jump to navigation

Mari Duduk Di Atas Awan Oktober 1, 2007

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Yasser Arafat

Suatu saat Rasulullah Saw pernah mengirimkan sejumlah pasukan ke sebuah peperangan. Ketika pasukan itu kembali, Rasulullah menyambutnya seraya mengatakan, “Selamat datang kepada kaum yang telah menunaikan jihad kecil, dan masih tersisa bagi mereka jihad yang besar.” Ada salah seorang sahabat bertanya, “Apa jihad yang besar itu, Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Jihad memerangi hawa nafsumu (Jihad al-Nafs).

Dari riwayat di atas, Rasulullah membagai jihad dalam dua jenis. Pertama iaitu jihad perang yang termasuk dalam jenis jihad kecil, dan yang kedua adalah jihad memerangi hawa hawa nafsu yang itu merupakan jenis jihad besar.

Dari katanya saja kita sudah boleh membayangkan bagaimana beratnya jihad memerangi hawa nafsu itu. Jihad perang saja masih dinamakan jihad kecil, apalagi jihad melawan hawa nafsu yang Rasulullah namakan sebagai jihad besar.

Abu Imran al-Wasithi, salah seorang sufi besar pada abad XII H bercerita:

Pada suatu hari, aku berada pada sebuah kapal di lautan. Tanpa di duga kapal itu bocor. Tinggallah aku dengan isteriku yang sedang hamil. Tiba-tiba ia melahirkan anak. Ia menginginkan air. Aku angkat kepalaku ke langit, memohon kepada Allah agar diberikan air minum untuk isteriku. Ketika aku melihat ke langit, ada seorang lelaki yang duduk di atas udara. Pada tangannya ada cawan air kemerah-merahan seperti disepuh emas. Ia berkata, “Ambillah cawan air itu.” Aku kehairanan, bagaimana dia boleh berada di atas awan. Aku bertanya, “Bagaimana kau boleh berada di atas hawa (awan)?” Ia menjawab, “Aku sudah meninggalkan hawa nafsuku kerana itu Tuhan memberiku kedudukan di atas hawa.” Pernah teman saya membaca riwayat ini. Dia bilang riwayat ini khayal dan tidak mungkin terjadi. Bagaimana seorang manusia boleh berada di atas awan? Sepertinya teman saya itu tidak mengerti maksud dari kata “hawa” di situ. Saya katakan kepadanya bahawa banyak cerita-cerita sufi yang tidak masuk akal, tetapi di balik cerita-cerita itu kamu akan menemukan kekayaan hikmah.

Maksud dari kata “hawa” di atas adalah hawa nafsu. Hawa juga memiliki pengertian lain iaitu awan. Maka dalam cerita di atas, hawa nafsu digambarkan sebagai awan (hawa). Jadi, orang itu dapat berkedudukan di atas hawa (nafsu) setelah ia mampu menundukkan hawa (nafsu) itu sendiri.

Apa itu nafsu? Nafsu adalah cinta dalam arti negative atau boleh juga berarti sikap berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri. Sifat nafsu adalah selalu berusaha menjadikan diri menentang petunjuk akal dan berjalan di jalan yang penuh dengan syahwat. Manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya, namun ketika manusia itu berlebihan dalam mencintai dirinya, maka dia akan menjadi seorang yang egois. Jika seseorang sudah bersikap egois maka ia akan melakukan segala cara untuk menyenangkan dirinya tanpa memperhatikan “rambu-rambu” yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Menurut para sufi bahawa kekuatan hawa nafu yang ada dalam diri kita ini ada 3. Pertama, disebut quwwatun bahimiyyah; kekuatan binatang. Contoh mithalnya seorang yang selalu mencari kepuasan lahiriah atau kepuasan seksual. Kedua, disebut sebagai quwwatan sab’iyyah; kekuatan binatang buas. Contohnya adalah seorang yang senang menindas orang lain, senang memakan hak orang lain, senang untuk menyerang orang lain. Ketiga, disebut quwwatan Syaithaniyyah; kekuatan ini adalah kekuatan yang mendorong kita untuk membenarkan segala kejatahan yang kita lakukan.

Apakah di dalam diri kita hanya terdapat kekuatan hawa nafsu saja? Ada satu kekuatan lagi yang mana kekuatan ini tidak termasuk dalam kekuatan hawa nafsu. Kekuatan ini adalah quwwatan Rabbaniyah, Kekuatan Tuhan, Kekuatan yang berasal dari percikan cahaya Ilahi.

Kekuatan ini terletak dalam akal sihat kita. Dengan menggunakan kekuatan ini, kita dapat menundukkan ketiga kekuatan di atas. Dengan digunakannya akal sihat kita, maka kita akan dapat memilih-milih mana perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah dan mana perbuatan yang melencong dari ketentuan Allah. Akal akan membimbing untuk menempuh perjalanan ruhani menuju Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surat an-Naziat ayat 40-41, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat singgahnya.”

Imam Ali bin Abi Thalib k.w dalam memberikan gambaran mengenai sifat-sifat orang yang bertakwa, berkata, “Bila nafsunya membuatnya berat melaksanakan apa yang tidak disukai nafsunya, ia pun menolak memenuhi apa yang disukai nafsunya.”

Ertinya bahawa seorang mukmin, jika nafsunya membuat ia berat untuk melaksanakan ibadah yang mana ibadah itu tidak disukai oleh nafsunya, maka ia akan berusaha keras menolak untuk tidak mengikuti apa yang diinginkan nafsunya yang mana keinginan nafsu tersebut dapat membawanya pada kebinasaan jika mengikuti ia mengikuti keinginan nafsu tersebut. Anggaplah nafsu itu sebagai musuh kita. Jangan sampai nafsu itu mendapatkan kesempatan untuk melemahkan kita sehingga kita jatuh pada kehinaan. Dan sesuai dengan janji Allah dalam Surat An-Naziat ayat 40-41 di atas bahawa orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, maka syurgalah balasannya.

Nota: Yasser Arafat merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta Komisariat Fakultas Hukum UNS.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: