jump to navigation

Sewaktu Agama Kehilangan Akal April 18, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Pub.
trackback

Oleh: Fathi Aris Omar

Dilema umat Islam sering merupakan persoalan di antara dua sisi ekstrem, binary opposition: akal dan emosi, publik dan privat, rasionalitas dan wahyu, kebebasan dan kekangan, ke depan (kontemporer) dan ke belakang (tradisional), ulama dan non-ulama, dunia dan akhirat, ummah (sesama agama) dan manusia (bukan Islam).

Oposisi biner ini menyulitkan kita menerima nuansa, spektrum atau ambiguitas sebagai realitas pengalaman beragama itu sendiri. Sering kita cenderung mengambil satu ekstrem saja. Dilema inilah yang tidak terpecahkan. Malah sebarang langkah ke arah memecahkan persoalan ini sering dihambat kontradiksi dan penolakan (rejection) dari dalam tubuh umat Islam sendiri.

Entah di mana celakanya, persoalan ini pula yang enggan dimengertikan oleh kaum terpelajar Muslim, khususnya yang sudah dipengaruhi dogma-dogma fundamentalisme agama. Pemerintah kita masing-masing hanya membesarkan kepentingan elitis mereka saja. Sementara pemikir reformis atau progresif sering bergelut dalam ambiguitas sisi-sisi ekstrem ini yang menjadikan mereka sulit dimengertikan dan, akibatnya, cenderung diabaikan (oleh massa). Hidup ini, mungkin, lebih mudah jika kita memilih ekstrem!

Agama kemudian hanya sekedar carut-marut niat, declaration of intent, slogan-slogan atau janji-janji manis untuk berbuat baik kepada sesama tapi dangkal sekali agenda atau program kemaslahatan manusiawinya. Seolah-olah wujud tenaga yang besar tetapi terkepung dan tidak terluahkan. ‘Islam progresif’, di sisi saya, harus melihat gambaran besar ini dan cuba mengaplikasikan wacana-wacana pemecahan yang kreatif, emansipatoris dan kritis.

Islam itu untuk maslahat manusia, bukan untuk Tuhan. Islam itu ada janjinya kepada manusia, rahmatan lil ‘alamin, tetapi janji ini belum ditunaikan (kalau tidak mahu menyebut ‘dimungkiri’). Umat Islam sering berbicara tentang isu-isu agama seolah-olah mereka tidak hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Seolah-olah dampaknya tidak membabitkan orang lain atau mereka ini tidak akan memberikan dampaknya kepada umat Islam.

Jika di Malaysia, Islam itu (walau membabitkan kebijakan publik) mahu dibicarakan sesama umat Islam saja, atau lebih buruk lagi sesama ulama. Islam sering menjadi medan eksklusif ulama – konon authoritas agama itu dicampakkan kepada segolongan kecil manusia dari dewa langit!

Kita belum belajar menghargai manusia lain atau golongan non-ulama. Kita belum tahu berwacana secara publik tentang hal-ehwal agama kerana kononnya wahyu itu sentiasa kekal, tidak berubah-ubah lagi, sepatah demi sepatah di dalam al-Quran. Campur tangan manusia atas tafsir, kecuali monopoli ulama, tidak diizinkan.

Seolah-olah enakmen hudud (yang pernah disarankan oleh Partai Islam Se-Malaysia atau PAS) diambil 100 persen dari kitab suci itu, tanpa tafsir atau rumus manusiawi sedikit pun! Mempertikaikan enakmen (enactment) ini sama berdosa dengan menolak al-Quran. Tafsir tiba-tiba menjadi taboo, akal sewenang-wenang dikhabarkan tunduk di bawah tapak kaki raksasa (gergasi) wahyu.

Sesiapa yang cuba berwacana rasional, khususnya meminjam teori atau paradigma ilmu sosial kontemporer (misalnya ‘Islam progresif’, ‘Islam liberal’, ‘Islam kiri’ atau ‘Islam sivil’), dicurigai ‘separuh benar’, ‘separuh Islam’ atau, lebih buruk lagi, ‘antek-antek Barat’!

Di negara kami, inilah dilema paling besar – dilema merumuskan posisi akal dengan wahyu dan tradisi agama. Isu ini paling pivotal dalam keseluruhan wacana agama. Isu ini menjadi cukup problematis apabila politik turut campur tangan. Apatah lagi politik itu, baik agama atau sekular, tidak pernah demokratis. Perseteruannya tajam, dan ada waktu-waktunya keji dan tanpa etika (unethical). Sementara perlawanan menantang keadaan tidak demokratis itu pula lemah atau tidak konsisten.

Ya, sebetulnya, dilema Malaysia itu bukan kasus terisolasi (isolated case). Malah, di negara-negara Muslim yang lain, termasuk di Indonesia, hal yang seumpama ini masih berjalan.

Bagi mengelak kebingungan arus modernitas dan urbanisme, tidak sedikit kaum terpelajar kita (kelas menengah Muslim) melarikan diri ke dalam ruang privat – agama sekedar upacara menjinakkan jiwa. Sebagian gejala ini asalnya pengalaman tradisi beragama. Persoalan dunia dilihat dari perspektif bukan agama atau disederhanakan saja. Upaya untuk mengolah akal bagi mendepani dunia kontemporer (dunia modernitas dengan pasca-modernitasnya, dunia lokalitas dengan globalismenya), terhambat.

Sementara kaum fundamentalisme agama pula memang ingin menegakkan Islam di ruang publik tetapi sering pula menyederhanakan persoalan-persoalan agama. Negara bagi mereka hanyalah lembar-lembar fotokopi (photocopy) al-Quran, hadis, ijmak dan qias ulama! Begitulah proses menyederhanakan agama sehingga sesiapa yang berfikiran luas akan cenderung ketawa, atau kecewa, dengan lelucon agama ini. Tetapi mereka benar-benar serius dan pengaruh mereka besar sekali. Jangan cuba mentertawakan hal ini, nanti anda bisa dilabel ‘murtad’.

(ii)

Saya sengaja menjadikan Malaysia sebagai satu kasus untuk direnung kita bersama kerana, konon khabarnya, negara ini dipandang ‘tinggi’, dari beberapa sisi, dalam kemajuan Islam, pembangunan ekonomi, hubungan antar-ras dan multikulturalisme, pendidikan universitas, stabilitas politik dan teknologi.

Pengalaman kami di Malaysia menjelaskan bahawa situasi negara yang tidak demokratis telah merosakkan faham agama. Islam menjadi korban (victim) dunia tidak demokratis. Dunia politik seperti negara kami mematikan akal kritis warganya, menyuburkan konservatisme dan feudalisme, menolak perbahasan terbuka dan pluralisme tafsir, dan melemahkan keghairahan mengkaji teori-teori baru (dari luar). Pendek kata, apa saja hegemoni bakal menemui lahan subur di sini.

Tidak pernah ada Nurcholish Madjid (Cak Nur) atau Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) di negara kami – pemikir isu-isu kontemporer dari cabang pendidikan tradisi agama (di sini, kami menyebutnya ‘ulama’) – yang mendapat dukungan meluas.

Semua pemikir yang kritis tentang agama (khususnya aliran fundamentalisme) datangnya dari pendidikan bukan agama seperti Zainah Anwar, Farish A Noor dan sejumlah tokoh lagi. Mereka bergerak sebagai individu atau dalam LSM kecil yang berbasiskan kehidupan kota dan kelas menengah. Jadi, wacana-wacana alternatif dan progresif tidak pernah mengakar di umbi masyarakat Islam. Pluralisme tafsir agama baru saja berkembang, ketimbang di Indonesia yang sudah beberapa dekade dibicarakan orang.

Pembirokrasian Islam di tangan negara juga ada dampak buruknya. Tangan-tangan tidak demokratis negara mengawal agama dengan penuh rasa cemburu (jealousy). Dalam persaingan politik dengan partai Islam, pemerintah mengawal dengan ketat departemen-departemen agama dan tafsir Islam. Sering muncul dua versi agama, satu milik pemerintah, satu lagi milik partai oposisi. Media, kampus dan panggung seni turut dikontrol – jauh lebih halus dan berdampak buruk daripada zaman Orde Baru. Bukan saja pemerintah, oposisi juga mengontrol media, kampus dan panggung bersesuaian dengan tingkat kuasa masing-masing.

Partai Islam, sebagai sebuah partai tradisi yang berpengalaman luas, berjaya menerobos hegemoni pemerintah. Partai ini pada 1982 (hingga kini) diresapi kaum fundamentalis, sesuai dengan arus kebangkitan Islam di serata dunia. Mereka menguasai kampus dan anak muda. Departemen agama juga berjaya diresapi anasir-anasir PAS.

Dalam persaingan yang semakin sengit dengan partai Islam, pemerintah juga akhirnya mahu dikenali ‘pejuang Islam’. Dulu, sewaktu Anwar Ibrahim berada dalam partai pemerintah, kebijakan ‘penerapan nilai-nilai Islam’ diperkenalkan sejak awal 1980-an. Kini, selepas Dr Mahathir Mohamad dan wakilnya Anwar tidak ada lagi, perdana menteri baru memperkenalkan ‘Islam Hadhari’, mulai 2004, sebuah versi agama tanpa kebebasan dan demokrasi – atau, ‘kebebasan’ dan ‘demokrasi’ menurut faham negara.

Di sini, ‘negara Islam’ bukan saja seruan partai oposisi tetapi juga partai pemerintah. Agama tidak boleh dipisahkan daripada politik (walau partai pemerintah itu sekular-pragmatis orientasinya) seperti agama tidak boleh dipisahkan daripada ras (Melayu). Sementara politik negara pula bermakna hegemoni politik Melayu (Semenanjung) ke atas ras-ras lain – Cina, India dan sub-etnik di Sabah dan Sarawak – dalam wacana komunalisme politik.

Jadi, wajah-wajah popular Islam di Malaysia sentiasa bermakna ‘Islam negara’ dan ‘Islam oposisi’ (baca: fundamentalis), dan kadang-kadang ‘Islam rasis’ atau ‘Islam fasis’, tetapi tidak pernah ‘Islam progresif’.

Walau kedengarannya dua nama berbeda, ‘Islam negara’ dan ‘Islam oposisi’ pada akhirnya memiliki satu tubuh saja: anti-akal, anti-debat, anti-kebebasan, anti-pluralisme, atau pendek kata anti-demokrasi.

Perlawanan daripada pemikir-pemikir independen terhadap hegemoni negara, dan lain-lain kelompok dominan, hampir-hampir tidak ada atau tidak konsisten. Kerana masyarakat sivil dan institusi demokrasi telah berjaya dilumpuhkan secara sistematik di bawah pentadbiran Dr Mahathir, sewaktu ‘penerapan nilai-nilai Islam’ berkembang.

Berbeda dari Indonesia, di negara kami kata ‘independen’ atau ‘mandiri’ itu masih lagi asing sebab semua orang cenderung memihak, kalau tidak kepada pemerintah, pastilah kepada oposisi. Atau, berdiam diri.

Di Indonesia, sentiasa muncul tokoh dan gerakan (walau kecil atau tersembunyi) yang cuba mandiri (menjaga jarak) daripada negara. Di Malaysia, seseorang dipaksakan (oleh arus popular) memihak kepada kumpulan dominan untuk mendapat tempat (posisi), suara dan pengaruh. Akhirnya individu yang progresif atau kritis tunduk kepada hegemoni-hegemoni tertentu yang sudah tidak demokratis.

Maka, sesiapa yang cuba melihat persoalan politik atau Islam dari perspektif yang luas, mengkritik oposisi dan pemerintah dalam sebuah artikel yang sama, pasti tidak akan disenangi dari segenap penjuru! ‘Konspirasi’ seperti ini buat masa sekarang menjadi kepastian hidup di Malaysia – ruang ‘mandiri’ hanya satu, itu pun di alam siber, misalnya Malaysiakini.com.

Di koran web inilah, sejak tahun 2000, kita bisa melihat keghairahan orang Malaysia berwacana dengan lebih bebas, jujur dan pluralis dalam semua bidang kehidupan. Koran web ini seolah-olah ‘penyelamat’ dari alam ghaib, makhluk (alien) dari planet asing, manna wa salwa bagi mereka yang kelaparan pluralisme, kecerdasan dan pemikiran progresif.

Pelbagai kaum, kelas sosial, pendidikan, aliran berfikir dan pendukung politik (termasuk pemerintah) muncul di sini. Tetapi kualitas (quality) diskusi belum terjamin tinggi. Malah, cenderung pula dangkal dan sempit.

Kedangkalan dan kesempitan wacana ini kerana mereka dipengaruhi struktur kuasa dan budaya masyarakat yang konservatif itu. Ertinya, walau kita berjaya mendirikan media yang bebas tetapi jika budaya masyarakatnya masih konservatif, maka tidak ada ertinya ‘kebebasan media’ itu!

Sama situasi di Indonesia saat ini – pembaca dan masyarakat tidak cenderung menggunakan hak jawab dan hak koreksi, sebaliknya mereka lebih suka membawa media dan wartawan ke pengadilan. Media belum dimanfaatkan secara jujur dan sungguh-sungguh oleh warga sebagai peserta (participant) ruang publik.

Namun, setidak-tidaknya Malaysiakini.com boleh menjadi cermin bagi merefleksi wajah ‘jujur’ dan ‘asli’ Malaysia walau tidak dinafikan rata-rata pengunjung (pembaca) situs web ini dari kelas menengah kota, khususnya Kuala Lumpur, Pulau Pinang dan Johor. Di luar situs ini, ada lagi wajah-wajah lain Malaysia.

Gambaran ini sangat penting disampaikan dengan harapan pembaca dapat berlaku adil ketika melihat Islam dan hubungannya dengan politik di Malaysia. Ertinya, bukan hanya agama itu buruk, sedangkan hal-hal lain itu sudah baik. Agama hanya satu daripada beberapa keburukan atau kelemahan di Malaysia.

Aktivis agama itu tidak lebih buruk, tidak lebih baik, daripada profesional, penduduk kota atau masyarakat kelas menengah kami (Melayu atau bukan, Muslim atau tidak). Malah, mereka saling mempengaruhi (bertukar-tukar) keburukan, mediocrity, akibat situasi demokrasi yang terbatas. Pendek kata, situasi negara yang tidak demokratis telah merosakkan banyak perkara, tidak terkecuali faham agama.

(iii) Dalam komunitas Melayu (semuanya harus Islam seperti telah didefinisikan oleh konstitusi), arus konservatisme semakin menebal sejak tahun-tahun mutakhir. Dalam buku saya, Patah Balek: Catatan Terpenting Reformasi (2005), hampir semua bidang kehidupan – seni, politik, agama, kampus, aktivisme pro-demokrasi, pemikiran dan media – dan kelompok (khususnya Melayu dan Islam) telah dikenal pasti menyimpan dampak-dampak buruk tidak demokratiknya negara. Di sini membiak authoritarian personality – peribadi otoriter.

Konservatisme itu tetap berjalan bersama tingkat pendidikan tinggi, termasuk dari universitas-universitas Barat, dan kemajuan ekonomi (khususnya sebelum krisis moneter 1997).

Konservatisme itu lebih deras terasa apabila wujud kekangan politik negara, khususnya pasca krisis 1998, dan berkembangnya arus fundamentalisme agama.

Pada pertengahan dekade 1990-an, ketika ekonomi memacu laju dan pemerintah memperolehi suara besar dalam pemilu 1995, ada semacam era ‘keterbukaan’ di Malaysia. Beberapa pemikir kritis dan aktivis LSM (lembaga swadaya masyarakat) diundang bersuara, termasuk di televisi, media (seperti koran dan radio) yang dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah atau kroni pemimpin negara.

‘Keterbukaan’ ini yang mendorong Anwar Ibrahim, waktu itu wakil perdana menteri, menganjurkan wacana ‘masyarakat madani’, sesuai dengan berkembanganya tema civil society di dunia internasional.

Tetapi persoalan hak asasi manusia (HAM) tidak pula dipandang serius waktu itu, malah Malaysia antara negara yang paling tinggi suaranya menggesa nilai-nilai HAM itu dikaji kembali, kerana kononnya idea-idea itu datang dari Barat dan tidak sesuai diaplikasi di negara-negara non-Barat. Malaysia juga, bersama Singapore, yang merumuskan ‘nilai-nilai Asia’ dan menolak tuntutan Barat yang mahu isu-isu ekonomi internasional diperhitungkan bersama soal-soal pemusnahan ekologi atau pelanggaran HAM.

‘Keterbukaan’ yang datang bersama kemajuan ekonomi negara ini bagaimanapun berlaku setelah pemerintah berjaya melemahkan masyarakat sivil dan institusi demokrasi (misal, sistem pengadilan) pada dekade sebelumnya. Krisis politik 1987 turut memburukkan demokrasi tetapi memberi keuntungan kepada aliran fundamentalisme agama yang didukung oleh partai oposisi PAS, khusus sewaktu pemilu 1990 – menjadikannya ‘percaya diri’ luar biasa kerana berjaya menarik dukungan lebih besar massa Melayu (yang kecewa dengan UMNO yang sedang mengalami perpecahan).

Dari sini, konservatisme Melayu perlahan-lahan muncul walau ekonomi sedang meningkat. Kemajuan ekonomi itu malah melahirkan kesedaran agama di kota, sejenis ‘sufisme kota’ seperti komentar profesor Komaruddin Hidayat. Perkembangan ini tidak jauh bedanya sewaktu pemilu 1999, apabila sekali lagi partai oposisi ini mendapat pengaruh yang luar biasa besar – akibat krisis politik 1998 (kasus pemecatan Anwar Ibrahim) yang memburukkan demokrasi. Orang Melayu yang kecewa pada UMNO lari lagi kepada PAS.

PAS diam-diam menjadi ‘tulang punggung’ Gerakan Reformasi Anwar – kebetulan, presiden partai ini Fadzil Noor (almarhum) teman dekatnya Anwar. Walau di kota slogan Gerakan Reformasi, yang turut disertai aktivis-aktivis HAM dan gerakan pro-demokrasi, kedengaran ‘progresif’ tetapi di desa-desa yang menjadi basis partai oposisi ini, agama tetap juga dalam faham fundamentalisme dan konservatisme.

Slogan gerakan pendukung Anwar ini memang bunyinya ‘reformasi’, ‘politik baru’, ‘keadilan’, ‘Malaysia yang adil’ dan ‘alternatif’ tetapi, sesuai pula dengan budaya politik Malaysia, sekadar promosi di sampul (cover) saja. Kandungannya (content), tiada yang benar-benar ‘reformasi’, ‘baru’ atau ‘alternatif’. Di bawah retorikanya dan di dalam gerakan ini, semuanya konservatisme. Idea-idea progresif sulit tumbuh dan tidak diberikan perhatian: oleh pemimpin politik, aktivis dan pengikut akar rumput.

Tulisan-tulisan dan idea-idea progresif tidak berkembang, tidak berjaya difahami dan dituturkan, termasuklah di kalangan aktivis muda dan pemimpin mahasiswa (kelompok ini telah lama bergabung sebagai sayap partai oposisi atau LSM Islam, seperti gejala di Indonesia). Cara mereka menganalisa atau merumus konflik politik itu masih lagi permukaan (superficial) dan lama.

Oleh itu, penulis-penulis seperti Farish A Noor dan saya (sekedar contoh) sering mengalami dilema ini. Sewaktu kami berdua menggesa gejala ini (kelemahan wacana dan pemikiran dalam Gerakan Reformasi) diperbaiki segera demi kemajuan demokrasi, resistensi (resistance/halangan) itu datang mendadak dari pemikir dan aktivis kanan gerakan ini sendiri – malah, kami dituduh ‘orang asing’ yang tidak pernah komited pada perjuangan perubahan (sesuatu yang, pastilah, tidak benar).

(iv) ‘Islam progresif’, jika kita memakai takrif (definition) Omid Safi, memang menarik dan relevan (relevant) dengan wacana umat Islam sekarang – setidak-tidaknya ia bisa menjadi ‘pengimbang’ kepada wacana-wacana ‘Islam liberal’ yang berorientasikan pasar (pro-market) dan semangat liberalisme.

(Nota: kata ‘Islam liberal’ di sini bermaksud umum saja, tidak merujuk kepada atau tanpa sebarang hubungan dengan Jaringan Islam Liberal)

Namun, masalah pokok di negara kami, kedua-dua kata ini ‘Islam progresif’ atau ‘Islam liberal’ tidak diterima oleh aliran konservatif. Wacana popular dan berunsur politis beberapa bulan kebelakangan semuanya menyatakan penolakan (keras?) terhadap sebarang kata yang ditambah selepas kata ‘Islam’.

Asalnya, kelompok Islam – khususnya parti Islam PAS – tidak senang dengan kata ‘Islam hadhari’ yang dimunculkan oleh partai pemerintah UMNO menjelang pemilu Maret 2004. Saya berada di masjid Rusila (Terengganu, Malaysia), dalam rangka memantau pemilu, sewaktu presiden PAS menyampaikan kritiknya terhadap konsepsi ‘Islam hadhari’ UMNO – kini wacana partai Islam ini sudah dijadikan sebuah buku.

Awal tahun ini, selepas muncul kontroversi besar ‘anti-kawalan moral’ sebagai susulan memorandum daripada organisasi-organisasi dan aktivis-aktivis pro-kebebasan individu, kelompok agama konservatif membakar emosi publik dengan mendakwa ‘Islam liberal’ itu mengancam ‘akidah’ umat Islam.

Dengan maksud, semua kata baru di belakang ‘Islam’ seperti ‘Islam emansipatoris’, ‘Islam post-tradisionalis’, ‘Islam kiri’, ‘Islam substantif’, ‘Islam kultural’ atau ‘Islam sivil’ dianggap semuanya itu – di negara kami – ‘Islam liberal’. Kata ‘Islam progresif’ tidak terkecuali dirangkumkan (dimasukkan) sekali dalam daftar wacana yang terlarang di sisi faham agama mereka, kaum konservatif dan tradisionalis, sama ada partai oposisi, LSM Islam atau pemerintah sendiri!

Saya melihat dilema (dilemma) besar di Malaysia. Dinding nalar (mental block) sedang didirikan di negara kami seolah-olah sebuah dinding tinggi yang memisahkan orang-orang Palestin dan Yahudi di Israel. Dulu, sewaktu Perang Dingin (Cold War), ada ‘tembok Berlin’ (Berlin Wall) untuk memisahkan dunia kapitalisme-liberalisme-demokrasi dengan komunisme tetapi kini di Malaysia ada tembok Islam konservatif-fundamentalis dengan Islam liberal (seperti yang mereka fikirkan begitu).

Dinding nalar ini memang abstrak (abstract) tetapi perseteruannya (conflict) tidak kurang tajamnya antara orang Palestin dengan regim Israel (pada sisi dan sikap kaum konservatif). Rasa kebencian dan kekagetan publik dibesar-besarkan sehingga orang ramai dan umat Islam umumnya kebingungan apakah sebenarnya isu-isu dasar yang harus mereka perhalusi dan fikirkan. Masyarakat disuap dengan propaganda sebelah pihak, dangkal dan distorsi (distortion) pengetahuan.

Resistensi (resistance) seumpama ini saya ceritakan di sini sebagai satu kasus untuk diteliti lanjut – apakah ada harapan kita memajukan ‘Islam progresif’ di negara-negara umat Islam sekarang? Apakah orang Islam nampak bahawa wacana-wacana ‘Islam progresif’ itu ada sisi-sisi penting, relevan (relevant) dan harus mereka berikan fokus utama (lagi-lagi seperti tafsir Omid Safi)?

Keragu-raguan saya ini bukanlah baru, bukan semata-mata kerana didorong beberapa peristiwa politik dan kontroversi agama di Malaysia akhir-akhir ini. Sebagai aktivis mahasiswa Islam, kira-kira 10 tahun sejak pertengahan 1980-an, dan kemudiannya menulis artikel-artikel kritis terhadap mereka, mulai awal 1990-an, saya rasakan sendiri betapa kecilnya dunia wacana umat Islam umumnya.

Betapa sikap penolakan (rejection) mereka itu didasarkan pada kejahilan, kedangkalan dan purbasangka yang salah. Kritik dan kecaman mereka pada kata ‘Islam liberal’ saat ini membuktikan segala-galanya.

Namun begitu, Dr Syafii Anwar, direktor International Center for Islam and Pluralism (ICIP), melihat di sebaliknya – dia melihat sisi-sisi terangnya. Mungkin kerana ada jalur-jalur harapan di Indonesia, ketimbang di Malaysia, jadi penulis seperti saya cenderung melihat dunia (masa depan?) yang lebih murung itu. Keragu-raguan saya itu disebabkan oleh sejumlah faktor di negara kami berbanding di Indonesia.

Di Indonesia, kata Dr Syafii, beberapa organisasi massa Islam yang paling besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah senang dengan wacana agama yang lebih moderat dan progresif. (Nota: Walau persidangan NU akhir tahun lalu memberikan sinyal yang berbeda).

Tetapi di Malaysia, tidak ada ormas seumpama NU atau Muhammadiyah. Malah, tidak ada tokoh seumpama Cak Nur, Gus Dur atau, malah, Ulil Abshar-Abdalla! Jadi, sebagai rumusannya, saya ingin jelaskan bahawa wacana ‘Islam progresif’ haruslah menyedari latar penerimaan masyarakat lokal. Ia tidak boleh terlalu gairah dengan idealisme dan kata-kata ilmiah yang akhirnya mencipta jurang (gap) antara pemikir Islam progresif dengan umat Islam yang rata-ratanya kurang berfikir, kurang mengkaji dan cenderung konservatif.

Sebenarnya umat Islam kehilangan konteks antara dirinya dengan dunia yang berubah. Jadi, apabila mereka mendengar kata ‘Islam progresif’ mereka tidak nampak di mana ‘konteks’ atau kerelevanan (relevance) wacana agama ini dengan kehidupan dan masa depan mereka. Umat Islam faham apa makna al-Qur’an, hadis, syurga, neraka dan ulama! Umat Islam nampak konteks ini semua – al-Qur’an, hadis, syurga, neraka dan ulama – dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Lingkungan politik yang tidak demokratis ini (bukan hanya di Malaysia, tetapi di banyak negara Islam) memburukkan lagi usaha membuka wacana baru tentang agama dalam konteksnya yang lebih luas dan plural.

Dari analisa saya, budaya tidak demokratis di Malaysia telah merosakkan semua orang: bukan hanya pemerintah, tetapi juga oposisi, aktivis LSM, seniman, mahasiswa, cendekiawan, akademisi dan agamawan terjerembap di bawah situasi tidak demokratis negara.

Jadi, tidak perlulah saling menyalahkan, kita harus sama-sama bertanggungjawab membangunkan budaya demokrasi, membuka ruang publik (public sphere) untuk isu-isu agama dan non-agama kerana dari sini saja kita saling belajar memprogresifkan nilai hidup dan perspektif.

Pesan saya, rakyat Malaysia harus memberdayakan masyarakat sivil, melazimkan massa berinteraksi idea, berwacana secara tenang tetapi kritis-rasional walau plural sekali kepentingan dan perspektif masing-masing, toleran pada nilai-nilai berbeza dan tidak cuai menyidik golongan berkuasa (atau kelompok dominan). Bagi saya, ‘proyek pencerahan’ Islam bukan lagi ‘belum selesai’ (unfinished project, kata Jurgen Habermas) tetapi baru saja bermula. Untungnya, pendidikan tinggi dan tingkat literasi semakin membaik jika dibandingkan sewaktu merdeka pada 1957.

Tetapi, dalam situasi tidak demokratis, pendidikan mudah menjadi alat hegemoni negara. Ibarat pesan Louis Althusser, dalam esai-nya yang terkenal, Ideology and Ideological State Apparatuses: Notes toward an Investigation, hati-hati pada pendidikan! Sekarang media massa juga dan globalisasi budaya pop dan konsumerisme berlumba-lumba masuk ke rumah umat Islam – sejenis usaha ‘membius’ fikiran masyarakat dunia, Islam atau bukan.

Ertinya, Islam progresif itu bukan hanya berdepan dengan kuasa-kuasa lokal tetapi seluruh kuasa sejagat yang cuba melemahkan akal manusia – yang mahu menjadi individu sebagai subjek yang ditaklukkan.

Pendidikan agama – usaha baru di kalangan aktivis aliran fundamentalis – sejak awal 1980-an belum menampakkan hasil ‘positif’ untuk mereformasikan agama, sebaliknya sekedar mengontrol generasi muda mereka daripada dipengaruhi cara berfikir negara. Gejala ini sama sahaja kritik W S Rendra dalam bukunya Penyair dan Kritik Sosial – tentang kelemahan generasi muda di bawah kontrol dan kekangan generasi tua yang berkuasa.

Memang banyak isu agama dan non-agama dalam senarai panjang (long list) agenda perubahan di Malaysia. Tetapi ia akan bermula dari sini: pembebasan akal dan alam fikiran daripada hegemoni-hegemoni negara, agama, modal dan tradisi feudalisme Melayu. Pembebasan ini pembebasan akal daripada mitos-mitos kata, bahasa, wacana dan komunikasi, kata Roland Barthes dalam Mythologies. Pembebasan ini pula hanya boleh dilaksanakan dengan baik jika ada media massa yang efektif dan LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang aktif.

Partisipasi (penyertaan) generasi muda, profesional dan intelektual Malaysia dalam proses reformasi pemikiran – saya kira – sangat tergantung pada sejauh mana menarik atau tidaknya wacana yang kita tawarkan, dalam pelbagai bidang, kepada mereka. Buat masa sekarang, wacana ini ‘harus ditawarkan’, bukannya mereka yang ‘harus mencari’!

Jika kita dapat memecahkan persoalan-persoalan semasa yang dekat dengan kepentingan mereka – seperti dinyatakan di awal artikel ini – dan wujud pula kesedaran kolektif akan perlunya langkah-langkah pemecahan itu, maka ‘Islam progresif’ mempunyai masa depan yang cerah.

Sumber:

Barthes, Roland (1972) Mythologies, New York: Hill and Wang

Omid Safi (2003) ‘What is progressive Islam’, ISIM Newsletter 13, Desember

Syafii Anwar (2004) Progressive Thought is not Socialized, situs web Jaringan Islam Liberal (JIL), 30 Augustus

Nota: Catatan ini dijadikan sebagai kata Pengantar Pendamping bagi buku (terjemahan Indonesia) Dr Farish A. Noor, Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara. Saya sedang menyiapkan catatan lanjut tentang persoalan ini ‘Islam progresif’ untuk satu lagi projek penulisan buku, jika tidak ada aral melintang.

Komen-komen»

1. sahafiye - Jun 5, 2008

sungguh mengenyangkan diskusi saudara fathi aris omar, – boleh saya katakan saya sealiran dengan pandangan saudara.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: