jump to navigation

PAAS Ikut Meramaikan Parlok Aceh Jun 23, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusof AdanBeranjak dari sebuah keikhlasan atas dasar keimanan dan persaudaraan, semua ummat manusia khususnya muslim dan muslimah diperintahkan untuk menegakkan jama’ah yang konsisten dengan sunah. Ia diperintahkan pula untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam setiap langkah kehidupan.

Semua itu tentunya harus selaras dengan Al-Qur’an dan Al-Sunah. Rasulullah S.A.W., melebarkan ekspansi Islam ke seluruh penjuru dunia melalui jama’ah yang solid dan kuat ‘aqidah. Baginda pula menaklukkan beberapa rezim kafir dengan kekuatan jama’ah yang ikhlas dan istiqamah (teguh pendirian). 

Jama’ah yang telah berhasil menguasai dunia dari masa ke masa adalah jama’ah yang kuat ukhuwwah, kuat ‘aqidah, ikhlas dalam beramal dan berorientasi kemurnian dan kemajuan Islam. Hal ini telah dibuktikan oleh jama’ah yang dibangun oleh Rasulullah S.A.W., Khulafaurrasyidin, tabi’ dan tabi’ tabi’in. Dalam sejarah perlawanan Islam terhadap kaum nasara, Salahuddin Al-Ayyubi telah memprakarsai jama’ah seumpama itu sehingga sampai hari ini nama harum beliau tetap wangi baik di kalangan muslim maupun kafir.

Dalam konteks ke-Aceh-an, jama’ah seumpama itu telah dibangun para ulama dan pemimpin besar Aceh zaman silam seperti yang dilakukan Teungku Syhik Di Tiro Muhammad Saman. Dalam masa kehidupannya beliau telah mendidik kader-kader militan dan istiqamah di dayah (pondok pesantren) tempat beliau mengajar di Tiro. Ketika raja Aceh telah lemah memerangi penjajah Belanda, beliau bersama murid-muridnya berjihad pada jalan Allah mempertahankan Islam yang telah dikotori kaum penjajah. Berkat kerja sama jama’ah yang solid, ikhlas dan istiqamah perlawanannya berjaya menahan lajunya serangan Belanda di Aceh.

Di belakang beliau Aceh masih memiliki seorang Ulama dan pemimpin besar yang dalam masa rezim Orde Lama pimpinan Soekarno dan Orde Baru pimpinan Soeharto di Indonesia selalu disisihkan kekuatan jama’ahnya, beliau adalah Teungku Muhammad Daud Beureu-eh. Beliau bersama jama’ah Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) telah memiliki andil besar dalam menegakkan kemurnian Islam ketika terjadinya agresi (serbuan) Belanda kedua tahun 1948 di Indonesia. Dengan jama’ah yang memiliki wahdah al-fikr, wahdah al-qalbi dan wahdah al-haraki beliau telah mampu mempertahankan Indonesia dari jajahan dan serbuan Belanda di Aceh. Dengan demikian Indonesia dinyatakan tetap merdeka melalui Radio Rimba Raya yang dibangun jama’ah tersebut di Krueng Simpo, Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen (dulu Aceh Utara).

Kekuatan sebuah jama’ah yang solid, kuat iman, kokoh persaudaraan, mantap ‘aqidah dan seragam dalam perjuangan menjadi punca keberhasilan dalam setiap langkah gerakan dan amalan. Beranjak dari pengalaman tersebut, sejumlah tokoh masyarakat, para ulama, para pemuda, kaum perempuan, kaum profesional, cendekiawan dan intelektual dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu telah mendeklarasikan sebuah Partai Lokal (Parlok) Aceh di Taman Sari Banda Aceh hari Ahad tanggal 17 Jumadil Awal 1428 H / 3 Juni 2007 dengan nama PARTAI ACEH AMAN SEUJAHTRA (PAAS). Partai tersebut merupakan sebuah partai lokal Islam yang modern di Aceh, dikatakan modern karena ia lahir untuk semua lapisan masyarakat Aceh dari berbagai kalangan, etnis, agama dan latar belakang. Namun ia arus memegang teguh pada pendirian dan prinsip-prinsip Islam sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Latarbelakang

Dipacu oleh terjadinya perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI) yang telah berperang selama tiga dasawarsa pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, maka peluang untuk mendirikan Partai Lokal (parlok) terbuka lebar di Aceh. Kebebasan mendirikan Partai Lokal di Aceh tersebut dinyatakan dalam poin 1.2.1 Nota Kesepahaman antara GAM degan RI., dan Bab XI pasal 75 sampai 95 Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang wujud setelah terjadinya perdamaian tersebut.

Paling tidak sudah ada empat pendeklarasian partai lokal di Aceh setakat ini, yaitu Partai Rakyat Aceh (PRA) yang didominasi oleh kaum muda, Partai Gabthat yang didominasi kaum ulama tradisional plus sebagian generasi tua GAM, Partai Aliansi Perempuan yang didominasi para aktivis perempuan Aceh, dan Partai Aceh Aman Seujahtra (PAAS) yang didominasi oleh para ulama, politisi, pemuda, cendekiawan, intelektual, tokoh-tokoh Ormas dan perempuan serta kaum profesional dari berbagai lapisan masyarakat. Selain itu kumpulan bekas anggota GAM juga sedang sibuk mempersiapkan sebuah partai lokal yang berbasis GAM., dan tentunya masih ada kemungkinan munculnya beberapa parlok lain menjelang Pemilihan Umum (pemilu) tahun 2009 nantinya.

PAAS lahir dan wujud atas inisiatif beberapa orang deklarator yang mendiami bumi Aceh sebagai sambutan terhadap kehadiran MoU Helsinki dan UUPA. Sebelum PAAS dideklarasikan, seorang deklarator yang juga tokoh fokal Aceh; Ghazali Abbas Adan telah bertanding dalam merebut kursi Gubernur Aceh pada tanggal 11 Desember 2006. Perebutan tersebut telah dimenangkan oleh pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar melalui cara kerja simpatisan mereka yang sedikit kontroversial.

Dari cikal bakal relawan calon gubernur tersebut para pekerja ikhlas di seluruh Kabupaten dan Kota dalam wilayah Aceh sepakat untuk mendirikan sebuah parlok yang kemudian dinamakan Partai Aceh Aman Seujahtra (PAAS). Semenjak ia dideklarasikan oleh 30 orang deklarator pada hari Ahad 17 Jumadil Awal 1428 H / 3 Juni 2007 M yang lalu sampai sa’at ini sejumlah Kabupaten dan Kota telah siap dengan pengurus daerahnya untuk menghadapi pemilu 2009 nanti. Kegagalan yang mereka perolehi dalam merebut kursi Gubernur NAD 11 Desember 2006 yang lalu menjadi pengalaman yang sangat berharga buat mereka. Mereka sudah tahu sebab dan penyebab kegagalan tersebut dan sudah punya kiat tersendiri untuk meraih kemenangan di masa hadapan bersama PAAS. Insya Allah.

Dalam pidato politiknya salah seorang deklarator, Ghazali Abbas Adan menguraikan perbedaan antara langkah-langkah yang akan diambil PAAS dalam berkiprah nantinya dengan amalan sekelompok kaum yang menjurus kepada intimidasi dan teror. Beliau mengawali pidatonya dengan menguraikan bagaimana rezim Orde Lama pimpinan Soekarno dan Orde Baru pimpinan Soeharto memimpin negeri dan menghidupkan partai dengan cara-cara memaksa rakyat dengan berbagai lebel demokrasi yang diciptakan mereka. Selain itu, pidato yang disambut meriah oleh ratusan pendukung setianya di Taman Sari Banda Aceh tersebut menguraikan kedudukan dan fungsi PAAS dalam percaturan politik Aceh sebagai sebuah partai lokal yang eksis, mandiri dan bernuansa partai Islam modern.

Satu hal yang sangat menarik dalam konteks pendirian PAAS adalah para relawan dan deklarator sangat siap beramal dengan penuh keikhlasan sehingga mereka rela mengorbankan uang dan tenaga untuk terwujudnya sebuah Partai Lokal Islam modern bernama PAAS. Sekretariat sementara PAAS di Jalan T. Nyak Arif Nomor 159 Jeulingke Banda Aceh saban hari dikunjungi para simpatisan untuk memperoleh berbagai informasi, dan sejumlah deklarator juga sering menerima telepon dan SMS dari seluruh penjuru Nanggroe Aceh Darussalam yang ingin mengetahui perihal PAAS lebih lanjut.

Visi dan Missi

Partai Aceh Aman Seujahtra (PAAS) mempunyai missi: Mewujudkan kehidupan rakyat nanggroe Aceh Darussalam yang demokratis, berkeadilan dan bermartabat, tenang beribadah, sejahtera dalam kehidupan dan aman dari ketakutan, dengan karakter kepemimpinan yang amanah (tepercaya), istiqamah (teguh pendirian), ‘iffah (bersih), musyarakah (kebersamaan) dan syaja’ah (berani).

Missi tersebut dapat dijabarkan dalam lingkupkan visi yang jelas yang bakal diperjuangkan oleh PAAS dalam berkiprah khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam. Ia dapat dirincikan sebagai berikut: pertama, PAAS akan beramal dengan sikap anti politik uang (money politics), anti politik cukongisme, anti politik preman (premanisme) atau anti teror serta ancaman terhadap masyarakat. Sebaliknya PAAS akan mengajak masyarakat untuk bangkit bersama mendalami sistem penggarapan massa dengan cara sopan, muslihat dan penuh nuansa ukhuwah Islamiyyah. Kedua, PAAS tidak tampil sebagai partai oposisi dan atau loyalis akomodasionis, akan tetapi mengambil jalan tengah dalam menilai dan menyikapi perilaku pengelola pemerintahan di Nanggroe Aceh Darussalam yaitu dengan mengamalkan prinsip; amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ketiga, proaktif dan transparan dalam usaha melakukan advokasi terhadap rakyat yang heterogen (majemuk) berkaitan dengan hak-hak mereka sebagai warga negara dan warga masyarakat dalam berbagai segi kehidupan, sebab menurut Islam dan doktrin hukum/aturan-aturan kontemporer bahwa setiap warga negara/warga masyarakat memiliki peluang dan hak yang sama dalam upaya mempertahankan dan mengaktualisasikan eksistensi kehidupannya. Memiliki hak dan peluang yang sama untuk tenang beribadah, sejahtera dalam kehidupan dan aman dari ketakutan.

Dengan demikian nampak dengan jelas bahwa PAAS akan berusaha keras untuk tampil dengan bersih dan jauh dari praktik manipulasi sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh beberapa partai nasional dari zaman ke zaman di Aceh dan Indonesia. PAAS akan meninggalkan ide-ide dan pikiran-pikiran kotor yang menyangkut dengan cara menghalalkan cara demi memperoleh kursi di parlemen atau mendapatkan kekuasaan di Aceh. Untuk keperluan tersebut para preman, kaum cukong dan pembentak-pembentak rakyat tidak boleh dekat dengan PAAS kecuali mereka siap meninggalkan cara-cara biadab tersebut dan mengikuti ketentuan yang ada dalam AD/ART PAAS.

Secara gamblang PAAS tidak menempatkan diri sebagai sebuah partai oposisi yang berusaha menghancurkan partai lain yang sedang berkuasa terlepas benar atau salah partai tersebut sebagaimana yang dipraktikkan oleh sejumlah partai nasional selama ini. Sebaliknya PAAS juga tidak tampil sebagai partai yang loyal tanpa sensor terhadap penguasa dari partai mana saja ia berasal. Ia berada di tengah keduanya yang siap memperbaiki kesalahan penguasa, siap pula mengikuti kebenaran yang dilakukannya dan tidak mahu tunduk patuh kepadanya untuk memperoleh kemudahan dan fasilitas buat PAAS dan anggotanya.

Sasaran dan Tujuan

Target yang ingin dicapai PAAS adalah terwujudnya Aceh yang aman tenteram di bawah pemerintahan yang bersih, pemimpin yang adil, rakyat yang makmur yang hidup mengamalkan Syari’at Islam dan menjalankan Hukum-hukum Allah secara kaffah. Rakyat dalam target pembinaan PAAS mestilah kuat ‘aqidah, sempurna Syariy’ah dan mulia akhlaknya.

Karena itu PAAS akan bergerak mendekati dan mengajak semua komponen masyarakat Aceh yang konsen dengan kebenaran, keadilan, kebersihan, transparan dan memihak kepada rakyat. Masyarakat kampung yang jauh dari perkembangan informasi yang sebelumnya sering tertipu oleh sejumlah partai dalam masa kampanye dan pemilu harus digarap dan dibimbing dengan baik agar mereka tidak lagi tertipu. Paling tidak mereka sadar bahwa sudah lama ditipu khususnya oleh partai yang mendominasi kemenangan di negeri ini. PAAS akan mengajak mereka untuk membuka mata dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan masyarakat Aceh yang mahir dalam berpolitik.

Sebagai sebuah partai Islam, maka pendirian PAAS didasari kepada kerangka ibadah dalam konteks amar ma’ruf dan nahi munkar. Dalam konsep Islam, apa saja yang kita lakukan dalam kehidupan ini yang didasari oleh keikhlasan dan niat baik menjadi bahagian daripada ibadah, dan akan mendapat pahala daripada Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu pula pendirian dan prinsip PAAS adalah beribadah untuk mendapat pahala dan memperbanyak kerabat kerja untuk menguasai kekuasaan agar dapat mewujudkan praktik Hukum Islam secara murni di Nanggroe Aceh Darussalam.

Dalam kehidupan ini semua perbuatan yang baik serta bermanfa’at adalah ibadah, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang atau makhluk lain. Karena itu pula apa yang para deklamator dan jama’ah PAAS lakukan hari ini diharapkan menjadi amal salih yang bermanfa’at baik kepada generasi sekarang maupun generasi penerus di masa-masa mendatang. Prinsip ini mengarahkan semua anggota dan simpatisan PAAS untuk tidak mengamalkan praktik politik ala machiavelly yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kuasa dan kekuasaan.

Kepada mereka yang bukan Islam atau tidak komit dengan Islam tidak perlu takut terhadap keberadaan PAAS. Jangan dipikirkan bahwa PAAS sama dengan Al-Qaeda yang tengah diperangi pihak barat hari ini. PAAS tampil dengan format Islam yang murni, modernis dan penuh solidaritas. Islam tidak menyuruh ummatnya untuk membunuh orang lain yang tidak bersalah dengan cara bagaimanapun juga. Islam membolehkan ummatnya berkomunikasi dengan kaum kafir asalkan mereka tidak mengancam ‘aqidah Islamiyyah. Ketika kafir sudah mengganggu tauhid dan ‘aqidah ummat Islam barulah di sana Jihad itu wajib hukumnya. Oleh karenanya letak kesalahan selamaini belum tentu pada ummat Islam yang militan, tetapi besar kemungkinan pada kaum kafir yang sengaja mengganggu iman, tauhid dan ‘aqidah ummat Islam.

Khatimah

Jama’ah yang pernah dibangun oleh Rasulullah S.A.W., para sahabat, tabi’ dan tabi’ tabi’in serta para pemimpin dan ulama-ulama besar setelahnya baik di dunia luar maupun di Aceh mestilah hidup kembali di tanah rencong peninggalan Iskandar Muda ini. Sudah barang tentu jama’ah seperti itu tidak akan muncul tanpa ada pioneer dan lembaga sebagai alat untuk mempersatukan mereka.

Dengan tampilnya PAAS dalam percaturan politik lokal Aceh ke depan diharapkan praktik dan amalan politik Aceh akan sejalan dengan ketentuan Islam. Artinya, tidak ada lagi kampanye di Aceh yang materinya mengumpat, mencaci maki, memfitnah dan mengancam rakyat dari pihak yang tidak memihak kepada kita. Itu semua sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai lagi untuk Aceh hari ini. Kalau ada anggota partai lokal yang meneror masyarakat dengan berbagai cara agar memilih partai mereka di Aceh nantinya, berarti mereka memaksa rakyat agar terus bodoh hidup di Aceh. Itu merupakan amalan beberapa partai nasional dalam bingkai RI yang sengaja membodoh-bodohkan rakyat untuk memperkuat dan mendapatkan kekuasaan.

Bangsa Aceh harus siap dengan berbagai intimidasi, ancaman dan teror dalam masa pemilu nanti yang bakal terjadi dan diamalkan oleh partai-partai tertentu. Artinya, walaupun diteror, diancam dan diintimidasi, rakyat harus teguh pendirian untuk memilih partai yang sesuai dengan kehendak hatinya bukan karena paksaan. Itu merupakan bahagian dari Hak Azasi Manusia (HAM) yang harus diperjuangkan di Aceh. Rakyat tidak boleh takut dengan ancaman senjata, ancaman kain kafan, ancaman bakar rumah dan sebagainya. Biarkan mereka mengancam kalau masih ada dan tetapkan pendirian kita untuk memilih partai kesayangan yang kita sukai. Insya Allah.

Komen-komen»

1. m1qbal - Julai 8, 2008

berjuanglah demi ummat….
beujroh..beu seujahtra….


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: