jump to navigation

Sokrates, Husayn dan Kematian! November 26, 2007

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Muhammad Ashar

Thomas Carlyle pernah berujar bahawa, “history of the world is the biography of the great man.” Bagi Carlyle, “The Great Man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”. Teori Great Individuals sangatlah pantas disematkan pada Sokrates dan Husayn bin Ali Abi Thalib. Keduanya merupakan wajah kebenaran dan pengorbanan.

Musim Semi [1] 339 SM, Sokrates dihukum mati oleh penguasa Athens. Mereka menuduh Sokrates ingkar kepada dewa-dewa, memperkenalkan agama baru dan meosak pemikiran kaum muda. Sokrates berkesempatan meninggalkan keyakinannya dan mengikuti keyakinan yang lebih murni. Namun failasuf ini lebih memilih untuk mempertahankan keyakinannya. Berhadapan dengan kematian, Sokrates bersedia dengan penuh ketenangan.

Sokrates dengan tenangnya berkata kepada para muridnya, “Selagi masih boleh bernafas dan berfikir, diriku takkan pernah berhenti mengamalkan falsafah, menyebarkan padamu dan menjelaskan kebenaran bagi setiap orang yang kutemui, jadi entah, membebaskanku atau tidak, kalian pasti tahu bahawa sikapku tidak akan pernah berubah. Bahkan, tidak juga seandainya aku harus menjalani seribu kematian.” [2]

Ketegaran dan keberanian luar biasa yang ditunjukkan oleh Sokrates demi mempertahankan keyakinan meski dengan mengorbankan hidupnya. Sang Bijak inipun meneguk racun yang akhirnya menjemput kematiannya yang agung.

Kematiannya merupakan momentum terpenting kebangkitan falsafah. Setelah kematiannya terjadi perubahan besar dalam peradaban Yunani dan Sang Bijak inipun meninggalkan warisan bagi para pengikutnya yang cemerlang. Sebuah ajaran kebenaran nan agung yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. Demikianlah Sokrates, failasuf Agung.

Karbala, 10 Muharram 61 H, seorang lagi manusia agung, cucu terkasih Rasulullah Saw, putera Ali, turut menyongsong kematiannya yang agung. Seperti pendahulunya, Sokrates, Imam Husayn telah dihadapkan dengan sebuah pilihan, tetapi tetap memegang teguh ajaran datuknya. Menolak baiat yang diarahkan adalah “kematian” sementara menerimanya adalah “kehidupan.”

Mujahid agung ini berkata, “Aku tetap akan meneruskan langkahku. Sebab bagi seorang pemuda, mati itu bukan sesuatu yang memalukan, apabila kebenaran menjadi niatnya dan berjuang sebagai seorang muslim. Kalau aku tetap hidup, aku tak akan pernah menyesal Dan kalau aku mati, aku tidak menderita. Cukuplah untuk disebut dengan kehinaan bila engkau tetap hidup tapi dihinakan.”

Imam Husayn pun menerjang dengan gagah berani dihadapan musuh-musuh kebenaran dan wahyu. Pedang, panah, tombak dan ribuan prajurit tak membuatnya takut, apalagi gentar. Karbala menjadi saksi bisu kisah manusia agung ini. Ia mengukir narasi agung kebenaran melalui tinta darah. Pengorbanan yang tiada tara, dirinya dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya turut serta dalam khafilah kesyahidan.

Dengan manisnya Murthada Muthahhari pernah menceritakan dialog Imam Husayn dengan sahabat-sahabatnya, “Wahai sahabat-sahabatku! Wahai Ahlulbaytku! Aku sudah kehabisan kata dan waktu untuk berterima kaseh kepada kalian semua! Namun, ketahuilah, mereka hanya menginginkanku, mereka hanya berurusan denganku tidak dengan yang lain. Jika kalian sudah berbaiat kepadaku, maka aku cabut baiat itu. Kalian semua bebas. Sesiapa yang hendak pergi, pergilah. Kalian boleh membawa serta keluargaku dan anak-anakku!”

Abu Fadlh Abbas, salah satu sahabat setia Imam Husayn berkata, “Janganlah berkata demikian! Bangaimana boleh kami meninggalkan anda sendirian! Nyawa kami tidak banyak, namun kami akan mengorbankannya! Seandainya Allah Swt memberi seribu nyawa kepada kami, kami tetap akan mati bersama anda.”

Imam Husayn pun berkata, “Sahabat-sahabatku, hari ini akan kuungkap satu rahasia kepada kalian semua, bahawa kita akan mati besok dan tidak ada yang tersisa besok.”

Mendengar ucapan Imam Husayn tersebut, semua sahabatnya mengucapkan rasa syukur atas kurnia agung itu. Namun tiba-tiba, Qasim, putera Imam Hasan yang berusia 13 tahun, lalu bertanya seraya memperlihatkan kekuatirannya, “Wahai pamanku, apakah besok aku turut akan mendapatkan kesempatan menjemput syahadah?”

Mengerti hasrat remaja itu, Imam Husayn membalas, “Putera saudaraku, sayangku! Aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimanakah mati itu menurutmu?” Qasim dengan gagahnya menjawab, “Kematian adalah lebih manis dari madu. Aku takut jika tidak boleh merasakan kematian bersamamu.”

Imam Husayn dengan kasih sayangnya yang teramat agung berkata, “puteraku, besok kamu juga akan mendapat kurnia syahadah, tapi sebelumnya kamu akan merasakan sakit yang tak pernah terwakilkan kata-kata”. [3]

Pasca kesyahidan beliau, timbullah pemberontakan besar yang hasilnya adalah kembalinya ajaran datuk beliau yang murni. Andai tak ada syahadah, maka Islam yang murni telah hilang ditelan bumi. Dialah Imam Husayn, pelindung agama Rasulullah saw dengan darahnya.

Sokrates dan Imam Husayn beserta sahabatnya adalah orang-orang yang menjadikan kematian sebagai wasilah perlawanan. Keagungannya akan tetap hidup, menjadi inspirasi bagi manusia-manusia agung berikutnya. Mereka menjemput kematian. Kematian tidak mendatangi mereka. Mereka lebih terhormat dari maut itu sendiri. Keagungannya membuat maut tak berdaya.

Mereka adalah The Great Individuals, mereka “always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed.” [3]

Rujukan:

[1] Musim semi merupakan peralihan dari musim dingin ke musim panas.

[2] Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial, Rosda, 1999, hal 167

[3] Alain de Botton, The Consolations of Philosophy, 2003, hal 4

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: