jump to navigation

Masalah Fikih Lintas Agama Julai 4, 2007

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Muhtar Sadili

Masalah fikih lintas agama dapat kita lihat dari sudut metodologi, rumusan hukum, hilangnya elan fital ijtihad, dan sikap yang kontra produktif atas gagasan yang dikemukakan. Ini menjadikan gagasan fikih lintas agama sukar untuk difahami secara sempurna, yang akhirnya menimbulkan pro dan kontra.

Secara metodologi fikih lintas agama, dengan mudah dikonotasikan pada premis dasar tentang kesejagatan Islam (rahmatan li al-‘âlmîn). Ini untuk menelaah formulasi hukum yang dikeluarkan oleh seorang fakih (ahli hukum Islam) kerap bersikap rigid. Kesannya adalah penafsiran atas teks-teks agama (Qur’an hadith) yang terlampau diinstitusikan, bahkan dianggap sebagai yang tidak boleh dikritik.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (‘Ilâm al-Mufâqi’în, 1977), ulama asal Andalusia, menanggapi kecenderungan ini dengan teori “perubahan hukum” yang sangat terkenal dan klasik. Baginya, hukum fikih terbangun oleh waktu (al-azminah), tempat (al-amkinah), keadaan (al-ahwâl) motifasi (an-niyyah) dan adat istiadat (al-âdah). Ini sebagai reaksi dari fikih yang telah terjadi, telah disalahertikan sebagai final dan menutup kemungkinan reformulasi hukum (ijtihad).

Tujuannya adalah kapasiti dan keanjalan hukum Islam bagi segala ruang dan waktu. Hasil ijtihad yang terperap lama dalam teks-teks kitab klasik fikih, dianalisa secara kritis- argumentatif. Dialektika keadaan soisal-politik dan perubahan hukum, merupakan kunci untuk membuka pintu ijtihad yang dianggap telah tertutup berkaitan dengan banyaknya syarat formal untuk menjadi mujtahid.

Masalah lain dari fikih lintas agama terletak pada keberatan atas status fikih sebagai hasil dari usaha intelektual (ijtihâd), yang mempunyai kutub salah-benar. Perubahan sosial-politik sebagai yang diklasifikasikan di atas, sepertinya tidak cukup jadi alasan hukum (illah) dalam menanggapi tuntutan zaman.

Kesulitan penentuan atas wilayah mana yang menjadi objek ijtihad telah lama menjadi perdebatan ahli hukum Islam yang tidak kunjung usai. Meminjam tilikan Ali Yafie (1994), sejak keempat mazhab telah dianggap mapan, hukum fikih lebih dominan diisi oleh usaha penyempurnaan (syarah) atas produk hukum empat imam mazhab. Hal ini, lanjut Ali Yafie, memungkinkan usaha yang serius untuk melakukan reformulasi hukum yang disesuaikan dengan gerak ruang dan waktu dan tidak terlalu bergantung kepada produk hukum dari keempat mazhab tersebut.

Saya kira, gagasan fikih lintas agama mempunyai tingkat risiko try and error sebagai kaitan dampak dari ijtihad. Ia adalah produk nalar yang diartikulasikan kerana perubahan sosial-politik yang selama ini kurang ditanggapi secara serius. Refleksi kritis- argumentatif atas hubungan agama, yang dikembangkan oleh gagasan fikih lintas agama bukan saja penyempurna (syârih), akan tetapi berani merujuk langsung ke nash dilengkapi dengan pencarian alasan hukum (masâlik al-‘illah) yang memadai. Sampai titik ini, gagasan yang bergulir perlu diapresiasi sebagai sebuah upaya yang sistemik tanpa dilihat secara berlebihan.

Dalam konteks ini, fikih lintas agama, berdampak positif atas kondisi umat yang cenderung bimbang untuk berijtihad. Tokoh pembaharuan, Fazlur Rahman (1964) mithalkan, bukan saja melihat keengganan melakukan ijtihad sebagai akibat dari sekian banyak persyaratan formal yang harus dipenuhi, tapi terletak pada “mental diam” ketika berhadapan dengan arus perubahan sosial. Menurutnya, perkembangan ilmu yang multidisiplin, akan membuat persyaratan itu tereliminasi kerana interalasi antara cabang disiplin ilmu.

Membuka pintu ijtihad didasarkan pada keanjalan hukum Islam, ketika arus perubahan sosial telah terjadi dalam masyarakat. Dalam masyarakat multiagama, diperlukan tafsiran kontekstual yang tidak terbelenggu pada produk fikih yang sudah ada. Kaedah ushul fikih menyebutkannya ‘hukum bergerak sesesuai dengan perputaran alasan hukum bukan sebaliknya’.

Adapun pro dan kontra yang terjadi sedianya berada dalam dialog intelektual yang sihat. Ia mirip dengan framework Imam syafi’i, dalam karya magnum opusnya al-umm, “pendapatku benar tapi tidak menutup kemungkinan mengandung kesalahan, dan pendapat yang lain salah tapi mengandung kebenaran”. Ijtihad adalah sebuah proses di mana tingkatan rasionaliti dipertaruhkan dan bermuara pada penarikan rumusan yang terbuka untuk benar-salah.

Syariat Islam bukan sengaja membawa rincian tentang aturan kehidupan sosial, tetapi membawa ajaran-ajaran berupa pesan-pesan moral, prinsip-prinsip umum, dan ajaran-ajaran pokok yang bersifat universal. Mithalnya, berlaku adil, berkata jujur, dilarang mengambil hak orang lain, berzina, mabuk, judi, dan lainnya. Ajaran inilah yang dipadatkan oleh para ulama-ulama ushul fikih dengan istilah mashlahah, bersifat abadi, tidak akan berubah dan tidak dapat dirubah.

Walhasil, fikih lintas agama dapat diletakkan secara tuntas. Sebagai sebuah gagasan, ia menyediakan ruang yang memadai bagi kritik terbuka atas metodologi, objek dan rumusan hukum yang dihasilkan. Hukum fikih yang selama ini ada dan diyakini itu, dalam sejarahnya mempunyai corak dan bentuk yang sangat banyak. Langkah kritis-argumentatif yang mengitarinya, telah menyebabkan wujudnya seperti yang kita kenal sekarang ini. Sedianya gagasan fikih lintas agama berada dalam aras relativisme berfikir, dan tidak terperangkap pada kontroversi yang tidak berkesudahan.

Nota: Muhtar Sadili, kini berkhidmat di Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Jakarta di bawah pimpinan M. Quraish Shihab bertempat di Jl. Kertamukti No. 63 Pisangan Ciputat Tangerang Banteng.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: