jump to navigation

Bentuk-Bentuk Pelanggaran Syari’ah Di Tengah-Tengah Masyarakat Ogos 12, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Sebagai imbas daripada hadirnya Undang-undang Nomor 44 tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh yang dikhususkan dalam bidang agama, adat istiadat, pendidikan dan peran ulama, maka lahir pula Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Nanggroe Aceh Darussalam.

Dengan kehadiran dua Undang-undang tersebut membuat rakyat Aceh terpesona dan terkenang masa silam ketika wakil Perdana Menteri Mr. Hardi menetapkan tiga keistimewaan Aceh pasca perang DI/TII, yaitu istimewa dalam bidang agama, adat istiadat, dan pendidikan. Bedanya, keistimewaan Aceh dahulu dituangkan dalam sebuah peraturan yang tidak bisa dijadikan pegangan kokoh, hari ini keistimewaan itu diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia yang sangat resmi.

Efek daripada penerapan Undang-undang tersebut membuat penghuni Nanggroe Aceh Darussalam berada pada posisi serba-serbi. Artinya; kondisi seumpama itu mengajak kita untuk serba berani, serba takut, serba bisa, serba tidak tahu, serba senang dan serba susah. Di awal kemunculan reformasi yang juga awal kehadiran Undang-undang tersebut orang Aceh berada pada posisi serba berani, mereka sangat berani menghukum orang-orang yang bersalahan dengan ketentuan syari’ah seperti mengarak pencuri dan penzina, memandikan mereka di tengah khalayak ramai dan ada juga yang mencukur rambutnya. Lebih jauh dari itu malah sebahagian besar orang Aceh berani mendobrak pemerintahan RI baik dengan penentuan sikap referendum maupun dengan penggunaan senjata api. Sebaliknya tidak kurang pula penghuni Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di tepi jurang ketakutan. Mereka takut karena apabila negeri ini kacau balau maka bisnisnya tidak jalan, proyeknya tidak bisa diselesaikan, sebahagian yang lain merasa takut karena khawatir akan kehilangan anggota keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan kesempatan kerja, kehilangan nyawa dan sebagainya.

Dalam kondisi itu pula terlihat eksistensi penghuni bumi Aceh yang serba bisa, mereka bisa tidak masuk kantor dan bisa ambil gaji saja tanpa bekerja, mereka bisa mempermainkan senjata untuk memperkaya diri, dan mereka bisa melakukan yang dilarang dengan meninggalkan yang diperintahkan agama. Sebaliknya tidak kurang juga orang Aceh yang serba tidak tau. Mereka tidak tau bahwa negeri ini ada pemimpin, mereka tidak tau pula bahwa negeri ini adalah negeri hukum, mereka tidak tau yang mana kebenaran dan yang mana kebatilan, dan mereka juga tidak tau kemana harus mengadu.

Selainnya tidak kurang juga penghuni Nanggroe Aceh Darussalam yang merasa serba senang dalam kondisi seperti itu. Mereka senang karena hukum tidak jalan, senang pula karena ketentuan lalu lintas di jalan tidak terkontrol, dan mereka senang karena Negara kacau balau sehingga terbuka peluang manipulasi, pungli dan korupsi di mana-mana. Mereka senang pula karena Aceh mendapatkan banyak uang perimbangan keuangan yang bisa disunglap dan disunat semena-mena. Sementara yang merasa diri serba susah asyik mengenang nasib bangsa yang terus menerus ditimpa bala, rakyat kecil semakin jera sementara penguasa bersama pengusaha semakin kaya. Sebahagian wanita merasa susah karena dengan otonomi khusus membuka peluang bagi suaminya untuk bebas kawin dua dan tiga. Dan sebahagian besar pula sangat-sangat susah karena Aceh berlaku syari’at Islam.

Suasana serba serbi sedemikian rupa hampir membuat penghuni Nanggroe Aceh putus asa, dan malah tidak kurang juga yang stress, hilang keseimbangan, malah ada yang menjurus sampai keposisi gila atau meninggal dunia. Suasana itu mirip dengan kondisi Aceh pra kemerdekaan atau kondisi Iraq pasca tumbangnya rezim Saddam, dan lebih mirip lagi dengan kondisi wilayah Arab sebelum kedatangan Islam. Namun ketika suasana serba serbi yang serba tidak menentu itu berakhir, lazimnya akan bersemi suasana pasti yang sangat menentu di bawah naungan Sang Penentu dengan ajaran yang telah ditentu pula, ya’ni Syariy’ah. Itu merupakan sebuah janji pasti yang tersimpan dalam kitab suci: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”.[1]

Manakala kita coba menelusuri penyebab serba serbi tersebut barangkali kita akan berakhir dengan jawaban; penyebab kemelaratan dikarenakan ummah ini telah meninggalkan syari’ah dan penyebab kemuslihatan pula disebabkan ummah ini memandu dan mengamalkan syari’ah. Bukti-bukti nyata telah terpampang dengan gamblang dalam kitab suci: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat (berbagai penjuru), tetapi manakala (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; maka Allah merasakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan sebagai pakaiannya, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.[2]

Lagi Allah ‘azza wajalla menegaskan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.[3] Dalam versi lain Allah berfirman: “…Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan jalan ke luar baginya”.[4] “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.[5] “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.[6]

Mengenal Syari’ah

Untuk lebih familiar dengan kajian syari’ah perlulah kita melihat pengertian daripada istilah syari’ah itu sendiri. Syari’ah merupakan sebuah istilah bahasa Arab yang mengandung makna jalan untuk diikuti. Secara harfiah ia bermakna jalan untuk sebuah tempat air. Itu bukanlah jalan utama untuk Allah yang Maha Tinggi, akan tetapi jalan yang dipercayai semua ummat Islam untuk menjadi jalan yang ditunjuki Allah yang Maha Pencipta melalui utusan-Nya Muhammad saw.[7] Di Negara kita pengertian syari’ah itu lazim diinterpretasikan dengan sebutan syari’at Islam yang berarti ketentuan-ketentuan Islam, peraturan atau hukum Islam. Pijakan utama tempat ummat Islam bersandar pada syari’ah adalah: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’ah (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’ah itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.[8]

Dalam jurisprudensi Islam syari’ah dicatat sebagai kode yang sempurna dari hukum Islam yang mencakup semua prilaku manusia menurut petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Petunjuk-petunjuk tersebut sudah dibagikan kedalam dua kategori utama. Yang pertama adalah petunjuk-petunjuk dalam jurisprudensi Islam yang disebut sebagai Huquq Allah (hak-hak Allah), ia terdiri dari dua jenis;

Yang bersifat ukhrawi yang menguraikan hubungan manusia dengan Allah (Hablum minallah) seperti pelaksanaan shalat, zakat dan sebagainya.

Yang bersifat duniawi yang menguraikan hubungan manusia dengan manusia (Hablum minan-nas) seperti pembayaran zakat, shadaqah, pajak dan sebagainya.

Yang kedua petunjuk-petunjuk yang dalam jurisprudensi Islam dirujuk sebagai Huquq al-‘ibad (hak-hak hamba), ia meliputi tiga kategori;

Familial (yang berhubungan dengan persoalan-persoalan keluarga) yang menguraikan tentang perkara-perkara nikah, talak, rujuk, pusaka dan sebagainya.

Contractual (yang berkaitan dengan transaksi-transakasi bisnis, pembelian, penjualan, pemberian dan seumpamanya.

Societal (yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan seperti hukum sivil, hukum kriminal dan peraturan-peraturan umum).[9]

Sementara rumusan lain menggambarkan dua sisi hukum Islam, yaitu sisi konsepsional (Syari’ah) sebagai mana huraian di atas dan sisi operasional (Figh) yang terdiri dari: Fiqh Ibadah, Fiqh Mu’amalah, Fiqh Munakahah, Fiqh Mawaris, Fiqh Jinayah, dan Fiqh Siyasah. Kesemua Fiqh tersebut merinci dan menghuraikan sedetil mungkin tentang operasional hukum Islam dalam kehidupan ummat Islam sehari-hari. Namun yang patut kita sayangkan adalah hanya Fiqh Ibadah saja yang serius dipraktikkan dalam kehidupan ummat Islam hari ini sementara yang lain terbiarkan. Dengan wujudnya pelaksanaan syariat Islam di Nanggroe Aceh kali ini kita harapkan semua pihak mengambil bahagian dan serius mendukung serta menjalankannya.

Syari’ah itu merupakan sebuah undang-undang Allah yang diasaskan kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang terjamin kesempurnaannya. Paling tidak ada tiga prinsip dasar yang mendukung alasan tersebut;

Kepentingan besar daripada masyarakat mengambil hak lebih tinggi di atas kepentingan individu.

meskipun kebebasan kekerasan dan promosi keuntungan adalah merupakan objektif utama dari syari’ah, namun poin yang pertama mengambil hak lebih tinggi dari yang terakhir.

sebuah kehilangan besar tidak dapat dilibatkan untuk membebaskan kehilangan terkecil atau keuntungan terbesar tidak dapat mengorbankan untuk sebuah yang terkecil. Sebaliknya, sebuah kejahatan terkecil dapat mempengaruhi untuk menjauhi sebuah kejahatan terbesar atau sebuah keuntungan terkecil dapat dikorbankan untuk sebuah kepentingan terbesar.[10]

Dalam perspektif Islam, Allah sudah menurunkan syari’ah kepada manusia, lalu melalui syari’ah manusia dapat membentuk diri sendiri dan juga masyarakatnya. Syari’ah paling ideal bagi ummat manusia dan individu, kehadiran syari’ah di dunia berhak menjadi perasaan kasihan Allah terhadap ciptaannya. Dengan maksud pandangan tersebut beliau telah mengirimkan semua cakupan hukum kepada mereka untuk diikuti dan untuk memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat nanti. Syari’ah mempersiapkan makna untuk semua aktivitas dan integrasi kehidupan manusia.[11] Semangat dari syari’ah adalah untuk menghadirkan perpaduan ummah. Secara politik syari’ah mengandung pengajaran-pengajaran yang pasti yang membentuk dasar sebuah Negara Islam. Dalam perhatian Islam hanya Allah sajalah sebagai legislator.[12] Ummat manusia tidak punya kuasa untuk merakit hukum, mereka wajib mengikuti segenap hukum Allah yang telah didistribusikan kepada mereka. Karenanya, pemerintah yang ideal dalam pandangan syari’ah adalah yang bebas dari kekuasaan legislative ala Montesqueu.

Kehadiran syari’ah sebagai sebuah ketentuan simpel dan objektif[13] adalah untuk menciptakan dan memelihara lingkungan agar seseorang dapat mempraktikkan Islam dengan sempurna karena Allah ta’ala. Ini dapat diperoleh manusia manakala ia mengikuti petunjuk dan kehendak Allah swt. sebagai penentu terhadap lingkungan.[14] Syari’ah atau hukum Islam merupakan buatan atau ciptaan Allah swt. yang tidak sama kwalitasnya dengan hukum buatan manusia. ‘Abdul Qadir ‘Oudah seorang pakar hukum pidana Islam terkenal mensinyalir bahwa hukum ciptaan allah sangat sempurna sifatnya dan akan berkekalan selamanya sementara hukum buatan manusia akan segera sirna atau senantiasa mengalami erosi, degradasi dan manipulasi.[15]

Pelanggaran-Pelanggaran Syari’ah

Berbicara tentang model pelanggaran syari’ah dalam kehidupan masyarakat lewat sebuah seminar atau lokakarya, terkesan seolah-olah yang berseminar itu sebagai evaluator yang tidak pernah melanggar syari’ah, dan rakyat awam sebagai sasaran objeknya. Kesan seumpama ini boleh jadi larut dari warisan zaman lampau yang memposisikan penguasa sebagai The clean men in syari’ah aspect atau memang demikian adanya. Dan manakala kita memahami akan syari’ah secara utuh dan komprehensif, maka semua kita pernah terjebak dalam pelanggaran-pelanggaran terhadap syari’ah dengan kapasitas dan volume yang bervariasi.

Pelanggaran syari’ah bisa saja beranjak dari sebuah konsepsional yang dimotori kaum intelektual yang ingin menuju ke suatu sasaran dan boleh jadi langsung kedataran operasional sebagai follow up konsepsional tersebut, atau diluar konsep itu tapi atas keawaman ummat Islam itu sendiri. Banyak terjadi pelanggaran syari’ah di kalangan orang-orang pintar dan orang-orang besar yang terbungkus dalam sebuah balutan sutera sehingga nampak dan terkesan di luar sebagai sebuah kebenaran. Pelanggaran model ini terasa sangat berbahaya bagi muslim khususnya generasi muda yang belum memahami betul apa itu syari’ah. Sementara pelanggaran dari kalangan bawah lebih didominasi oleh factor kebodohan dan keterpaksaan sipelanggar sendiri.

Pada level (tingkat) atas dalam sebuah Negara pelanggaran syari’ah terjadi ketika mayoritas muslim yang memimpin dan juga yang dipimpin secara serentak (langsung atau tidak) menolak hukum Islam buatan Allah dan mempraktikkan hukum-hukum sekuler buatan manusia. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.[16]

Manakala kita fahami bahwa syari’ah itu sebuah jalan lurus yang sempurna untuk mengayomi ummat manusia dengan ketentuan dan batasan-batasan pasti dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Maka terasa sangat banyak terjadi pelanggaran terhadap syari’ah dalam kehidupan ummat Islam, yang paling ketara terjadi dalam perkara yang punya kaitan dengan pengurusan keuangan dan persoalan seksual. Selebihnya terjadi dalam bidang peninggalan ibadah (pengabaian amar ma’ruf) dan sebaliknya (penegakan nahi munkar). Secara transparan bisa digambarkan kebanyakan muslim menjalankan syari’ah bukan berdasarkan ketulusan hati untuk mengharapkan balasan Allah, tapi lebih cenderung kepada manfa’at apa yang bisa diperoleh dari pelaksanaan syari’ah tersebut dengan memodifikasi ketentuan Allah.[17] Ini merupakan langkah-langkah penegakan syariah yang pernah dipraktikkan kaum Yahudi masa lampau. Praktik semisal itu kini merambah wilayah kehidupan ummat Islam di mereta Negara mayoritas muslim.

Pelanggaran syari’ah yang melanda ummat Islam Aceh hari ini tertumpu kepada masyarakat awam yang berkisar sekitar; tidak shalat, tidak puasa tidak mau membayar zakat, tidak mau membayar hutang, tidak mau menutup aurat, berzina, membunuh, minum arak, berjudi, dan seterusnya. Padahal manakala kita kembali melihat konsep operasional hukum Islam, di sana ada Fiqh Ibadah yang menyangkut dengan beberapa poin di atas tadi, ada Fiqh Mu’amalah yang berhubungan dengan berbagai transaksi ekonomi dan bisnis, di sana ada Fiqh Jinayah yang berkenaan dengan persoalan hukum pidana Islam, di sana ada Fiqh Siyasah yang mengatur tatacara berpolitik dalam Islam, di sana ada Fiqh Munakahah yang berhubungan dengan persoalan-persoalan khusus keluarga seperti nikah thalaq, ruju, dan sebagainya, di sana ada pula Fiqh Mawaris yang mengatur persoalan harta warisan atau peninggalan.

Siapa saja yang bertindak diluar ketentuan operasional hukum Islam tersebut maka dialah sebagai salah seorang pelanggar syari’ah dengan berbagai bentuknya. Dua bentuk pelanggaran syarai’ah yang dari dulu sudah terjadi dalam kehidupan muslim adalah secara konsepsional datangnya dari luar dan operasionalnya muncul dari dalam. Model seumpama ini biasanya terjadi setelah adanya bargaining kekuasaan, bargaining ekonomi dan bisnis, bargaining sumber daya, dan bargaining politik di peringkat penguasa Negara. Kita masih ingat bagaimana Soekarno singkron dengan komunis asal Cina pada masa kekuasaannya, bagaimana Najibullah (Penguasa Afghan) suatu masa dahulu tunduk dan patuh terhadap Negara komunis Uni Soviet, bagaimana Syah Reza Pahlevi atau Syah Iran ketika menjadi penguasa Iran menerima banyak ajakan penguasa Yahudi di Amerika Serikat sehingga cenderung menjadi pemerintahan boneka. Semua itu merupakan contoh barang bentuk-bentuk pelanggaran syari’ah peringkat tinggi yang akibatnya menghancurkan kehidupan muslim peringkat bawah.

Kalau kita mau transparan, bentuk pelanggaran syari’ah lainnya juga telah terjadi di Indonesia dalam masa kepemimpinan Soeharto manakala melarang muslimah menutupi aurat, melegalisir tempat perjudian dan prostitusi, dan yang lebih halus lagi adalah membangun banyak rumah ibadah sebagai penghibur ummat Islam tapi membatasi syari’ah khususnya yang berkaitan dengan Jinayah dan Siyasah. Sebelumnya juga terjadi permainan syari’ah terhadap mantan Gubernur Militer untuk wilayah Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Teungku Muhammad Dawud Beureu-ẻh manakala tertipu oleh Missi Hardi. Hal yang sama juga terjadi di Negara tetangga Malaysia untuk Negara bagian Kelantan. Wilayah ini sudah beberapa kali dimenangi Partai Islam Semalaysia (PAS) dengan Menteri Besarnya Tuan Guru Nik Abdul Azis bin Nik Mat. Dalam kepemimpinan beliau Kelantan dicadangkan untuk diberlakukan Humum Hudud sejak tahun 1992, namun dengan berbagai cara diganjal pemerintah pusat di Kuala Lumpur hingga hari ini belum terealisasi.[18]

Bentuk pelanggaran syari’ah tingkat tinggi juga terjadi di Pakistan ketika Negara tersebut menghambat Gerakan Jama’at-I Islam pimpinan Abul A’la al-Maududi yang sedang mewujudkan Syari’at Islam di seluruh Pakistan. Di Mesir prihal serupa juga terjadi dalam masa kepemimpinan Gamal Abdul Nasir yang membantai tokoh-tokoh Gerakan Ikhwan al-Muslimin pimpinan Hasan al-Banna karena mensosialisasikan syari’at Islam di sana. Terakhir, dalam bentuk politis pelanggaran syari’at Islam terjadi di Turki yang dimotori tokoh perempuan sekuler Tancu Ciller ketika Netmekkin Erbakan menjadi Perdana Menteri dari Partai Islam Refah.

Manakala kita melihat bentuk-bentuk pelanggaran syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam, ia kebanyakan terjadi dalam bingkai Fiqh Ibadah, Fiqh Munakahah, Fiqh Jinayah dan Fiqh Mu’amalah. Inipun sebahagian dari elemen-elemen fiqih ini yang dilanggar, dan ini juga lebih disebabkan oleh kebebasan hukum bagi warga negara yang sampai kini masih menggunakan hukum peninggalan Belanda. Padahal apabila kita meruju’ kepada hukum Islam yang terjadi pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, Aceh sebenarnya dari dulu sudah punya dasar berlakunya Syari’ah, namun ketika Aceh menjadi bahagian dari Negara Indonesia syari’at Islam berubah menjadi syari’at Belanda.

Dalam masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda umpamanya, demi menghormati syari’ah beliau rela kehilangan Putera Mahkota (Meurah Pupok) yang terlanjur berzina dengan isteri perwira muda lalu dirajam sampai mati.[19] Hal yang sama juga pernah terjadi terhadap Abusamah yang terlanjur berzina dengan perempuan yahudi lalu ayahnya Umar bin Khattab merajamnya sampai mati. Itu sekilas tentang bagaimana caranya menegakkan syari’ah (hukum Allah) dalam kehidupan ini walaupun ia berhadapan dengan keluarga kita sendiri. Bentuk pelanggaran yang bertolak belakang dengan kasus tersebut banyak terjadi hari ini terhadap penguasa-penguasa muslim yang lebih mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan duniawi keluarga ketimbang menjaga keorisinilan syari’at Islam.

Dalam masa kepemimpinan Khulafah Rasyidin, pelanggaran syari’at Islam muncul dalam bentuk yang aneh-aneh. Umpamanya seorang wanita setengah baya suka kepada seorang pemuda, lalu si wanita mengundang pemuda tersebut kerumahnya, beberapa lama pemuda berada di rumahnya ia mendekati dan merampas kesucian iman pemuda itu dengan persiapan yang sudah matang. Wanita sempat memercikkan telur ayam yang putih di kain dan bajunya, lalu ia melapor kepada Umar bin Khattab dengan tuduhan si pemuda sudah memperkosanya. Umar menjadi bingung karena ketika diperiksa pemuda mengatakan tidak berbuat demikian, lalu Amirul Mukminin menyerahkan perkara tersebut kepada Ali bin Abi Thalib. Ali memeriksa keduanya, manakala tidak didapati kesepakatan dari kedua belah pihak, lalu Ali mengambil segayung air panas dan menyiram ke atas kain dan baju perempuan, ketika itu nampak cecairan tersebut bukan mani melainkan telur ayam yang sengaja ditaburkan.[20] Dengan demikian terbuktilah si perempuan yang bersalah.

Dalam kasus lain, seorang Habsyi yang berketurunan hitam menuduh isterinya telah berbuat zina dengan lelaki lain manakala ia melihat anaknya yang baru lahir berwarna merah, padahal ia, isterinya serta keturunan keduanya semua hitam-hitam. Ketika perkara tersebut dibawa kepada Amirul Mukminin, keduanya tetap belum sepakat, lalu Umar menyerahkan semua itu kepada Ali dan Ali langsung menanyakan kepada ayah si anak tersebut; apakah kamu pernah menyetubuhi isterimu ketika ia sedang haidh? Ya jawabnya, Ali berucap: itulah yang menyebabkan anakmu berwarna merah.[21] Dengan demikian selesailah peradilan para Khalifah.

Bentuk-bentuk pelanggaran syari’ah di Nanggroe Aceh Darussalam bakal berkembang dan lebih rapi dengan berkembangnya teknologi modern hari ini. Kedepan apabila iman cucu Iskandar Muda ini terus terjepit dan tersudut dengan berbagai tayangan hot lagi menggairahkan di beberapa cenel telivisi ibukota. Penggunaan telepon genggam dan e-mail untuk perjanjian sebuah perzinaan, perampokan, pembunuhan, pencurian dan seumpamanya bakal merajalela di masa depan. Kebebasan transportasi dan ketinggian serta kepadatan gedung yang bakal muncul juga bisa menjadi pemicu semua pelanggaran syari’ah itu terjadi.

Selama tahun 2006 dan 2007 sejumlah media cetak telah menyiarkan bagaimana zina terjadi di Aceh dengan mulus dan lancar. Terjadinya perbuatan zina antara seorang berbangsa Spanyol sebagai anggota Aceh Monitoring Mission (AMM) yang mengawal perdamaian GAM dengan RI dengan translatornya Nazariyah (29 tahun) di Hotel Diah Kota Langsa pada hari Jumat 10 Maret 2006 pukul 23.00 malam hari[22] menjadi sebuah bukti nyata bahwa tantangan pendatang luar sangat berbahaya untuk kebersihan moral putra-putri Aceh. Kasus seorang penerjemah wanita asal Simpang Tiga Pidie yang berzina dengan lelaki bule di Pulo Kiton Bireuen merupakan contoh lain betapa zina itu sangat mudah terjadi di Aceh selama ini.

Kasus zina lainnya adalah Video seks yang melibatkan DD, pejabat Dinas Informasi Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Aceh Barat Daya, dengan seorang bawahannya, ES,[23] seorang anggota polisi, Darul Hutni, yang kedapatan berzina di dalam mobil bersama Evi Susanti, perempuan asal Kecamatan Tangan Tangan di ujung landasan pacu Bandar Udara Kuala Batu, Pulau Kayu, Kecamatan Susoh.[24] Kasus lainnya adalah; Puji Wijayanto, Ketua Pengadilan Negeri Sabang yang menurut kekasihnya Rina Riada telah berzina satu kali di Wisma Samudera kota Sabang pada Rabu malam tanggal 11 April 2007.[25]

Kasus yang amat menarik lainnya adalah seorang suami menyerahkan isterinya kepada seorang guru pengajian untuk dizinahi di Aceh Selatan. Kasus yang sangat aib tersebut bocor ketika si isteri minta pulang ke kampung orang tuanya dan tidak mau lagi duduk serumah dengan suaminya. Kasus yang tidak kurang aibnya lagi adalah; pada Kamis 19 April 2007 dinihari, Raihanuddin Lubis (27), seorang Muhtasib (anggota Wilayatul Hisbah) NAD ditangkap warga Desa Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, karena diduga melakukan perbuatan mesum dengan teman wanitanya, Mahdalena (17).[26] Lagi kasus di Banda Aceh adalah; seorang wanita bernisial YI (24) yang ditangkap polisi di rumahnya di kawasan Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar mengaku telah berzina dan difilmkan dengan handphone nya di sebuah wisma di Banda Aceh. Teman zinanya adalah ID (23) sebagai seorang anggota oknum TNI berpangkat Prada.[27]

Kasus yang masih segar adalah sepasang mahasiswa yang berlainan jenis, Feri asal Blang Pidie dan Susi warga Gampong Pineung Banda Aceh diringkus masyarakat Meunasah Papeuen Aceh Besar Jum’at 29 Juni 2007. Mereka selain menonton film porno juga mempraktikkannya di dalam sebuah rumah sewa.[28] Lagi kasus menarik adalah Cut Marianza yang telah berzina dengan Toni kemudian menembak Toni dengan pestolnya di Lhokseumawe.[29] Warga Eumpeuen Kecamatan Jaya Baru Banda Aceh hari Jum’at 29 Juni 2007 pukul 21.00 wib menangkap Lis (18) warga Pucok Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie yang berkhalwat dengan Nov (24) asal Blang Pidie Abdya di sebuah kamar kos.[30]

Demikian dahsyatnya permainan dan amalan zina di Aceh yang tengah berlaku Syar’at Islam. Bangsa Aceh yang terlalu bangga dengan Islam patut merasa malu dengan kejahatan demikian rupa. Dan harus mencari solusi agar pelanggaran Syari’at Islam tidak lagi terjadi dalam wilayah Syari’ah di bumi bertuah ini. Semua komponen masyarakat harus konsen dengan penegakan Syari’at Islam menolak semua jenis pelanggarannya. Kalau tidak Islam di Aceh hanya sebatas ada dalam undang-undang saja, na’uzubillah.

Namun demikian kita tidak boleh pasrah dan menyerah kalah sebelum bertanding dengan gambaran kondisi tersebut. Upaya-upaya pencegahan mestilah dilakukan oleh semua pihak sedini mungkin. Pihak penguasa harus berkata jujur dan berbuat benar dalam menegakkan syrai’ah. Pihak rakyatpun harus beramal shalih dan berakhlaq mulia untuk mewujudkan Aceh yang syar’i. demikian juga para intelektual dan cendekiawan serta ulama harus bekerja keras dan berdakwah mensosialisasikan syari’at Islam di bumi gajah Putih ini. Kalangan kampus harus banyak menulis dan merumuskan berbagai konsep dalam upaya memuluskan jalannya syari’at Islam itu sendiri di Tanoh Rincong yang penuh nostalgia ini.

[1] Al-Qur’an surah al-Israk; 81.
[2] Al-Qur’an surah an-Nahl; 112.
[3] Al-Qur’an surah al-A’raf; 96.
[4] Al-Qur’an surah Thalaq; 2.
[5] Al-Qur’an surah Thalaq; 3.
[6] Al-Qur’an surah Thalaq; 4
[7] Adbur-Rahman I. Doi, Syari’ah: The Islamic Law, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1992, hal., 2.
[8] Al-Qur’an surah al-Jatsiyah; 18
[9] Dr. Muhammad Mumtaz Ali, The Concept of Islamic Ummah & Shariah, Selangor-Malaysia: Pelanduk Publications, 1992, hal., 65.
[10] Adbur-Rahman I. Doi, Op Cit, hal 11.
[11] Dr. S.M. Haider, Shariah and Legal Profession, Lahore: Ferozsons Ltd, 1983, hal., 94.
[12] Untuk kesempurnaan diskusi syari’ah dan kekuasaan muthlaq silahkan lihat Mohammad Hashim Kamali, Principles of Islamic Jurisprudence, Petaling Jaya-Malaysia: Pelanduk Publications, 1995, hal., 8-9.
[13] Untuk mengetahui lebih banyak tentang konsep kesempurnaan syari’ah baca Dr. S.M. Haider, Op Cit, hal 43 – 46 & 94 – 98.
[14] Dr. Muhammad Mumtaz Ali, Op Cit, hal., 66.
[15] Untuk kesempurnaan kajian ini silahkan baca ‘Abdul Qadir ‘Oudah Shaheed, Criminal Law of Islam, vol. 1, Karachi: International Islamic Publishers (PVT) Ltd, 1987, hal., 15 – 19.
[16] Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 44. lihat juga surah yang sama ayat 45 dan 47.
[17] Sebagai contoh perimbangan pelaksanaan dan pelanggaran syari’ah masa silam terjadi dalam kehidupan ummat Yahudi sebagaimana yang digambarkan Sayyid Quthb dalam Tafsir agungnya Fi dhilal al-Qur’an. (lihat terjemahannya oleh H. Bey Arifin dan Jamaluddin Kafie, Surabaya: Bina Ilmu, juzu’ pertama, 1982, hal., 161 – 162).
[18] Untuk kesempurnaan informasi tentang dakwa dakwi penguasa Kelantan yang dikuasai Partai Islam dengan penguasa Malaysia yang dikuasai Partai-partai sekuler tentang hukum Islam silahkan baca, Tarmizi Mohd. Jam, Menanti Hudud di Kelantan, Batu Caves-Malaysia: Forum Islam Sejagad, 1992.
[19] Ketika pembesar-pembesar negeri melarang sultan merajam anaknya, beliau berucap: Mate aneuk meupat jeurat gadoih adapt pat tajak mita, Lihat Prof.Dr.H. Rusjdi Ali Muhammad, SH, MA, Revitalisasi Syari’at Islam di Aceh, Jakarta: Logos, 2003, hal., 41. Lihat juga Hasanuddin Yusuf Adan, Ham dan Syari’ah, Atjeh Post, No. 7/Edisi Juni 2002.
[20] Lihat Prof. Dr. Anwarullah, Principles of Evidence in Islam, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1999, hal., 126.
[21] Ibid, hal 127.
[22] Rakyat Aceh, Sabtu, 11 Maret 2006. Serambi Indonesia, Sabtu 11 Maret 2006.
[23] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1780, lihat juga Aceh Kita, Kamis, 12 April 2007, 15:57 WIB
[24] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1774
[25] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1775
[26] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1788
[27] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1869
[28] Harian Aceh, Sabtu 30 Juni 2007.
[29] Harian Aceh, Sabtu 30 Juni 2007.
[30] Harian Aceh, Sabtu 30 Juni 2007

Komen-komen»

1. debby - April 10, 2008

ya bagus lah


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: