jump to navigation

Maryam Jamilah: Sempadan Aqidah Oktober 10, 2007

Posted by ummahonline in Tokoh.
trackback

Oleh: Agung Pribadi

Pernahkah anda membayangkan sekarang bagaimana ada seorang remaja di negara anda yang berumur 14 tahun tetapi mampu untuk menulis sebuah novel bermutu tentang sebuah negara lain yang dia tak pernah kunjungi, juga tentang sebuah agama selain agamanya? Benar, sepertinya tidak ada!

Banyak anak di negara kita umur 14 tahun aktivitinya hanyalah bergaul, berpacaran, menonton TV atau menagih dadah! Dan banyak yang tidak tertarik pada agamanya apalagi agama orang lain. Sementara seorang tokoh muslimah terkenal, Maryam Jamilah menulis novel bermutu, “Di Tepian Jalur Gaza“, pada usia 14 tahun dalam keadaan yang saya sebutkan di atas. Ia belum pernah ke Palestin dan ia masih beragama Yahudi tapi novelnya mengkritik orang Yahudi dan membela orang Islam Palestin.

Sebenarnya siapa Maryam Jamilah ini? Maryam Jamilah dilahirkan di Westchester, New York pada tahun 1934. Ia dilahirkan dengan nama Margaret Marcus. Waktu kecil ia mempunyai nama panggilan yang lucu, Peggy, padahal yang bernama Margaret atau Margaret biasanya di Amerika dipanggil Maggy. Gadis yang berasal dari suatu keluarga Yahudi yang mukim di New York, ini memang lain sejak awalnya. Demi memuaskan dahaganya akan kebenaran hidup, sejak masa-masa remajanya yang paling dini ia telah sekian kali berpindah dari suatu “pusat kerohanian” ke “pusat kerohanian” lainnya. Dari yang sepenuhnya bersifat keagamaan hingga tak kurang dari yang bersifat agnostik, atau malah atheistik sama sekali.

Juga, berbeza dengan remaja-remaja New York sebayanya, Margaret, gadis ini, mengharamkan bagi dirinya segala sesuatu yang disebut sebagai “sumber kenikmatan hidup”, seperti pergaulan bebas, pesta-pora, minuman keras, merokok, justeru di masa-masa yang sering disebut sebagai “masa-masa yang paling membahagiakan” dalam kehidupan seseorang. Dan sebagai gantinya, ia benamkan dirinya dalam tumpukan buku-buku yang terhitung “berat” bagi kebanyakan manusia, apalagi bagi remaja seumurnya, seperti: agama, falsafah, psikologi dan sebangsanya. Ketertarikan Margaret pada Islam dimulai ketika ia berumur 10 tahun. Pada umur itu ia mengikuti “Sekolah Minggu” yang diadakan oleh seorang Yahudi Reformis. Ia sangat terkagum-kagum dengan hubungan sejarah antara Arab-Yahudi.

Dari buku-buku teks Yahudi, Margaret mempelajari bahawa Ibrahim adalah nenek moyang bangsa Arab sekaligus bangsa Yahudi. Margaret membaca bahawa pada beberapa abad setelah Ibrahim wafat iaitu pada abad pertengahan di Eropah, umat Kristian tidak mempunyai toleransi terhadap umat Yahudi. Umat Kristian juga menyiksa, membunuh, bahkan, membantai umat Yahudi. Hal ini berbeza secara diametral dengan yang terjadi di negara Islam Sepanyol Andalusia. Di sana umat Islam ‘welcome’ terhadap umat Yahudi.

Toleransi dari umat Islam dan negara Islam sangat mengagumkan dalam sejarah. Umat Yahudi boleh bekerja bebas dalam perdagangan atau bahkan di jajaran pemerintahan. Di mata Margaret atau Peggy kecil, ini adalah keluhuran budi dan peradaban yang tinggi. Dalam sejarah diketahui bahawa peradaban Islam mengalami kejayaan tertinggi pada masa negara Islam Sepanyol Andalusia ini. Dan hebatnya kejayaan tertinggi peradaban Yahudi juga terjadi di Sepanyol pada masa ini. Negara Islam bukan cuma tidak membunuhi umat Yahudi akan tetapi justeru merangsang tumbuhnya kebudayaan dan peradaban Yahudi sehingga pada tingkat pencapaian yang tertinggi dan mencapai puncaknya. Kenyataan ini membuat Margaret terkagum-kagum pada Islam.

Pada saat itu Margaret masih lugu, polos, bahkan naif. Margaret berpikir bahawa Yahudi “pulang” ke Palestin untuk memperkuat ikatan keluarga mereka dengan sepupu dekatnya sesama Semitik iaitu bangsa Arab. Hal ini wajar malahan bagus menurut Margaret, kerana mereka keluarga dekat dalam agama dan budaya. Margaret meyakini bahawa Yahudi dan Arab akan bekerja sama guna mencapai masa kejayaan yang berikut seperti yang terjadi di negara Islam Sepanyol Andalusia. Masa kejayaan kedua peradaban itu, yang kali ini menurut keyakinan Margaret akan diwujudkan di Timur Tengah. Keyakinan ini membuat Margaret semakin terkagum-kagum pada Islam dan hubungan bersejarah Arab-Yahudi.

Kebalikan dari itu, Margaret sangat tidak bahagia di “Sekolah Minggu”. Pada masa ini Margaret mengidentifikasikan dirinya secara kuat dengan orang-orang Yahudi di Eropah. Kemudian terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap Yahudi oleh Nazi. Margaret terkejut bukan alang-kepalang. Dan ia sangat marah ketika tak seorangpun anggota masyarakat Yahudi bereaksi terhadap persoalan ini. Menurut keyakinan Margaret masalah persaudaraan Yahudi ini adalah masalah agama yang sangat penting. Ternyata tak seorangpun peduli.

Ternyata memang masyarakat Yahudi di lingkungan sekitar Margaret tidak peduli pada agamanya apalagi taat. Misalnya pada acara keagamaan di Sinagog, anak-anak malah membaca komik yang disembunyikan di balik kitab suci. Anak-anak juga tertawa-tawa mengejek dan mencemooh ketika ritual agama berlangsung. Anak-anak sebaya Margaret sangat ribut dan tidak patuh kepada guru. Apalagi kalau para guru itu tidak mampu mendisiplinkan dan mengatur kelas. Di rumah Margaret suasana mempelajari dan mengamalkan agama Yahudi juga tidak lebih menyenangkan. Kakak perempuan Margaret sangat membenci “Sekolah Minggu”. Apalagi “Sekolah Minggu” dianggap mengganggu waktu tidur dan santainya di hari libur. Ibu Margaret benar-benar menyeret (dalam arti harfiah) sang kakak dari tempat tidur pada pagi hari, setelah mengguncang-guncang badannya begitu keras. Sang kakak selalu bangun dengan sumpah serapah dan menangis menjerit-jerit. Akhirnya, orang tua Margaret capek menghadapi sang kakak dan membiarkannya berhenti dari “Sekolah Minggu”.

Pada hari raya Yahudi alih-alih hadir di Sinagog dan puasa Yom Kippur, Margaret dan kakaknya malahan bolos dan kabur. Mereka malah piknik lalu pesta makan-makan di restoran bagus. Sambil cekikikan tentunya. Ketika orang tuanya yakin bahawa Margaret dan kakaknya sangat parah bandelnya di “Sekolah Minggu”, sang ortu masuk ke organisasi agnostik (humanis dan kemanusiaan) Yahudi. Mereka juga memindahkan kedua anaknya yang bandel ke “Sekolah Minggu” milik organisasi ini. Organisasi ini dikenal luas sebagai organisasi humanis dengan nama “The Ethical Culture Movement” (Gerakan Kebudayaan Etis).

“The Ethical Culture Movement” didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Felix Adler. Ketika belajar menjadi Rabbi, Felix Adler tumbuh keyakinannya akan relativitas ibadah agama. Ibadah agama dan nilai-nilai etika, menurut Adler, adalah relatif dan buatan manusia belaka. Penyembahan kepada Tuhan atau Dewa serta supranaturalisme atau Theologi, tidaklah relevan lagi, menurutnya. Agama sudah tidak pantas lagi dalam dunia moden menurut Adler.

Margaret mengikuti “Sekolah Minggu” versi Adler ini, lengkap dengan ajaran-ajaran Adler tentunya. Setiap minggu Margaret dengan rajinnya mengikuti sekolah ini, berbeza dengan “Sekolah Minggu” sebelumnya. Margaretpun akhirnya lulus dari sekolah ini pada umur 11 tahun. Di “Sekolah Minggu” ini Margaret tumbuh dengan persetujuan tanpa syarat kepada ide-ide gerakan Adler ini. Sejak saat itu Margaret meremehkan dan mencemoohkan upacara-upacara tradisional, penyembahan-penyembahan, peribadatan-peribadatan, dan agama yang terorganisasi.

Pada masa remaja inilah Margaret sangat terpengaruh oleh falsafah humanistik. Ia juga menjadi atheis. Apalagi pada masa itu seorang atheis dianggap sebagai seorang yang terdidik. Ketika masa-masa atheis ini iaitu pada umur 12 tahun, petualangan Margaret sangat hebat di dunia intelektual. Banyak buku dan terutama ensiklopedi yang dilahapnya. Ia juga gandrung membaca buku tentang dunia Arab dan Islam. Ia membaca buku The Lance of Kanana karya Harry W. French, sebuah buku yang menceritakan seorang anak Badui.

Ia juga membaca buku Boy of The Desert karangan Eunice Tietjiena yang menceritakan seorang anak yang bernama Abdul Aziz. Ia juga membaca buku Camel Bells: A Boy from Baghdad yang bertutur tentang seorang anak Irak yang diangkat oleh keluarga Badui. Cerita-cerita inilah yang mengilhami Margaret untuk membuat cerita tentang kehidupan seorang anak di desa kecil di kamp pengungsi Palestin “Ahmad Khalil” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Di Tepian Jalur Gaza”. Buku ini dikarang pada usia 14 tahun! Bukan Main!

Sejalan dengan kedewasaan dan kematangan Margaret secara intelektual, ia mulai tidak puas dengan atheisme. Ia merasa ada sesuatu yang kurang. Ia memulai pencarian baru. Ia mulai kembali mencari identitas diri. Iapun memasuki kelompok Baha’iyah atau Baha’i di New York. Kelompok ini bernama “The Caravan of East and West” (Karavan Timur dan Barat). Kelompok ini dipimpin oleh seorang Persia yang bernama Mirza Ahmed Sohrab. Sohrabpun memberitahu Margaret bahawa ia pernah menjadi sekretaris Abdul Baha, sang pendirti Baha’i.

Pada awalnya Margaret tertarik pada Baha’i kerana keaslian Islamnya menurut Margaret. Ia juga tertarik dengan ajarannya tentang kesatuan umat manusia (ummatan wahidatan). Tetapi kemudian Mrgret menemukan betapa buruk pengamalan ide-ide Baha’i oleh penganutnya.

Pada umur 18 tahun Margaret menjadi anggota cabang gerakan keagamaa zionis remaja. Gerakan ini dikenal dengan nama Mizrachi Hatzair. Beberapa bulan kemudian ketika Margaret mengetahui seperti apa Zionisme sebenarnya, Margaret keluar dengan muak dan jijik. Ia yang selama ini menyangka bahawa Zionisme adalah gerakan persaudaraan dan kerja sama Arab-Yahudi menjadi marah, kaget, dan kecewa. Ia akhirnya mengetahui borok Zionisme yang hanya membuat-buat dan mencari-cari permusuhan dan peperangan dengan bangsa Arab.

Pada umur 20 tahun Margaret kuliah di Universitas New York. Salah satu mata kuliahnya adalah “Judaisme in Islam” (Ajaran Yahudi dalam Islam). Dosen Margaret Rabbi Abraham Issac Katsh, Ketua Jurusan Sudi-studi Hebrew tidak perlu capek-capek meyakinkan mahasiswanya bahawa Islam itu mencontek dari Yahudi. Mayoritas mahasiswanya yang ingin menjadi Rabbi langsung menyetujuinya. Buku teks di kuliah itu yang ditulis olehnya yang berjudul “Took each verse from the Qur-an” sungguh-sungguh menyatakan tanpa bukti bahawa ayat-ayat Qur-an bersumber dari ajaran-ajaran Yahudi.

Meskipun maksud Profesor sebenarnya ingin membuktikan kepada mahasiswa superioritas Yahudi atas Islam, Margaret malah menjadi yakin akan hal yang sebaliknya. Justeru agama Islam dan Yahudi bersumber dari Tuhan yang sama. Dan kerana agama Islam lahir belakangan maka ia merevisi ajaran-ajaran Yahudi. Orang Yahudilah yang harus mengikuti agama Islam, demikian menurut Margaret.

Usaha-usaha Zionisme yang menyuruh orang-orang Yahudi berimigrasi ke Palestin adalah kolusi antara kekuatan politik dengan pengusaha-pengusaha real estate, demikian menurut Margaret. Tidak ada landasannya dalam kitab Talmud, menurutnya lagi. Kalaupun ada itu adalah distorsi disebabkan kolusi itu. Yang sebenarnya adalah tidak ada.

Fusi antara nasionalisme Yahudi dengan agama ternyata malah memiskinkan orang-orang Yahudi secara spiritual, menurut Margaret lagi. Eksklusivitas yang rigid dari Yahudi juga menjadi penyebab pembantaian umat lain terhadap umat Yahudi. Menurut Margaret kalau orang-orang Yahudi inklusif dan toleran pasti mereka tidak akan dibantai sepanjang sejarah umat manusia. Margaretpun menjadi sedar bahawa zionisme adalah kombinasi antara rasisme, Tribalisme Yahudi, dan nasionalisme sekuler moden.

Melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh PBB dalam mengatasi hubungan Arab-Yahudi di Palestin hati Margaret menjadi tambah tidak yakin dengan agama Yahudi. Ia tidak betah dan tidak kuat lagi mengaku sebagai orang Yahudi. Ia melihat kecurangan-kecurangan PBB yang disogok gerakan Zionisme melalui Lobby Yahudi Amerika. Ia menjadi sangat malu sebagai orang Yahudi. Semakin Margaret mengikuti kuliah Profesor Katsh, semakin Margaret tidak meyakini agama. Semakin Margaret merasa agama Yahudi banyak cacatnya. Apalagi sudah beberapa bulan Margaret membaca Al Qur-an dan Hadits. Margaret membandingkan AL Qur-an dengan Talmud. Ia merasa AL Qur-an lebih sempurna, lebih logis, dan lebih argumentatif daripada Talmud. Dan pada pagi hari di bulan November 1954, Margaret masuk Islam.

Keluarga Margaret menghalang-halangi keinginan Margaret masuk Islam. Dengan banyak argumen mereka menyuruh Margaret keluar dari agama Islam. Keluarga Mrgret memperingatkan bahawa Islam akan menyulitkan hidup Margaret. Mereka berpendapat bahawa Islam tidak seperti Yahudi dan Kristian yang menjadi bagian sejak Amerika berdiri. Mereka memberitahukannya bahawa Islam akan membuatnya terasing. Terasing dari keluarga dan terisolasi dari masyarakat.

Pada masa itu keyakinan Margaret akan agama Islam belum terlalu kuat. Iapun tidak tahan terhadap tekanan-tekanan dari keluarga dan masyarakat sekitarnyanya. Sebagai hasil dari kekacauan dalam diri Margaret, ia mnenjadi terganggu jiwa dan pikirannya. Iapun harus DO dari kuliahnya. Selama dua tahun Margaret tinggal di rumah di bawah perawatan medis. Tetapi kesihatan jiwanya semakin memburuk.

Dalam keputusasaan sejak tahun 1957-1959 orang tua Margaret memasukkan Margaret ke rumah sakit jiwa pemerintah dan RSJ Swasta. Di RSJ pemerintah ini Margaret berjanji apabila ia benar-benar sembuh dan dipulangkan dari RSJ ini ia akan memeluk agama Islam dengan yakin seyakin-yakinnya.

Orang tua Margaret tetaplah orang tua. Mereka sangat menyayangi anaknya. Mereka tidak ingin anaknya tambah parah sakitnya. Mereka ingin anaknya cepat sembuh. Mereka tidak tega melarang Margaret untuk masuk Islam. Merekapun berjanji kepada Margaret, kalau Margaret benar-benar sembuh, ia akan dibolehkan masuk Islam. Limpahan kasih sayang dari orang tua Margaret sangat efektif menyembuhkan sakit jiwa yang diderita Margaret. Iapun akhirnya dibolehkan pulang pada tahun 1959.

Setelah Margaret pulang, ia mencari-cari peluang untuk bertemu kaum muslimin di New York. Iapun terus berdoa selain berusaha. Doa Margaret dikabulkan oleh Allah Yang Maha Penyayang terutama kepada hambanya yang mau menepati janjinya ketika di alam ruh. Iapun berhasil mempunyai kenalan muslimin dan muslimah yang telah memberikan harapan untuk bertemu dengannya. “Mereka adalah orang-orang yang paling baik”, demikian pendapat Margaret.

Pada tahun 1961 di ulang tahunnya yang ke-27 Margaret masuk Islam lagi. Ia bersyahadat disaksikan oleh Syekh Daud Ahmad Faisal dan berganti nama menjadi Maryam Jamilah.

Maryam juga mulai menulis banyak artikel untuk akhbar Islam di Amerika. Sebelum berkenalan dengan tokoh-tokoh Islam Maryam selalu menderita. Kalimat perpisahan pada deritanya baru boleh ia ucapkan setelah dikenalnya Sayyid Abul A’la al-Maududi, seorang imam besar umat yang tinggal di Pakistan. Mulai dari surat-menyurat yang mengharukan antara seorang bapak dengan putrinya, antara seorang muslimah intelektual dengan ulama besar yang ternyata sama sekali bersesuaian pendapat ini, akhirnya mentaslah dari gadis ini seorang Maryam Jamilah yang tegar.

Ternyata sebelum mereka mengemukakan pendapat mereka masing-masing cara berfikir mereka sudah sama. Dalam surat pertama Maududi kepada Margaret yang merupakan surat balasan, Maududi menulis: “Ketika saya membaca surat dan artikel anda, saya merasa membaca ide-ide saya sendiri. Saya harap perasaan anda akan sama ketika anda mempunyai kesempatan mempelajari bahasa Urdu dan membaca buku-buku saya. Walaupun dalam kenyataannya kita belum pernah berkenalan sama sekali. Kebulatan suara satu sama lain dari kita dalam pemikiran boleh disimpulkan langsung. Faktanya adalah bahawa kita berdua mempunyai sumber inspirasi yang sama dan satu: Islam”.

Berkat ketekunan dan semangatnya dan hidayah Allah swt, sebentar saja namanya telah boleh disejajarkan dengan ulama-ulama besar terkemuka di dunia Islam, menyusul rekan-rekannya sesama muallaf lain yang juga sahabat pena Margaret seperti: Marmaduke Pickthall, Muhammad Asad, T.B. Irving dan lain-lain.

Sebelum masuk Islampun Maryam sudah merasa bahawa integritas keagamaan di dunia kontemporer mempunyai ancaman yang sangat besar. Ancaman ini disebut gerakan modenisasi Barat. Gerakan ini bermaksud mencampur pengajaran agama dengan reformasi dan falsafah buatan manusia. Kalau si pemeluk agama itu punya filter yang kuat hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi kalau tidak? Tentu bermasalah!

Mengapa Maryam atau Margaret berpendapat demikian? Ketika kecil dan remaja ia mengalaminya sendiri. Keluarganya yang kurang taat pada agama Yahudi semakin hancur keyakinannya kerana modenisasi Barat. Mereka akhirnya hanya Yahudi KTP saja. Organisasi yang berkedok Yahudi reformis yang pernah ia masukipun sami mawon. Malah organisasi inilah yang membuatnya menjadi atheis.

Ketika masuk Islam lagi Margaret yang mengganti namanya menjadi Maryam Jamilah terkejut pula melihat kenyataan banyak sarjana muslim didikan Barat yang ragu-ragu dengan ajaran Islam. Antara lain mereka mengatakan bahawa ajaran Islam mencontek dari ajaran Yahudi. Iapun ingin memerangi ini melalui tulisan. Abul A’la AL Maududipun sangat mendukung rencana Maryam ini.

Maryam menulis banyak artikel di majalah The Islamic Review dan The Muslim Digest. Di antara artikel itu terdapat tulisan berjudul “Sebuah Kritikan terhadap buku Islam in Moden History” (buku itu dikarang oleh Wilfred Cantwell Smith). Artikel lain berjudul “Kritik terhadap buku Reinterpretation of Islam” berisi kritik terhadap buku karangan Asaf A. Fyzee (wakil rektor Universitas Kashmir). Buku ini berbicara tentang Islam yang diungkapkan menjadi etika kosong yang tidak memberi dampak kepada pembentukan masyarakat dan kebudayaan (terbit tahun 1960).

Sama seperti Maududi Maryam juga mengkritik Sosiolog Turki Ziya Gokalp. Di Indonesia Buya Mohammad Natsir juga mengkritik Ziya Gokalp dalam polemik dengan Soekarno. Memang pemikiran Ziya seperti apa sich, koq banyak yang mengkritik? Ziya mengatakan bahawa nasionalisme dan sekularisme cocok dengan Islam. Sudah pasti tokoh-tokoh Islam di atas tidak setuju. Maryam juga membantah pendapat Sir Sayyid Ahmad Khan yang sangat mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan falsafah Eropah. Ia juga mengkritik para pembaru Mesir seperti Muhammad Abduh dan Taha Husain. Ia menentang pula Presiden Tunisia Habib Bourguiba (memerintah 1957-1987) yang menyatakan bahawa puasa Ramadhan merupakan penghalang pembangunan ekonomi Tunisia.

Pada tahun 1962, atas tawaran Al Maududi Maryam Jamilah pindah ke Pakistan dan menetap di Lahore sebagai anggota keluarga Al Maududi. Setahun kemudian ia menikah dengan Yusuf Khan, seorang pengurus harian Jami’at Islami, gerakan kader Islam yang didirikan Maududi pada tahun 1941.

Saat ini Maryam masih hidup dan menjadi penulis terkemuka di dunia antarabangsa Penanya sangat tajam menusuk, membenah, dan melawan peradaban Barat yang berlawanan dengan peradaban Islam.

Komen-komen»

1. Boston - April 25, 2008

apa maksud semua ini


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: