jump to navigation

Aceh dan Islam Protestan Januari 13, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Kamaruzzaman Bustaman-Ahmad

Saya bertemu dengan istilah ini sejak menekuni karya-karya Barat, terutama ketika membaca bagaimana pengaruh Weber dalam tradisi gerakan Islam, khususnya pada ‘Ali Shari’ati, seorang ideolog gerakan Revolusi Iran. Setelah itu, Sukidi juga sudah mulai membawa istilah ini ke dalam kajian ketika dia menganalisa tokoh-tokoh gerakan reformis Islam, mulai dari Intelektual Iran, Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, Ali Shari’ati dan Hashem Aghajari.

Sayang, debat ini terhenti sebab Sukidi sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Islam Protestan. Dua artikelnya memang hanya mencari benang merah apa yang terjadi dalam tradisi Kristian kemudian mencuba mengaitkan apa yang terjadi di dalam tradisi gerakan Islam.

Namun Sukidi mengingatkan bahawa “as with ‘traveling theory reconsidered’, however, there is also the possibility that the idea of Islamic Protestantism will be reinterpreted and reinvigorated by a newer generation.” (Sukidi, 2005).

Diskusi ini kemudian saya temui dalam milis Aceh Institute, yang dipaparkan oleh Fuad Mardhatillah. Kemudian orang mulai mendiskusikan apa sesungguhnya Islam Protestan? Diskusi yang menarik, tapi bukan bererti Fuad yang pertama sekali mencetuskan istilah Islam Protestan ini dalam debat studi Islam.

Namun yang menarik bagi saya setidaknya adalah bagaimana pola penerapan istilah ini yang serta merta dipakai dalam konteks sekarang. Kerana artikel tidak bisa menjelaskan bagaimana perkembangan dan transformasi istilah ini, saya hanya ingin mengajak pembaca untuk lebih ‘berhati-hati’ dalam menggunakan istilah yang tidak jelas latar belakang sejarahnya.

Saya agak tertarik untuk mengupas bagaimana memposisikan diskusi ini dalam wacana pemikiran Islam. Sebab dalam tradisi pemikiran Islam di Indonesia, ada banyak versi Islam yang dapat ditemui, seperti Islam Sontoeloeyo versi Soekarno, Islam Rasional versi Harun Nasution, Islam Peradaban versi Nurcholish Madjid, Islam Jalan Tengah versi Amien Rais, Islam Kiri versi Hasan Hanafi, Islam Transormatif versi Imanuddin, Islam Post-Tradisionalisme versi kawan-kawan dari NU di Yogyakarta. Selain Islam dikaitkan dengan konsep, juga sering dikaitkan dengan istilah kawasan seperti Islam Jawa, Islam Sasak, Islam Lombok, Islam Banten, dan Islam Padang.

Apa sebenarnya yang berkembang di Indonesia mengenai proses pelabelan. Dalam tradisi pemikiran Islam, setiap ada upaya untuk menembus tradisi kejumudan selalu membawa semangat liberal.

Sebagai contoh, Charles Kurzman sendiri ketika mengupas Islam Liberal masih mengaitkannya dengan Syari’at Islam. Diskusi Islam liberal sendiri masih belum menemui satu jalan yang jelas, sebab apa yang difaham oleh Charles Kurzman berbeda dengan apa yang ditulis oleh Greg Barton dan yang difaham oleh kawan-kawan muda NU. Diskusi Islam Liberal ini juga berbeda dengan apa yang dikupas oleh Leonard Binder.

Sekarang ada pula istilah baru yang dipopularkan oleh Farish Noor dan Omid Safi tentang Islam Progressif. Istilah yang kurang lebih ingin menembus tradisi umat Islam agar kembali pada tauhid dan akal. Namun tetap membuka mata pada modernisme.

Hingga sekarang debat ini masih berjalan dalam beberapa milis, hingga kawan-kawan yang terlibat dalam diskusi ini ingin menjadikan Islam Progresif sebagai gerakan yang bisa dirasakan oleh umat Islam. Ramai kalangan yang menyebutkan tokoh Islam Progresif dapat dilihat dari apa yang dilakukan Chandra Muzaffar melalui NGO-nya di Malaysia, iaitu JUST.

Demikian pula, di kalangan Islam Kanan muncul sekian istilah seperti Islam Salafi, Islam Wahabi, Islam Kanan, Islam Fundamentalis, Islam Tektualis dan lain sebagainya. Intinya kelompok dengan model Islam seperti ini ingin mengembalikan tradisi pemikiran Islam pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan model yang cukup rigid.

Terkadang dua kutub pola pemahaman ini saling berseberangan jika tidak bermusuhan. Dalam konteks inilah kehadiran Islam Protestan juga mengundang sejumlah tanda tanya, setidaknya jika istilah ini ingin menerap apa yang terjadi dalam Kristian.

Saya mencuba mengutip pandangan Max Weber ketika dia menulis: Normally, Protestantism …absolutely legitimated the state as a divine institution and hence violence as a means. Protestantism, especially, legitimated the authoritarian state. Luther relieved the individual of the ethical responsibility for war and transferred it to the authoritarian. (H.H. Gerth and C. Wright Mills (ed.), 1974:124).

Jika ini yang dimaksudkan oleh Islam Protestan maka sejatinya, sang pencetus harus berhati-hati dalam menelurkan satu istilah baru. Saya sendiri sebelumnya membiarkan istilah ini berkembang di kalangan kawan-kawan di milis, namun belakangan tertarik untuk menarik diskusi ini pada kutub yang netral dan tidak taken for granted. Semangat Protestan memang ingin mendobrak, tetapi pemikiran ini sendiri masih menjadi perdebatan dikalangan sosiolog.

Sebenarnya saya dapat memahami mengapa Islam Protestan ini muncul. Paling tidak dalam bayangan saya sang pencetus ingin mengatakan bahwa orang Islam harus meniru semangat orang Protestan, walau Luther sendiri hanya ingin mendobrak tradisi gereja dan meminta agar Injil bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Inilah upaya yang ingin dilakukan oleh Protestan.

Demikian pula semangat Islam Protestan yang ditulis Sukidi juga ingin mengupas bagaimana peranan tokoh Islam dalam Revolusi Iran, khususnya ketika mereka ingin menerap sifat Lutheran. Pada era 2000-an, gerakan Islam ini kemudian sering dikatakan sebagai embrio gerakan Islam di seluruh dunia. Hampir puluhan buku yang mengupas mengatakan gejala Islam Radikal juga dipengaruhi oleh Revolusi Iran.

Jika kita sepakat apa yang digunakan sebagai asas gerakan sosial saat itu adalah ‘Islam Protestan,’ maka secara automatik, gejala pemikiran ini melahirkan sikap radikalisme, suatu sikap yang semakna dengan jiwa Protestan itu sendiri. Pada ujungnya pengaruh gejala Islam Protestan ternyata memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap munculnya kekerasan dalam agama.

Demikian pula, ketika Fuad dan kawan-kawan lain, ingin membumikan istilah di Aceh, maka hal tersebut juga perlu difikir ulang. Sebab kalau tidak, gejala memunculkan istilah yang ‘membingunkan’ dari sisi epistemologis dan kerangka sejarah, akan menjebak kalangan yang tidak mengerti duduk perkara bagaimaan perkembangan istilah tersebut dan bagaimana kancah pemikiran Islam di dunia saat ini.

Sebenarnya munculnya beragama istilah Islam saat ini lebih pada upaya untuk mendobrak tiga hal. Pertama, ingin mendobrak tradisi yang mengekang umat Islam dari bangkit kembali. Dalam arti, tidak sedikit tradisi-tradisi yang diguna pakai, sering dikaitkan dengan Islam, ternyata menyebabkan kemunduran bagi umat Islam sendiri.

Kedua, ingin membuka wacana yang seolah baru dalam pengajian Islam, manakala dengan cara memunculkan istilah yang kurang akrab di telinga kita. Fenomena ini memang sering terjangkiti di kalangan kelompok pengajian Islam yang hanya membuka satu mata rantai pemikiran Islam saja.

Akibatnya, banyak hal kadang salah kaprah ketika ditelurkan sebagai wacana pemikiran. Dalam hal ini, upaya ini tidak keliru, namun untuk ditimbang dari disi sosiologi dan sejarah, maka sekali lagi, konsep ini tidak akan memberikan makna yang cukup signifikan bagi rakyat Aceh saat ini.

Ketiga, ingin memunculkan paradigma baru dalam pemikiran Islam, tanpa memahami bagaimana kerangka munculnya istilah tersebut. Pemikir Islam kontemporer, seperti Souroush, Khaled Abou al-Fadl, Farid Essak, Hassan Hanafi, Ali Harb, Al-Jabiri, menulis segunung karya dalam menelurkan pemikiran mereka.

Sedangkan tradisi kita di Indonesia, dan sudah mulai terjangkiti di Aceh, sering dengan memunculkan istilah atau gagasan yang terputus-putus, kemudian dikutip dan dipandang cukup komprehensif. Kawan saya, Nurcholik Ridwan, seorang penulis muda di Yogyakarta, penulis buku Islam Borjois, sudah pernah mengkritik tradisi ini di Indonesia ketika mengulas pemikiran Islam Liberal oleh Ulil.

Kritikan saya ini memang tidak beralasan, sebab secara akademik, istilah Islam Protestan sendiri masih menjadi wacana, tidak hanya di timur, tetapi juga di Barat. Namun pola penyebaran istilah ini di Aceh saat ini sama nasibnya dengan kemunculan Islam Liberal oleh kawan-kawan di Jakarta. Iaitu, orang meributkan istilah tersebut sambil saling kafir mengkafirkan, kemudian membuat kotak-kotak dalam komunitas umat Islam sendiri.

Dalam konteks ini, tenaga ini memang belum begitu tampak di Aceh, tetapi saya ingin mengajak untuk merubah tradisi, supaya kalau ada istilah yang baru, kita harus ‘bertanggungjawab’ untuk menjelaskan, setidaknya tahu bagaimana latar belakang istilah tersebut.

Sekali lagi, ulasan saya ini memang sikap ‘sayang’ saya terhadap dunia akademik, khususnya dalam bidang pengajian Islam di Aceh.

Komen-komen»

1. abdul Rahman abdul Talib - Januari 15, 2008

Sebenarnya perdebatan antara golongan “modernis” dan juga golongan “kanan” dalam dunia Islam lebih tepat disifatkan sebagai debat antara “pro Islam” vs “pro barat”.

Golongan seperti Chandra dan Farish Nor adalah mereka yang mempercayai ideologi Barat dan melihat bahawa Islam seharusnya mengubah sifatnya supaya cucuk dgn ideologi Barat.

Manakala mereka yang dari “golongan Kanan” adalah dari kumpulan yang resistif dgn percubaan untuk mengubah Islam hanya kerana ianya adalah kehendak golongan Barat.

Saya rasa konfrontasi ini cukup jelas siapa yang benar dan siapa yang bathil

2. abdul Rahman abdul Talib - Januari 15, 2008

Istilah “Islam Protesten” adalah istilah yang menggambarkan sifat keliru yang amat sangat.

Ini kerana Islam Protesten tidak lebih dari pemikiran beberapa pemikir yang tertipu dengan dakyah Barat sekaligus memaksa orang Islam menukar Islam supaya sesuai dengan kehendak Liberal Barat.

Sedangkan dalam tahun 90 an di Amerika terutamanya terbukti kepada kita betapa polisi2 gologan Liberal di Amerika gagal segagal2nya.

Malangnya, para “Islam protesten” ini sengaja membutakan mata mereka terhadap kegagalan polisi golongan liberal di BArat dan mengambil keputusan untuk memasukkan kegagalan ideologi liberal barat ke dalam rangka ISlam

Islam protesten secara tepatnya adalah Islam Kegagalan, tidak lebih dari itu.

3. mahmoud muniri - Januari 18, 2008

sdr abdul rahman,

jika anda memanggil islam protestan sebagai Islam Kegagalan, maka apa itu Islam Kejayaan?

sampai kini tidak ada muslim, atau gerakan islam yang berjaya membuktikan wujudnya Islam Kejayaan.

adakah hanya mahu bersandar pada sejarah madinah 1400 tahun dahulu semata-mata?

4. mithali - Januari 18, 2008

Kenapa pula kita menggelarkan Islam protesten? adalah kita juga telah terkeliru dengan Islah hadhari?

5. mahmoud muniri - Januari 19, 2008

mithali,

istilah Islam Protestan itu untuk menunjukkan bahawa Islam yang diamalkan pada hari ini adalah bukannya Islam yang boleh membimbing ummah.

6. mithali - Januari 19, 2008

masyaAllah….

7. mahmoud muniri - Januari 19, 2008

mithali,

dalam banyak-banyak islam yang ada hari ini, islam manakah yang paling betul? kalau islam protestan itu yang salah, maka adakah itu membuktikan ada islam yang lain yang betul.

islam hadari dari sudut intinya bukankah juga adalah sesuatu yang baik? begitu juga dengan islam protestan. inti islam protestan adalah untuk menunjukkan bahawa ada yang salah dalam amalan islam di dunia hari ini.

8. Mithali - Januari 20, 2008

Sdr mahmoud,

boleh sdr berikan contoh2 apa yg salah dlm amalan Islam di dunia kini?

Jika yg salah itu perlaksanaannya, apakah itu menujukkan Islam itu salah dan tidak sesuai. Harap dapat beri contoh supaya kita lihat sama ada yg salah itu Islam atau istilah2 ciptaan itu yg membingungkan.

9. mahmoud muniri - Januari 21, 2008

mithali,

ermmm, amalan Islam di dunia kini? begini…..

osama mengaku ia pejuang islam yang paling fundamental. apakah tindakan osama itu dikira menepati islam?

pas mengaku ia berjuang islam yang paling hakiki. apakah gerakan pas benar2 menepati corak sebenar perjuangan islam?

arab saudi mengaku ia sebagai sebuah negara islam. adakah arab saudi memang sebuah negara yang layak bergelar negara islam?

iran mengaku ia sebuah republik islam. adakah iran telah mengikuti standard negara seperti mana yang ditunjukkan oleh Nabi?

hamas mengaku ia harakah islamiah. apakah tindakan bunuh diri hamas itu sejajar dengan syariat islam?

dan banyak lagilah sebenarnya……

menyuarakan islam protestan bukanlah suatu kesalahan selagimana ia terus menyuarakan kebaikan dan pembaikan umat islam. lagipun islam tidak memandang pada lebel saja, tapi pada isinya yang lebih penting……

10. Mithali - Januari 23, 2008

Sdr mahmoud,

Allahu aliman hakima. Allahu aklam.
Mengaku itu dan ini, sekadar mengaku perkara yg tidak haram hukumnya harus. Jadi apa masalahnya?

11. mahmoud muniri - Januari 24, 2008

sdr mithali,

jika sekularis sudah mampu untuk memodelkan bentuk sebuah negaranya, yang akhirnya kita lihat banyak juga kebaikannya di dalamnya, maka kenapa muslim hari ini gagal memodelkan sebuah negara yang layak untuk kita sebut sebagai sebuah negara islam?

mengapakah negara2 Scandinavia jauh lebih baik pengurusan dan pentadbiran negaranya berbanding negara2 yang kononnya negara islam itu? jadi, apa yang hebatnya islam yang dipercayai oleh umat islam hari ini jika mutunya kalah dengan negara2 Scandinavia?

12. Mithali - Januari 24, 2008

Baik, apakah bila negara eropah atau negara barat dikatakan dapat memodelkan sebuah negara yg maju dan diterima sebagai negara yg membawa banyak kebaikkan kepada umat manusia masa kini, adakah ini bermakna agama yg dianuti oleh umat yg membangunkan negara itu sekaligus akan dianggap terbaik?. Lantas Islam terhina kerana tidak adanya ‘Negara Islam’ yg boleh dibanggakan kemajuannya?

Islam memang tak mungkin hebat jika ujud pemikiran penganut agamanya sendiri menjadi duri dalam daging.Runtuhnya negara Islam yg dibangunkan mengikut acuan Islam oleh Rasulullah s.a.w pupus sedikit demi sedikit akibat merosotnya iman/keyakinan umatnya sendiri. Inilah padah yg harus diterima oleh umat islam kini.

Sdr tidak boleh mengalahkan Islam , sebaliknya salahkan diri sendiri (jika sdr Islam) dan salahkan umatnya yg sudah meninggalkan amalan agama sebaliknya cuba mengintergrasi Islam dengan ideologi lain dari segi aqidah. Umat islam kini tidak menguasai ilmu Islam.Mereka juga cuba menerapkan kemajuan dengan meniarapkan prinsip asas dalam agama.

Cuba sdr beri satu contoh kemajuan pengurusan negara barat yg membanggakan sdr dan memalukan Islam. Saya ingin melihat sejauh mana kemajuan itu bermanfaat kpd umat manusia keseluruhannya dan sejauh mana ianya berbeza dgn prisip pengurusan yg dianjurkan oleh Islam.

13. fuad mardhatillah - Februari 16, 2008

Menurut saya: Islam protestan adalah sebuah paradigma yang coba 1. mengetengahkan suatu corak pandang yang anti atau senantiasa melawan pada “kemapanan” yang menafikan perubahan atau hanya sekedar resisten terhadap apa yang menguntungkan dirinya; 2. pikiran yang meyakini tidak ada otoritas mutlak dalam menafsir kebenaran agama yang seolah hanya dimilki oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa paling berhak; 3. melihat dimensi revolusioner yang ada dalam ajaran Islam, sebagaimana revolusi di awal kerasulan nabi Muhammad, yang kiranya selalu aktual pada setiap zaman; 4. Pikrian yang menolak setiap elitisme dalam membuat kebijakan-kebijakan publik.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: