jump to navigation

Berhakkah Kita Mengaku Sebagai Pengikut Agama Yang Sejati? Julai 11, 2007

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Shah Nazar Seyed Ali Kianfar

Sewaktu kita mempelajari ajaran-ajaran Ilahi (teosentrik), kita mungkin akan dipaparkan dengan anjuran agar manusia menjauhi keputusan yang saling bertentangan. Namun, sebenarnya kita jarang memberikan ruang pada akal untuk menelaah kebijaksanaan secara saksama ataupun memahami wahyu dengan benar dan sesuai dengan realiti.

Terlebih, kita hanya sebatas menghafal banyak ungkapan kebijaksanaan, sehingga menjadi akrab dengan ungkapan tersebut yang mana sering sahaja kita ungkapkan dalam kehidupan seharian, namun dalam waktu yang sama kita gagal memahami apa erti yang sebenarnya.

Jesus berkata, “Siapapun yang belum pernah melakukan sebuah dosa, ia masih mungkin untuk meletakkan batu pertama.” Ajaran yang amat dikenal ini merupakan anjuran kepada manusia untuk tidak berburuk sangka terhadap sesame manusia. Sebenarnya ajaran ini memiliki makna yang lebih dalam, dan tidak seperti yang termaktub.

Berhakkah manusia yang belum pernah melewati tahap-tahap kesucian dan yang selalu mencampur baurkan dirinya dengan hal yang tidak berguna dan membingungkan, mengaku bahwa ia adalah pengikut sesungguhnya sebuah agama?

Manusia sendiri tidak mampu membedakan kebajikan dari kejahatan hingga ia mensucikan dirinya dari prasangka, dan itu harus melampaui keterbatasan, jika tidak ia tak akan mampu menelaah, menarik kesimpulan atau membuat kesimpulan yang jitu.

Lalu, mampukah kita melampaui keterbatasan kita dan menjadi bijak dalam memahami? Nabi Muhammad Saw bersabda, “Apapun yang kamu lihat dengan jelas atau kenali dengan indera adalah dunia kamu, dan itu semua akan kembali padamu.” Mari kita cuba menelaah ungkapan tadi: bila kita menuangkan suatu unsur ke dalam sebuah wadah yang mana di dalamnya telah banyak terdapat unsur-unsur berbeza yang bercampur, maka akan terdapat banyak corak warna dan aroma dari berbagai macam unsur tersebut dan menjadi sulit untuk mengenali kemurnian satu unsur.

Sebaliknya, bila kita menuangkan unsur tadi ke dalam wadah yang kosong, tempat yang bersih, unsur tersebut akan tetap pada identiti aslinya dan akan mudah dikenali. Pada logik yang sama, ia dapat digunakan ketika memahami ajaran Tuhan, kecuali kalau hati manusia seperti cermin yang selalu dipoles, ia takkan mampu mengenali cahaya Tuhan dalam kesucianNya, semenjak ajaran Ilahi (teosentris) harus difahami dalam kemurniannya, jauh dari imaginasi.

Dalam sejarah Rasul, kita mengetahui bahwa beliau menghabiskan masa mudanya di dalam gua Hira, melewati tahap-tahap uzlah, pensucian dan fokus. Pada umur 40, beliau menerima wahyu. Dengan kata lain, melewati tahapan-tahapan uzalah dan pensucian jiwa, merupakan dasar dalam memahami kebenaran Tuhan.

Jadi, berhakkah manusia yang belum pernah melewati tahap-tahap pensucian dan yang selalu mencampur baurkan dirinya dengan hal yang tidak berguna dan membingungkan, mengaku bahawa ia adalah pengikut sejati sebuah agama?

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: