jump to navigation

Haji, Menuju Pusat Kewujudan Februari 6, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Rayendra Alamsyah

Kedatangan dan kepergianku adalah menuju Yang Maha Pengasih dan mencapai kehadiran Keagungan dan Keindahan, Allah mencurahkan rahmat dan kebaikan, kepada kami pada hari ketika Dia memanggilku dan berkata, “Turun!” — Syaikh Al-Akbar Ibn ‘Arabi, failasuf sufi kelahiran Andalusia, Sepanyol saat haji ke Mekah, Futuhat Al-Makkiya

Imam Jafar Ash-Shadiq, salah seorang cicit Rasulullah saw. dan panutan Ibn ‘Arabi serta para Mukminin mengatakan, “Kami tidak menyembah Allah SWT, kecuali kerana cinta (hubban). Bukankah agama (keyakinan) itu adalah kecintaan?” Demikianlah halnya dengan beribadah menunaikan rukun kelima berhaji, hanya dilandasi kecintaan kepada Allah belaka.

(Perjumpaan dengan) Allah lah yang menjadi cita-cita bagi orang-orang yang dilanda kerinduan, termasuk rindu dan asyik “berintim” menunaikan ibadah haji. Menjadi tamu di “Rumah Allah”. Dengan dasar cinta inilah kita menyembah Allah, bagaikan cita-cita orang yang merindu akan keabadian, kepemurahan dan pemberi rezeki bagi semua umat manusia, bumi dan seisinya.

Kerinduan, tutur Imam Jafar Ash-Shadiq, akan menarik manusia ke hakikat dan segala sifat suci Allah SWT, bukan hanya semata impian masuk ke syurga. Sedangkan cita-cita orang yang rindu, bukanlah sekadar pengharapan belaka.

Cita-citalah yang menjadikan manusia, yang semula tidak memiliki kemampuan menjadi manusia yang mempunyai sifat-sifat kesabaran, kesanggupan, dan ketenangan di dalam menjalani kehidupan, termasuk beribadah menunaikan kewajiban, berhaji ke “Rumah Allah”. Jika kita tak merindukan Allah, maka kita pun tidak dianugerahi sifat-sifat orang yang merindu. Kerinduan inilah yang menumbuhkan kecintaan. Dan, pecinta sejati (ahli ma’rifat) adalah orang yang tidak melihat apa pun selain Allah SWT.

Awalnya, orang yang jatuh cinta akan mengalami syauqun (kerinduan). Lalu, kerinduan itu menjelma menjadi ‘issqun (keasyikan). Orang yang rindu belum tentu memiliki syauqun, namun ia tengah berupaya untuk memilikinya. Adapun orang yang ‘asyiqun adalah orang yang memiliki ‘issqun (perasaan asyik).

Seperti diungkapkan Rasulullah saw. dalam sejumlah hadis, “Paling afdhal-nya manusia adalah yang ‘asyiq terhadap ibadah (termasuk berhaji). Maka didakapnya ibadah tersebut dan dicintainya dengan sepenuh hati. Ia memulai dengan jasadnya dan mencurahkan seluruh tenaganya untuk ibadah.”

Kerinduan yang menimbulkan keasyikan itu termanifestasikan di dalam segala amal ibadah, termasuk berhaji. Hal itu mewujud di dalam apresiasi terhadap pelaksanaan ibadah haji itu sendiri. Tanpa perlu identiti duniawi siapa calon haji itu, penilaian lebih dari ritual haji merujuk kepada makna batin yang mampu direguk sesuai tahapan ibadah haji, sejak saat bertawaf, bersai, wukuf di padang Arafah, melempar jumrah di Mina, hingga tawaf perpisahan di Masjidilharam.

Syaikh Jawad Amuli dalam kitabnya, Rahasia-rahasia Ibadah mengutip hadis, “Allah hendak menyamaratakan keadaan semua lapisan manusia, menginginkan baik orang kaya atau duafa sama-rata hanya mengenakan lembaran kain ihram merasakan debu tanah suci di Arafah demi untuk mengingat-Nya. Meski Ia cuma mengutus wakil-Nya (Rasulullah saw.) dan Zat maha suci-Nya tak tampil langsung di bumi-Nya, cuma Dia-lah tujuan dan tumpuan awal dan akhir (kehidupan) seluruh umat-Nya”.

Mengungkap hadis Rasulullah saw., Imam Jafar Ash-Shadiq kerap mengingatkan kepada umat yang tak mampu melaksanakan atau hendak berhaji menjadi tamu Allah, “Salatlah kalian di waktu lewat tengah malam, lengkapi qiyamul lail dengan salat-salat (sunat) tasbih, hajat, taqarub ilallah dan witir. Sertakanlah zikir Ilallah, untuk memuji dan hanya mengingat Dia hingga salat (sunat) Fajar dan salat fardu subuh tiba. Rangkaian ibadah itu adalah sebaik-baik pendekatan demi ketundukan serta kepatuhan kepada-Nya, bagai orang yang tengah khusyuk berwukuf saat musim haji di padang Arafah di bulan Zulhijah”.

Salah satu mata ritual terbesar umat Islam yang disatukan dalam satu titik pusara adalah ibadah haji. Berbeza dengan ibadah lainnya, haji memiliki banyak dimensi yang mesti digali oleh pelakunya. Di samping memiliki dimensi ibadah, haji mempunyai dimensi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh rangkaian. Jika makna-makna tersebut belum menjadi kesadaran kolektif para jemaah haji, setidaknya kesedaran itu sudah direguk di antara individu jemaah haji. Kesedaran individual akan mendorong terbentuknya kesedaran kolektif jemaah haji dan selanjutnya berimbas ke kesedaran kolektif umat.

Titik awal seorang yang melakukan ibadah haji adalah di miqat. Saat jemaah diwajibkan memakai kain putih ihram tanpa jahitan, maka mereka harus menerima dan me­ngakui serta merenungkan bahwa secara hakikatnya manusia itu sama dan sederajat di hadapan Tuhan dari mana pun kelas status sosialnya.

Sambil mengenakan ihram usai salat berjamaah, bacalah doa, “Ya Allah, aku menghadap Engkau sebagai Ibrahim. Tidak sebagai penindas, tidak sebagai penipu, tidak sebagai penimbun harta, tidak sebagai pemimpin berjubah agama yang membodohi serta licik kepada rakyat, tidak sebagai perasuah yang menghisap darah rakyat. Tidak! Aku menghadap Engkau sebagai seorang manusia, makhluk-Mu dengan mengenakan busana yang sama seperti yang akan kukenakan saat menghadap Engkau nanti di akhirat”.

Mengelilingi Ka’bah (tawaf) bersama lautan manusia, adalah bagai air sungai dan pusarannya. Ia bagaikan matahari sebagai tata suria dan manusia bak bintang-bintang yang beredar di dalam orbitnya. Dengan Ka’bah di tengah-tengah, manusia mengelilinginya dalam sebuah gerakan membulat. Ka’bah melambangkan ketetapan (konsistensi) dan keabadian Allah SWT, sedangkan manusia yang berbondong-bondong mengelilinginya melambangkan aktiviti dan transisi makhluk-makhluk ciptaannya. Suatu aktiviti transisi yang terjadi terus menerus, sebelum akhir zaman yang ditentukan-Nya menjemput. Ingatlah peringatan Allah di dalam Al-Qashash ayat 88, “Segala sesuatu (di bumi dan langit/jagat raya) akan binasa kecuali Wajah Ku”.

Tawaf adalah contoh dari sebuah sistem yang monoteisme (tauhid/esa), dan mencakup sebuah orientasi zarah manusia. Allah adalah pusat kewujudan. Dia adalah titik fokus dari kefanaan dunia. Sebaliknya, jemaah haji adalah sebuah zarah yang bergerak dengan mengubah posisi selaku manusia dengan posisi yang semestinya.

Jabatlah tangan Allah (yang disimbolkan dengan mencium, menyentuh atau memberi salam ke arah Hajar Aswad). Dia lebih kuat dibanding semua pihak yang memikat tangan para haji di dalam sumpah setia (syahadat) yang diikrarkan para jemaah haji di masa sebelumnya. Dengan salam dan sentuhan itu maka ikrarkan lagi dengan sepenuhnya untuk hanya kembali ke tangan Allah yang sudah merahmati, memberikan hidayah dan segenap rezeki serta menemani di saat para jemaah haji di kesendirian.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: