jump to navigation

Tahun 2007, Aceh Masih Kelam Kabut Januari 28, 2008

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Menyemak keadaan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam senggang waktu setahun yang lalu (2007), nampaknya masih banyak kendala, ancaman dan cabaran bagi Aceh untuk membenah diri pasca konflik antara GAM dengan RI serta gempa besar dan tsunami.

Tsunami yang terjadi sesudah gempa besar hari ahad 26 Desimber 2004 telah memusnahkan banyak bangunan dan mengorbankan ramai manusia. Sementara konflik antara GAM dengan RI yang bermula 4 Desimber 1976 dan berakhir 25 Ogos 2005 lewat MoU Helsinki telah meragut banyak nyawa dan membakar banyak bangunan.

Seharusnya, baik pasca tsunami maupun perdamaian GAM-RI, Aceh harus memacu membenah diri untuk menebus kehancuran di masa lalu. Namun sampai tiga tahun lamanya keselesaan belum lagi memadai bagi rakyat Aceh yang tertimpa musibah tersebut. Hal ini terkait dengan beberapa faktor yang menjadi causa prima lambatnya pemulihan bagi Aceh. Ketidakseriusan negara, kelambanan penguasa, wujudnya korupsi dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi serta keterbatasan kerja NGO asing menjadi faktor utama kelambatan tersebut.

Selain itu, prilaku Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias yang terkesan asal sudah buat (tidak kira baik atau buruk mutunya) menjadi penyebab utama berlarutnya kesempurnaan bantuan kepada masyarakat korban gempa dan tsunami. Tercatat banyak hal negatif yang wujud dalam tubuh BRR dalam menjalankan kegiatannya di Aceh. Antara lain; korupsi ketika mencetak buku, korupsi yang terjadi pada yayasan Fakultas Tarbiah IAIN Ar-Raniry yang bekerja sama dengan bidang pendidikan BRR dan sejumlah korupsi lainnya.

Persoalan rendahnya mutu bangunan rumah yang dibangun BRR kepada masyarakat musibah tsunami menjadi pelanggaran besar bagi BRR. Karena tujuan dibentuk BRR adalah untuk membantu masyarakat korban tsunami, namun bantuannya tidak wujud sebagaimana mestinya. Kasus rumah asbeh di ujung tahun 2007 yang tidak layak huni di Alue Deah yang kemudian dibakar warga umpamanya menjadi sampel untuk mengatakan bahwa BRR belum serius terhadap masyarakat terkena tsunami.

Diterima kembali orang yang sudah dipecat di BRR karena kasus korupsi juga menjadi bukti betapa lembaga besar tersebut masih pilih kasih dan tidak tegas terhadap orang-orang yang sudah nyata bersalah. Pilih kasih dalam penerima pekerja, mengutamakan kontraktor tertentu dalam pemberian proyek dan memilih orang-orang yang cair komitmen Islamnya menjadi karyawan penting di BRR menjadi bahagian lain kejahatan yang dilakukan BRR untuk Aceh. Hampir semua orang tau bahwa masyarakat Aceh sangat komit dan fanatik dengan Islam, tapi BRR menempatkan orang-orang yang berpaham sekuler dan liberal pada posisi Deputi Agama dan sosial budaya. Dengan demikian ketika BRR membantu masyarakat dalam bidang agama Islam sudah duluan disensor oleh deputi tersebut. Efeknya, lembaga-lembaga Islam atau pribadi-pribadi muslim yang ta’at kepada Allah dan rasul-Nya sering terabaikan dari bantuan BRR. Malah dalam kasus-kasus tertentu deputi bidang agama dan sosial budaya ini dapat meresahkan muslim-muslimah Aceh karena pernyataan-pernyataan yang diekspos sangat meresahkan masyarakat seperti kasus pendangkalan ‘aqidah di Aceh pasca tsunami. Dalam kasus ini pernah pihak BRR melalui deputi Agama membantah adanya upaya-upaya kristenisasi di Aceh. Padahal banyak lembaga dan mahasiswa telah menemukan bukti nyata tentang perkara tersebut,

Jadi prilaku BRR NAD-Nias banyak yang mengecewakan masyarakat Aceh khususnya mereka yang tertimpa musibah gempa dan tsunami. Sebaliknya para pegawai BRR tersebut menerima gaji yang sangat besar, di luar gaji kebiasaan pegawai tempat lain, yaitu mulai dari peringkat rendah sebanyak lima juta rupiah sampai enam puluh juta rupiah sebulan. Malah yang lebih menarik lagi adalah ada orang-orang tertentu yang tidak pernah kerja sama sekali tetapi mendapat gaji sampai sepuluh juta rupiah perbulan.

Perkara lain yang membuat Aceh masih kalang kabut hingga sekarang adalah maraknya pembunuh, perampok, pencuri dan pencopet hampir di seluruh wilayah Aceh, khususnya di kawasan pantai timur. Perampokan bus penumpang umum, kenderaan dua roda, mobil pribadi, handphone dan rumah-rumah warga masyarakat dalam tahun 2007 membuat Aceh sulit keluar dari kondisi kalang kabut. Ia lebih diperburuk lagi oleh maraknya mafia bius yang menghipnotis masyarakat di pasar, di kampung dan di rumah dengan sasaran mengambil harta benda orang yang dihipnotis tersebut. kegiatan ini sering dilakukan oleh penjahat-penjahat asal luar Aceh.

Kalau perampok motif dan sasaran utamanya adalah merampas harta benda, maka hipnotis pun melakukan demikian rupa. Lain lagi dengan pembunuhan, ia lebih menuju kepada motif balas dendam atau karena benci terhadap seseorang. Apapun motif dan alasannya, baik perampokan, hipnotis maupun pembunuhan sudah membuat Aceh terus kalang kabut dalam tahun 2007.

Keadaan semakin buruk ketika sejumlah bom meletus di beberapa tempat penting di beberapa kabupaten/kota di Aceh. Rumah Ishak Daud, mantan jurubicara GAM dibom, kantor Bupati Bireuen, Aceh Utara dan Walikota Lhokseumawe juga dibom dan diletakkan bom dihadapannya. Semua itu telah mewarnai dan menakuti masyarakat dalam tahun 2007, ia sulit diprediksi dari siapa, oleh siapa dan untuk siapa semua itu harus terjadi. Yang jelas, pasca MoU Helsinki yang menandakan redanya perang antara GAM dengan RI, masih banyak pihak yang belum puas, masih banyak orang yang bersenjata, masih banyak manusia yang menyimpan dendam dan sebagainya.

Sebagian orang meramalkan itu dilakukan mantan kombatan level rendahan karena tidak puas dan sakit hati terhadap atasan mereka yang kini hidup mewah. Sejumlah orang juga menganalisa, itu merupakan kerja intelijen untuk mengacaukan suasana sehingga golongan mereka dapat mengeruk uang di sana. Terlepas dari kerja siapa, untuk siapa dan oleh siapa, itu semua telah mewarnai Aceh dalam tahun 2007 sehingga kawasan-kawasan tertentu terkesan seperti belum reda perang.

Terjadinya monopoli proyek pemerintah oleh pihak tertentu di Aceh sehingga kalau ada pihak lain yang bekerja harus bayar kepada mereka juga mewarnai Aceh tahun 2007. Kondisi ini membuat para pengusaha dan kontraktor selain dari golongan mereka menjadi sangat terbeban. Apalagi kalau sampai kepada ancam mengancam ketika mencari dan melaksanakan proyek tersebut. keadaan semacam ini membuat sejumlah orang terpaksa diam tidak berkegiatan karena tidak akan mendapat untung.

Yang sangat berbahaya untuk muslim Aceh dalam tahun 2007 adalah wujudnya upaya-upaya pendangkalan ‘aqidah muslim Aceh oleh beberapa orang misionaris yang bekerja di sejumlah NGO nasional dan internasional. Usaha ini telah meresahkan muslim Aceh dan membahayakan aqidah anak-anak Aceh. Yang patut disesali adalah pihak pemerintah tidak pernah serius untuk menangani kasus ini walaupun bukti nyata sudah ditemukan oleh beberapa pihak seperti mahasiswa, masyarakat kampung, ormas Islam dan sebagainya.

Tahun 2007 juga telah menyisakan sejumlah bencana serius untuk wilayah Aceh. Mulai dari gempa yang berterusan, banjir yang berganti tempat di merata wilayah Aceh, manusia dimakan buaya, manusia dihantam gajah, harimau dan sebagainya. Ini betul-betul luar biasa dan jarang terjadi sebelumnya. Kalau banjir dan gempa mungkin lazim dan sering terjadi, tetapi kalau manusia dimakan buaya, harimau dan dihantam gajah sangat luar biasa untuk muslim Aceh yang tengah malang ini.

Beberapa hari memasuki tahun baru 2008, sejumlah kejadian di tahun 2007 masih juga terjadi di sini. Penculikan, penembakan, pembunuhan, perampokan, pencurian dan seumpamanya masih membaur ke tahun 2008 ini. Kalau mau disimpulkan secara sedikit lebih ekstrim, pihak keamanan Republik Indonesia (RI) gagal menjaga keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan muslim Aceh. Malah ada analisa yang jauh lebih ekstrim dari itu adalah; sengaja dibiarkan kondisi semisal ini karena ada terget dan sasaran tembak lain yang ingin dicapai di sana.

Kalau analisa tersebut benar, maka sampai kapanpun Aceh tidak akan aman, malah akan wujud gerakan-gerakan baru untuk melakukan tindakan-tindakan represif untuk kepentingan pribadi, golongan dan kelompok. Akhirnya, habis tahun berganti tahun masyarakat Aceh tetap saja hidup dalam wilayah yang penuh kekerasan, ancaman, teror, pembunuhan dan semacamnya. Untuk itu patutlah kalau orang-orang Aceh mempertanyakan; untuk apakah negara RI ini? Sebahagian mereka menjawab sendiri; untuk menyusahkan orang-orang Aceh, na’uzubillah.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: