jump to navigation

Doa Menembus Realiti Februari 4, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Taufiq Haddad

“Saya, iaitu pada awalnya, tidak mendapatkan (gagasan–gagasan) lewat proses berfikir (kognitif), melainkan lewat sesuatu yang lain. Hanya setelah itu barulah saya mencari bukti–bukti tentangnya.” — Shihabuddin Suhrawardi

Setiap malam Juma’at, saya memiliki kesempatan menilai kembali apa yang telah saya lakukan selama satu minggu terakhir. Biasanya ini saya lakukan di tengah menghayati bacaan doa Kumayl yang sering saya lakukan pada malam tersebut. Di saat membaca doa lazimnya, saya mendapatkan banyak hal terutama saat menekuni untaian kata–kata indah yang menurut saya masih belum mendapatkan padanan yang seunggulnya.

Berikut ini saya kutipkan satu rangkaian kutipan sangat indah doa Kumayl tersebut:

Kini aku datang menghadap kepada-Mu, ya Ilahi
Setelah semua kecerobohan dan pelanggaranku atas diriku
Memohon maaf, mengungkapkan penyesalan dengan hati luluh
Merasa jera, mengharapkan ampunan menginsafi kesalahan
Mengakui kelalaian, menyedari kecerobohan, menginsafi kesalahan
Tiada kutemui tempat melarikan diri, dari (dosa–dosa) yang telah kulakukan
Dan tiada tempat berlindung agar ku terlepas dari segala noda dan beban
Melainkan Kau kabulkan permohonan ampunanku
Dan Memasukan daku ke dalam lautan kasih-Mu
Ya Allah, terimalah alasan (pengakuan) ku ini
Dan kasihanilah beratnya kepedihanku
Dan bebaskanlah daku dari kekuatan belengguku

Saya selalu berusaha menikmati dan mensyukuri suasana keruhanian serta keakraban doa yang saya rasakan. Pembacaan doa ini menjadi penghubung yang amat sakral dalam menyampaikan rasa pengharapan dan kasih sayang kepada Yang Maha Agung. Kalau sebelumnya, saya hanya memahami bahawa doa merupakan sebuah keperluan inheren pada manusia yang menghubungkan manusia dengan realiti mutlak. Kini, secara perlahan-lahan, semangat ingin tahu saya mengenai hakikat doa makin bertambah dengan suatu kefahaman baru. Walau bagaimanapun, saya akui masih banyak lagi hal yang misteri di dalamnya.

Kutipan Suhrawardi di atas menjadi stimulus buat saya dalam memahami pesan–pesan ilahiyyah yang datang secara intuitif: iaitu doa adalah salah satu perintah-Nya. Kita yang lemah ini berusaha menyerap dan memahami seluruh-Nya secara deduktif, bahawa seluruh perintah-Nya adalah kasih sayang semata dan yang ada hanyalah kebaikan. Seperti yang Suhrawardi sampaikan di atas, banyak pengetahuan yang didapatinya pada mulanya tidak diperoleh melalui pemikiran. Namun, baru kemudian bimbingan tersebut dapat dibuktikan penjelasannya. Kadang-kala, pengetahuan ataupun ilham yang diperoleh adalah sangat peribadi sifatnya.

Suasana yang saya maksudkan di sini bukanlah merujuk kepada persekitaran doa dibacakan, namun sebaliknya doalah itu sendirilah yang telah membuat ruang itu menjadi sedemikian bercahaya. Jika kita membaca menerusi falsafah iluminasinya Suhrawardi: di mana wujud diidentikkan dengan cahaya, dan di mana Tuhan-lah merupakan cahaya sejati dan sempurna, sementara selanjutnya terdapat wujud lain yang bertingkat di bawahnya. Menerusi perspektif ini, ini bermakna semakin kita mendekati cahaya, maka keamatan cahaya wujud tersebut akan lebih banyak kita dapatkan.

Memahami falsafah Iluminasi Suhrawardi boleh dianalogikan atau didekati mithalnya melalui sekumpulan orang yang berada di sebuah tempat yang terdapat lampu besar di atasnya. Orang yang berada palig hamper dengan lampu tersebut, tentu saja akan menerima cahaya yang lebih banyak berbanding yang jaraknya berada lebih jauh. Semakin orang tersebut jauh dari lampu, maka semakin kecil keamatan cahaya yang melimpahinya, bahkan menuju ke arah gelap. Analogi ini menjadi terasa paling sesuai buat kita. Dalam hidup yang kita lewati, barangkali semakin hari semakin jauh dari kita dari sumber cahaya tersebut (Tuhan). Cahaya yang kita miliki sangat redup kerana jauhnya kita dari cahaya sejati (Allah).

Umpamanya, dengan kita menghadiri majlis-majlis doa, maka kita sekurang-kurangnya akan berusaha mendekati cahaya tersebut. Harapan saya, tentu saja saya ingin mendapatkan cahaya yang lebih banyak lagi. Cahaya bagi saya adalah sebuah keperluan. Apakah sama antara orang yang memiliki cahaya atau penerang dengan mereka yang tidak memilikinya, apatah ditengah kegelapan dunia yang mencampur-adukkan antara yang baik dan buruk seperti kita hadapi sekarang ini? Melalui doa tersebut setidaknya kita membuka tirai–tirai kegelapan yang telah menyelubungi hati kita selama ini. Di sinilah makna baru tentang doa yang saya dapatkan.

Di mana pun tempat yang dibacakan doa ini, mithalnya doa kumayl tadi, maka saya yakin kita akan menjadi bersinar dan akan menghadirkan ketenangan dan kedamaian diri. Ada yang berpendapat, bahawa suasana tersebut diperoleh melalui diam, keheningan, dan kesendirian. Suasana keruhanian dewasa ini semakin dicari oleh masyarakat modern yang telah kehilangan arah dengan materialisme yang mengabaikan realiti atau pengetahuan di luar pengetahuan inderawi (empirisme) seperti yang diungkapkan oleh John Locke, atau David Hume dengan idea tabii kemanusiaannya, dan para pendukung aliran falsafah realisme lainnya pada tiga abad silam. Sedar atau tidak sedar, falsafah mereka telah mempengaruhi pemikiran kita, meskipun tanpa kita sedari.

Menoleh 14 abad silam, usai syahidnya Imam Husein bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah Saw, yang telah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan agama yang dibawa oleh datuknya. Salah seorang dari putera beliau yang bernama Imam Ali Zainal Abidin, atau yang digelar Imam as–Sajjad, telah mengisi hari-harinya dengan sibuk beribadah dan berdoa. Kumpulan doanya yang demikian indah kemudiannya dinamakan sebagai as-Shahifah as-Sajjadiyyah. Lalu, hasilnya, doa tersebut dibukukan dan menjadi salah satu warisan paling penting dari khazanah keilmuan keluarga Nabi.

Imam as-Sajjad sememangnya berbeza dengan ayahnya, mahupun saudaranya, Zaid bin Husayn yang kita tahu telah melakukan penentangan terhadap penguasa zalim hinggakan jasadnya dibakar oleh para musuh Allah. Sebaliknya, Imam Ali Zainal Abidin, secara praktiknya tidak melakukan penentangan dengan regim yang berkuasa. Kita tahu, dalam riwayat yang sampai kepada kita, kita hanya mendengar mengenai praktik ibadah dan sikap-sikap kedermawanannya terhadap para pengikutnya dan masyarakat disekitarnya.

Sikap demikian dapat difahami, apatah lagi mengingatkannya mengetahui benar mentaliti masyarakat pada saat itu yang telah jauh terperosok pada tingkat yang sangat rendah. Memperbaikinya, dengan cara yang terbaik, adalah dengan cara memberi mereka sentuhan-sentuhan keruhanian yang boleh meningkatkan kesedaran akalnya. Dengan cara inilah Imam Ali Zainal Abidin mendidik seluruh pengikutnya. Pada masa hidupnya, ia menyaksikan banyak keluarga terdekatnya yang dibantai secara keji oleh para pengkhianat atas nama agama yang kemudiannya mengaku mengikuti agama datuknya. Mereka yang berbentuk manusia ini, tetapi sesungguhnya mereka mereka adalah haiwan-haiwan liar yang berbentuk manusia. Melaknsanakan perlawanan terhadap tirani yang berkuasa, sememangnya menuntut pengikut yang sertia sepertimana pengikut ayahnya yang gugur di medan Karbala. Namun beliau tidak mendapati pengikut yang demikian setia seperti para syuhada Karbala.

Dalam strategi pengurusan, cabaran dalaman memerlukan strategi yang benar-benar tepat, tidak harus selalu konfrontatif, melainkan disesuaikan dengan apa yang sedang dihadapi. Hal ini kadang-kala buat saya agak absurd juga, lebih-lebih lagi bila melihat strategi dakwah yang dilakukan oleh Nabi tanpa melihat kontekstualiti dan situasi yang sedang berkembang.

Praktik ini dibuktikan oleh strategi dan pendekatan yang berbeza yang dilakukan oleh seluruh para Imam dari keluarga Nabi pada masa hidupnya. Strategi Imam Ali Abi Thalib berbeza dengan Imam Hasan, berbeza pula dengan strategi yang dipilih Imam Husayn dan para Imam berikutnya. Tujuan dan cara merupakan dua hal yang ternyata berbeza. Agak aneh saja jika ada orang yang mendakwa mengikuti pendekatan dakwah Nabi, namun sebenarnya mereka telah mengikuti tidak mengikuti dakwah Nabi.

Kelebihan dan keistimewaan doa-doa yang dibawa oleh keluarga Nabi Saw tidak saja berisi untaian kata-kata indah, namun juga mengandung makna yang sangat dalam mengenai kewujudan yang tertinggi. Untaian-untaian doa Ahlil Bayt Nabi juga adalah pelajaran tauhid yang menyimpan beragam makna. Kita akan mendapati banyak makna-makna baru diperoleh bila kita bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengetahuan darinya. Perhatikan salah satu bait indah doa Kumayl dibawah ini:

(Anggaplah) aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu
Mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu

Doa dalam kefahaman saya tidak saja dapat mempengaruhi alam realiti (syahadah) yang merupakan alam tingkat rendah, namun doa juga mampu merubah ketentuan-ketentuan yang memang telah menjadi takdir kita.

Hemat saya, doa lebih jauh menjadi salah satu saranan untuk menembus ruang antara alam syahadah (alam kebendaan) dan alam malakut (alam metafizik) yang lebih tinggi, yang sesungguhnya sebuah kesatuan. Itulah sebabnya Imam Khomeini menyebut sholat (yang merupakan bagian dari doa) sebagai mi’raj ruhani dalam perjalanan menuju Allah (sayr wa suluk). Para mukasyaffah (orang-orang yang telah tersingkap hijab realiti) sesungguhnya telah menembus batas ini. Sementara buat kita, hal-hal seperti itu seperti sebuah mimpi saja dan angan-angan kerana kita masih didindingi oleh dosa, kesalahan, dan sifat-sifat buruk yang sangat tebal.

Dalam kedudukan seperti ini, maka yang dapat saya lakukan adalah terus-menerus berdoa untuk membuka diri agar menerima anugerah ilahi sehingga dapat menembus alam metafizik sehingga dapat merasakan lebur di dalam-Nya. Walau bagaimanapun, saya tidak yakin dengan usaha yang saya lakukan untuk meraih hal tersebut ekoran saya terlalu hina untuk mendapatkan hal tersebut.

Dalam perspektif sufi, kasih saying-Nya bukanlah diperoleh dari ibadah yang gigih, melainkan hakikatnya adalah pemberian dari-Nya. Saya hanya mengharapkan rahmat dan inayah, serta kasih-sayang-Nya.

Marilah bergabung bersama kafilah Rasulullah Saw melantunkan doa-doa yang biasa mereka baca agar Sang Kekasih membuka tirai-tirai yang membentengi dan menghalangi kita dari-Nya.

Tuhanku hatiku telah tertutupi
Hawa nafsu telah menguasaiku
Akalku telah terkalahkan
Ketaatanku sangat sedikit
Sementara kemaksiatanku demikian banyak
Lisanku penuh dengan kesalahan dan kekotoran
Lalu, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkannya, wahai Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Mengetahui Sesuatu Yang Tak Nampak
Maafkanlah ketercelaan kami seluruhnya
Dengan hak dan kehormatan kesayanganmu, Rasulullah dan Ahlil Bayt-nya.
Terimalah permohonan kami ini.

Komen-komen»

1. la_abwa - Februari 5, 2008

1-Bagaimana agaknya lafaz doa kumayl ini dalam bahasa Arab?diman boleh dapat teksna , jika ada URLnya.

2-Setelah berdoa, apakah langkah seterusnya untuk membaiki kesilapan yg terlalu banyak,umpamanya untuk membaikai bacaan al-qur’an dan bacaan dalam solat agar dapat difahami dan dihayati dengan lebih berkesan dan terkesan di jiwa.?

2. fathi aris omar - Februari 5, 2008

Middle-Eastern Graduates Centre Sdn Bhd
5A-4, Block F1, Jalan PJU 1/42A, Dataran Prima, 47301 Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.
tel +603 7803 2545 fax +603 7803 2543 email megcentre@gmail.com

Siaran Akhbar
5 Februari 2008

Middle-Eastern Graduates Centre (MEGC) berasa sangat terkejut dan sungguh kesal dengan tindakan Kementerian Keselamatan Dalam Negeri (KKDN) mengharamkan buku “Islam dan Pluralisme” terbitan MEGC, bersama 10 buku lain, seperti dilaporkan di media pada 29 Januari dan 30 Januari 2008.

Selain kenyataan yang dikeluarkan oleh pihak KKDN berhubung pengharaman tersebut sangat kabur dan sewenang-wenangnya, kami juga melihat pengharaman ini sebagai suatu langkah yang bercanggahan dengan semangat keilmuan dan kemajuan seperti diharap-harapkan oleh idea-idea asas Islam Hadhari yang diterajui oleh YAB Dato’ Seri Perdana Menteri.

KKDN tidak memaklumkan perkara ini kepada pihak kami dan tidak juga menyertakan sebarang justifikasi atau bukti kukuh bagi menyokong tindakan mereka.

Buku “Islam dan Pluralisme” diterbitkan, bertujuan antaranya, sebagai satu perbahasan untuk mengulas fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Selepas fatwa ini, beberapa pihak di Malaysian telah menyusun beberapa rencana—menerusi perbincangan dan penulisan—bagi menyokong fatwa tersebut.

Pada waktu itu, tiada suatu usaha pernah diambil untuk memberikan penjelasan atau penerangan yang berimbang berhubung fahaman-fahaman tersebut di negara ini. MEGC menerbitkan “Islam dan Pluralisme” sebagai satu tawaran bagi melanjutkan perbahasan ilmiah tentang perkara tersebut.

Menyedari bahawa pluralisme bukanlah sesuatu yang terlalu asing dalam tradisi keilmuan Islam, kami mengutip dan menterjemahkan beberapa tulisan yang cuba menjelas realiti kejamakan (plurality) dan pluralisme keagamaan dalam teks-teks agama (Al-Quran dan hadis), sejarah, tradisi, dan idea-idea yang terkandung di dalam karya para sarjana agung Muslim, khususnya daripada aliran sufisme.

Kami juga berasa keliru dengan kenyataan pegawai KKDN Che Din Yusoh yang dipetik sebagai berkata, bahawa “Sekiranya penerbitan itu dibiarkan, ia boleh menimbulkan kekeliruan dan kegelisahan di kalangan umat Islam dan seterusnya boleh memudaratkan ketenteraman awam.”

Pada hakikatnya, penerbitan buku “Islam dan Pluralisme” itu dibuat sebagai salah satu usaha dan sumbangan kami ke arah mengembangkan masyarakat beragama yang lebih berlapang dada serta hidup dengan lebih harmoni di tengah kepelbagaian bangsa, agama, dan budaya seperti di Malaysia.

Justeru itu, kami berasa hairan dengan tindakan pengharaman buku ini kerana langkah ini tidak membantu usaha-usaha membentuk sebuah keluarga besar bangsa Malaysia yang saling memahami, berfikiran terbuka dan dipertalikan oleh semangat kemanusiaan.

MEGC akan menghantar surat kepada pihak KKDN secepat mungkin untuk meminta penjelasan, alasan terperinci, dan justifikasi bagi pengharaman tersebut. MEGC juga mengharapkan KKDN menimbangkan semula pengharaman ini dan menarik balik larangan ini.

Al-Mustaqeem Mahmod Radhi
Pengarah Eksekutif

Maklumat asas buku “Islam dan Pluralisme”

Tajuk: Islam & Pluralisme
Penyunting: Al-Mustaqeem Mahmod Radhi & Khairul Anam Che Menteri
Tahun diterbitkan: 2006
Penerbit: Middle-Eastern Graduates Centre Sdn Bhd (MEGC)
Tebal: 120 muka surat
Jenis buku: Terjemahan/susunan artikel-artikel daripada enam ahli akademik dan pemikir

Isi kandungan buku:

Pendahuluan – “Bercakap tentang Pluraliti: Aku Manusia vs Aku Muslim”
Oleh Al-Mustaqeem Mahmod Radhi

Bab 1 – Pluralitas Makna Pluralisme (Agama)
Oleh Suratno, pensyarah Jabatan Falsafah & Agama, Universitas Paramadina, Jakarta, Indonesia

Bab 2 – Iman dan Kemajmukan Masyarakat Intra-Umat Islam
Oleh Nurcholish Madjid (allahyarham), pemikir Islam yang terkenal di Indonesia

Bab 3 – Islam dan Pluralisme
Oleh Asghar Ali Engineer, penulis terkenal berasal dari India

Bab 4 – Macam-macam Jalan ke Syurga
Oleh Reza Shah-Kazemi, sarjana dalam bidang Perbandingan Agama dan bekas konsultan di Institut Kajian Dasar (IKD), Kuala Lumpur

Bab 5 – Kristian di Masjid Nabawi: Renungan ke dalam Sunnah
Oleh Reza Shah-Kazemi

Bab 6 – Pluralisme Keagamaan dan Islam
Oleh John Hick, profesor emeritus dalam bidang falsafah agama

Bab 7 – Etika Global
Oleh Hans Kung, presiden Global Ethics Foundation dan juga penggerak utama bidang dialog antara tamadun (inter-civilizational dialogue) di peringkat Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB)

Tentang penerbit: Middle-Eastern Graduates Centre (MEGC) adalah sebuah pusat kajian dan penerbitan bagi mempromosi isu-isu kebebasan dan masyarakat sivil, berlandaskan tradisi keagamaan dan pemikiran moden. Prinsip-prinsip utama yang menjadi perhatian MEGC ialah kebebasan individu, keterbukaan, persaingan dan kemandirian. MEGC didukung oleh peminat dan pengkaji sejarah, budaya, pemikiran dan isu-isu rantau Timur Tengah.

Tentang pengasas: Al-Mustaqeem Mahmod Radhi, lulusan bidang syariah di Universiti Mu’tah, Jordan, seorang penterjemah buku, editor majalah dan wartawan/penulis isu-isu Islam, falsafah dan seni budaya.

3. ulul albab - Februari 11, 2008

assalamu’alaikum,

ada teks doa kumail yang saya jumpa disini, http://www.duas.org/kumayl.htm

4. La_abwa - Februari 12, 2008

tq ulul albab. saya dah lihat belum baca lagi.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: