jump to navigation

Memberantas Faham Pluralisme Agama Di Aceh Mei 6, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf AdanFaham Pluralisme yang pernah difatwakan sesat dan menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk muslim akhir-akhir ini semakin marak dan promotif di Indonesa. Sebenarnya faham ini merupakan reinkarnasi atau penjelmaan lain dari faham-faham sebelumnya seperti Nasionalisme, Sosialisme, Kapitalisme, Sekularisme dan seumpamanya.

Inti dari pada ajaran semua isme tersebut adalah ingin mendangkalkan ‘aqidah, menahan berjalannya Syari’ah dan merusak akhlaq muslim di dunia raya ini. Kita berasumsi, ketika semua isme-isme tersebut menjadi tawar dan tidak berlaku untuk seluruh muslim, maka mereka akan mewujudkan isme-isme baru lainnya yang dianggap mendapatkan sambutan sebahagian muslim yang pemahaman aqidahnya masih rendah dan lemah.

Dewan Dakwah sebagai sebuah wadah penyelamat ‘aqidah ummat telah, sedang dan akan terus berusaha mengkonter ajaran-ajaran dan isme-isme tersebut sehingga tidak merusak pemikiran muslim di negeri ini. Upaya-upaya pembersihan pemikiran, penanaman ‘aqidah Islamiyyah yang benar dan murni terus berlangsung khususnya di Aceh dan umumnya di Indonesia. Menghadapi faham-faham tersebut di atas, Dewan Dakwah harus mencari kiat-kiat baru dengan taktik dan strategi yang amat ampuh sehingga faham-faham keliru tersebut tidak tembus dan tidak marak di Aceh serta Indonesia.

Dewan Dakwah dan Pluralisme Agama

Ketika Dewan Dakwah lahir tahun 1967 di bumi Indonesia ini lebih didominasi oleh pemikiran berpolitik melalui dakwah sebagai umpan balik dan realisasi kenyataan perubahan masa dan zaman. Pada masa Orde Lama (Orla) para tokoh Dewan Dakwah umumnya bergabung dalam Partai Masyumi dan mereka berdakwah lewat partai tersebut. Namun ketika Presiden Soekarno memaksa Masyumi untuk membubarkan diri membuat para tokohnya kehilangan medan dan perahu untuk berlabuh keseberang sana. Konpensasi dari itulah Muhammad Nasir dan kawan-kawannya mendirikan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia dalam bentuk sebuah Yayasan. Motto Dewan Dakwah kala itu adalah: kalau dahulu kita berdakwah melalui politik, maka sekarang berpolitik lewat Dakwah.

Berdakwah melalui politik artinya sambil berpolitik praktis para tokoh Dewan Dakwah melancarkan amar ma’ruf-nahi munkar. Hal ini beda dengan orang-orang lain dari partai lain berpolitik yang mempunyai target materi dan kekuasaan semata. Tokoh-tokoh Dewan Dakwah lewat jalur politik mengumpulkan uang untuk kepentingan gerakan dakwah. Kekuasaan yang diperoleh atas dukungan rakyat digunakan untuk kepentingan rakyat dan Islam. Kerana itu pula istilah Berdakwah melalui jalur Politik sangat identik bagi kegiatan-kegiatan politikus Partai Masyumi dahulu.

Ketika Masyumi dinyatakan bubar atas desakan Soekarno yang berfaham Nasionalis-Komunis, maka hampir semua tokoh-tokohnya dibatasi ruang gerak dakwah dan politik. Malah pada masa Oede baru (Orba) pimpinan Soeharto sejumlah tokoh Masyumi yang sekaligus tokoh Dewan Dakwah dicekal tidak boleh pergi keluar negeri. Kondisi seperti ini membuat founder Dewan Dakwah Muhammad Nasir gagal memperoleh Doktor Honoris Causa yang sudah lama dipersiapkan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Bangi Malaysia. Namun demikian, dasar pemrakarsa gerakan dakwah tidak pernah dilepaskan begitu saja oleh Nasir, beliau terus mengembangkan ekspansi Dewan Dakwah ke seluruh Indonesia termasuk Aceh untuk menyampaikan gerakan amar ma’ruf-nahi munkar. Kerana kondisi seperti itu pula beliau pada masa-masa genting di zaman Orba itu menitahkan moto: berpolitik melalui gerakan dakwah. Hal ini dilakukan kerana gerakan dakwah tidak boleh di hambar rezim diktator Soeharto kerana lebih delapan puluh persen rakyat Indonesia beragama Islam.

Untuk memuaskan hati seorang Muhammad Nasir dari berbagai diskriminasi dari dua rezim sekuler (Soekarno dan Soeharto) di Indonesia, beliau memanifestasikan motto lengkap Dewan Dakwah: Kalau dahulu kita berdakwah lewat jalur politik, maka sekarang kita berpolitik melalui jalur Dakwah. Motto tersebut ternyata menjadi berkat dan dipakai sampai hari ini oleh anggota Dewan Dakwah walaupun Muhammad Nasir dan beberapa penerus gerekan Dakwahnya seperti Anwar Haryono, Affandi Ridhwan, Husein Umar dan lain-lain telah tiada.

Dewan Dakwah sangat konsen dan sensitif dalam amalannya dengan issue-issue kristenisasi, pemurtadan, dan ghazwul fikr (invasi pemikiran) seperti issue Pluralisme agama. Dari dulu Dewan Dakwah telah mengkonter gerakan kristenisasi di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali Aceh dan malah sampai ke negeri tetangga Malaysia. Semenjak Muhammad Nasir sampai kepada kepemimpinan Hussein Umar, Dewan Dakwah sangat gencar melawan faham Nasionalisme, Sosialisme, Kapitalisme, Sekularisme dan primordialisme. Ketika faham pluralisme agama muncul dalam tahun 2000-2007 Dewan Dakwah menghantamnya dari berbagai sudut dan akhirnya MUI memfatwakan faham ini sesat dan bahaya untuk Islam dan ummat Islam.

Semenjak ia wujud di Indonesia Dewan Dakwah tidak pernah memberikan peluang kepada faham Pluralisme untuk hidup, berkembang dan maju di sini. Kerana itu pula sampai kapanpun Dewan Dakwah tidak akan menganggap semua agama sama dan tidak akan membiarkan faham tersebut berjaya di sini. Kerana hal demikian bertentangan dengan konsep Ilahiah yang telah mengistimewakan Islam sebagai satu-satunya agama benar di permukaan bumi ini.

Pluralisme Agama dan Ketentuan Al-Qur’an

MUI mendefinisikan Pluralisme Agama (PA) sebagai: ”Suatu faham yang mengajarkan bahawa semua agama adalah sama dan kerananya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahawa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahawa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.”

Faham yang disebut juga dengan istilah transcendent unity of religions ini dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Rene Guenon, Titus Burckhardt, Fritjhof Schuon, Martin Ling, Seyyed Hossein Nasr dan lain-lain. Selama ini faham pluralisme tersebut mulai disambut dan dianut oleh kelompok tertentu di Indonesia khususnya mereka yang tergabung dalam kelompok PARAMADINA. Usaha pemasarannya ketika ini dikaitkan dengan era globalisasi dengan segala dampak bawaannya, termasuk fenomena “plural” yang secara konsepnya menuntut sikap terbuka, toleran, akomodatif dan inklusif. Dalam situasi sekarang, menurut mereka, sikap tertutup dan eksklusif sudah tidak relevan lagi. Dengan semangat zaman yang sedemikian, kerana itulah mereka tampil sebagai kaum pluralis-inklusif.

Dengan menyamakan semua agama berarti semua agama adalah benar, penganut agama mana pun adalah muslim dan semuanya boleh masuk syurga. Yang berbeda hanya jalannya, tetapi yang dituju adalah sama, iaitu Tuhan, dan semuanya (melalui jalan mana pun) akan sampai ke tujuannya.

Islam dan MUI, menolak tegas pandangan pluralisme agama. Al-Qur’an surat Ali Imran ayat (19) menyatakan: ”Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. Selanjutnya, ayat (85) menyatakan: ”Siapa yang menginginkan agama lain dari Islam tidak akan diterima dari padanya. Di akhirat ia termasuk orang yang merugi”. Pluralisme agama, walaupun tetap menerima kepercayaan umat beragama bahawa agamanya masing-masing merupakan agama yang benar, lebih benar dari agama lain, tetapi kebenaran tidak satu-satunya dimonopoli oleh agama tertentu. Sehingga penganut agama lain tidak berhak dipandang kafir dan kekal dalam neraka. Untuk meluruskan pendapat tersebut Al-Qur’an telah membedakan antara muslim dengan kafir yang keduanya menempati tempat berbeda di hari kemudian. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan ditempatkan di dalam neraka Jahannam, kekallah mereka di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga Adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah reda akan mereka dan merekapun reda (serta bersyukur) akan nikmat pemberianNya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya. (Al-Bayyinah; 6-8)

Memahami akan perbedaan pemikiran dalam Islam, Dalam sejarah pemikiran Islam, hal ini boleh diamati sejak munculnya pemikiran filsafat dalam Islam yang dipelopori Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Gagasan mereka tentang filsafat kemudian direspons oleh Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah. Pemikiran Al-Ghazali ini pun, kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dengan Tahafut al-Tahafut. Pola seperti ini terus berkembang hingga masa Ibnu Taimiyah yang dianggap sebagai pemikir konservatif dan gagasan-gagasannya menjadi inspirasi bagi kalangan fundamentalis. Akan tetapi, berbeda halnya ketika gagasan-gagasan Ibnu Taimiyah tersebut kemudian direspons serta dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang boleh dikategorikan sebagai pemikir yang beraliran liberalis dengan gerakan Al-Manarnya memberi spirit bagi umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan serta melawan berbagai bentuk kolonialisme yang dialami oleh sebagian besar umat Islam, termasuk Indonesia.

Surat Alhujurat ayat (13) mengungkapkan: ”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui”. Alquran surat Arrum ayat (22) menamakan keragaman tersebut sebagai `’ayat-ayat atau tanda-tanda” kebesaran Allah bagi yang berilmu pengetahuan. Jadi bukan berarti siapa saja yang bertakwa kepada Allah akan masuk surga walaupun ia bukan muslim sebagaimana diklaim kaum Pluralis.

Kalau mereka mengaku tuhan Allah dan agamanya juga dari Allah, maka kenapa mereka tidak mau masuk Islam ketika Allah menafikan semua agama lain dan mengangkat Islam sebagai satu-satunya agama benar di dunia ini? Quran surah Ali Imran ayat 19 dan 85 sudah cukup sebagai bukti untuk kasus ini. Jadi memahami ayat Al-Qur’an itu tidak boleh mengambil yang menguntungkan pemikiran kita saja sementara yang lain diabaikan. Jadi Allah memuliakan orang yang lebih taqwa dalam ayat 13 Al-Hujurat tersebut adalah dalam konteks Islam bukan dalam konteks agama-agama

Islam adalah din Allah sebagai Khalik manusia dan alam semesta. Islam, sebagaimana tersebut dalam surat Ali Imran ayat (19) dan (85) adalah satu-satunya agama di sisi Allah. Islam adalah agama umat manusia yang diwahyukan kepada para rasul dan nabi Allah, sejak Adam sampai Muhammad sebagai nabi terakhir (QS. 2:23; 10:72, 90; 6:162-163; 22:34, 78 dan lain sebagainya).

Islam berarti ”tunduk dan patuh kepada Allah”, kepada ajaran-Nya dan penjelasan rasul-Nya. Kerana itu, apa-apa yang di bumi dan di langit telah ber-Islam, telah tunduk dan patuh kepada Allah (QS 42:13; 10:72, 84; 2:132, 133, 136). Kepatuhan dan ketundukan benda-benda di bumi dan di langit kepada sunnatullah (hukum alam dan kehidupan manusia yang diciptakan Allah) jauh melebihi kepatuhan dan ketundukan kebanyakan manusia yang menyatakan diri beragama Islam. Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia, umat Islam harus memandang sama antara rasul-rasul tersebut (Albaqarah: 285). Umat Islam percaya bahawa pada prinsipnya, semua ajaran yang dibawa oleh nabi dan rasul terdahulu sama dengan ajaran Islam yang mereka anut dalam masalah prinsip keimanan, syari’ah, dan akhlak.

Semua ajaran yang dibawa para rasul itu, misalnya, sama-sama mengajarkan iman kepada Allah Yang Esa; iman kepada akhirat; melarang mencuri, zina, judi; perintah berbuat baik kepada dua orang ibu bapa, sopan, dan lain sebagainya. Perbedaan adalah dalam rincian hukum dan moral, serta perbedaan masa berlaku. Kalau ada penyimpangan dari kesamaan tersebut, itu pertanda telah ditambah, dikurangi, atau ditukar oleh manusia. Penambahan, pengurangan, atau penukaran ini menimbulkan agama lain dari Islam sebagai dinullah yang nyatanya sedemikian banyak dewasa ini. Pemahaman Islam seperti ini jelas tidak sejalan dengan faham pluralisme agama.

NAD dan Gerbang Pluralisme

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berpeluang besar menjadi gerbang Pluralisme agama dalam konteks Ghazwul fikr (invasi pemikiran). Selama terjadinya Gempa pada 8,9 skala rikhter dan gelombang tsunami dahsyat, Aceh lebih banyak didatangi kaum non muslim dengan tujuan membawa bantuan kemanusiaan. Kondisi ini dapat terpicu kepada masuknya nilai-nilai penghancuran pemikiran anak bangsa Aceh yang hampir seratus persen muslim. Dikhawatirkan ia akan mudah masuk melalui jalur kemudahan finansial seperti bekerja dengan lembaga non muslim mendapatkan gaji luar biasa banyaknya. Konpensasi dari imbalan tersebut ada kemungkinan anak Aceh semakin menyatu dengan orang-orang kafir dan sedar atau tidak ia akan lupa dengan Islam dan tamadun Aceh. Kalau ini yang terjadi maka perzinaan antara Aceh dengan bulek tidak dapat dihindari, membenarkan kafir dan menyalahkan Islam akan menjadi issue hangat di kalangan generasi muda Aceh dan membaurnya budaya barat dengan adat budaya Aceh pun akan terus berlangsung.

Selain itu jalur politik akan memegang peranan penting dalam proses invasi pemikiran anak bangsa Aceh di masa hadapan. Hal ini diindikasikan dengan maraknya partai lokal non Islam yang diproses oleh generasi muda muslim Aceh selama dibenarkan Mou Helsinki dan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Hakikat berpartai dalam konteks Islam dan Aceh adalah amar ma’ruf nahi munkar, bukan ingin meraih kuasa dan kursi semata-mata. Kalaupun selama berpolitik mendapat kursi dan kuasa, keduanya harus digunakan untuk kepentingan Islam dan ummat Islam, bukan untuk mendangkalkan pemikiran dan pemahaman Islam oleh muslim sendiri sebagaimana yang terjadi selama ini.

Ketika partai yang wujud di Aceh tidak lagi membawa aspirasi Islam, itu bermakna satu lagi pintu gerbang sekularisme dan pluralisme akan terbuka dengan menganga. Selama ini ada beberapa tokoh kampus yang berani menantang Islam dengan cara mereka sendiri, biasanya dengan menyalahkan Islam kerana salah amalan seorang muslim atau dengan menyalahkan kekeliruan amalan orang-orang Islam yang belum mahir dengan amalan Islamnya. Ada juga yang melecehkan Islam kerana penampilan ummatnya, dan sebagainya.

Dengan terbukanya Aceh untuk komunitas internasional seperti hari ini, maka kontrol sosial akan sulit dilakukan untuk muslim Aceh di masa depan. Ketika keadaan seumpama ini terjadi maka adat budaya Aceh yang identik dengan Islam perlahan-lahan akan sirna. Ketika hal ini terjadi maka memudahkan gerakan pluralisme dan isme-isme lainnya berkiprah di Aceh. Kalau kondisi ini wujud maka Aceh akan tidak beda lagi dengan Jakarta, dengan Medan dan sebagainya. Artinya apa saja boleh terjadi asalkan tidak berlawanan dengan ketentuan negara, yang bertentangan dengan negara akan segera dituntut dan diadili, sementara yang bertentangan dengan Islam nanti di hari kemudian baru mendapat pengadilan yang Maha Adil.

Peranan Dewan Dakwah NAD

Dewan Dakwah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang terbentuk tahun 1991 kini sudah terjadi empat kali pergantian pimpinan. Periode pertama dipimpin oleh Ali Sabi, kedua oleh Muhammad Yus, ketiga oleh Muhammad Abdurrahman dan yang keempat hasil musyawarah Wilayah (Muswil) 2 yang diadakan di Asrama Haji Banda Aceh terpilih Hasanuddin Yusuf Adan sebaai pemimpinnya.

Menghadapi tantangan dan ancaman pluralisme agama Dewan Dakwah NAD menyusun beberapa rekomendasi kepada muslim dan pemerintah Aceh untuk dijalankan dengan baik. Rekomendasi dimaksud adalah:

REKOMENDASI DALAN

Kepada muslim dan mslimah Aceh khususnya dan Indonesia umumnya diharapkan:

1. Waspadalah dengan faham pluralisme agama yang kini marak di Indonesia baik yang dikemas oleh kelompok Paramadina, Jaringan Islam Liberal, kaum nasionalis-sekularis maupun pihak-pihak lainnya.
2. Berhati-hati dengan langkah-langkah pemurtadan yang dilakukan pihak Kristiani di negara ini. Khususnya di Aceh gerakan tersebut sudah sangat merisaukan masyarakat pasca tsunami.
3. Waspadalah dengan gerakan globalisasi dan liberalisasi Islam yang dilancarkan pihak lawan melalui orang Islam sendiri. Gerakan ini dapat menipiskan amalan dan praktik Syari’at Islam bagi muslim Aceh.
4. Budaya hidup campur antara haq dengan bathil yang dikemas dalam bingkai nasionalisme dan sekularisme merupakan bahaya lain kepada kelangsungan dan kemurnian Islam. Untuk itu muslim Aceh dan Indonesia diharapkan agar tidak terpengaruh dengan gaya hidup tersebut.
5. Muslim dan Muslimah Aceh diwajibkan untuk menjalankan Syari’at Islam di Aceh mengikut ketentuan Al-Qur’an, al-Tsunnah, Undang-undang dan Qanun Aceh. 6. Muda-mudi atau orang tua Aceh diwajibkan supaya tidak berdua-duaan dengan yang bukan mahrim baik di tempat sepi maupun keramaian.
7. Para penjual dan peniaga di Aceh harus menutup kedai usahanya ketika masuk waktu shalat wajib lima waktu sehari semalam dan melaksanakan shalat secara berjamaah.
8. Para peniaga makanan ringan seperti burger, roti bakar, martabak dan sebagainya yang berjejeran di tepi jalan seperti di jalan Teungku Muhammad Daud Beureu-eh harus memasang lampu di tempat duduk pembeli dan mengawasi khalwat para pembeli.
9. Masyarakat Islam di Kampung-kampung seluruh Aceh diharapkan menjaga kampungnya masing-masing dari upaya-upaya kristenisasi dari pihak luar dan perbuatan mesum dari kalangan dalam sendiri.
10. semua pendatang yang memasuki Aceh harus tunduk dan patuh terhadap undang-undang, Qanun dan adat istiadat Aceh yang selaras dengan Islam di Aceh. Bagi yang melanggarnya harus segera dihukum dan dikeluarkan dari Aceh.

REKOMENDASI TERHADAP PEMDA NAD

1. Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh diharapkan berhati-hati dan menyeleksi investor dan tetamu luar yang masuk ke Aceh agar tidak membawa missi-missi yang bertentangan dengan Islam dan Syari’at Islam.
2. Pemda NAD dan seluruh jajarannya harus menindak tegas pelaku mesum (khalwat) seperti yang terjadi di Abdinya, Sabang, Ie Masen Kayeei Adang dan tempat-tempat lain di seluruh Aceh sesuai dengan Qanun Aceh dan Hukum Islam.
3. Dalam menjalankan Syari’at Islam di NAD harus dimulai dari para pemimpin, semenjak pemimpin tingkat provinsi sampai peringkat Gampong.
4. mendesak DPRA agar segera menuntaskan semua Qanun yang belum selesai dalam rangka mempercepat berlakunya Syari’at Islam di Aceh.
5. MPU diharapkan bertindak tegas dan berani dalam menentukan ketentuan Hukum Islam (fatwa) di NAD terhadap perkara apa saja yang berkembang di Aceh agar Aceh dan Islam tetap berwibawa.
6. Dinas Syariat Islam dan Kepolisian NAD agar tidak pilih kasih dalam menjalankan hukum bagi pelaku kriminal, khalwat, mesum dan seumpamanya.
7. Pemerintah Gampong dan Mukim agar membentuk lembaga Pageue Gampong (Pagar Kampung) dalam upaya mencegah maksiat, mesum dan khalwat di tempatnya.
8. Pemerintahan Gampong dan Mukim diharapkan agar menghidupkan pengajian-pengajian di tempat masing-masing terutama yang berkenaan dengan Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq.
9. Pemerintahan Kecamatan, Kemukiman dan Gampong diharapkan dapat bekerja sama dalam mewujudkan pengajian dan memberantas kemaksiatan di dalam wilayah kekuasaannya.

Khatimah

Faham Pluralisme agama sama sekali tidak dapat dibenarkan kerana menyamakan semua agama dan menyatakan semua penganut agama yang mengaku ada tuhan akan masuk surga bersama orang-orang Islam (untuk perbedaan antara muslim dengan kafir silakan baca surah A-Bayyinah ayat 6-8). Faham tersebut mengangkat ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan keinginan dan kehendak nafsu mereka saja dengan membiarkan ayat-ayat lain yang ada kaitannya dengan ayat tersebut. Kebanyakan penganut faham tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan dari kaum orientalis.

Dewan Dakwah sebagai sebuah lembaga Islam yang konsen dengan gerakan Dakwah Islamiyyah di Indonesia dan khususnya Aceh akan terus mengejar orang-orang yang ingin mensosialisasikan faham tersebut di sini. Melalui beberapa jalur seperti jalur birokrat, jalur politik, jalur pendidikan dan jalur dakwah itu sendiri Dewan Dakwah NAD akan terus mematahkan faham yang sesat lagi menyesatkan itu. Pengajian intensif kepada semua golongan masyarakat menjadi salah satu jalur yang paling ampuh untuk mematahkan pemaham dan praktik faham tersebut di Aceh.

Semoga saja semua pihak dari semua kalangan muslim Aceh akan memberikan dukungan dan bantuan kepada Dewan Dakwah NAD, agar program tersebut akan berjalan mulus, Insya Allah.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: