jump to navigation

Surat buat Aristotle Januari 19, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Mousa Mojtaba

Dunia sudah berkecamuk. Tidak ada sesiapa lagi yang boleh dipercayai. Semuanya bagaikan nazak menanti kematian: seperti tiada bezanya dengan penderitaan zahir kelompok Imam Husayn di medan Karbala.

Memang, inilah wajah zaman kita: yang kita boleh bersuara apa saja asalkan tidak membuat yang lain merasa terganggu.” Inilah penyakit mental abad moden yang begitu terasa dalam setiap baris kalimat para penguasa sewaktu ingin mentadbir sesebuah negara yang kononnya dikatakan demokratik itu.

Bagaimana mungkin bersuara tanpa terdengar? Nampaknya apa yang diungkapkan oleh Chomsky tentang kaedah diplomasi yang kabur makna semakin mendekati kebenarannya. Pseudo-demokratisasi ditabur di merata tempat dengan dalih kerasionalan: “bersuara namun tak terdengar!”

Aduh, andaikan kita boleh meminta kepada Tuhan setelah jenjang kenabian telah ditutup, maka cukuplah jika dapat kirimkanlah kami seorang Aristotle agar ia dapat menjadi pemutus tentang makna-makna kehidupan di alam semesta ini.

Bila dahulu Tuhan mengirimkan sang failasuf di kota Stagira, Macedonia, maka kini kirimkanlah kepada kami kembali Aristotle itu—agar ia memimpin akademi Lyceum kami yang semakin hari semakin terpuruk.

Datanglah wahai Aristotle, ajarkan kepada kami tentang logik, agar para akademia kami tak lagi mengajarkan kepada kami secara semberono: “bahawa Plato sama dengan Aristotle.” Anehnya ungkapan inilah yang diajarkan pada kami saat sedang menelaah tentang karyamu di bangku kuliah.

Aristotle, didiklah para saintis kami ini agar mereka menjadi manusia yang sedar tentang keseimbangan alam yang kau teriakkan sebelum ini. Mudah-mudahan dengan ilmu itu sekeliling kami tidak lagi dipenuhi oleh para mereka yang rakus dan tamak haloba sampai menjejaskan keharmonian alam.

Aristotle, peringatilah juga kepada para penguasa kami agar mereka menghargai kaum muda, sepertimana yang kamu pernah buktikan menerusi Alexander the Great. Bukakanlah pula fikiran para ulama’-ulama kami bahawa falsafah merupakan jalan menuju Tuhan. Ya, bukankah engkau pernah mengajarkan theos: iaitu kewujudan akhir dari semesta?

Aristotle, sudah tiba saatnya untuk kamu kembali. Sudah ramai ulama-ulama kami yang dewasa ini menjadikan filsafat sebagai sesuatu yang haram dan tercela. Kami rindu untuk menjadi seperti muridmu. Ya, tidakkah engkau telah melahirkan Ibnu Rushd yang akhirnya berjaya menjadi ilmuan lengkap?

Aduh, Aristotle segeralah hadir dan bawalah sekali Alexander the Great dan Ibn Rushd sebagai bukti nyata kepada zaman kami. Kami sentiasa setia menunggu!

Komen-komen»

1. zuhair - Mei 6, 2008

Tadi baru diskusi ama teman, kenapa ya kok filsafat itu begitu ditakuti. Dia berpendapat bahwa mereka takut padahal mereka sendiri belum tahu filsafat itu apa.

Menurut teman saya itu, filsafat ya berpikir itu sendiri. Namun terkadang memang ia tidak logis, karena turut membahas hal-hal di luar ruang dan waktu. Tapi, filsafat itu ada di alam ide, ya berpikir itu sendiri.

Bagaimana?


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: