jump to navigation

Berakhirnya Sains Januari 19, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Deden Himawan

Judul: The End of Science: Facing The Limits of Knowledge in The Twilight of The Scientific Age
Penulis: John Horgan
Tahun Cetak: Cetakan I, September 2005
Tebal: xxii + 416 halaman

John Horgan, dari Scientific American memang menyuluh kontroversi—tentang akan berakhirnya sains ini. Kedudukan sebagai seorang wartawan sains memudahkan dia untuk mewawancara beberapa ilmuwan besar abad ke-20, seperti Thomas Kuhn, Karl Popper, Hawking, Noam Chomsky, dll. Pemikiran ini sebenarnya bukan lontaran idea dan rumusannya sendiri, tapi lebih kepada rentetan dari suara beberapa orang ilmuwan yang skeptis. 

Bentley Glass, salah seorang di antaranya, mengutarakan bahawa seandainya semua masyarakat dunia membiayai projek-projek penyelidikan sekalipun, maka dapat dipastikan tidak ada penemuan baru lagi di sana.

Fizik teori mithalnya, akhirnya terpaksa berupaya menyingkap ruang mikro yang lebih kecil berbanding quark dan elektron, yang memerlukan mesin pecutan raksasa 8 billion dollar.

Sementara dalam bidang biologi, begitu sulit untuk kita percaya bahawa akan adanya sebuah teori yang menggemparkan seperti teori evolusi Darwin, hukum genetik Mendel, dan sekarang ini, keberakhiran ini dikukuhkan lagi oleh Watson dan Crick yang menemukan struktur DNA.

Horizon tanpa batas kosmologi, akhirnya juga harus sirna di tangan si otak geliga yang terperangkap dalam tubuh yang lumpuh, Stephen Hawking. Ia dengan tuntas menjawab permasalahan ruang dan waktu, yang ditarik ke awal kelahiran alam semesta, big bang.

Maka, dipastikan bahawa tidak akan ada lagi teori yang paling mendasar berbanding teori ini. Teori lubang cacing, bayi semesta, supertetali, bahkan teori inflasi yang begitu hangat dewasa ini, lebih sebagai suatu fiksi saintifik berbanding benar-benar ilmu. Terlampau banyak unsur spekulatif di dalamnya.

Sama halnya dengan filsafat. Upaya pencarian kebenaran mutlak, permasalahan apa itu kehendak bebas, bagaimana kesedaran bekerja, tak pernah sempurna difahami. Bukannya merangsang pencarian, sebaliknya filsafat malah semakin terperosok ke dalam skeptisisme naif yang parah. Ia menyerah kalah dalam bentuk pascamodernisme. Tak ada lagi kebenaran tunggal dan final. Filsafat jatuh ke dalam “perayaan akan keragaman pandangan”.

Horizon-horizon pengetahuan yang seolah tak berbatas, yang pertama kalinya disingkap di awal-awal perkembangan pengetahuan empirik dan rasional di era pencerahan dulu. Kini ia sudah di ambang kesirnaannya. Teka-teki besar tetap tak pernah terjawab. Apa itu kesedaran? Bagaimana kita mengantisipasi kematian dan ketuaan? Ini semua adalah pertanyaan yang masih tersisa, yang harus diakui berada di luar batas penalaran.

Tema-tema itulah yang diangkat John Horgan dalam buku The End Of Science: Facing The Limits Of Knowledge In The Twilight Of The Scientific Age. Sekilas, buku ini seperti buku-buku The End yang lainnya, seperti kematian ideologi, kematian realiti, kematian seni, kematian filsafat, atau kematian kebenaran, dll.

Suatu tema yang menjadi antusiasme baru, seperti ungkapan Seattle Timens, “Kita semua ingin hidup dalam masa yang unik; dan proklamasi akhir sejarah, era baru, kebangkitan kedua atau akhir dari sains menjadi sangat menarik”.

Tapi apakah buku ini menggiring orang pada sikap pesimis? Tidak, belum tentu, kerana seperti yang diutarakan kata pengantarnya dalam buku tersebut, “Kematian dilihat sebagai ditinggalkannya sebuah prinsip, keadaan dan realiti untuk beralih pada prinsip, keadaan dan reality yang lain”. Kata “peralihan” inilah setidaknya mengguriskan nada optimisme baru di awal alaf ini. Kematian, boleh dilihat sebagai awal bagi kehidupan.

Jika horizon tanpa batas dari pengetahuan rasional dan empirik akan sirna, mungkinkah ada horizon baru dalam pengetahuan? Dengan mengajukan pertanyaan ini, kita diarahkan juga untuk bertanya, adakah potensi dan tahap-tahap manusia lainnya, selain pancaindera dan rasio, dalam usaha untuk memahami realiti.

Nah, pengetahuan ilmiah sekarang akan menjawab, “tidak, tidak ada”. Tapi lain halnya dengan, salah satunya agama akan menjawab, “Ada!” Bukankah manusia memiliki potensi keruhanian dalam dirinya yang disebut hati nurani, tempat manusia melihat Tuhan dan Tuhan melihat manusia”.

Inilah kemungkinan horizon baru. Sebuah horizon, yang juga memiliki realiti, keadaan, dan prinsip kukuh yang berbeza dengan realiti, keadaan dan prinsip yang empirik dan rasional. Horizon tempat manusia bercengkerama dengan Tuhan, sumber dari perilaku segala kebijaksanaan.

Suatu horizon yang juga dirindukan oleh Linde, Wheeler, dan David Bohm, lewat ungkapannya, “Ada batas dalam pengetahuan rasional, salah satu cara untuk mengkaji apa yang berada di sana (di luar batas rasional) adalah dengan kontemplasi dan meditasi”.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: