jump to navigation

Aceh Pasca Dua Tahun MOU Helsinki dan 62 Tahun Kemerdekaan RI September 4, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Pasca penandatanganan kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI) 15 Ogos 2005 Aceh relatif aman dan masyarakat dapat menjalankan aktivitinya dengan leluasa. Selama dua tahun sudah kesepakatan damai itu berlalu, memang ada riak-riak kecil menyangkut dengan aksi-aksi jenayah yang terjadi di seantero Aceh.

Malah, Perampokan, pencurian, penipuan tetap menghiasi hari-hari Aceh dalam rentang waktu tersebut. Namun itu sifatnya sangat insidental dan tidak mungkin berkekalan lama.

Aksi-aksi politis yang menghantar ke pertarungan baru baik antara dua kubu yang telah lama bertikai atau dari pihak lain sama sekali tidak nampak gejalanya. Pihak RI yang keamanannya dijaga oleh TNI telah menerima kesepakatan itu dengan baik. Pihak GAM pula telah menampakkan kebaikannya dalam menyambut damai Aceh tersebut. Keduanya tidak lagi bermusuhan dan ketika ada kesalahpahaman segera diselesaikan dengan bersahabat.

Sebelumnya pernah terjadi kasus Nisam pada hari Rabu 21 Mac 2007 di mana empat anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Yonif 113 Jaya Sakti, Cunda, Lhokseumawe, yang berpakaian preman dihakimi massa hingga babak belur di Desa Alue Dua, Kec. Nisam, Aceh Utara, Rabu pagi. Keempat oknum TNI tersebut membawa senjata laras panjang jenis SS1 yang belum bisa diaktifkan kerana belum dipasang dengan sempurna, yang tersimpan dalam tas mereka. Identitas keempat anggota TNI itu adalah Pratu Rudi Sutendra, Prada Y Dwi Ciptroro, Prada Richart Paulus T, dan Prada Rahmad.

Informasi yang berhasil dihimpun acehkita.com dari sejumlah warga desa setempat, Oknum TNI itu diduga sebagai intelijen yang menyusup dalam pemukiman penduduk. Mereka tiba di sana pada hari Selasa (20/3/2007) menggunakan pakaian preman dan malamnya menginap di gedung SD Keude Alue Dua, yang sedang dibangun oleh NGO Save the Children, ujar salah seorang warga yang namanya tidak mau dipublikasikan. Ia menyebutkan, empat oknum TNI yang berada di desanya membuat warga menjadi resah, kerana saat ini di Aceh sedang berlangsung proses perdamaian.

Masyarakat merasa curiga terhadap gerak gerik oknum TNI tersebut, apalagi mereka membawa senjata. Ketika ditanyakan apa tujuannya, mereka menjawab hanya untuk mengamankan proses pembangunan gedung SD itu. Namun, warga setempat merasa aneh dengan keberadaan mereka di desanya, kerana oknum itu berpakaian preman. Warga menilai sebaiknya empat personel TNI itu menggunakan seragamnya saat mengamankan pembangunan sekolah tersebut.

Oknum TNI itu jelas-jelas menyusup sebagai intelijen. Kalau untuk mengamankan gedung sekolah yang sedang dibangun, kan bisa dari pihak Polsek atau Koramil Nisam saja, geliat mereka semakin mencurigakan, sehingga puluhan warga menggeledahnya dan akhirnya menemukan kartu tanda anggota (KTA) TNI beserta senjata laras panjang di dalam tas mereka yang telah dibongkar dan berserakan.

Saat itulah kemarahan warga tidak dapat dibendung sehingga keempat oknum TNI tersebut, langsung saja dihakimi hingga babak belur, tambahnya. Menyikapi hal itu Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Nisam Tgk Jafar Daud, mengakui telah terjadi pemukulan terhadap oknum anggota TNI oleh warga setempat. “Setelah menerima laporan dari warga, kita langsung turun ke tempat kejadian untuk mengamankan mereka dari amukan massa,” kata Jafar Daud, Ia juga mengatakan, sebenarnya keberadaan TNI di perkampungan penduduk sudah melanggar butir-butir yang tertulis dalam MoU Helsinki. Pasalnya, dalam MoU tersebut tidak disebutkan bahwa TNI bisa keluar masuk ke desa-desa dengan menyembunyikan senjata api. (Acehkita, Kamis, 22 Mac 2007)

Tidak lama kemudian semacam aksi balas dendam terhadap masyarakat yang tidak bersalah terjadi pula di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Puluhan orang tak dikenal (OTK) menyerang masyarakat di Kecamatan Juli, Bireuen, Senin (26/3/2007) sekitar pukul 00.15 WIB dini hari. Tiga warung diobrak-abrik dan puluhan warga mengalami luka serius setelah diserang pelaku dengan berbagai jenis senjata tajam. Kelompok yang menggunakan dua unit truk colt diesel warna kuning tersebut secara tiba-tiba turun, dan menyerang masyarakat di beberapa warung di Jalan Bireuen-Takengon.

Menurut sejumlah warga, kedua truk itu bergerak dari arah selatan. Setiba di kilometer 2,2 balik lagi ke arah Takengon, dan berhenti di simpang Desa Juli Tamboo Baro. “Mereka turun dan menyerang warga yang sedang duduk-duduk di warung,” ujar Isnar, 20, penjaga warung milik Nurdin Syah yang menjadi korban amukan orang tak dikenal. Setelah beraksi di sana, lanjutnya, para penyerang bergerak ke Menunasah Mee Teungoh di kilometer 5. “Mereka juga bertindak serupa, melakukan penganiayaan terhadap warga dan mengobrak-abrik warung,” sebut warga lainnya.

Setelah insiden itu, dilaporkan sejumlah warga Juli mengalami luka tusukan, memar, dan patah tulang. Beberapa unit sepeda motor dan dua unit mobil pick up milik waga Juli, dirusak. “Sejumlah benda berharga lainnya seperti kulkas, rak kaca dan televisi di beberapa warung yang mereka serang, juga ikut dirusak,” jelas salah seorang korban yang dijumpai di RSUD dr. Fauziah Bireuen. Sejumlah warga yang menjadi korban serangan tersebut mengatakan, sebagian penyerang itu menggunakan sebu penutup wajah, sehingga sulit untuk dikenali. (Harian Aceh Selasa, 27 Mac-2007).

Menurut masyarakat setempat, penyerangan tersebut dilakukan oleh sejumlah oknum TNI yang bermarkas di Juli sebagai aksi balas dendam terhadap penghakiman rakan-rakan mereka di Nisam. Buktinya, mereka kabur ke markas TNI yang ada di sana setelah beraksi, dan bukti lain adalah masyarakat sempat melihat sebagian mereka menggunakan atribut TNI seperti pisau, sepatu dan lainnya. Apapun alasannya aksi tersebut sama sekali tidak dapat diterima akal sehat kerana lain pelaku di Nisam lain pula korban di Juli, sama sekali tidak punya relevansinya. Namun apa hendak dikata cukup banyak sudah kejadian serupa tetapi tidak pernah diusut tuntas oleh pihak berwajib negara. Dan itu juga menjadi sebuah bukti nyata bahwa apapun kejahatan yang dilakukan penguasa Indonesia di Aceh tidak pernah dihadapkan dengan tuntas di hadapan pengadilan. Dahulu ada kasus pembunuhan massa terhadap Teungku Bantaqiyah beserta murid-muridnya di Beutong Ateueh, ada tragedi kantor KNPI, tragedi simpang KKA di Lhokseumawe, tragedi Arakundoe, tragedi Idi Cut dan sejumlah pembantaian lainnya yang dilakukan pihak TNI serta Polisi Indonesia terhadap bangsa Aceh tidak pernah diproses secara adil menurut hukum yang berlaku. Para pihak berkuasa Indonesia selalu berpaya menyembunyikan fakta untuk membenarkan prajurit-prajuridnya.

Terjadi pula dalam suasana damai pasca MoU beberapa ancaman lain seperti kado teror untuk Bupati Aceh Utara (Ilyas) dan Walikota Lhokseumawe (Munir) terjadi Selasa 3 April 2007 masing-masing di kantornya. (Modus No.50/TH.IV/9-15 April 2007). Bom meledak di Simpang Ulim yang menewaskan seorang dan mencederakan dua orang lainnya. (Serambi Indonesia Selasa 1 Mei 2007). Rumah Sofyan Dawood digranat. (Serambi Indonesia Senin 30 April 2007).

Peringatan MOU

Peringatan perdamaian pertama antara GAM dengan RI 15 Ogos 2006 tahun lalu di Banda Aceh nampak sangat bersahaja dan meriahnya luar biasa. Pemrakarsa perdamaian, Martti Ahtisaari, wakil presiden RI M. Yusuf Kalla dan penandatanganan kesepakatan damai pihak GAM, Malek Mahmud merupakan di antara yang ikut hadir dalam acara yang amat bersejarah itu. Selain itu masyarakat dari berbagai pelosok Aceh pun berduyun-duyun menuju kota Banda Aceh untuk menyaksikan langsung acara tersebut. Tidak ada kejadian apapun selama acara itu berlangsung, baik yang berkaitan dengan nilai-nilai politis maupun kriminal.

Suasana haru bercampur riang nampak kelihatan pada setiap wajah yang mengikuti acara tersebut di hari tu. Masyarakat merasa sudah mulai hidup bebas dan aman tenteram setelah hampir tiga dasawarsa dihujam rasa takut. Kerananya layak kalau mereka menaruh banyak harapan dalam kehidupan masa depannya lewat jalur perdamaian tersebut. Para pembicara baik yang mewakili GAM maupun RI juga saling meyakinkan rakyat dengan perdamaian yang ada. Gubernur Aceh yang masih dijabat oleh Mustafa Abubakar waktu itu dengan serius meyakinkan korban konflik untuk mendapatkan berbagai bantuan yang telah disepakati dan disalurkan lewat Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA) yang waktu itu ketua pelaksana hariannya dikomandani Yusni Saby.

Menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai penjabat Gubernur Aceh Januari 2007 Mustafa tuntas pula melaksanakan distribusi bantuan untuk korban konflik tahap pertama, baik yang berkenaan dengan mantan kombatan, GAM sipil, Pembela Tanah Air (PETA) atau milisi yang dipelihara TNI, korban cacat disebabkan konflik, rumah terbakar, meninggal kerana konflik dan sebagainya. Selanjutnya tugas tersebut dilanjutkan Gubernur terpilih dalam Pemilihan Kepala Daerah NAD 11 Desember 2006 yaitu pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar.

Akan halnya peringatan dan ulang tahun kedua MoU Helsinki yang berlangsung di tepi laut Uleelheue 15 Ogos 2007 yang lalu. Acara digelar sangat sederhana dan hanya melibatkan para pemimpin berkuasa Aceh saja seperti Gubernur, Panglima Kodam Iskandar Muda, Kepala Polisi Daerah Aceh, ketua BRA dan sejumlah tokoh lain baik dari kalangan pemerintah Aceh maupun dari unsur Komite Peralihan Aceh (KPA) atau bekas GAM.(Harian Aceh, Serambi Indonesia, Kamis 16/8/2007)

Acara yang nampak sederhana itu disederhanakan juga dalam penggunaan anggaran negara. Hanya sepuluh persen saja anggaran yang dihabiskan untuk acara peringatan MoU tersebut. Sementara sisanya diberikan sebagai beasiswa kepada anak-anak korban konflik di seluruh Aceh. Dan penyerahannya secara simbolis langsung dilakukan hari itu juga oleh Gubernur Irwandi Yusuf yang disaksikan oleh sejumlah pembesar negara dan masyarakat biasa.

Yang ini betul-betul sebuah gebrakan baru untuk keberlangsungan pendidikan anak bangsa di masa depan. Sebelumnya, setiap ada upacara atau ulang tahun apa saja, para penguasa tidak segan dan tidak bosan menghamburkan uang negara untuk kepentingan seremonial yang sangat kurang maknanya. Kali ini Gubernur sudah mulai tampil beda dengan kebiasaan Indonesia, yang ini sebenarnya tradisi murni orang Aceh yang sudah ditinggalkan lama kerana terpengaruh oleh rezim Indonesia. Semoga kita akan mendapatkan hasilnya di suatu ketika dan pada suatu masa.

Inti peringatan perdamaian antara GAM dengan RI yang harus dikedepankan adalah; sama-sama berpegang kepada MoU, sama-sama mengamankan Aceh, sama-sama menyejahterakan rakyat Aceh, sama-sama mendidik rakyat Aceh, sama-sama memajukan Aceh, sama-sama menjalankan Syari’at Islam di Aceh, dan sama-sama membantu setiap orang yang memerlukan bantuan di Aceh. Jadi inti perdamaian itu bukan semata-mata mengedepankan perkara-perkara seremonial yang tidak punya kesan apa-apa bagi masyarakat Aceh baik yang korban konflik, korban tsunami atau yang lainnya.

Jadi ke depan kiranya semua pihak harus memicu kepada poin-poin tersebut di atas dalam setiap kegiatan yang dilakukan di Aceh atau di luar Aceh. Saat ini peluang untuk bangkit sudah nampak, Aceh yang dahulu sengaja dikungkung oleh RI kini terbuka bagi dunia internasional. Transportasi dan komunikasi dengan dunia luar bukan lagi hambatan bagi Aceh hari ini, tinggal hanya keseriusan dan ketulusan hati para pemimpin Aceh sajalah yang bakal dapat menentukan masa depan Aceh yang cerah dan bersahaja. Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh sementara ini sudah memadai untuk pegangan komunikasi Aceh dengan dunia luar dan komunikasi para pemimpin dengan rakyat Aceh sendiri.

Untuk itu momentum peringatan dua tahun kesepakatan damai GAM-RI haruslah diarahkan ke muka kemajuan yang transparan. Tidak lagi mengambang pada posisi seremonial yang melebih-lebihkan dalam publikasi media tetapi isinya tidak ada apa-apa. Cukup sudah perangai Orde Baru beredar di Aceh yang selalu meninabobokan masyarakat dengan seremonial yang tidak bermakna. Kini masanya Aceh menampakkan kembali warisan endatu yang sudah lama terkubur dan sebahagiannya sengaja dikuburkan. Kegigihan, keuletan, keyakinan, keseriusan, keikhlasan dan keberanian para endatu dahulu merupakan modal utama kemajuan bangsa dan negara Aceh zaman silam.

Hari Kemerdekaan RI

Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 62 telah usai diperingati pada hari Jumat 17 Ogos 2007. Acara karnaval (pawai besar) semua instansi pemerintah serta murid-murid sekolah juga telah dilaksanakan pada hari Ahad 2007 di Banda Aceh. Di kota-kota lain ada yang dilaksanakan sebelum dan ada juga sesudahnya. Pawai besar tersebut diwajibkan kepada semua pegawai negeri mengikut instansi masing-masing. Setiap kantor membawa mobil yang telah dihias dengan berbagai warna-warni dan para pegawainya ikut serta dalam mobil tersebut mengelilingi seluruh pelosok kota.

Hari kemerdekaan RI tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai hiasan di perumahan dan pertokoan masyarakat di seluruh Indonesia. Bendera merah putih dikibarkan di mana-mana termasuk di kenderaan yang dipakai masyarakat sendiri. Keadaan semacam ini berlaku dan berjalan mulus di hampir semua propinsi d Indonesia kecuali di Aceh. Baik di kota Banda Aceh maupun di ibu kota kabupaten seluruh Aceh minat pemakai bendera merah putih pada kenderaan masyarakat sangat rendah. Hal ini terbukti para penjualnya duduk termenung sepi dan anak-anak yang menjual di tepi jalan pun tidak banyak pembeli sehingga mereka meninggalkan arena jualannya.

Kali ini nampak sangat banyak kenderaan baik roda dua atau roda empat yang tidak memakai bendera merah putih lalu lalang di jalan raya. Sementara masa konflik TNI dan polisi memaksa masyarakat untuk memakai bendera di mana-mana, kalau tidak mau akan disiksa dan dipukul. Tidak jelas motif apa yang terselip di balik itu semua, apakah masyarakat Aceh tidak mau tambah kerja dengan memasang bendera atau kerana tidak senang kepadanya atau ada motif lain yang sulit diprediksi di sana.

Yang jelas di beberapa tempat seperti di Aceh Timur, Aceh Utara dan Lhokseumawe sejumlah bendera yang dipasang warga di rumahnya sempat hilang dan ada yang terbakar. Tidak tau siapa yang melakukannya, pro kontra muncul antara dua pihak yang lama bertikai di masa lalu, namun tidak ada yang berani memastikannya. Tanggal 13 Ogos 2007 dilaporkan oleh harian Serambi Indonesia sebanyak 150 lembar bendera merah putih dicuri di perumahan penduduk Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Pada masa yang sama di Aceh Timur dan Utara juga mengalami hal serupa. (Serambi Indonesia 14/8/2007).

Kamis tanggal 15 Ogos 2007 tidak kurang dari 57 bendera merah putih di rumah-rumah penduduk di desa Babah Buloh dan Gampong Teungoh Aceh Utara diturunkan dan dibakar oleh orang yang tidak dikenal. (Serambi Indonesia 16/8/2007). Kejadian itu sulit dilacak kerana sebahagiannya terjadi di malam hari sehingga muncul berbagai interpretasi dari masyarakat sendiri. Namun demikian pihak GAM dan RI sudah segera menanggapi kejadian tersebut dengan mengarahkan masyarakat untuk tidak berbuat anarkis. Pangdam Iskandar Muda Supiadin AS dan juru bicara KPA pusat Ibrahim KBS telah mengeluarkan pernyataan agar kejadian tersebut segera dituntaskan. (Serambi Indonesia 16/8/2007).

Kejadian lain yang sangat memalukan RI adalah pemukulan 12 orang masyarakat di Tanjong Beuridi Kecamatan Peusangan Seulatan kabupaten Bireuen oleh sejumlah anggota polisi dari Polres Bireuen Rabu 15 Ogos 2007. (Serambi Indonesia 18/8/2007). Kejadian yang tidak seharusnya terjadi itu bukan barang baru di Aceh dan Indonesia, malah itu sudah menjadi cara kerjanya polisi dan tentara Indonesia. Pemukulan dan penganiayaan yang beralasan masyarakat telah menurunkan bendera merah putih yang sulit dibuktikan itu sama sekali tidak selayaknya terjadi di negara manapun jua kecuali Indonesia. Polisi sebagai penegak hukum dan pengayom masyarakat sama sekali tidak punya tugas untuk memukul masyarakat, apalagi gara-gara hilangnya bendera merah putih yang kerananya masyarakat hidup melarat. Kalau dianggap masyarakat bersalah maka balasannya adalah pengadilan dan penjara bukan pukulan, itu pun setelah jelas dengan bukti nyata bahwa mereka bersalah. Kalau belum terbukti penjara pun tidak berhak bagi mereka.

Semoga saja kejadian itu tidak akan terpacu kepada ketidak nyamanan kehidupan masyarakat baik di kampung maupun di kota. Apapun yang terjadi di Aceh hari ini jangan sampai terprovokasi untuk menjurus kepada munculnya konflik baru. Kejadian penurunan bendera merah putih tersebut dapat ditafsirkan dengan berbagai penafsiran oleh ahli tafsir. Kalau ada yang mengatakan bahwa itu kerja mantan GAM yang masih bencikan Indonesia yang zalim terhadap mereka dapat diterima. Kalau ada yang menyatakan bahwa itu merupakan kerja TNI dan bahagian lain daripada provokasi Indonesia terhadap GAM juga masih dapat diterima. Kalau ada yang menyimpulkan bahwa itu merupakan kerja kelompok ketiga yang berencana ingin merusak perdamaian yang sudah ada malah lebih dapat diterima lagi.

Akan tetapi yang penting dari semua itu bukanlah siapa pelakunya dan mengapa harus dilakukannya. Melainkan kenapa harus dipermasalahkan dan kenapa pula tidak dibiarkan saja biar mereka malu sendiri. Ketika kesepakatan damai itu sudah bersemi dan membenih sehingga tumbuh batangnya hingga hari ini, maka komitmen perdamaian tersebut tidak akan dapat dicerca oleh kerja sejumlah orang yang menurunkan bendera merah putih di rumah-rumah penduduk. Ia pula tidak dapat diruntuhkan oleh tidak ramainya orang memasang bendera tersebut di kenderaan mereka. Tetapi ia akan dapat dihancurkan oleh sikap primordial segolongan insan yang berkeras apalagi memaksa rakyat untuk mencari dan menggantikan bendera yang sudah tiada tersebut. untuk itu kearifan, kehati-hatian dan jiwa besar sangat diperlukan kepada pihak penegak keamanan di Aceh hari ini. Bukan sikap picik yang dapat menghantar kehidupannya kelembah hina dan tidak bermaruwah.

62 tahun sudah Indonesia merdeka yang dipimpin oleh manusia-manusia berjiwa picik terus menghasilkan generasi picik yang menganggap dirinya hebat, kuat, pandai, besar dan maju. Padahal ketika kita melangkah satu negara saja di sebelah Indonesia yang bernama Malaysia maka dengan nyata-nyata dapat kita saksikan betapa jauh tinggalnya Indonesia yang sangat sulit dikejar kembali. Padahal kemerdekaan lebih awal diterima Indonesia dan di awal kemerdekaan Malaysia malah guru-guru didatangkan dari Indonesia. Tetapi hari ini masih ada rakyat Indonesia yang mengatakan Malaysia adik Indonesia dari segi kemakmuran dan kemajuan, betul-betul seperti kodok di bawah tempurung.

Lebih setengah abad sudah negara ini merdeka, moral para penguasa masih di bawah standar, korupsi masih merajalela, pendidikan rakyat jauh tertinggal dengan Malaysia, kemajuan teknologi juga belum ada apa-apa. Lalu bagaimana dapat dikatakan negara sudah maju dan masyarakat hidup sejahtera, kenyataannya cukup banyak masyarakat yang tidur di bawah jembatan di ibu kota Jakarta kerana tidak punya rumah dan tidak ada keluarga. Terserahlah kepada para penguasa yang saling berlomba untuk mendapatkan kekuasaannya, untuk apa itu semua, untuk pribadi, keluarga atau kroni-kroninya.

Inilah isue yang perlu diangkat dalam momentum 62 tahun Indonesia yang diperingati seluruh pelosok tanah air pada hari Juma’at 17 Ogos 2007. Pidato demi pidato yang dilantunkan baik oleh presiden RI maupun gubernur-gubernur seluruh Indonesia pada upacara kemerdekaan tersebut tidak menjadi satu ukuran kemajuan bangsa dan negara. Tetapi amal dan keikhlasan serta kejujuran mereka yang bakal menjadi kerangka kemajuan bangsa. Indonesia adalah sebuah negara yang sangat luas dan besar, dari segi teritorial sangat sulit dikawal, dari segi adat budaya sangat susah dipadukan, dari segi agama sangat rawan dengan pertengkaran, dari segi ras sangat jauh berbeda. Hanya semboyan demi semboyan sajalah yang sehingga hari ini masih dapat memesongkan pandangan serta pemahaman bangsa terhadap Indonesia, padahal dia tidak punya apa-apa selain manipulasi dan fatamorgana.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: