’at Islam secara halus dan muslihat serta perlahan. Kelimanya tidak tertutup kemungkinan akan terjadi atau salah satu dari padanya, dan tidak tertutup kemungkinan juga untuk tidak terjadi karena alamlah yang memprosesnya secara perlahan.

Terlepas dari itu semua GAM kini sudah berganti dengan KPA, KPA kini tidak lagi bebas memegang senjata. Sejumlah anggota KPA sibuk dengan pengutipan cukai gelap pada setiap proyek yang dikerjakan kontraktor, sebahagian mereka tengah menikmati bekerja di kantor-kantor pemerintah RI. Akankah mereka rela meninggalkan itu semua untuk kembali mengangkat senjata memerangi RI untuk yang kesekian kalinya apabila keadaan menginginkan demikian? Katakanlah kalau Parlok gagal atau tidak dapat memenangkan pemilu? Semua jawaban itu ada pada orang GAM terutama sekali petinggi-petingginya. Pengalaman sudah cukup memadai dari perjuangan melawan penjajah asing sampai memerangi RI. Apa lagi pimpinan besar GAM Tengku Hasan Tiro dikhabarkan sudah dhaif, ia tidak sanggup lagi mengatur rakyatnya. Sementara tiga orang petinggi lainnya; Muhammad Usman Lampoih Awe, Abdul Malik Mahmud dan Zaini Abdullah tidak sekeramat Hasan Tiro di mata pengikutnya.

Yang kita khawatirkan adalah generasi tua GAM itu bakal dijadikan besi tua oleh generasi muda yang memenangkan Pilkada 11 Desember 2006 yang lalu. Indikasi kearah itu sudah nampak pada masa pencalonan gubernur yang didominasi GAM tua dan GAM muda. GAM tua menjagokan Ahmad Humam Abdul Hamid dan Hasb Abdullah sebagai calon Gubernur dan wakil Gubernur, sementara GAM muda menjagokan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar sebagai calon Gubernur dan wakil Gubernur, yang kemudian dimenangi oleh GAM muda.

Dalam kasus ini terjadi kevakuman komunikasi antara GAM muda dengan GAM tua beserta dengan pendukungnya masing-masing sampai selesainya Pilkada yang dimenangi kalangan muda. Hari ini ada indikasi yang tidak menyenangkan lainnya adalah GAM tua berprinsip hanya merekalah yang berhak mendirikan parlok dan selain mereka bukan parlok GAM namanya. Sementara GAM muda yang memiliki kekuasaan dan rakyat GAM seluruh Aceh kecuali sebahagian GAM Pidie merasa sedang punya kesempatan kapan lagi kalau bukan sekarang. Pajan tapeulheueh layang meunyö kon watèi na angën, pajan tameu-ën meunyö kon teungöh na kuasa (Kapan bermain layang-layang kalau bukan waktu ada angin, kapan kita main kalau bukan ketika punya kuasa). Jadi tidak tertutup kemungkinan lahirnya dua parlok GAM dalam menghadapi pemilu RI tahun 2009 nanti, yang satu dari kalangan GAM muda dan yang lainnya dari kelompok GAM tua. ….. Nota: Hasanuddin Yusuf Adan merupakan penasihat konflik bagi World Bank di Banda Aceh serta akademia di Fakulti Syari’ah IAIN Ar-Raniry. Sebelum ini, beliau sebelum pernah diwawancarai menerusi “Hasanuddin Yusof Adan: Aceh belum mempercayai Indonesia!”. Dan, beliau dapat dihubungi menerusi, Emel.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: