jump to navigation

Partai GAM dan Kontroversi RI November 18, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Sifat Nabi Sebagai Panduan Dasar Birokrasi Aceh yang Islami Untuk memastikan wujudnya sebuah birokrasi yang betul-betul Islami maka kerangka dasar dari sifat Rasulullah SAW mestilah dipahami dan diamalkan sepenuhnya. Empat sifat yang wajib ada pada Rasulullah tersebut adalah: Shiddiq, Amanah, Thabligh, Fathanah. Keempatnya telah menghantar baginda ke tampuk keberhasilan dalam berjuang dan perjuangan panjangnya menegakkan kekokohan wilayah Islam, memperkuat kekompakan muslim dan memantapkan kejayaan Islam. Untuk itu pula kerangka dasar tersebut mustahak dibahas dan dikupas dalam huraian ini.

Shiddiq (benar dan jujur) maksudnya, apapun yang disampaikan Rasulullah SAW adalah benar dan disampaikan dengan jujur. Tidak mungkin ada wahyu yang dibikin-bikin secara dusta (kizb) dan tidak akan ada wahyu yang diselewengkan. Kebenaran dan kejujuran seorang nabi mencakup jujur dalam niat, jujur dalam maksud, jujur dalam perkataan, serta jujur dalam tindakan. [1]

Sifat Siddiq tersebut yang menghantarkan Rasulullah SAW memperoleh kepercayaan dan mendapatkan gelar al-amin dari kaum kafir. Karena beliau selalu benar dan jujur dalam beramal maka tiada seorang pun yang menaruh curiga dan antipati dalam gerakan-gerakan yang diprakarsainya kecuali orang-orang kafir Quraisy yang sudah benci ruman kepada-Nya. Sementara para sahabat dan ummat Islam lainnya tidak ada yang ragu dan curiga terhadap baginda karena memiliki sifat shiddiq tersebut. sifat tersebut diaplikasikan baginda dalam kehidupan sehari-hari baik yang berhubungan dengan persoalan ummah maupun keluarga.

Kepada kaum birokrat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang wilayahnya dinyatakan berlaku hukum Islam hari ini wajib mentauladani, mengikuti dan mengamalkan sifat shiddiq tersebut sehingga semua birokrat Aceh menjadi orang-orang benar dan jujur. Cukup sudah kita memanipulasi data dan mengolah setiap bantuan yang dialamatkan kepada masyarakat yang ditimpa musibah. Sekarang masanya untuk memahami dan mengikuti sifat Shiddiq Rasulullah SAW dalam berbagai lini kehidupan, terutama sekali dalam mengayomi pemerintahan Aceh yang tengah berlaku hukum Islam.

Semua anggota birokrat Aceh harus benar dalam berbicara, benar dalam berbuat, benar dalam menerima amanah, benar menyampaikan amanah dan jujur serta ikhlas dalam beramal dan menjalankan semua tugas birokrasi. Ini menjadi modal utama untuk mewujudkan sebuah birokrasi yang Islami di Nanggroe Aceh. Selama ini bangsa Aceh terpengaruhi oleh rezim berkuasa di Indonesia terutama sekali rezim Orde Baru yang memanipulasi semua lini kehidupan bangsa dengan berbagai istilah-istilah yang enak didengar tetapi susah dan berbahaya ketika diamalkan.

Seorang pemimpin di Aceh terserah bagaimana level kepemimpinannya wajib mengikuti sifat Shiddiq yang ada pada diri Rasulullah SAW kalau benar-benar sayang kepada Islam, Aceh dan penghuninya. Kita sudah sangat lama hidup dalam keambrukan akhlak para pemimpin di negeri ini akibat politik dan budaya salah kaprah yang ditransfer dari Pulau Jawa ke Aceh. Efeknya, sudah lebih setengah abad negeri ini merdeka namun tidak ada apa-apa yang bisa dihandalkan kepermukaan. Pendidikan sangat merosot, ekonomi sangat ambruk, politik hancur-hancuran, budaya terinfeksi oleh budaya asing, persaudaraan sesama bangsa hampir tidak ada sama sekali. Hal ini sangat beda dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura yang kemajuan negara setaraf dengan kemajuan bangsa dalam berbagai dimensi kehidupan.

Semua itu sangat didominasi oleh kerja para birokrat di masa lampau yang mengeruk kekayaan pribadi atas hak dan tanggung jawab rakyatnya. Mereka senantiasa membohongi rakyat ketika berhadapan dengan uang, bertindak sebagai wasit yang tidak pernah jujur dalam berbagai kesempatan. Kebenaran hanya ada dalam konsep tetapi tidak pernah dipraktekkan dalam kehidupan kaum birokrat. Keadaan seumpama itu lama-lama menjadi firus kepada masyarakat dan masyarakat pun ikut-ikutan dengan para birokrat untuk berlomba-lomba menipu rakyat dan main akrobat.

Untuk itu semua, birokrat Aceh kini haruslah mempertimbangkan hal-hal sensitif dalam kehidupan ini menyangkut dengan konsep shiddiq ini, seperti;

1. Kalau tidak berbuat benar akan berdosa dan dihukum dalam api neraka.
2. Kalau tidak jujur dalam memegang amanah akan terancam dengan api neraka dan akan hilang kepercayaan dari rakyatnya.
3. Tidak ada kebohongan yang membawa berkah dan selamat dunia akhirat. 4. Kebohongan hanya menjadi batu loncatan menuju neraka.
5. Orang-orang bohong, tidak berkata dan berbuat benar serta jujur selalu diejek dan hilang kepercayaan dari masyarakatnya.
6. setiap pembohong itu bukan ummat nabi.
7. hidup dengan benar dan jujur walaupun dengan kapasitas cukup-cukupan jauh lebih bermakna, terhormat dan mulia di sisi tuhan dan juga di hadapan manusia.

Berikut dua ayat Al-Qur’an berkenaan dengan benar dan jujur:

Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya. (al-Baqarah; 42).

Dan (kenangkanlah) ketika Kami turunkan kepada Nabi Musa kitab (Taurat) dan keterangan-keterangan (yang terkandung di dalamnya, yang membedakan antara yang benar dengan yang salah), supaya kamu mendapat petunjuk. (al-Baqarah; 53).

Amanah, (Dapat dipercaya), maksudnya, semua yang disampaikan baik berupa ucapan maupun perbuatan, sekalipun hanya dengan cara memberikan contoh secara pasif, dapat dipercaya, dan diyakini serta dapat dipertanggungjawabkan sebagai sesuatu yang datang dari Allah SWT. Semua disampaikan secara utuh dan mustahil dia khianat (khiyanah) dan mustahil memanipulasi informasi.

[2]Rasulullah SAW manusia jujur dan semua tutur katanya benar sehingga beliau dapat dipercaya dalam kehidupannya bukan hanya oleh ummat Islam, tetapi juga oleh orang-orang kafir. Bahkan gelar al-Amin yang disandangnya diberikan orang kafir bukan muslim.Dalam kehidupan muslim hari ini, perkataan amanah diidentikkan dengan tepat sasaran menyampaikan titipan orang dan tidak meleset sesuai yang dititipkan (yang diamanahkan). Ketika yang dititipkan tersebut sudah tepat maka orang yang dipercayakan tersebut dianggap sebagai orang yang punya amanah. Artinya dia sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya sehingga dapat dipercaya dalam kehidupannya oleh siapa saja.

Akan halnya amanah dalam konteks birokrasi Aceh hari ini, semua pegawai pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam harus mengikuti jejak langkah amanah yang disandang serta di praktekkan Rasulullah SAW. Bagaimana mereka harus bekerja dengan serius, yakin dan sungguh-sungguh sehingga mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Bagaimana caranya memaksa diri sebagai abdi masyarakat agar masyarakat mendapat servis dan pelayanan yang memuaskan. Kalau upaya-upaya maksimal ke arah itu dapat diwujudkan maka sifat Amanah yang ada pada Nabi dapat teraplikasi dalam kehidupan birokrasi Nanggroe Aceh Darussalam.

Punca awal sifat amanah itu muncul dari manifestasi keimanan seseorang pejabat negara atau pegawai negeri yang mengurus rakyat dan negara. Tanpa dibekali oleh iman yang kuat dan mantap siapa pun orangnya akan tetap terpengaruh oleh silaunya bisikan hawa nafsu yang berakhir dengan mengutamakan kepentingan pribadi dan membiarkan kepentingan rakyat dan negara. Ketika ini terjadi seperti di masa-masa lampau maka apa pun konsep dan sejauh mana pun bagusnya akan tidak berkesan dan tidak bermakna bagi pembenahan sebuah birokrasi yang Islami khususnya di Nanggroe Aceh ini.

Karena itulah beberapa langkah berikut perlu diamalkan dan disosialisasikan dalam berkegiatan sebagai birokrat di Aceh;

1. Agar menjadi orang yang amanah, maka pelajari dan ikuti semua jejak langkah kepemimpinan Rasulullah saw.
2. Amalkan semua langkah tersebut dengan tulus, ikhlas dan penuh keyakinan walaupun sedikit yang didapatinya setiap hari.
3. Jauhkan diri dengan permainan calo, agen, suap, korupsi dan hal-hal lain yang dapat menghilangkan sifat amanah pada diri kita.
4. Tingkatkan ibadah-ibadah sunah selain yang wajib (seperti puasa sunat, shalat sunat, umrah dan sebagainya) sebagai media menuju dan mempertahankan sifat amanah.
5. Pastikan segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup ini jauh dari dosa dan jauh pula dari syubhat.

Berikut ayat-ayat al-Qur’an tentang amanah:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan apabila kamu menjalankan hukum di antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhanNya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah senantiasa Mendengar, lagi senantiasa Melihat. (an-Nisak; 58).

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati (amanah) Allah dan RasulNya, dan (janganlah) kamu mengkhianati amanah – amanah kamu, sedang kamu mengetahui (salahnya). (al-Anfal; 27).

“Sesungguhnya aku ini ialah Rasul yang amanah, (yang diutus oleh Allah) kepada kamu. (asy-Syu’arak; 107, 143, 162, 178).

“(Tugasku) menyampaikan kepada kamu akan perintah-perintah (yang diutuskan oleh) Tuhanku, dan aku adalah pemberi nasihat yang amanah, bagi kamu. (al-A’raf; 68).

Berkatalah Ifrit dari golongan jin: “Aku akan membawakannya kepadamu sebelum engkau bangun dari tempat dudukmu, dan sesungguhnya aku amatlah kuat gagah untuk membawanya, lagi amanah “. (an-Naml; 39).

Salah seorang di antara perempuan yang berdua itu berkata: “Wahai ayah, ambillah dia menjadi orang upahan (mengembala kambing kita), sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah “. (al-Qasas; 26).

(Yang memberitahu kepada mereka dengan katanya): Berikanlah kepadaku wahai hamba-hamba Allah (apa-apa yang menandakan kamu menerima kerasulanku); sesungguhnya aku ini seorang Rasul yang amanah, yang diutuskan kepada kamu. (ad-Dukhan; 18).

Tabligh, (Menyampaikan), maksudnya, bagi seorang nabi yang tidak sekaligus sebagai rasul, apa pun yang diberikan kepadanya yang pantas disampaikan, sekalipun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, pasti disampaikannya setidak-tidaknya dengan cara memberikan contoh teladan. Umpamanya, apabila ia diberi petunjuk dan bimbingan berakhlak mulia, maka petunjuk dan bimbingan itu dilaksanakannya secara utuh untuk dicontoh oleh ummat. Bagi seorang nabi yang sekaligus seorang rasul yang diperintahkan untuk menyampaikan ajaran yang diwahyukan kepadanya, ajaran itu pasti disampaikan secara utuh dan sempurna. Mustahil bagi seorang nabi dan/atau rasul menyembunyikan (kitman) informasi yang diterimanya yang pantas bahkan seharusnya disampaikan. Tidak dapat diterima akal bila ada informasi yang disembunyikannya dan/atau dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi agar orang lain tidak dapat menerimanya.

[3]Menyampaikan kebenaran kepada orang lain merupakan upaya mulia dan baik, apalagi kalau diikuti dengan larangan perbuatan mungkar atau keji sebagai upaya pembersihan amalan seseorang hamba. Ia termasuk dalam konteks amar ma’ruf nahi mungkar untuk mewujudkan masyarakat Islam yang bersih dari berbagai dosa. Oleh karena itu, siapa saja yang menjadi birokrat di Aceh haruslah menyampaikan kebenaran dan melarang kemungkaran kepada staf dan bawahannya terutama sekali, dan kepada rakyatnya sebagai manifestasi tanggung jawab jabatan dan moral.

Kekeliruan yang terjadi selama ini adalah para birokrat sama sekali tidak mau menyampaikan kebenaran kepada pegawainya karena ia sendiri masih banyak kesalahan yang dilakukan, baik secara sengaja atau tidak. Hal ini ada kaitannya dengan sosok pemimpin yang menurut cerminan Islam harus orang yang faham tentang Islam. Jadi pemimpin dalam Islam haruslah seorang ulama atau cendekiawan muslim yang menguasai ilmu agama dan ilmu umum. Ketika pemimpin diangkat dari kalangan sembarang orang, maka konsep amar ma’ruf nahi munkar sulit sekali diaplikasikan. Karenanya upaya menyampaikan kebenaran dari pihak atasan kepada bawahan dalam sesuatu birokrasi sangat minim bahkan tidak ada sama sekali.

Ada banyak pejabat negara yang berilmu tetapi tidak mau menyampaikan kepada orang lain khususnya para pegawainya karena ia masih suka berbuat kesalahan terhadap perintah Islam. Padahal dengan menyampaikan kebenaran kepada orang lain secara otomatis kita akan terhindar dari kesalahan yang ada karena sudah ada alat kontrol dalam diri kita. Tetapi kalau terus menerus bersikap acuh terhadap konsep amar ma’ruf nahi munkar maka birokrasi NAD tidak akan berubah sebagaimana diharapkan. Malah pelaksanaan Syari’at Islam pun akan terancam gagal di sini, untuk itu birokrat haruslah menjadi pionir dalam menyampaikan kebenaran kepada rakyatnya dengan menjaga kemurnian dan kesucian amalan diri sendiri.

Jadi birokrat Aceh haruslah menyampaikan kebenaran kepada semua orang sebagai upaya amar ma’ruf dan melarang semua orang berbuat salah sebagai manifestasi dari nahi munkar. Selain itu ia juga harus menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada setiap orang agar mendapatkan manfa’atnya baik di dunia maupun di akhirat. Metode atau teknis atau cara kerja yang baik, efektif dan efisien juga harus disampaikan kepada setiap orang terutama sekali para stafnya agar mereka mudah dan cepat dalam bekerja. Berikut beberapa ayat Al-Qur’an tentang menyampaikan :

Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk (karena kewajibanmu hanya menyampaikan petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada siapa yang dikehendakinya (menurut undang-undang peraturanNya). Dan apa jua harta yang halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan karena menuntut keredaan Allah dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang halal, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan. (al-Baqarah; 272).

Oleh sebab itu jika mereka berhujjah (menyangkal dan) membantahmu (Wahai Muhammad), maka katakanlah: “Aku telah berserah diriku kepada Allah dan demikian juga orang-orang yang mengikutku”. Dan bertanyalah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab, dan orang-orang yang “Ummi” (orang-orang musyrik Arab): “Sudahkah kamu mematuhi dan menurut (agama Islam yang aku bawa itu)?” Kemudian jika mereka memeluk Islam, maka sebenarnya mereka telah memperoleh petunjuk; dan jika mereka berpaling (tidak mahu menerima Islam), maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (dakwah Islam itu). Dan (ingatlah), Allah senantiasa Melihat (tingkah laku) sekalian hambaNya. (Ali Imran; 20).

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya); dan berjuanglah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam) supaya kamu beroleh kejayaan. (al-Maidah; 35).

Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu; dan jika engkau tidak melakukannya (dengan menyampaikan semuanya), maka bermakna tiadalah engkau menyampaikan perutusanNya; dan Allah jualah akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada kaum yang kafir. (al-Maidah; 67).

Dan kaum engkau (wahai Muhammad) mendustakannya (Al-Quran), padahal ia adalah benar. Katakanlah: “Aku bukanlah orang yang ditugaskan menjaga urusan kamu, (aku hanya seorang Rasul yang menyampaikan perintah-perintah Allah kepada kamu)”. (al-An’am; 66).

“(Tugasku) menyampaikan kepada kamu perintah-perintah yang (diutuskan oleh) Tuhanku, serta aku memberi nasihat kepada kamu, sedang aku mengetahui (melalui wahyu) dari Allah akan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (al-A’raf; 62).

Fathanah, (Cerdik, Pintar dan Bijaksana), maksudnya seorang nabi harus orang cerdik dan pintar, memiliki wawasan yang luas, pemikiran yang mendalam dan pandai memilih secara tepat serta bijaksana. Oleh karena itu mustahil seorang nabi memiliki sifat bodoh dan dungu (biladah), sehingga dengan kebodohan itu dia akan bingung untuk memilih yang terbaik di antara yang baik. Adapun sifat yang mungkin, boleh jadi ada dan boleh jadi tidak atau sewaktu-waktu ada dan sewaktu-waktu tidak ada adalah sifat sebagaimana manusia biasa. Seorang nabi makan dan mati (Qur’an surah 21 ayat 8), berjalan di pasar (Qur’an surah 25 ayat 7 dan 20), beristeri dan berketurunan (Qur’an surah 13 ayat 38), merasakan rindu, senang, marah, sakit dan berbagai sifat kemanusiaan lainnya. Namun demikian, bukan berarti semua sifat kemanusiaan boleh ada pada nabi. Semua sifat kemanusiaan yang akan merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan adalah mustahil ada pada diri seorang nabi. Sebab pengangkatan seorang nabi justru untuk menjadi dan meningkatkan derajat dan martabat kemanusiaan tersebut.

[4]Seorang pejabat negara yang mengayomi masyarakat dalam berbagai bidang mestilah orang cerdik, pintar dan bijaksana. Hal ini sangat penting mengingat tugas seorang pejabat atau birokrat yang sangat komplit yang harus ditanganinya. Ia berhadapan dengan masyarakat dari berbagai kalangan dan berbagai level kehidupan, tanpa kecerdikan dan kebijaksanaan maka sulit baginya mengurus rakyat. Oleh karena itu sebaiknya orang-orang yang ditunjuk menjadi pengayom masyarakat itu harus sesuai pula dengan selera dan menyatu dengan masyarakat setempat.

Anggota birokrat di Nanggroe Aceh Darussalam harus memaksa diri untuk memiliki sifat cerdik, pintar dan bijaksana. Keperluannya menyangkut dengan keberhasilan mereka sendiri dalam menjalankan tugas harian dan juga untuk memberikan layanan yang memuaskan kepada masyarakat Aceh. Selain itu, yang namanya mengikut cara dan gaya hidup nabi akan mendapatkan pahala karena itu menjadi bahagian daripada sunnah. Ketika ada pergantian jabatan, pihak atasan harus betul-betul menempatkan orang yang sesuai dengan kemampuan dan kemahirannya, sehingga ia dapat bekerja dengan baik dan masyarakat merasa puas dengan kerjanya.

Sifat cerdik, pintar dan bijaksana tidaklah mudah dimiliki seseorang manusia dalam kehidupannya. Tetapi ia dapat diperoleh dengan usaha dan kerja keras dengan niat ingin merubah kebiasaan tidak baik menjadi baik. Oleh karena itu semua pihak diharapkan berusaha untuk memiliki sifat cerdik, pintar dan bijaksana. Dengan cerdik manusia dapat melepaskan diri dari berbagai rintangan dan tantangan yang ada. Dengan pintar manusia dapat menguasai berbagai pihak untuk kepentingan diri dan rakyatnya. Dengan bijaksana manusia dapat menyelesaikan setiap persoalan yang muncul dalam kehidupannya.

Karenanya seorang anggota birokrat di Aceh harus mengikuti dan menjalankan kehidupan yang cerdik, pintar dan bijaksana dalam upaya mengembangkan Aceh ke depan menjadi wilayah maju dan makmur. Kalau sikap dan sifat birokrat masih belum berubah seperti sebelumnya maka sulit Aceh itu bisa maju dan berkembang. Untuk mewujudkan kondisi ril seumpama itu haruslah diadakan sejumlah rancangan dan kebijakan-kebijakan agar ada pegangan dalam beramal.

Untuk menuju ke sana maka langkah-langkah berikut sangat perlu diperhatikan oleh birokrat dan para pemimpin Aceh hari ini:

1. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) sangat penting dalam upaya menggapai birokrat yang cerdik, pintar dan bijaksana.
2. Peningkatan dan pemantapan ‘aqidah Islamiyah kepada mereka sangat penting untuk mengawal keyakinan beragama dan kesungguhan beribadah kepada khaliknya.
3. Pemahaman Syari’ah secara menyeluruh merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak dilakukan agar mereka faham dan tau bagaimana mengamalkannya.
4. Akhlak karimah atau moral terpuji merupakan kunci keberhasilan bagi seseorang birokrat di Aceh, untuk itu pastikan semua birokrat Aceh harus memilikinya dengan sempurna.
5. Penyelesaian setiap masalah dengan arif dan adil merupakan poin terpenting yang harus dimiliki setiap birokrat Aceh, mengingat kehancuran Aceh masa lalu lebih banyak disebabkan oleh faktor ketidak arifan dan ketidak adilan tersebut.
Satu ayat Al-Qur’an untuk poin ini adalah:

Dan ujilah anak-anak yatim itu (sebelum baligh) sehingga mereka cukup umur (dewasa). Kemudian jika kamu nampak dari keadaan mereka (tanda-tanda yang menunjukkan bahawa mereka) telah cerdik dan berkebolehan menjaga hartanya, maka serahkanlah kepada mereka hartanya; dan janganlah kamu makan harta anak-anak yatim itu secara yang melampaui batas dan secara terburu-buru (merebut peluang) sebelum mereka dewasa. Dan siapa (di antara penjaga harta anak-anak yatim itu) yang kaya maka hendaklah ia menahan diri (dari memakannya); dan siapa yang miskin maka bolehlah ia memakannya dengan cara yang sepatutnya. Kemudian apabila kamu menyerahkan kepada mereka hartanya, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (yang menyaksikan penerimaan) mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (akan segala yang kamu lakukan). (an-Nisak; 6).

Rujukan:

[1] Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jilid 4, cet. 3, 1999, hal., 1277.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hal 1277-1278

[4] Ibid., hal., 1278

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: