jump to navigation

Dekonstruksi Penafsiran Diskriminasi Jantina Julai 22, 2007

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Muhtar Sadili

Dekonstruksi penafsiran diskiminasi jantina, dimaksudkan untuk melapangkan kesetaraan jantina. Ini boleh diselesikan dengan beberapa pertanyaan. Kenapa penafsiran ulama terhadap ayat Al-Qur’an mengandung diskriminasi jantina? Faktor apakah yang mempengaruhi para mufassir? Apa yang seharusnya dilakukan penafsir teks? Dan bagaimana tafsir Al-Qur’an menyesuaikan realiti sosial-budaya?

Norma Al-Quran yang didakwa relavan dengan denyut perubahan zaman menjadi alasan utama mengapa diskiminasi jantina perlu dikikis. Kesejagatan Islam yang kerap ditawarkan, akan terasa hambar, kalau saja penafsiran teks ditempatkan tidak tempat yang sewajarnya.

Seorang penafsir harus ada cara pandang yang dinamik atas teks suci, bukan rigid tanpa inovasi. Tafsiran teks atas kitab suci, bersifat profan sementara yang sakral “semangat kemanusiaan” kitab suci itu sendiri yang asasnya menjadi dasar dalam setiap penafsiran, bila dan oleh siapa pun.

Jangan terperangkap pada kekeliruan pengenalpastian antara penafsiran pada satu sisi, dan teks Al-Quran sebagai berpusat dari tataran nilai dalam Islam, pada sisi lain. Penafsiran teks mempunyai tingkat kewujudan sosial-budaya dan pemahaman teks para mufassir.

Kesetaraan jantina itu, tidak sulit ditemukan dalam Al-Quran. Ini ditunjukkan dengan revolusi budaya yang digerakkan Al-Quran, dengan memberikan nilai seperti aqiqah, waris, saksi, perjanjian dan muamalat lainnya bagi perempuan yang telah menjadikannya lebih mulia dari sebelumnya. Pemulihan hak perempuan oleh Al-Quran, harus dilihat sebagai tahap-tahap untuk mengikis praktik “dehumanisasi sistemik”. Beberapa ketentuan hukum itu, harus dilihat sebagai titik tolak bukan akhir dari revolusi jantina yang dilakuan oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya.

Faktor Berpengaruh

Adalah keadaan sosial-budaya Arab yang membentuk para mufassir dalam mengartikulasikan pesan kitab suci. Penjabaran makna oleh mufassir, digerakkan oleh struktur berfikir kerana proses sosial-budaya pada waktu itu. Disedari atau tidak, ketempangan atas kesetaraan jantina menjadi titik ukur para mufassir, hingga rumusan cendering diskriminasi.

Karya-karya yang ditulis dalam suasana sosial-budaya Arab yang patriarki, misalkan, telah melahirkan diskriminasi jantina yang sangat tinggi. Budaya dagang, perang, ketuanan pemimpin kabilah, dan kepemilikan harta-benda selalu diakrabkan pada kaum laki-laki. Corak penafsiran yang diskriminasi jantina terlihat begitu dominan. Kemudian dijadikan pintu awal untuk memahami teks al-Qur’an.

Faktor selanjutnya adalah pemahaman teks yang terbatas ekoran pembakuan tanda huruf, tanda baca, cara baca, kosa kata, kata ganti, batas pengecualian, kata penghubung, struktur bahasa, cerita israiliyyah, dan metode tafsir. Kecuali itu, hubungan kuasa (power relation) yang mengiringi pemaknaan kata, penggunaan kamus, dan cara pandang mufassir atas peranan jantina. Sulit untuk menemukan tafsiran yang tidak diskriminasi jantina dalam sekian banyak karya tafsir klasik itu.

Secara fungsinya, keadaan ini menjalar pada cara berfikir para ulama yang menggeluti disiplin shariah Islam, ketika meracik formulasi hukum. Dalam kitab-kitab fikih, ketentuan tentang waris, perkawinan, persaksian, kepemilikan harta benda dan yang lainnya, telah menjadikan kaum lelaki begitu dominan. Kedudukan hukum perempuan kerap di tempatkan setingkat di bawah lelaki. Kitab Syarh ‘Uqud al-Lujjayn fi Bayan Huquq al-Zawjayn, karya Muhammad Ibn Umar al-Banteny al-Jaw (1230/1813-1316/1898), sebagai bukti asli, betapa sub-hukum kaum hawa telah terjadi secara sistemik.

Masalah peminggiran nilai tersebut, sedianya diselesaikan dengan menempatkan penafsiran ayat Al-Quran secara yang tidak sewajarnya. Ertinya, pekakas penafsiran teks yang diinstitusikan dengan hadirnya karya-karya ulama klasik, tidak menggeser titik utama pada pesan kesejagatan al-Qur’an yang harus diterjemahkan kerana perbezaan ruang dan waktu. Demarkasi “autonomi teks” dan “pemahaman akan teks” menjadi kunci untuk merungkai kekeliruan pengenalpastian. Sebagai kitab suci, al-Qur’an boleh berdiri sendiri, tanpa bergantung pada penafsirannya yang bersifat profan.

Saya kira, keengganan untuk menilik kenyataan ini, lebih disebabkan oleh anggapan keliru atas status penafsiran ayat al-Qur’an. Pada dasarnya, penafsiran adalah usaha intelektual yang sungguh-sungguh dari seorang mufassir. Baik yang menggunakan akal (tafsir bi al-ra’yi) ataupun dengan bantuan teks hadith dan atau atsar shahabah (tafsir bi al-ma’tsar), yang mempunyai kutub salah-benar. Penafsiran merupakan mata rantai ijtihad yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu di mana para mufassir hidup. Proses intelektual mufassir, tidak hadir dalam suasana yang kosong nilai.

Kembali ke Dasar

Al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi gugusan nilai yang global serta mendorong cara pandang yang dinamik. Sewaktu proses penurunan ayatnya, kita menyaksikan betapa al-Qur’an dibentuk untuk sesuai dengan gerak zaman pada setiap penerima pesannya. Separuh waktu dengan diturunkan di Makkah dan separuh waktu lagi diturunkan di Madinah adalah gambaran sederhana, betapa Al-Qur’an harus dilihat sebagai teks berjalan (on going process) meski berasal dari sumber yang transenden.

Hemat saya, dengan meminjam bahasa dan sistem sosial-budaya bangsa Arab, al-Qu’ran sedianya difahami sebagai “korpus terbuka” untuk terus menerus ditafsirkan. Penafsiran ayat tentang jantina yang sarat dengan bahasa dan sosial-budaya bangsa Arab, semestinya tidak diambil begitu saja (taken for granted). Sekarang ini, al-Qur’an hadir dalam dunia yang sudah berubah begitu jauh dari waktu dan ruang di mana Al-Quran pernah diturunkan, kemudian ditafsirkan yang dijejali oleh idealogi patriarki.

Penafsiran ayat al-Qur’an harus sejajar dengan pergeseran zaman. Kerana cabaran besar dalam arus perdana jantina adalah mapannya kelaziman yang kurang bersahabat terhadap kaum Hawa. Padahal, kualiti kemanusiaan perempuan tidak lebih rendah dibandingkan kaum Adam.

Kenyataan ini harus ditanggapi secara objektif dan tidak disingkirkan dengan legitimasi penafsiran diskriminasi jantina. Alat penafsiran diskriminasi jantina, telah memaksakan diri pada suasana sosial-budaya yang telah berlalu. Walhasil, penafsiran yang mesra jantina bermuara pada keutamaan manusia di hadapan Sang Khalik, tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tapi oleh kesalehan individual dan sosial sekaligus untuk kemanusiaan universal.

Nota: Muhtar Sadili, kini berkhidmat di Pusat Studi al-Qur’an (PSQ), Jakarta di bawah pimpinan M. Quraish Shihab bertempat di Jl. Kertamukti No. 63 Pisangan Ciputat Tangerang Banteng.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: