jump to navigation

Birokrat Aceh Dan Pergaulan Sehari-Hari Disember 6, 2007

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusof Adan

Dalam Islam, posisi manusia tidak dibezakan antara satu dengan lain suku atau bangsa, antara lelaki dengan wanita kecuali yang berkenaan dengan kodrat seperti perempuan ada mengandung anak, menyusui, haid, nifas, dan wiladah, sementara lelaki tidak. Firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim:

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu). (al-Hujurat: 13).

Hasanuddin Yusof Adan, kini merupakan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam, di samping bertugas sebagai akademia di Fakulti Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry. Kolum Nanggroe Aceh ini diusahakan bagi memaparkan perkembangan serta pembangunan Aceh terutamanya pasca-tsunami dan pasca-perang. Untuk sebarang pertanyaan, beliau dapat dihubungi menerusi emel: diadanna61@yahoo.com.

Banyak hadis Rasulullah saw yang menegaskan bahawa tidak ada beza antara orang yang berbangsa Arab dengan non Arab, antara orang yang berkulit putih dengan berkulit hitam kecuali pada tingginya nilai takwa seseorang itu terhadap Allah swt. Kerana itu pula tidak dapat dibezakan antara seorang atasan dengan seorang bawahan dalam sesuatu birokrasi yang mendudukkan atasan lebih mulia dan bawahannya lebih hina kecuali dinilai dengan hitungan takwa kepada Allah swt.Kerananya baik secara manusiawi maupun dalam pandangan agama, sama sekali tidak boleh seorang atasan menghina bawahannya atau memperlakukannya seperti budak atau dengan cara apapun yang dapat merendahkan derajat kemanusiaannya. Sebaliknya mereka bergaul dan bekerja dengan sopan, muslihat, santun dan beradab kerana keduanya merupakan hamba Allah yang sama posisi di hadapan Allah swt. Dalam menjalankan tugas kesehariannya tidak salah kalau atasan meminta dengan hormat dan sopan kepada bawahannya untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan kantor bagi keperluan rakyatnya khususnya yang berkaitan dengan bidang kerjanya. Demikian juga dengan bawahan harus selalu sopan dan hormat terhadap atasan dalam bekerja di kantor atau berjumpa di luar kantor kerana itu merupakan bahagian dari sistem akhlak dan sopan santun dalam Islam.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang atasan dan bawahan di sesuatu kantor dalam bekerja, antara lain:

1. Atasan harus memperlakukan bawahannya sesuai dengan tuntutan Islam.
2. Bawahan harus menerima perlakuan atasan yang sesuai dengan Islam.
3. Atasan tidak boleh memaksa bawahan untuk bekerja kalau perbuatan tersebut bukan haknya atau berlawanan dengan hukum dan undang-undang, khususnya Hukum Islam.
4. Kalaupun dipaksa maka bawahan sama sekali tidak boleh melakukannya kerana bukan haknya, kalaupun dapat dan harus dilakukannya maka khusus yang tidak berlawanan dengan hukum dan undang-undang yang ada, khususnya Hukum Islam.
5. Kalau bawahan berlawanan jenis dengan atasan, maka atasan harus menjaga jarak di kantor, tidak boleh bertempat satu kamar di kantor tanpa ada orang lain, tidak boleh mengajak bawahan pergi sama keluar kantor kalau bukan atas keperluan kantor dan ditemani oleh wanita lain.
6. Kalaupun diajak atasan untuk tujuan yang tidak menentu, maka bawahan harus siap menolaknya dan atasan tidak boleh mendiskreditkan dia kerana perkara tersebut.
7. Atasan harus menjaga kesehatan dan kesejahteraan bawahannya dalam berbagai sisi kehidupan.
8. Bawahan harus memberitahukan kepada atasan manakala mengalami sakit, mempunyai problem dengan siapa saja yang diperkirakan dapat mengganggu tugas kantor, dan atasan harus menyelesaikannya.
9. Baik bawahan maupun atasan sama-sama harus bekerja keras sesuai dengan bidang masing-masing agar terpenuhi keperluan rakyat.

Hubungan Sesama Pegawai

Setiap pegawai di sesuatu kantor di Aceh diharapkan membangun rasa ukhuwah Islamiyyah baik selama bekerja di kantor maupun di luar kantor. Silaturahmi sesama pegawai sangat digalakkan untuk mendapat berkah dari Allah kepada mereka semua. Keakraban yang dibina melalui silaturahmi tersebut tidaklah berkisar antara pegawai dengan pegawai saja, tetapi juga ikut dilibatkan keluarga mereka semua, agar saling mengenal dan saling membantu di mana dan kapan diperlukan.
Saling bantu, saling memberi tahu dan saling mengingatkan haruslah terjadi antara sesama pegawai di sesuatu kantor untuk mengatasi kesulitan dan kekurangan seseorang pegawai itu sendiri. Tidak boleh ada saling memotong, saling menghambat dan saling menggunjing dalam bekerja kerana ingin berebut kekuasaan dan jabatan. Kekuasaan dan jabatan tersebut merupakan amanah yang wajib dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat nantinya. Kerana itu Rasulullah saw melarang hal meminta-minta jabatan, beliau bersabda:

“Jangan kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu.”

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh berkaitan hubungan sesama pegawai dalam sesuatu kantor atau birokrasi adalah:

1. Hidup suburkan rasa ukhuwah Islamiyah dalam kalangan pegawai dari berbagai level, pangkat dan golongan.
2. Harus saling memberikan informasi kepada semua teman agar mereka tidak merugi kerana tidak mendapatkannya, baik informasi positif maupun negatif.
3. Saling bersilaturahmi antar pegawai baik selama di kantor maupun ke rumah atau tempat-tempat yang ditentukan.
4. harus saling menjenguk dan mengunjungi teman-teman yang dilanda musibah, sakit maupun meninggal dunia.
5. Kepedulian terhadap keluarga teman sekantor dengan batas-batas yang dibenarkan dan dianjurkan Islam harus selalu terjadi dalam kehidupan antar pegawai.

Hubungan Pegawai Laki-Laki Dan Perempuan

Hubungan sesama pegawai di sesuatu kantor sebenarnya tidak ada hal yang harus dipermasalahkan asalkan ia berkisar antara lelaki dengan lelaki dan wanita dengan wanita atau lelaki dengan wanita yang ada hubungan mahrim. Selain itu apapun alasannya tidak boleh terlalu akrab hubungan kedua jenis manusia itu kerana dikhawatirkan akan menjurus kepada kejahatan dan maksiat. Sudah cukup banyak contoh dan pengalaman yang berlaku dari berbagai kasus di berbagai tempat yang berakhir dengan mesum, maksiat dan kejahatan.

Dalam bekerja menjalankan tugas kantor semua pegawai harus bekerja secara transparan, bersama-sama dan tidak boleh bekerja di luar kantor antara pegawai lelaki dengan perempuan yang bukan mahrim. Di kantor pun antara pegawai lelaki dengan perempuan harus dibatasi ruang geraknya agar tidak beradu bahu, tangan, dan badan yang bakal berefek kepada gangguan dan mengamuknya syahwat. Gurauan yang mengandung nilai seksual sama sekali tidak dibolehkan antara pegawai lelaki dengan perempuan di sesuatu kantor kerana dikhawatirkan akan terjerumus kepada perbuatan mesum, maksiat dan kejahatan lainnya. Perkara ini sudah banyak berlaku di berbagai belahan dunia baik di Aceh, di Eropa, di Amerika dan di mana-mana.

Jadi hubungan pegawai lelaki dengan perempuan di sesuatu kantor mestilah diikat oleh ketentuan Islam yang kuat. Bagi perempuan, menutup aurat menjadi ukuran bagi kekuatan iman di dada. Perempuan yang menutup aurat dengan yang tidak menutup aurat di kantor sangat berbeza dilayan oleh teman sekantor dan masyarakat setempat. Pegawai perempuan juga diharapkan tidak suka bergurau dan bercanda dengan lelaki yang bukan mahrim dalam bentuk apa pun kerana di situlah punca awal terjadinya mesum dan maksiat. Tinggal berdua antara pegawai lelaki dengan pegawai perempuan di kantor dalam kegiatan apa pun sama sekali tidak dibolehkan kecuali kalau ada beberapa teman pegawai lainnya dengan tujuan yang jelas untuk kegiatan kantor.

Dalam beberapa media cetak pernah ditemukan dialog antara pegawai lelaki dengan perempuan bukan mahrim yang kemudian menjurus kepada zina. Suatu hari di suatu kantor di sebuah negara mayoritas muslim seorang pegawai lelaki masuk kantor lebih awal, 20 menit kemudian masuk pula seorang pegawai perempuan dengan pakain anggun dan menggiurkan. Sang lelaki bergurau; hai, cantik sekali nampak pagi ini, si perempuan menjawab: apanya yang cantik rok sayakah atau baju saya? Sang lelaki menjawab lagi: yang di dalam rok yang cantik. Dengan penuh kesungguhan si perempuan menawarkan gurauannya: kamu mau? Si lelaki segera saja menjawab tentu saja mau kalau dikasih. Dialog yang bernilai gurauan itu pun berakhir di situ kerana pegawai lain sudah masuk kantor, sudah pasti keduanya tidak nyenyak tidur di malam hari kalau gurau tersebut belum sempat dilanjutkan di lain waktu. Esok lusa ternyata dialog itu disambung lagi lewat telepon dan keduanya terjerumus dalam perzinaan berbulan-bulan lamanya. Itulah salah satu contoh bahayanya gurau di sekitar penis dan vagina.

Untuk semua pegawai di semua kantor di Nanggroe Aceh Darussalam harus dikontrol ruangannya agar tidak bercampur baur antara lelaki dengan perempuan yang dikhawatirkan menjurus ke lembah perzinaan. Pimpinan kantor harus jeli melihat gelagat pegawainya kalau ada yang berperangai pelanduk, mereka memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi nafsu birahi syaitan. Itu menjadi tugas utama pemimpin kantor dalam upaya mewujudkan suasana Islami berkekalan di kantor tersebut.

Seragam Islami

Tiada beza pakaian kantor dengan pakaian biasa bagi seseorang pegawai sesebuah kantor dari segi cara menutup aurat. Islam telah menetapkan baik lelaki maupun perempuan sama-sama harus menutup aurat dalam berpakaian. Untuk menutup aurat tersebut paling tidak harus memenuhi beberapa syarat berikut: pertama, pakaian yang dipakai harus tertutup seluruh aurat (bagi lelaki dari atas pusat sampai bawah lutut, bagi perempuan seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah), kedua, kain yang dijadikan pakaian harus tebal dan tidak tembus pandang, ketiga, pakaian tersebut harus longgar dan tidak ketat yang membungkus dan berbentuk tubuh, keempat, menutup aurat kerana Allah semata-mata bukan kerana yang lainnya. [1]

Kerangka dasar pakaian Islam sudah jelas seperti yang dihuraikan di atas, namun untuk langsung menuju ke seragam Islami tidaklah dapat dilangsungkan seperti kriteria tersebut. Hal ini disebabkan seragam Islami pada sesuatu kantor atau instansi tidak ada format langsung seperti itu. Kerananya para pimpinan dalam sesuatu birokrasi perlu merumuskan bagaimana ketentuan seragam Islami yang disepakati dengan mengacu kepada ketentuan pakaian dalam Islam.

Seragam Islami yang diperlukan dalam kawasan Syari’ah haruslah memenuhi syarat-syarat yang terkandung dalam sistem berpakaian dalam Islam. Paling tidak empat poin di atas haruslah terpenuhi dalam menetapkan bentuk, mode dan kriteria seragam Islami. Namun demikian perlu kita pahami bahawa Islam tidak mematok satu ketentuan tentang seragam di sesuatu kantor atau tempat lainnya. Namun itu semua menjadi tanggung jawab penguasa untuk merumuskan, merancang dan menetapkan bagaimana sebenarnya seragam kantor, sekolah dan instansi yang selaras dengan Islam.

Dasar nash menutup aurat terdapat dalam Al-Qur’an al-Karim dan sejumlah Hadis nabi Muhammad saw., di antaranya adalah:

Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya. (An-Nur; 31).

Dalam ayat lain Allah menegaskan: Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Al-Ahzab; 59).

Dalam sebuah hadis sahih Bukhari yang diriwayatkan Umm-‘Atiya, dinyatakan bahawa; kami telah berusaha membawakan beberapa orang wanita yang sedang haid dan yang bebas dari tuntutan agama pada pelaksanaan ibadah dua hari raya. Wanita berhaid duduk di luar masjid. Seorang perempuan lain bertanya kepada Rasulullah saw; bagaimana dengan seorang perempuan yang tidak mempunyai jilbab?. Rasulullah saw menjawab: suruh dia berkongsi jilbab dengan temannya. [2]

Beranjak dari pedoman Al-Qur’an tersebut maka seragam kantor dapat disesuaikan dengan tata cara pakaian yang dibenarkan Islam dengan pilihan warna yang disepakati, Rasulullah saw lebih suka memakai pakaian berwarna putih, kerananya untuk mengikut sunah sangat baik juga kalau seragam tersebut berwarna putih, kalau tidak juga tidak apa-apa. Yang lebih penting di sini adalah prinsip berpakaian yang terdiri dari empat poin di atas harus tercakup semua. Sementara teknis yang menyangkut dengan model pakaian, jenis kain, warna dan cara pemakaian tidak dipermasalahkan asal tidak mengganggu syahwat orang yang memandang. Untuk itu semua seragam Islami dalam konteks birokrasi di Nanggroe Aceh Darussalam perlu diselaraskan dengan ketentuan Islam agar serasi dengan pelaksanaan Syari’at Islam di kawasan ini.

Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah merupakan salah satu sunah Nabi yang sangat utama dan diutamakan dalam hidup dan kehidupan beliau. Sabda-Nya; Shalat jama’ah memperoleh 25 kali lipat lebih pahalanya ketimbang shalat sendiri di rumah atau di tempat kerja, sebab kalau seseorang mengambil wudhuk dengan sempurna lalu berangkat ke masjid dengan niat mau menunaikan shalat berjama’ah, maka setiap langkah yang digerakkan menuju masjid, Allah menambahkan pahala kepadanya dan diampunkan dosanya dari setiap langkah yang digerakkan itu sampai ke masjid, selama ia berada di masjid menunggu shalat jama’ah malaikat berdo’a kepadanya: ampunkan dia selama dia berada dalam masa shalatnya di masjid . [3] Abdullah bin Umar meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: shalat jama’ah adalah 27 kali lipat lebih nilai pahalanya ketimbang shalat sendiri. [4]

Shalat berjama’ah merupakan kesukaan nabi dan amaran keras Rasulullah saw kepada semua ummatnya agar melakukannya setiap waktu shalat lima waktu. Kerana dalilnya sangat kuat maka tidak seorang muslim pun dapat membantahnya, malah semua mereka harus melaksanakannya dengan baik dan tepat waktu. Khusus untuk birokrat di Nanggroe Aceh Darussalam, semuanya harus melaksanakan shalat jama’ah selama berada di kantor dan sebaiknya diimami oleh kepala mereka masing-masing kerana mengikut cara Rasulullah saw., beliau sebagai pemimpin ummah juga sekaligus menjadi pemimpin shalat. Kecuali sekali pada waktu subuh menjelang akhir hayatnya meminta Abu Bakar menjadi imam di masjid. [5]

Untuk mendapat berkah dalam kehidupan dan mendapat pahala serta terampuni dari segala dosa, maka seluruh birokrat NAD disarankan agar segera berlomba-lomba memakmurkan masjid, mushalla, meunasah atau surau baik selama berada di kantor maupun di rumah dengan shalat jama’ah. Dari hasil shalat jama’ah tersebut akan tersirat rasa ukhuwah dan mencuat erat silaturahmi sesama muslim di Nanggroe Aceh. Dengan itu pula akan terbentuk dan terpola gaya hidup Islami pada diri dan keluarga birokrat Aceh ke depan insya Allah.

Pastikan sebelum ke mushalla atau masjid sudah duluan mengambil wudhuk di rumah dan dahulukan ke masjid untuk beri’tiqaf agar mendapat pahala, terampuni dari dosa dan dido’akan oleh para malaikat kepada kita. Janji Rasulullah ini bukan mainan dan tidak sia-sia bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dan penuh percaya. Namun tidak akan berguna dan ia akan terbiar begitu saja bagi mereka yang ragu-ragu serta tidak serius dalam menanggapinya.

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menghidupkan shalat jama’ah di setiap kantor di Aceh adalah:

1. Shalat jama’ah harus diutamakan oleh kepala kantor dan disusuli oleh jajaran bawahannya sampai ke peringkat paling rendah.
2. Kepala kantor harus setiap waktu melaksanakan shalat jama’ah manakala ia berada di kantor.
3. Ia juga harus mampu dan mau menjadi imam dalam setiap shalat jama’ah yang dikerjakan di kantor.
4. Ia harus mewajibkan semua staf dan karyawannya untuk meninggalkan semua aktivitas ketika tiba waktu shalat dan diarahkan semuanya melaksanakan shalat jama’ah.
5. Yang tidak mau mengikuti arahannya harus diberikan sanksi sepantasnya agar menjadi pelajaran baginya dan tidak berpengaruh kepada karyawan lainnya.
6. Setiap selesai shalat berjama’ah harus dihidupkan budaya ceramah antar karyawan yang dimotori kepala via orang yang dikuasakan.
7. Hidupkan pengajian di kantor pada masa-masa tertentu untuk memperkuat kekompakan jama’ah dan meningkatkan kualitas shalat berjama’ah serta ukhuwah Islamiyah.

Rujukan:

[1] Untuk kelengkapan informasi tentang perkara ini silakan rujuk kepada; Hasanuddin Yusuf Adan, ‘Aqidah; Modal Utama Implementasi Syari’ah, Yogyakarta: AK. Group dan Ar-Raniry Press Banda Aceh, 2006, hal. 110-115.

[2] Dr. Muhammad Muhsin Khan, Shahih Bukhari, Arabic-English, Al Nabawiya: Dar Ahya Us-Sunnah, t.t., juzu’ 1, hadis 347, hal., 215.

[3] Ibid., hadis 466, hal., 277, lihat juga hadis 620 di halaman 352.

[4] Ibid., hadis 618, hal., 351.

[5] Ibid., hadis 646, hal., 365.

Komen-komen»

1. siswo - Mei 20, 2008

mas yusof adan kalau bleh aq minta tolong buat kan kata2 yang membuat atasan bisa mengerti bawahanya.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: